Pages - Menu

Senin, 18 Agustus 2014

Santri Garuda

Mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Ahgaff sedang melakukan penghormatan terhadap Sang Saka Merah Putih.
Santri Garuda di Universitas Al-Ahgaff, Yaman.
Sumber foto: Sisma Fitra.
Frasa yang saya jadikan judul tulisan ini di atas adalah julukan tidak resmi yang ditujukan kepada para pelajar Indonesia di Negara Yaman. Predikat unik tersebut pertama kali diperkenalkan oleh senior saya, Muhammad Khotibul Umam, yang kemudian dipopulerkan kembali oleh Bapak Agus Maftuh Abegebriel, dosen ilmu hadis di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus pengamat politik Timur Tengah dalam sebuah interviu di stasiun televisi swasta beberapa tahun lalu.

Apa sesungguhnya arti julukan tersebut? Dan tepatkah jika julukan itu disematkan kepada mereka? Mari kita bahas satu per satu, kata demi kata.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2008) terbitan Pusat Bahasa mencantumkan lema santri dan menakrifkannya sebagai orang yang mendalami agama Islam. Dengan demikian, santri bukan hanya mereka yang belajar ilmu agama di pondok pesantren, melainkan semua orang yang sedang mendalami ilmu agama Islam, di mana pun ia belajar.

Di Negara Yaman, ada sekitar dua ribu pelajar asal Indonesia yang rata-rata mengambil jurusan syariat atau kajian keislaman lainnya. Mereka tersebar di berbagai daerah dan provinsi. Mulai dari Mukalla di Yaman selatan, Hudaidah di pantai Laut Merah, sampai daerah konflik dekat perbatasan Arab Saudi.

Di antara perguruan-perguruan tinggi di Yaman, mungkin—artinya saya tidak dapat memastikan—yang paling kesohor adalah Universitas Al-Ahgaff di Kota Tarim, Provinsi Hadhramaut. Di universitas yang saban tahun memberi beasiswa penuh itu, 70 persen mahasiswanya berasal dari Indonesia. Selain Universitas Al-Ahgaff, di Hadhramaut masih ada ribat atau lembaga-lembaga pendidikan lain seperti Darul Musthofa, Ribat Tarim, Ribat Fath wal Imdad, dan Darul Ghuraba’ yang kebanyakan didominasi oleh pelajar dari Nusantara.

Adapun kata yang kedua, garuda, adalah lambang negara Indonesia (berupa gambar burung garuda dengan bulu sayap berjumlah 17, bulu ekor 8, bulu leher 45, cakar mencengkeram pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika, dan berperisai lambang Pancasila di dadanya). Simbol ini selalu disematkan di kaus tim sepak bola Indonesia sebagai lambang kebangsaan sekaligus kebanggaan bagi pemakainya. Ungkapan “Garuda di dadaku” mencerminkan orang yang loyal, patriotik, dan mencintai Indonesia.

Penggabungan kata santri dengan garuda, yang kemudian menjadi sebuah lakab, mengandung arti seseorang atau sekelompok orang yang religius dan berjiwa nasionalisme tinggi.

Akan tetapi, selain sebagai penegasan identitas pelajar Indonesia di Yaman yang menjunjung tinggi eksistensi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), julukan Santri Garuda juga sebagai penyangkalan atas berbagai tudingan publik selama ini.

Seperti diberitakan media massa, Yaman merupakan salah satu negara yang menjadi basis jaringan teroris Alqaeda. Hal itu dapat dilihat, misalnya, dari pelbagai aksi peledakan bom di tanah air yang setelah diselidiki ternyata pelakunya adalah lulusan Yaman.

Memang benar, di Yaman ada juga lembaga pendidikan yang berideologi radikal dan ekstrem, seperti Pesantren Darul Hadith di Kota Dammaj, Provinsi Sa’dah. Penghuninya tak terlalu banyak, setidaknya ada 400 pelajar asal Indonesia yang menimba ilmu di sana. Selain belajar agama, konon mereka juga diajari bagaimana cara memegang senjata. Pesantren ini, meskipun masih beroperasi secara legal, termasuk lembaga pendidikan yang tidak direkomendasikan oleh pemerintah Yaman.

Persoalannya semakin pelik karena mereka didoktrin sedemikian rupa sehingga mempunyai pemikiran yang unik dan hegemonik. Contohnya: mereka tak mau difoto (apalagi selfie, he-he); tidak membolehkan ada foto presiden, bendera Merah Putih, atau lambang garuda di dalam rumah; hobi menebar propaganda bidah; menolak NKRI; dan lain sebagainya.

Selain itu, mereka juga tak bisa menerima perbedaan pendapat dan melakukan pengavelingan kebenaran secara personal serta menganggap kelompok lain sesat. Dapat dipastikan, jika mereka pulang ke Indonesia nanti tak akan bisa berinteraksi dengan NU maupun Muhammadiyah: dua organisasi terbesar di Indonesia yang berhaluan moderat. Mereka inilah yang mengancam keutuhan NKRI dan tidak pantas mendapat julukan Santri Garuda.

Akhirulkalam, saya mewakili seluruh pelajar Indonesia di Yaman yang memiliki elan patriotisme tinggi mengucapkan: Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka!

