Pages - Menu

Sabtu, 14 Desember 2013

Syiah Zaidiyah dan Kawin Kontrak


Ilustrasi gambar diambil dari mcpengantinjawa.com

Melalui Status Facebook-nya pada awal Desember lalu, Uni Siti Mahmudah Azzahra, mahasiswi Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) menanyakan, apa bedanya nikah mut'ah Syiah dengan pelacuran? Bersamaan dengan pertanyaannya tersebut, ia juga menyebutkan beberapa poin yang membedakan antara paham Syiah dan kelompok lain, terutama yang berkaitan dengan masalah ini. Dalam banyak hal, saya setuju dengan apa yang disampaikannya–bukan karena saya anti terhadap aliran Syiah. (Untuk melihat keseluruhan isi status itu, silakan klik tautan di atas).
Komentar pertama yang muncul adalah dari sebuah akun bernama M Agus Suhadi. Dengan serampangan ia menulis begini, "Syi'ah bukan Islam!!! Itu yg terpenting....!!!".
Si Uni, yang belum lama ini telah menjalin hubungan pertemanan dengan saya di pelbagai media sosial, turut mendukung komentar M Agus Suhadi dengan membalas, "@ Pak Agus: benar.."
Awalnya saya tidak tertarik untuk berkomentar. Namun, setelah melihat cuplikan dialog seperti di atas, saya merasa perlu untuk sekadar memberikan respons. Tidak selayaknya bagi seorang muslim untuk menghujat saudaranya sendiri apalagi memberi label "kafir/murtad" kepada kelompok lain yang tak sepaham dengan kita. Seyogianya, untuk menghukumi suatu hal, terlebih dahulu kita pahami seluk-beluk mengenai sesuatu yang akan kita beri status hukum tersebut. Apakah benar bahwa Syiah itu telah keluar dari Islam? Dan apakah (semua) Syiah itu mengharamkan nikah mut'ah? Jawab saya: tidak benar.


Syiah
Pada awal perkembangan Islam, kata "syiah" diartikan sebagai pengikut atau pendukung. Pada masa itu, ada istilah "Syiah Utsman" (pengikut Utsman), "Syiah Muawiyah" (pengikut Muawiyah) dan lain-lain. Namun seiring berjalannya waktu, kata "syiah" saat ini lebih populer digunakan sebagai istilah khusus untuk pendukung setia Sayyidina Ali dan keturunannya. Atau dengan kata lain, Syiah adalah sebuah aliran/sekte dalam Islam yang mengultuskan Sayyidina Ali dan anak cucunya.
Orang-orang Syiah meyakini bahwa kepemimpinan atau khalifah itu bukan termasuk kemaslahatan umum, di mana umat tidak mempunyai hak untuk menentukan siapa yang maju menjadi pemimpin. Khilafah adalah bagian dari rukun agama dan pilar Islam itu sendiri. Seorang Nabi tidak boleh melalaikannya, ia harus menunjuk orang yang ditugasi sebagai imam pengganti dirinya. Dan berdasarkan sebuah hadis, seseorang yang ditunjuk secara langsung/tersirat–menurut mereka–adalah Ali bin Abi Thalib.
Adapun hadis-hadis yang dijadikan lanargumen oleh kelompok Syiah terkait keutamaan dan kepemimpinan (imâmah) Ali bin Abi Thalib, di antaranya memang sahih, tapi yang lebih banyak sebenarnya berupa hadis maudlu' (palsu). Meskipun demikian, hadis tersebut tidak bisa dijadikan patokan ihwal imamah Sayyidina Ali, karena pemahaman mereka bertentangan dengan pandangan jumhur ulama.
Salah satu hadis yang dibuat pedoman itu adalah "hadîtsul manzilah" (hadis tentang derajat/kedudukan Ali bin Abi Thalib). Diriwayatkan bahwa kanjeng Nabi Muhammad s.a.w. pergi berperang ke daerah Tabuk dan menyerahkan urusan kota Madinah kepada Sayyidina Ali. "Apakah engkau meninggalkanku hanya untuk mengurus wanita dan anak kecil?" kata Ali dengan nada kecewa karena tidak diajak berperang. Lalu Nabi menjawab, "apa kamu tidak cukup puas bahwa kedudukanmu di sisiku sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa? Bedanya, setelahku tidak ada (lagi) Nabi."
Hadis riwayat Bukhari ini memang sahih. Akan tetapi, kandungan maknanya sama sekali tidak menyinggung perihal penunjukan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin. Hadis tersebut hanya menjelaskan, bahwa saat Nabi hendak pergi ke Tabuk untuk berperang, beliau menyerahkan (untuk sementara) segala urusan kota Madinah kepada Ali bin Abi Thalib.
Penjelasan ini didukung oleh Al-Baqilani yang menyatakan bahwa ada beberapa status/kedudukan yang serupa antara Rasulullah-Ali dan Musa-Harun. Kemiripan itu antara lain (1) keduanya bersaudara, (2) sama-sama menjadi Nabi, (3) Harun juga ditinggal bersama Bani Israil ketika Musa pergi menghadap Allah untuk mendengarkan kalam-Nya. Adapun pergantian kepemimpinan (khilafah) itu bukan termasuk kategori di atas. Karena Nabi Harun meninggal lebih dulu daripada Nabi Musa dan yang menjadi pengganti setelahnya adalah Yûsya' bin Nûn. Dengan demikian, hadis di atas hanya menjelaskan kedudukan Ali bin Abi Thalin, bukan penunjukan dirinya sebagai khalifah setelah Rasulullah wafat.
Isu tentang imamah inilah yang menjadi topik mendasar dan terpenting dalam khazanah pemikiran Syiah. Berpangkal dari ini pula, muncul berbagai penafsiran mengenai eksistensi Imam yang beraneka ragam, seperti terpeliharanya dari segala dosa (maksum), reinkarnasi (raj'ah), penyembunyian sikap (taqiyyah) dan lain sebagainya. Lalu dari perbedaan penafsiran itu, muncul sekte-sekte baru dalam Syiah seperti Imamiyah, Ibadhiyah, Zaidiyah dan masih banyak lagi..

