Pages - Menu

Rabu, 29 Oktober 2014

Birokrasi Yaman yang Membuat Frustrasi


Kantor Kementerian Pendidikan Nasional Yaman.
Foto diambil dari sini.
Cerita mengenai buruknya sistem birokrasi di Negara Yaman mungkin tidak akan ada habisnya. Yang paling baru, dan mungkin yang paling heboh, ketika beberapa waktu lalu seratus lebih calon jemaah haji dari Universitas Al-Ahgaff gagal berangkat ke Tanah Suci karena alasan klasik: visa tidak keluar.

Hal serupa juga terjadi tahun lalu. Bedanya, dulu yang tidak jadi berangkat “hanya” 50-an orang, tetapi tahun ini meningkat dua kali lipat seiring dengan bertambahnya jumlah pendaftar. Dan meski tidak ikut mendaftar, saya turut prihatin dengan keadaan itu.

Mereka yang pernah tinggal di Negara Yaman, baik untuk tujuan belajar maupun sekadar pelesiran, pasti akan berurusan dengan seluk-beluk birokrasi. Begitu pula saya dan teman-teman satu angkatan yang sudah lima tahun ini tidak pulang, mau tidak mau harus tabah menghadapinya.

Sekitar awal September lalu masa berlaku iqamah (visa izin tinggal) kami sudah habis dan beberapa minggu sebelumnya sudah diperpanjang. Maksudnya kami telah membayar sejumlah uang (8.500 rial) untuk menambah masa aktif iqamah selama satu tahun. Memang, pembayaran iqamah harus dilakukan tepat waktu, karena apabila melewati tenggat, maka yang bersangkutan akan dikenai denda sebesar 300 rial per hari. Anggap saja 1 rial sama dengan Rp57, maka 300 rial kurang lebih Rp17 ribu.

Sampai di sini tidak ada masalah. Permasalahan baru muncul ketika sebagian dari kami ingin pulang dan mau mengurus surat khuruj niha’i (keluar dari negara).

Ternyata perpanjangan izin tinggal tersebut belum diproses oleh petugas imigrasi—atau apalah istilahnya saya kurang begitu paham—karena persediaan stiker habis. Stiker yang dimaksud merupakan bukti pembayaran iqamah yang (akan) dilekatkan di paspor masing-masing. Dan sampai saya menyelesaikan draf tulisan ini, belum ada kejelasan kapan stiker itu tersedia lagi.

Anehya, inilah yang membuat frustrasi, kami dianggap tidak/belum memperpanjang masa iqamah dan, oleh karena itu, jika nekat tetap ingin pulang maka sebagai konsekuensinya—di samping uang yang telah diserahkan untuk pembayaran iqamah hangus—harus membayar denda harian terhitung sejak dua bulan lalu. Ya, semuanya mungkin sekitar Rp1,5 juta. Alamak!

Bagi yang sabar menunggu sampai iqamah-nya beres, memang tidak terkena denda. Yang jadi masalah: siapa yang bisa sabar menunggu tanpa adanya kepastian?

Sabtu, 25 Oktober 2014

Gengsi Dong


Sumber gambar: Ganool.com

Sekalipun sudah berpuluh-puluh kali menonton film, sekali pun saya belum pernah membuat resensi. Oleh karenanya, perkenankan saya kali ini untuk (latihan) menulis ringkasan tentang film yang belum lama ini saya tonton: Gengsi Dong.

Mungkin sebagian besar dari Anda sudah pernah menontonnya, bahkan berkali-kali, karena film ini memang sering diputar ulang, terutama saat hari Lebaran. Ya, Gengsi Dong adalah film drama komedi tahun 80-an yang dibintangi oleh tiga pelawak legendaris—Dono, Kasino, dan Indro—serta penyanyi dangdut kawakan, Camelia Malik.

Film ini mengisahkan tiga orang mahasiswa yang sedang kuliah di ibu kota Jakarta. Mereka adalah Slamet (Dono), anak juragan tembakau paling kaya dari Solo, Jawa Tengah; Sanwani (Kasino), orang Betawi asli anak pengusaha bengkel mobil; dan Paijo (Indro), anak pengusaha minyak yang kaya raya. Dari latar belakang yang beragam itulah, mereka berteman dan bertemu dengan Rita (Camelia Malik), gadis paling cantik sekaligus putri seorang dosen yang mengajar di kampus tempat mereka kuliah.