42 komentar:

  1. Agak mengkhawatirkan juga saya membaca artikel kali ini mas. Bukankah dalam pemhaman saya SANTRI GARUDA adalah santri yang berjiwa Indonesia menomorsatukan NKRI dan setia kepada bangsa dan Negara Indonesia. Jika ada mahasiswa Indonesia di Yaman yang mempelajari domtgrion Ekstrim dengan paham Radikalisme, saya kuatir sekembalinya di Indonesia mendapat sorotan dari inlteljen. Yang saya takutkan adalah jika otoritas Indonesia menganggap alumni dari Paham Radikal itu berpotensi disamakan dengan ISIS. Wah Pemerintah Indonesia pasti akan marah besar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan khawatir, Kang Asep, kelompok radikal di sini tergolong minoritas. Justru kebanyakan pelajar Indonesia di Yaman, termasuk di antaranya saya, berpaham Islam moderat yang siap menjaga keutuhan NKRI.

      Hapus
    2. I don't know what to argue, but mostly aku mengerti dengan kekhawatiran Kang Asep Haryono dan setuju dengan pendapatnya. Just my two cents.

      Hapus
    3. @Mahadewi Sugiastuti Shaleh : Makasih sudah menanggapi. Saya sudah membaca beberapa artikel di blog mba. Misalnya tentang fenomena JilBoobs, dan yang terbaru adalah soal Perfume. What a cool review and articles indeed. Thanks for sharing. I really appreciate it

      Hapus
    4. Duh, saya enggak begitu paham bahasa Inggris :(

      Hapus
    5. keseruan artikel tentang santri garuda, diperseru dengan diskusi mendalem daripakar kakak saya itu...kang asep tercinta

      Hapus
    6. Lebih seru lagi kalau adiknya ikut nimbrung di sini, he-he. Selamat datang.

      Hapus
  2. Aduh, komentarnya mas asep haryono berat banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  3. Bendera Indonesia berkibar di Yaman :) di pasir putihnya dan air laut yang sangat tenang tanpa ombak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang lebih mengharukan lagi, kain bendera itu berasal dari baju koko yang dijahit dengan tangan. Tapi ombak di sini besar-besar, lo, Mbak. Mungkin karena fotonya terlalu jauh jadi enggak kelihatan.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Angka itu saya kutip dari perkataan wartawan MetroTV yang meliput langsung di sana. Mudah-mudahan saja data itu keliru :)

      Hapus
  5. Wah mantap mas Lutfi Merdeka hidup santri Garuda keren ^-^ semoga Istiqomah menebar kebaiakn disana ditgu ilmu"nya di indonesia dah ^-^

    BalasHapus
  6. wah salut sama santri garuda, nasionalisme nya sangat tinggi. Merdeka!

    BalasHapus
  7. Dari namanya aja dah keren banget ya, Indonesia banget gitu...
    kalo di daerah saya mah ada juga julukan santri kalong mas hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Daerah mana, Mas? Santri kalong berarti yang suka keluyuran tengah malam, ya? He-he-he.

      Hapus
  8. tetap semangat para santri yang menuntut ilmu di yaman. kami disini mendoakan terbaik untuk kalian..

    BalasHapus
  9. wow 70%! keren euy, wah ini mah kalo pulang kesini wajib ngajar di Unit Yatim, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan calon mahasiswa baru asal Indonesia di Universitas Al-Ahgaff tidak dibatasi jumlahnya. Unit yatim di mana, Mas?

      Hapus
  10. nih disini yatimal-karomah.blogspot.com , sorry mumpang naro link

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga suatu saat nanti saya bisa berkunjung sekaligus menyantuni anak yatim di sana.

      Hapus
  11. Harusnya santri itu fokus belajar soal agama... saya baru pertama kali bertamu disini hehe tulisanya bagus2. salam kenal dan salam ukhuwah :)

    BalasHapus
  12. Santri Garuda, saya juga ikutan hormat :)
    beberapa mahasiswa yang berada di lembaga radikal, semoga nggak menyalah gunakan ilmu yang didapat. tetap untuk tujuan postif.

    BalasHapus
  13. Wow, kamu pelajar di Yaman, toh..keren, ih... Tengkyu sharingnya ttg ragam pesantren yg ada disana.. Smg sukses ya, Mas Lutfi..

    BalasHapus
  14. tetap semangat 45 mas,dimanapun kita berada merah putih selalu didada.ngimong ngomong ada pendidikan dengan ideologi radikal ngeri itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mas/Mbak. Di mana pun kita berada, Merah-Putih selalu di dada.

      Hapus
  15. semoga saja 2000 santri itu bisa menjadi santri garuda..sehingga bila kembali ke Indonesia..mereka bisa turut serta membangun negeri ini..dan membebaskan negeri ini dari para koruptor.....keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
  16. Santri Garuda, penamaan sebagai ciri khas sepertinya, Mas. sekaligus untuk menciptakan spirit selalu ingat tanah air... salam merdeka!! #jadi mikir, jadi bener ada beberapa alumnus pelajar timur tengah pulang sudah jadi teroris. wong di sana diajari pegang senjata pula.

    BalasHapus
  17. Subhanallah...
    ucapan dirgahayu dari yaman terdengar cetar membahana dari Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. He-he, terima kasih. Apa kabar yang dari Lumajang?

      Hapus
  18. Salah satu hal yang tidak pernah saya lupakan dalam kehidupan, dimana kita baru terbangn rasa nasionalisme di saat jauh dari ibu pertiwi ya mas. Semoga dapat menggugah para generasi muda.

    Salam

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!