Pages - Menu

Selasa, 09 Juli 2013

Testimoni Palsu Para Perukyat


Foto rukyatulhilal karya Mutoha Arkanuddin.
Anas bin Malik–radliyallâhu anhuadalah salah satu dari sekian banyak sahabat nabi yang sangat masyhur, terutama di kalangan pencinta ilmu hadis. Kredibilitasnya dalam menyampaikan suatu berita (riwayatul hatits) tidak perlu diragukan lagi. Begitu juga sahabat-sahabat yang lain. Namun demikian, apa yang mereka sampaikan bukan berarti merupakan sesuatu yang sesuai dengan kenyataan.

Alkisah, suatu hari beliau keluar rumah bersama penduduk Kota Basrah untuk melakukan observasi hilal. Turut serta dalam rombongan itu, seorang kadi (penguasa) yang sangat adil dan bijaksana. Setelah sekian lama mengamati dan mereka tidak melihat tanda-tanda adanya hilal, tiba-tiba saja Anas bin Malik berkata, Aku melihat hilal! 

Pernyatannya Anas tersebut jelas membuat semua yang hadir heran karena tak satu pun di antara mereka yang melihat hilal. Kemudian, kadi yang menyertai mereka, mendatangi Anas bin Malik seraya memperhatikan raut wajahnya yang sudah tua dan rambutnya yang beruban. Lalu terlihatlah oleh kadi itu sehelai rambut alis yang melintang di depan matanya. Rambut itu lalu ia singkap sembari berkata, Apa sekarang Anda dapat melihatnya (hilal)?

 Anas bin Malik menjawab, Aku tidak melihat apa-apa sekarang.

* * *
Peristiwa yang terjadi empat belas abad lalu itu kembali terulang kamarin sore di Indonesia, tepatnya di pantai Cakung, Jakarta Timur.

Tim rukyat Husainiyah Cakung mengaku berhasil melihat hilal pada Senin, 8 Juli 2013 pukul 17.52 WIB di titik observasi mereka, di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Mereka yang terdiri dari tiga orang, mengaku menyaksikan hilal selama 1,5 menit dengan mata telanjang. Namun laporannya kemudian tidak diterima dalam forum sidang isbat penetapan awal Ramadan 1434 H oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Mengapa ditolak? Sederhana saja. Karena pada jam dan menit yang mereka nyatakan sebagai saat hilal terlihat, ternyata (berdasarkan hisab kontemporer) bulan sudah terbenam alias tidak lagi berada di atas cakrawala. Jadi, tidak butuh analisis yang rumit-rumit untuk menyatakan bahwa obyek yang mereka lihat jelas bukan Bulan.

Ini bukan kali pertama para pemburu hilal di Cakung itu membuat sensasi di muka publik. Pada tahun lalu, Ustaz Labib, ketua tim Hisab dan Rukyat Cakung sekaligus perwakilan dari Front Pembela Islam (FPI) mengaku melihat hilal dengan mata telanjang. Padahal kebanyakan yang ada di sana, yang sebagian dilengkapi alat optik canggih, tidak dapat melihat hilal. Dan menurut perhitungan astronomis, saat matahari terbenam ketinggian hilal hanya 1,3 derajat di atas ufuk. Pernyataannya yang kontroversial itu telah dipublikasikan oleh TV One dan diunggah di situs Youtube.

Sebagai gambaran, perlu kita ketahui bersama bahwa di Indonesia terdapat puluhan jenis metode hisab yang beraneka ragam. Dari jumlah tersebut, para ahli hisab membaginya menjadi dua: taqribi (pendekatan) dan hakiki (akurat). Sedangkan metode hisab yang dipakai oleh tim rukyat Cakung untuk mengukur ketinggian hilal adalah kitab Sullamun Nayyirain karya Syekh Muhammad Mansur Al-Batawiy yang ditulis pada tahun 1925 silam. Kitab ini, masih menurut ahli hisab, termasuk kategori taqribi (berkualitas/berakurasi rendah) dan merupakan kitab hisab tertua di Indonesia.

Sementara itu, tawaran yang diajukan oleh Badan Hisab dan Rukyat Kementerian Agama Republik Indonesia untuk meng-upgrade hisab Mansyuriyah (julukan bagi pengguna kitab Sullamun Nayyirain) ditolak mentah-mentah dengan alasan kitab keramat tersebut tidak boleh diutak-atik. Mereka malah menuding, metode Ephemeris yang dipakai oleh pemerintah dinilai tidak dapat dipercaya karena buatan orang kafir. Padahal dalam tradisi Islam, kebenaran teori ilmiah itu bisa datang dari mana pun, bahkan dari orang nonmuslim sekalipun.

Selain uraian di atas, ada lagi faktor-faktor ilmiah yang menjadikan pesaksian dari Cakung itu ditolak dalam sidang isbat, sebagaimana analisis ahli hisab kondang Ma'rufin Sudibyo. Di antaranya; pertama, lokasi Cakung dinilai bukan tempat yang ideal untuk melakukan aktivitas rukyah. Di sana banyak sekali gangguan seperti polusi udara, lampu menara seluler, arus lalu lintas pesawat yang bersiap mendarat atau lepas landas dari bandara Soekarno-Hatta dan sebagainya. 

Kedua, terminologi tinggi hilal dalam hisab Mansyuriyah berbeda dengan istilah yang sama dalam khazanah ilmu falak masa kini. “Tinggi hilal” menurut hisab Mansyuriyah sebenarnya adalah elongasi (jarak sudut) Bulan dan Matahari. Jika posisi Bulan tidak tepat di atas Matahari, melainkan di sisi kirinya (seperti yang terjadi pada 19 Juli 2012), maka “tinggi hilal” menurut hisab Mansyuriyah menjadi miring terhadap horizon (ufuk). Padahal, pengertian tinggi hilal dalam ilmu falak adalah jarak vertikal yang tegak lurus terhadap horizon. 

Kembali pada cerita Anas bin Malik di atas. Mestinya kita dapat merenungi dan mengambil hikmah di balik kerendahan hati sahabat nabi ini yang dengan lapang dada menerima kekeliruannya dan tunduk pada pemerintah. Bukan malah mempertahankan halusinasinya dan mengajak para pendukungnya untuk meyakini testimoni palsu itu. Seperti yang lazim dilakukan oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan di Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah telah melakukan verifikasi dan membuktikan secara ilmiah bahwa pesaksian di Cakung itu patut untuk ditolak. Sekian. 

Selamat menunaikan ibadah puasa!

2 komentar:

  1. kalau boleh tahu cerita Anas bin Malik itu ada di kitab apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan baca di kitab Syarh Al-Yaqutun Nafis pada bab salat gerhana.

      Hapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!