Zaidiyah
Zaidiyah adalah sebuah sekte Syiah yang dinisbatkan kepada nama pendirinya: Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (80–122 H). Pada masa Hisyam bin Abdul Malik (71–125 H), ia memimpin revolusi Syiah di Irak melawan orang-orang dari Bani Umaiyah. Namun, setelah diketahui bahwa ia menghormati dan meridai kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, ia ditinggalkan oleh sebagian besar pengikutnya.
Di antara sekte Syiah yang dinyatakan paling dekat dengan ajaran Islam daripada sekte lainnya adalah Syiah Zaidiyah, yang banyak tersebar di Yaman. Sekte ini tidak mengkafirkan sahabat, dan banyak bersebarangan dengan sekte Imamiyah di Iran dan sekte Ibadhiyah–mazhab resmi negara Oman. Oleh karena itu, ada sebagian kalangan yang menolak ketika Zaidiyah disebut Syiah. (Al-Baghdadiy, Al-Farq baina al-Firaq).
Mungkin (artinya saya tidak dapat memastikan), sebagian besar orang Syiah hanya korban ideologi. Masyarakat Syiah Sampang misalnya, bisa jadi, mereka sama sekali tidak paham dan tidak tahu menahu apa itu Syiah dan apa itu akidahnya. Mereka hanya didoktrin: cinta ahlul bait.. cinta ahlul bait… dan selain kelompok mereka, divonis membenci ahlul bait.

Kawin Kontrak
Kawin kontrak atau dalam bahasa kitab disebut nikah mut'ah adalah pernikahan yang berlangsung pada jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan bersama. Pernikahan kedua mempelai dinyatakan sah sekaligus akan resmi berpisah setelah melewati waktu yang ditentukan. Walaupun ada ikatan pernikahan, sang istri tidak bisa mewarisi harta suaminya.
Moyoritas umat Islam (Ahlusunnah, Syiah Zaidiyah dan Syiah Ibadhiyah) sepakat bahwa nikah mut'ah telah diharamkan oleh Rasulullah. Sementara menurut sekte Syiah (khususnya Imamiyah yang banyak tersebar di Iran), nikah mut'ah adalah halal. Dan yang melarang nikah mut'ah adalah Umar bin Khattab, bukan Nabi. Nikah mut'ah juga dianggap sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah.
Dalil yang digunakan oleh Syiah untuk melegalkan nikah mut'ah adalah riwayat dari Ibnu Abbas dan beberapa sahabat lainnya.
Riwayat tersebut, menurut jumhur fukaha, sudah dihapus/naskh hukumnya. Allah berfirman yang artinya:
"Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas."
[QS. Al-Mu'minûn: 5-7]
Dalam ayat ini, Allah hanya mengizinkan dua jenis perkawinan (baca: persetubuhan), yaitu (1) nikah dengan wanita dan (2) kepemilikan atas hamba sahaya. Sedangkan kawin kontrak bukan termasuk dari keduanya. Selain itu, pernikahan menurut syariat Islam harus mendapat izin dari pihak keluarga. "karena itu kawinilah mereka dengan seizin keluarga mereka," [QS.An-Nisâ': 25]. Sementara kawin kontrak, prosedurnya tidak demikian. (Al-Qulaishi, Ahkâmul Usrah, juz.1 hlm.72).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!