Pages - Menu

Minggu, 05 Mei 2019

Polemik (Bacaan) Niat Puasa

Sumber gambar dari sini.

Di sebagian kitab fikih dijelaskan bahwa kalimah "romadlon", pada bacaan niat puasa, yang benar huruf nun-nya dibaca kasrah (ni), dan bukan fathah (na). Alasannya: “romadlon” tersebut harus di-idlofah-kan dengan isim isyaroh setelahnya.
Sebelum dibahas lebih lanjut, perlu diketahui bahwa “romadlon” merupakan isim ghoiru munshorif yang i'rob jar-nya ditandai dengan harakat fathah dengan catatan tidak di-idlofahkan dengan kalimah setelahnya atau kemasukan “al”. Jika di-idlofahkan dengan kalimah setelahnya, maka tanda i'robnya adalah kasrah.

Dalam Hasyiyah-nya yang berupa komentar atas kitab Fathul Qarib, Syekh Ibrahim Al-Bajuri memberi alasan lebih lanjut tentang keharusan kalimah “romadlon” dibaca kasrah. Menurur beliau, jika “romadlon” dibaca fathah maka dikhawatirkan maknanya menjadi kacau seandainya kalimah setelahnya (hadzihis sanah) dijadikan sebagai dhorof zaman yang ber-ta'alluq pada “nawaitu”.

Dengan demikian, kalimah “hadzihis sanah (setahun ini)” menjadi “durasi” bagi pelaksanaan niat. Padahal, kita tahu, niat puasa hanya terjadi dalam waktu sekejap—di sinilah letak kerancuan maknanya. (Lihat: Hasyiyah Al-Bajuri ala Ibni Qasim, juz 1, hlm. 555)

Akan tetapi, jika kita jeli dan mau mengutak-atik i'rob yang terkandung dalam bacaan niat puasa, sebenarnya sama saja. Artinya, baik “romadloni” atau “romadlona” keduanya sama-sama benar. Lantas, bagaimana dengan i'robnya jika dibaca fathah?

Tentu saja “romadlon” tidak di-idlofahkan dengan kalimah setelahnya. Adapun kalimah “hadzihi” menjadi na'at dari “romadlon” dan “assanati” menjadi badal dari isim isyaroh (“hadzihi” dan “assanati” tidak bisa dijadikan susunan idlofah karena mudlof tidak boleh lebih makrifat daripada mudlof ilaih). Jika diterjemahkan secara harfiah artinya begini: “bulan puasa yang tahun ini”.

Sementara jika kita perhatikan cara membaca masyarakat pada umumnya, baik imam shalat Tarawih maupun para makmum, banyak di antara mereka yang membaca “romadlona hadzihis sanati”.

Cara membaca seperti itu tentunya tidak menimbulkan persoalan. Masalah baru muncul manakala ada seorang santri yang masih semangat-semangatnya belajar nahwu (gramatikal Arab) mendengarkannya. Hal itu wajar karena santri memang dididik untuk selalu berpikir kritis.

Seperti teman baru saya dari Pondok Sumbersari, Pare, Kediri, yang saat ini mendapat tugas “Safari Ramadan” di Pondok Pesantren Ash-Shufi, Blitar.
Kemarin malam, selepas salat Tarawih, ia mendatangi saya sembari bertanya, “Lho, di sini membacanya kok ‘romadlona’? Padahal di kitab mestinya dikasrah, bukan?”
Sambil duduk lesehan dan minum kopi, saya pun menjelaskan apa yang baru saja saya tulis di atas—dan teman saya tadi mengangguk tanda setuju.

Gogourung, 16 Ramadan 1437 H

Sabtu, 02 April 2016

Ketika Taufik Hidayat Salah Pegang Raket

Foto diambil dari sini.
Bayangkan ada anak kecil yang baru belajar bermain bulu tangkis. Kemudian ia—hanya karena melihat tutorial di Youtube, misalnya—menyalahkan Taufik Hidayat tentang bagaimana cara memegang raket. Begitulah kira-kira yang saya rasakan ketika di ruang kelas ada seorang murid yang mengatakan bahwa apa yang saya sampaikan, kata gurunya yang lain, “Salah!”

Terus terang saya senang sekali jika ada yang mau mengoreksi. Saya termasuk orang yang terbuka dengan segala jenis masukan dan kritikan. Tapi saya—dan barangkali juga Anda—kurang suka jika hal tersebut tidak disampaikan dengan cara yang baik dan transparan, apalagi sampai “bersembunyi” di balik keluguan anak-anak tanpa konfirmasi terlebih dahulu apakah yang dikoreksi tersebut benar-benar salah.

