Pages - Menu

Rabu, 16 April 2014

Perang Melawan Kepinding



Gambar kartun karya Aldriana A. Amir.

Hidup satu atap dengan ratusan orang dari berbagai suku, bangsa, dan negara, tentu menyimpan kisah dan pengalaman yang mengesankan, baik itu suka maupun duka. Kisah sukanya, antara lain, kita bisa mengetahui keunikan ragam bahasa, tradisi, dan adat istiadat masing-masing yang patut kita hargai. Selain itu, kita juga bisa bersenda gurau untuk sekadar mengurangi rasa tenat setelah seharian penuh menjalani aktifitas kuliah yang superpadat.


Akan tetapi, hidup bersama "mereka" juga bisa bikin frustrasi.

Kali ini saya ingin bercerita tentang sekelompok penghuni asrama yang ulahnya selalu bikin frustrasi itu. Mereka semuanya berkulit hitam, bau, dan sangat egois: mementingkan kelompoknya sendiri tanpa memedulikan hak asasi orang lain. Postur tubuh mereka sangat kecil dan karena itulah keberadaannya sulit diendus. Kehadirannya di asrama sebenarnya tidak diinginkan oleh siapa pun. Tetapi sayangnya, kamisemua mahasiswa Universitas Al-Ahgaff, Yamantidak sanggup untuk menolak, apalagi mengusirnya ke luar asrama.

Tidak! Saya tidak akan membicarakan orang-orang Afrika yang terkadang menjengkelkan itu, melainkan para imigran asing yang jumlahnya tak terhingga. Kami menyebut mereka dengan nama yang sangat anggun: kepinding. Meskipun sebenarnya masih ada pilihan nama lain yang lebih familier di telinga kita, yaitu kutu busuk. Atau yang biasa digunakan untuk memaki dan mengumpat: bangsat.

Mari saya ajak berkenalan lebih dekat. Kepinding adalah kutu pengisap darah yang sangat ganas. Ia biasa hidup dan bersembunyi di tempat-tempat strategis, seperti di sela-sela kardus, di balik kasur, hingga lipatan kertas. Kadang-kadang kepinding juga terlihat di baju dan sarung walaupun tengah dipakai salat oleh pemiliknya.

Makhluk berkaki enam ini memburu darah selama 24 jam nonstop. Melebihi jam kerja saudaranya, nyamuk, yang "hanya" sekitar empat belas jam—antara pukul 5 sore sampai pukul 7 pagi. Untungnya di sini hampir tidak ada nyamuk, karena setahun hujan turun cuma tiga-empat kali saja. Jadi tidak banyak genangan air untuk tempat bertelur dan berkembang biak.

Untuk urusan darah, kepinding seolah-olah tak kenal bosan. Entah sudah berapa galon darah yang telah mereka teguk. Bahkan saking ganasnya, mereka bisa minum darah hingga melebihi berat badannya sendiri. Setahu saya, di dunia ini hanya kepinding dan nyamuk yang memiliki keistimewaan seperti itu. Bayangkan, porsi makan mereka melebihi berat badannya sendiri. Sangat rakus sekali, bukan? Seperti koruptor yang tak pernah kenyang memakan uang rakyat. Bagaimana kalau para koruptor itu kita namai kepinding saja? Toh keduanya sama-sama busuk. Jadinya nanti KPK adalah singkatan dari Komisi Pemberantasan Kepinding. Percayalah, KPK dengan nama baru ini masih terkesan gagah meskipun ada sebagian pihak yang menjulukinya cecak. [baca: Majalah Detik edisi 37]

Teman sekamar saya ada yang tahan dan tabah menghadapi siksaan kepinding. Ada juga yang mencoba melawan meskipun akhirnya menyerah juga. Seperti Abduh Maqbul, 23 tahun, mahasiswa pribumi yang sudah empat tahun tinggal di asrama. Ia jarang sekali menempati ranjangnya dan memilih tidur di lantai atau atap dengan beralaskan sajadah. Berhari-hari ia sibuk menjemur kasurnya sebelum akhirnya menyerah juga. "Saya sudah memerangi mereka [dengan cara menjemur kasur] sejak beberapa hari lalu. Dan saya memutuskan untuk mengalah saja." katanya.

Di kamar lain, ada yang memerangi kepinding dengan cara menyiram dengan bensin atau air dicampur detergen. Ada juga yang sedikit lebih modern, yaitu dengan menyemprotkan minyak wangi. Mungkin cara seperti itu cukup efektif, tetapi tidak untuk jangka panjang.

Saya sendiri pernah memesan obat penangkal serangga superampuh langsung dari Indonesia, namanya kapur ajaib. Dulu, sewaktu saya masih di pondok pesantren, obat ini berhasil memusnahkan ratusan ekor kecoa yang hidup di tempat penyimpanan beras. Akan tetapi, di negara Yaman ini, keajaiban kapur itu seolah-olah lesap. Terbukti saya masih sering melihat mereka (kepinding berengsek itu) mondar-mandir di sekitar tempat tidur, meski di sekelilingnya sudah saya beri garis pembatas.

Akhirnya saya pun menyerah dan tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Saya juga tidak tahu, dengan cara apa lagi binatang-binatang itu dapat dibinasakan. Apakah Anda punya saran?

