Sabtu, 02 April 2016

Ketika Taufik Hidayat Salah Pegang Raket

Foto diambil dari sini.
Bayangkan ada anak kecil yang baru belajar bermain bulu tangkis. Kemudian ia—hanya karena melihat tutorial di Youtube, misalnya—menyalahkan Taufik Hidayat tentang bagaimana cara memegang raket. Begitulah kira-kira yang saya rasakan ketika di ruang kelas ada seorang murid yang mengatakan bahwa apa yang saya sampaikan, kata gurunya yang lain, “Salah!”

Terus terang saya senang sekali jika ada yang mau mengoreksi. Saya termasuk orang yang terbuka dengan segala jenis masukan dan kritikan. Tapi saya—dan barangkali juga Anda—kurang suka jika hal tersebut tidak disampaikan dengan cara yang baik dan transparan, apalagi sampai “bersembunyi” di balik keluguan anak-anak tanpa konfirmasi terlebih dahulu apakah yang dikoreksi tersebut benar-benar salah.

Dalam dunia akademik, kita tahu, yang namanya mengoreksi, mengkritik, atau menyalah-benarkan adalah hal yang lumrah, bahkan tergolong baik dan sangat dianjurkan. Karena “kebenaran” sendiri bukanlah monopoli guru, orang tua, atau kaum intelektual sekalipun. Tentu saja, seperti tadi saya katakan, hal tersebut harus disampaikan dengan cara yang tepat dan transparan.

Bertahun-tahun belajar gramatikal Arab secara intensif menjadikan saya kritis terhadap hal-hal yang berhubungan dengan tata bahasa (Arab), baik ketika membaca atau menyimak, termasuk pemberian makna gandul dalam tradisi dunia pesantren. Ketika ada yang “berani” memvonis salah atas apa yang saya sampaikan, saya berhak tahu perkara apa yang dipermasalahkan dan sejauh mana kapasitas intelektual yang bersangkutan—sebelum disebarluaskan ke siapa saja.

Lebih lanjut, saya bersedia mendiskusikan dan memepertanggungjawabkan secara ilmiah tentang persoalan yang dipermasalahkan di atas. Jika ternyata yang saya sampaikan (1) benar-benar salah, saya akan mengakuinya tanpa merasa gengsi sedikit pun; dan jika (2) benar-benar benar, saya tidak akan mengumbar kesalahan orang lain di ruang kelas; dan jika (3) kebenarannya relatif, maka saya tidak akan memaksakan pendapat saya untuk diikuti—dan, sudah semestinya, masing-masing dari kita saling menghormati.

Saya pikir itu jauh lebih etis daripada berbicara (baca: menyalahkan) di depan anak-anak yang berdampak kurang baik seperti ketidakpercayaan mereka kepada guru.
* * *
Taufik Hidayat memang sudah lama pensiun dari arena bulu tangkis. Tapi bukan berarti ia sudah lupa bagaimana cara memegang raket dengan benar. Kesibukannya sekarang sebagai pengurus pondok, eh pebisnis, membuatnya kurang menaruh perhatian pada hal-hal kecil yang terkesan sepele. Meski demikian, sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kode etik, eh dunia olahraga, pagi ini ia meluangkan waktunya untuk menulis catatan yang sedang Anda baca ini (sembari minum kopi pahit di balkon).

Kamis, 24 Desember 2015

Ironi Gadis (Pengungsi) Suriah

Foto wanita Suriah. Ada yang berani bilang enggak cantik?
Saat berkunjung ke Kota Mukalla (Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman) empat tahun lalu, saya sempat melihat gadis-gadis pengungsi Suriah berjajar di trotoar dan lorong-lorong pasar. Sebagaimana wanita Arab pada umumnya, mereka mengenakan telekung warna hitam. Akan tetapi, wajahnya dibiarkan terbuka tanpa cadar. Ironisnya, karena tidak adanya keluarga atau orang yang memberi nafkah, mereka terpaksa meminta-minta di tempat keramaian tersebut.