Ketiganya selalu menjaga gengsi dan berlomba-lomba untuk menarik perhatian Rita.

Sanwani, misalnya, selalu mengibul bahwa dirinya tinggal di perumahan elite di daerah Menteng. Ia juga sering pergi ke kampus membawa mobil dari bengkel yang belum selesai didempul. Sementara Slamet, setelah dikompori teman-temannya karena tak punya mobil, akhirnya meminta kiriman uang dari kampung untuk membeli mobil. Berbekal uang Rp2 juta kiriman dari ayahnya, ia hanya mampu membeli mobil reyot—sebenarnya lebih tepat disebut opelet—yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak norak.

Hari-hari kuliah mereka jalani dengan ceria dan penuh tawa. Sesekali mereka mencuri kesempatan untuk kencan berdua dengan Rita dan merumrumnya melalui alunan lagu dangdut. Dan meski Rita tampak sangat akrab dengan ketiganya, sebenarnya tidak ada satu pun dari mereka yang ia taksir. Sebaliknya, masing-masing dari mereka bertiga justru merasa dirinyalah yang paling pantas dan berhak untuk menjadi kekasih Rita.

Puncaknya saat mereka diundang dalam acara ulang tahun Rita yang ke-20. Pada akhir acara, bapak Rita naik ke pentas dan menunjuk pria lain untuk menjadi calon suami bagi anaknya. Tentu saja, mereka bertiga kecewa berat. Bahkan Slamet yang sebelumnya tampil sangat percara diri sampai pingsan melihat kenyataan pahit itu.

Selain menghibur penonton melalui dialog dan adegan-adegan lucu, konon Gengsi Dong—dan film-film Warkop DKI yang lain—juga sarat muatan sindiran terhadap penguasa. Misalnya perkataan Sanwani saat memperkenalkan Paijo sebagai anak pengusaha minyak yang “hartanya banyak disimpan di luar negeri” atau pembelaannya kepada Slamet saat diejek Paijo “orang kaya kelakuannya memang begitu, kayak uang bapaknya halal saja.” Dan masih banyak lagi....

Meski Gengsi Dong merupakan film zaman baheula, setidaknya saya cukup terhibur dan menikmatinya—seperti sedang bernostalgia.

Pernahkah Anda menonton film ini? Bagaimana kesannya? Menarikkah?

Minggu, 19 Oktober 2014

Rumah Cuci


Ilustrasi gambar diambil dari sini.
“Tumben di sini? Kan biasanya dititipkan di rumah cuci?” tanya saya kepada seorang teman.

Ia tidak menjawab. Sambil tersenyum, ia malah balik bertanya dengan nada bergurau, “Enggak ada bahasa yang lebih keren?”

“Lo, bahasa Indonesia itu keren!”

Obrolan singkat di atas terjadi beberapa hari yang lalu saat saya dan seorang teman sedang asyik mencuci pakaian di wastafel. Tidak ada yang penting sebenarnya dari apa yang kami obrolkan waktu itu, tetapi saya tertarik dengan bahasa keren yang dipertanyakannya itu. Saya mafhum, ia sedang menyindir karena saya menggunakan diksi rumah cuci dan bukannya laundry seperti yang lazim dipakai kebanyakan orang.

Sebenarnya apa sih yang menjadi tolok ukur sebuah bahasa pantas disebut keren?

Saya berpendapat, bahasa yang keren adalah bahasa yang menunjukkan jati diri bangsa dan dilafalkan penuturnya sesuai dengan konteks dan kaidah kebahasaan yang berlaku. Dengan demikian, penyisipan istilah-istilah asing dalam ragam cakapan, yang sebenarnya ada padanannya dalam bahasa Indonesia, menunjukkan gejala tuna harga diri—salah satu dari enam sifat negatif bangsa Indonesia yang diuraikan oleh Koentjaraningrat, guru besar antropologi Indonesia—dan pudarnya kebanggaan berbahasa Indonesia.

Pada kasus percakapan di atas, penggunaan kata laundry—seperti yang diharapkan teman saya—adalah salah satu contohnya.