30 komentar:

  1. pake cara "lem biru" aja... LEMpar trus Beli yang baRU :D

    BalasHapus
  2. wah,,harus benar2 tahan dengan orang seperti itu ya,,kalau saya sudah geleng2 kepala mas,,,

    BalasHapus
  3. Kepinding hewan seperti kutu beras besarnya yah, mas. lebih besar dikit, itu tah?. kalau di daerah saya nyebutnya "Geleta", mungkin sama atau tidak, hhehe. baca alinie ke dua tak kira mas mau rasis, hahha. kirain orang, eh hewan. dan baru kalini baca postingannya berapi-api, sampai ke luar umpatan :D, basmi dan musnahkan, mas. hajar, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar. Orang Jawa menyebutnya "tinggi". Untuk lebih jelasnya mengenai bentuk hewan ini, silakan cek di Google Images dengan kata kunci "kepinding" atau "kutu busuk". Hehe...

      Hapus
  4. coba dikasih gambar mas, biar tau kepinding itu apaa :D
    kali aja kutu disana ama disini beda kan, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, samalah. Tadinya mau saya pasang fotonya, tapi kelihatannya jorok, nanti malah pada kabur pengunjungnya :D

      Hapus
  5. Owalaaah ternyata tinggi to kupikir jenenge wong afrika

    BalasHapus
  6. kepinding ini kalau di kampung saya namanya tinggi mas, saya pernah baca kepinding paling banyak hidup di daerah kering yg memiliki musim panas dan musim dingin, contohnya negara2 padang pasir di timur tengah hingga afrika timur merupakan basis kepinding alias tinggi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti sekarang saya berada di habitat asli mereka, ya, Mbak? Hehehe

      Hapus
  7. wah ngak bisa urun saran, mas... wong semua langkah sudah dicoba seperti yang diceritakan di atas. juga ngak ada referensi dari pengalaman sendiri mengatasi ini koruptor *eh... maksudnya kepinding hehehe... tapi kalo cara ini itu sudah dipakai ngak mempan, mungkin ini seperti yang pernah aku baca. serangga sekarang mulai berevolusi mengembangkan kekebalan tubuhnya menghadapi obat pembasmi... tubuh mereka terus menciptakan imunitas baru, tiap menghadapi obat pembasmi yang baru...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah baru tahu kalau serangga bisa berevolusi seperti itu. Tetapi yang paling mengagumkan—berdasarkan yang pernah saya baca—adalah ketahanan hidup mereka. Dari kumbang es di Antartika hingga kalajengking matahari di padang sahara, segala jenis serangga tersebut tetap dapat hidup dengan gembira pada temperatur, tingkat kekeringan, dan tekanan dalam rentang yang mematikan. Mereka juga dapat bertahan terhadap kekuatan yang paling mematikan di alam semesta ini: radiasi. Dalam penelitian dampak bom nuklir pada 1945, para peneliti dari Angkatan Udara Amerika sudah mengenakan pakaian antiradiasi dan memeriksa tempat bom dijatuhkan hanya untuk menemukan kecoa-kecoa dan semut-semut yang hidup dengan bahagia, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di sana. Subhanallah!

      Hapus
    2. wauw luar biasa itu mas. ada binatang yang anti radiasi. berarti manusia mahluk rentan yah... mari ikut menolak rencana pembangunan PLTN, mas, jika tak ingin menuju kehancuran diri... *loh, ngomomgnya kok sak paran2... hihihi

      Hapus
    3. Teman saya yang kuliah di jurusan fisika malah mendukung program PLTN. Masalahnya orang Indonesia sering menyambalewa dan mengabaikan prosedur yang berlaku.
      *komentar sak paran-peran kok tetap ditanggapi? hehe

      Hapus
  8. wah saya malah baru tahu nih tentang hewan kepinding, apa mungkin sejenis hewan tinggi ya yang ada di kasur :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Eka. Kepinding adalah nama lain dari tinggi dan kutu busuk. Akan tetapi lema "tinggi" belum masuk dalam KBBI.

      Hapus
  9. blm pernah ngalamin, jadi blm tau gimana ngusirnya. semoga segera hilang ya

    BalasHapus
  10. Kalau sundanya "tumbila" bukan ya? Tadinya mau nyaranin pakai kapur ajaib, ternyata gak mempan pula toh. Mungkin harus nyari pembasmi yang lebih ampuh.
    Eh, betul juga mirip koruptor banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tumbila? Saya malah belum pernah dengar itu, sekalipun dari teman-teman yang berasal dari Sunda.

      Hapus
  11. wah harus di semprot pakai obat mas biar pada kabur. Biasanya kalau ada di kasur, sih sebaiknya sering dijemur aja kasur nya, pasti nanti pada kabur tinggi nya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sudah sering dilakukan. Tetapi cuma dua-tiga hari kepinding itu kabur, setelah itu datang lagi.

      Hapus
  12. Hi orang Yaman *jaga-jaga takut salah lagi
    Kepinding? itukan kalau nggigit gatalnya setengah pingsan. Aku pernah nemu kasur begitu, kalau nggak salah waktu numpang tidur di asrama temen. Memang sangat menyiksa lahir batin kayaknya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali, Mbak Sofia. Wah, ternyata mereka juga suka sama kaum hawa, ya?

      Hapus
  13. biasanya hewan tersebut suka nya makan darah orang, jadi harus waspada jika ada hewan tersebut dikamar tidur atau dikasur :D

    BalasHapus
  14. kepinding itu memang menyebalkan...tapi salah satu ampuh untuk mengatasinya adalah dengan selalu menjaga kebersihan kamar dan tempat tidur kita...tanpa itu..kepinding tetap akan menjadi raja....
    keep happy blogging always...salam dari makassar :-)

    BalasHapus
  15. buahahaha,,aku pikir kepinding itu orang Afrika,,ternyata,,hewan tinggi ya,,,saya pernah digigit sama kutu busuk itu,,,benar2 tidak nyenyak tidurku,,,

    BalasHapus
  16. makasi semua temen2 infonya.

    Nomor Cantik
    http://andikanis.com

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!