Dalam dunia akademik, kita tahu, yang namanya mengoreksi, mengkritik, atau menyalah-benarkan adalah hal yang lumrah, bahkan tergolong baik dan sangat dianjurkan. Karena “kebenaran” sendiri bukanlah monopoli guru, orang tua, atau kaum intelektual sekalipun. Tentu saja, seperti tadi saya katakan, hal tersebut harus disampaikan dengan cara yang tepat dan transparan.

Bertahun-tahun belajar gramatikal Arab secara intensif menjadikan saya kritis terhadap hal-hal yang berhubungan dengan tata bahasa (Arab), baik ketika membaca atau menyimak, termasuk pemberian makna gandul dalam tradisi dunia pesantren. Ketika ada yang “berani” memvonis salah atas apa yang saya sampaikan, saya berhak tahu perkara apa yang dipermasalahkan dan sejauh mana kapasitas intelektual yang bersangkutan—sebelum disebarluaskan ke siapa saja.

Lebih lanjut, saya bersedia mendiskusikan dan memepertanggungjawabkan secara ilmiah tentang persoalan yang dipermasalahkan di atas. Jika ternyata yang saya sampaikan (1) benar-benar salah, saya akan mengakuinya tanpa merasa gengsi sedikit pun; dan jika (2) benar-benar benar, saya tidak akan mengumbar kesalahan orang lain di ruang kelas; dan jika (3) kebenarannya relatif, maka saya tidak akan memaksakan pendapat saya untuk diikuti—dan, sudah semestinya, masing-masing dari kita saling menghormati.

Saya pikir itu jauh lebih etis daripada berbicara (baca: menyalahkan) di depan anak-anak yang berdampak kurang baik seperti ketidakpercayaan mereka kepada guru.
* * *
Taufik Hidayat memang sudah lama pensiun dari arena bulu tangkis. Tapi bukan berarti ia sudah lupa bagaimana cara memegang raket dengan benar. Kesibukannya sekarang sebagai pengurus pondok, eh pebisnis, membuatnya kurang menaruh perhatian pada hal-hal kecil yang terkesan sepele. Meski demikian, sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kode etik, eh dunia olahraga, pagi ini ia meluangkan waktunya untuk menulis catatan yang sedang Anda baca ini (sembari minum kopi pahit di balkon).

Kamis, 24 Desember 2015

Ironi Gadis (Pengungsi) Suriah

Foto wanita Suriah. Ada yang berani bilang enggak cantik?
Saat berkunjung ke Kota Mukalla (Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman) empat tahun lalu, saya sempat melihat gadis-gadis pengungsi Suriah berjajar di trotoar dan lorong-lorong pasar. Sebagaimana wanita Arab pada umumnya, mereka mengenakan telekung warna hitam. Akan tetapi, wajahnya dibiarkan terbuka tanpa cadar. Ironisnya, karena tidak adanya keluarga atau orang yang memberi nafkah, mereka terpaksa meminta-minta di tempat keramaian tersebut.

Setelah sekian lama tidak bertemu (kayak LDR saja, ya?), saya membaca berita bahwa saat ini para pengungsi Suriah sudah ada yang sampai ke Wilayah Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia. Rata-rata para wanitanya, selain anak-anak, adalah gadis yatim piatu, janda-janda muda anak satu, atau janda yang tidak punya anak karena suami-suami mereka meninggal di medan perang.

Selain mencari suaka, tentu saja, mereka juga mendambakan saya, eh, orang yang dapat melindungi sekaligus memberikan nafkah, baik lahir maupun batin. Dan, kabar baiknya, konon mereka mau menerima pinangan pria mana pun asalkan seiman dan menyediakan tempat tinggal. Bahkan mungkin mereka juga mau dimadu atau dijadikan istri kedua....

Untuk urusan kecantikan, wanita Suriah tidak bisa dipandang sebelah mata; kulitnya yang putih bersih alami, matanya yang biru kecokelatan, postur tubuhnya yang ... ah, sudahlah. Intinya, bahkan tanpa mekap di wajah sekalipun, wanita Suriah sudah pantas diajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Memang, cantik itu relatif. Tapi setidaknya ada kriteria dan standardisasi yang disepakati bersama oleh kaum lelaki, bukan?

Nah, melihat keadaan mereka yang sangat memprihatinkan, adakah di antara kita yang mau berbagi kebahagiaan dengan mereka?