Selama ini kita sudah mengenal penatu, yang berarti ‘usaha atau orang yang bergerak di bidang pencucian (penyetrikaan) pakaian’, sebagai padanan kata laundry. Tetapi penatu tidak mengandung muatan makna tempat, sebagaimana salah satu makna yang diusung laundry, sehingga kekosongan semantik itu sesungguhnya bisa diisi oleh rumah cuci.

Memang, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2008) terbitan Pusat Bahasa tidak, atau katakanlah belum, mencantumkan rumah cuci sebagai sublema dari kata dasar rumah. Tetapi penutur jati bahasa Indonesia tentunya bisa mengira-ngira sendiri bahwa arti frasa tersebut kurang lebih ‘tempat usaha cuci-mencuci’.

Jadi intinya, melalui tulisan sederhana ini saya ingin mengatakan (lagi) bahwa bahasa Indonesia itu keren. Oleh karena itu, mari kita kurangi penggunaan istilah-istilah asing dalam berbahasa, sedikit demi sedikit.

Selasa, 07 Oktober 2014

Iktirad

Gambar kartun di atas diambil dari sini.
Hari Jumat lalu saya membagikan sebuah tautan di salah satu grup Facebook yang saya ikuti. Tautan tersebut berisi kritik atas keputusan pemerintah Arab Saudi yang menetapkan awal bulan Zulhijah 1435 jatuh pada hari Kamis (25 September) berdasarkan penyaksian sejumlah saksi yang mengaku melihat hilal. Alasan saya simpel: sehari sebelumnya (Rabu, 24 September) setelah matahari terbenam, posisi hilal di Mekah masih sangat rendah sehingga sangat sulit untuk dilihat, sekalipun menggunakan alat bantu optik.

Beragam komentar pun bermunculan. Banyak yang mendukung dan tertarik. Tak sedikit yang hanya menyimak diam saja. Ada pula yang terlihat “kaget” dan memberi respons tidak setuju.

Terus terang saya senang sekali jika ada yang mengkritik atau mengoreksi tulisan-tulisan di blog ini, baik dari segi isi, tata bahasa, maupun ejaan kalimatnya. Dengan catatan, tentu saja, kritik tersebut disampaikan dengan bahasa yang jelas, tidak berbelit-belit, dan disertai dalil ilmiah (jika diperlukan) sebagai pendukung gagasannya. Bukan asal bicara serampangan yang terkesan memaksakan pemahamannya sendiri dan membuat orang lain kesulitan menanggapinya.

Salah seorang penghuni grup Facebook itu—yang belakangan saya ketahui sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Al-Ahgaff—berkomentar begini, “Yang menulis di blog sangat tidak beretika, sangat tidak tahu ilmu falak. Hari Jumat ini memang Arafah.”

Minggu, 05 Oktober 2014

Mari Berselawat!

Sumber gambar: Halaman Facebook AMI Al-Ahgaff.
Kebanyakan pelajar Indonesia di Yaman—saya tidak mengatakan semuanya—kurang bisa membedakan antara transliterasi dan kata serapan dari bahasa Arab. Transliterasi adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Sedangkan kata serapan adalah kata yang diambil dari bahasa asing, lalu ejaan dan pelafalannya disesuakan dengan yang berlaku di Indonesia. Sekadar informasi, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2008) terbitan Pusat Bahasa telah menyerap 20 bahasa asing dan 70 bahasa daerah.

Beberapa hari yang lalu, sebuah pengumuman bertuliskan “Al-Ahgaff Bershalawat...!” terpampang sangat jelas di dalam asrama mahasiswa Universitas Al-Ahgaff, Yaman. Pengumuman itu berisi ajakan melakukan selawat berjemaah di selasar kampus yang akan dihadiri oleh salah seorang ulama setempat. Tidak ada masalah dengan acara itu, masalahnya hanya pada judul pengumuman itu sendiri.

Saya tidak bermaksud mengomentari penggunaan tanda elipsis yang tidak perlu pada judul tersebut, tetapi secara khusus akan membahas gugus konsonan /sh/ yang digunakan dalam kata bershalawat pada judul pengumuman itu. Selain kata shalawat, kita kerap menjumpai (dalam bahasa tulis) gugus konsonan /sh/ yang digunakan dalam kata seperti shalat, mushala, shubuh, shadaqah, shaf, dan lain-lain sebagai kata dari serapan bahasa Arab yang seolah-olah bergugus konsonan /sh/.

Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi III (2008) disebutkan bahwa konsonan bernada desis (frikatif) /s/ gugus konsonannya adalah /sl/, /sr/, /sw/, /sp/, /sm/, /sn/, /sk/, /st/, /sf/ seperti pada kata slogan, sriwijaya, swalayan, spora, smokel, snobisme, skala, status, sferoid.

Adapun gugus konsonan /sh/ pada contoh-contoh yang saya sebutkan di atas tidak ada satu pun yang tercantum sebagai lema dalam KBBI. Konsonan itu berasal dari huruf sad yang, mungkin, dianggap sama dengan huruf kha yang mempunyai konsonan /kh/ dalam bahasa Indonesia, sehingga terjadilah penulisan kata serapan bahasa Arab tersebut yang sesungguhnya menyalahi kaidah paramasastra.

Jadi, jika ingin mematuhi kaidah penggunaan bahasa yang baik dan benar seharusnya ditulis salat, subuh, musala, sedekah, dan berselawat.

Kesalahpahaman atau ketidakhirauan terhadap penggunaan tata bahasa, ejaan, dan penulisan unsur serapan dari bahasa asing tampaknya sudah mengakar kuat dalam diri masyarakat Indonesia. Sehingga, untuk mewujudkan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar serta bangga berbahasa Indonesia masih berupa jalan yang sangat panjang.

Kamis, 02 Oktober 2014

Ironi Haji Akbar



Liliput manusia sedang menjalani wukuf
di Padang Arafah. Foto: travelhajidanumroh.com

Perbedaan penetapan awal bulan Ramadan dan Idulfitri merupakan persoalan klasik yang senantiasa aktual. Saban tahun, kita selalu disuguhi perdebatan panjang tentang hal ini antara pemerintah dan organisasi-organisasi kemasyarakatan lengkap dengan dalil dan argumentasi masing-masing. Akan tetapi, di kalangan pemerhati ilmu falak, penetapan awal bulan Zulhijah juga tak kalah seru dan menjadi bahan perbincangan yang tak kunjung usai.

Pada tanggal 24 September lalu, Mahkamah Agung Arab Saudi memutuskan bahwa awal bulan Zulhijah 1435 jatuh pada hari Kamis, 25 September 2014. Keputusan tersebut didasarkan atas kesaksian sejumlah saksi yang mengaku melihat hilal pada akhir bulan Zulkaidah sesaat setelah matahari terbenam. Sementara pemerintah kita, melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, menetapkan awal bulan Zulhijah 1435 jatuh pada hari Jumat, 26 September 2014.

Dengan keputusan Arab Saudi tersebut, maka hari Arafah—ketika jemaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk mengerjakan wukuf tanggal 9 Zulhijah—jatuh pada hari Jumat, 3 Oktober 2014. Menurut sebagian besar masyarakat, ibadah haji yang wukufnya bertepatan dengan hari Jumat dinamakan Haji Akbar. Dasar hukum yang digunakan adalah hadis yang berbunyi: “Seutama-utama haji adalah hari Arafah. Dan apabila ia bertepatan dengan hari Jumat, maka (haji ketika itu) lebih utama daripada 70 haji yang wukufnya selain hari Jumat.”

Memang, menurut Mazhab Syafii, hari Arafah merupakan hari terbaik sepanjang tahun, semisal malam terbaik adalah malam kelahiran Rasulullah di muka bumi. Sedangkan Jumat adalah hari terbaik dalam hitungan satu pekan. Jika dua keutamaan hari tersebut bertemu dan menyatu, maka tidak dapat dimungkiri akan melahirkan keutamaan baru yang besar dan dahsyat: bertemunya dua waktu yang mangkus; bertemunya dua hari raya mingguan dan tahunan; bertepatan dengan penghapusan Allah atas dosa-dosa para jemaah haji.

Terlepas dari semua keutamaan itu, jika ditinjau dari sudut pandang ilmu falak, keputusan Arab Saudi tersebut sangat aneh dan mencurigakan. Menurut data yang dirilis Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa hari lalu, pada saat matahari terbenam di Arab Saudi (Rabu, 24 September 2014), posisi hilal baru 0,9 derajat di atas ufuk, yakni masih jauh di bawah batas minimal imkanur rukyah.