Setelah sekian lama tidak bertemu (kayak LDR saja, ya?), saya membaca berita bahwa saat ini para pengungsi Suriah sudah ada yang sampai ke Wilayah Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia. Rata-rata para wanitanya, selain anak-anak, adalah gadis yatim piatu, janda-janda muda anak satu, atau janda yang tidak punya anak karena suami-suami mereka meninggal di medan perang.

Selain mencari suaka, tentu saja, mereka juga mendambakan saya, eh, orang yang dapat melindungi sekaligus memberikan nafkah, baik lahir maupun batin. Dan, kabar baiknya, konon mereka mau menerima pinangan pria mana pun asalkan seiman dan menyediakan tempat tinggal. Bahkan mungkin mereka juga mau dimadu atau dijadikan istri kedua....

Untuk urusan kecantikan, wanita Suriah tidak bisa dipandang sebelah mata; kulitnya yang putih bersih alami, matanya yang biru kecokelatan, postur tubuhnya yang ... ah, sudahlah. Intinya, bahkan tanpa mekap di wajah sekalipun, wanita Suriah sudah pantas diajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Memang, cantik itu relatif. Tapi setidaknya ada kriteria dan standardisasi yang disepakati bersama oleh kaum lelaki, bukan?

Nah, melihat keadaan mereka yang sangat memprihatinkan, adakah di antara kita yang mau berbagi kebahagiaan dengan mereka?

Kamis, 03 Desember 2015

Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah, Berbedakah?



Sampul buku Akidah-Akhlak dan Alquran-Hadits
terbitan Erlangga. (Foto: Dok. Pribadi)
Memang agak riskan mempelajari ilmu-ilmu keagamaan jika tidak dari sumber yang terpercaya, yaitu kitab-kitab ulama salaf yang sudah diakui akan kualitas ilmunya. Mungkin karena alasan efektivitas dan efisiensi waktu, orang zaman sekarang cenderung menempuh jalan pintas dalam mencari ilmu dengan memanfaatkan berbagai macam media. Seperti mencari bahan bacaan di internet, buku-buku terjemahan; menyimak siaran radio, sampai ceramah-ceramah islami di televisi atau kanal Youtube.

Saya tidak mengatakan belajar melalui media-media tersebut salah. Tetapi paling tidak, ada 2 hal—dari 6 perkara penentu keberhasilan mencari ilmu—yang terabaikan. Pertama, guru yang mumpuni serta memiliki sanad sampai kepada Rasulullah dan,  kedua, waktu yang amat panjang.

Ketidakjelasan guru dapat dilihat pada program tayangan televisi di pagi hari. Hanya dengan bekal hafal(an) beberapa butir hadis atau ayat Alquran, mereka yang sudah telanjur terkenal—karena sebelumnya menjadi artis, misalnya—bisa disebut ustaz atau kiai yang popularitasnya mengalahkan para santri yang bertahun-tahun menimba ilmu di pesantren.

Contoh yang masih hangat dalam ingatan kita adalah dua artis senior yang belum lama ini menjadi bahan ejekan obrolan di media sosial lantaran pernyataan kontroversialnya mengenai doa. Menurutnya, pahala membaca surah Al-Fatihah tidak bisa sangkil kepada orang yang dituju. Fenomena inilah yang disebut dengan “kiai produk media” seperti yang sering disampaikan oleh KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam ceramah-ceramahnya.

Di internet malah lebih memprihatinkan lagi. Karena siapa pun orangnya, yang memiliki akses langsung ke dunia maya, bisa dengan leluasa menerbitkan artikel bertopik keagamaan yang referensinya diambil dari situs lain, bahkan sering kali disalin-tempelkan begitu saja tanpa disebutkan sumber rujukan dengan jelas.

Selanjutnya, ketika pengguna internet melakukan penelusuran di mesin pencari Google dan mendapati artikel-artikel tersebut berada di urutan 10 teratas, ia—terutama yang kurang paham dengan permainan SEO (Search Engine Optimization)—akan terkecoh dan memercayai bahwa semua informasi di hadapannya adalah benar adanya. Nah, jika informasi (baca: ilmu) yang dibaca itu tidak valid, berapa juta orang yang akan salah paham?