Pages - Menu

Kamis, 02 Oktober 2014

Ironi Haji Akbar



Liliput manusia sedang menjalani wukuf
di Padang Arafah. Foto: travelhajidanumroh.com

Perbedaan penetapan awal bulan Ramadan dan Idulfitri merupakan persoalan klasik yang senantiasa aktual. Saban tahun, kita selalu disuguhi perdebatan panjang tentang hal ini antara pemerintah dan organisasi-organisasi kemasyarakatan lengkap dengan dalil dan argumentasi masing-masing. Akan tetapi, di kalangan pemerhati ilmu falak, penetapan awal bulan Zulhijah juga tak kalah seru dan menjadi bahan perbincangan yang tak kunjung usai.

Pada tanggal 24 September lalu, Mahkamah Agung Arab Saudi memutuskan bahwa awal bulan Zulhijah 1435 jatuh pada hari Kamis, 25 September 2014. Keputusan tersebut didasarkan atas kesaksian sejumlah saksi yang mengaku melihat hilal pada akhir bulan Zulkaidah sesaat setelah matahari terbenam. Sementara pemerintah kita, melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, menetapkan awal bulan Zulhijah 1435 jatuh pada hari Jumat, 26 September 2014.

Dengan keputusan Arab Saudi tersebut, maka hari Arafah—ketika jemaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk mengerjakan wukuf tanggal 9 Zulhijah—jatuh pada hari Jumat, 3 Oktober 2014. Menurut sebagian besar masyarakat, ibadah haji yang wukufnya bertepatan dengan hari Jumat dinamakan Haji Akbar. Dasar hukum yang digunakan adalah hadis yang berbunyi: “Seutama-utama haji adalah hari Arafah. Dan apabila ia bertepatan dengan hari Jumat, maka (haji ketika itu) lebih utama daripada 70 haji yang wukufnya selain hari Jumat.”

Memang, menurut Mazhab Syafii, hari Arafah merupakan hari terbaik sepanjang tahun, semisal malam terbaik adalah malam kelahiran Rasulullah di muka bumi. Sedangkan Jumat adalah hari terbaik dalam hitungan satu pekan. Jika dua keutamaan hari tersebut bertemu dan menyatu, maka tidak dapat dimungkiri akan melahirkan keutamaan baru yang besar dan dahsyat: bertemunya dua waktu yang mangkus; bertemunya dua hari raya mingguan dan tahunan; bertepatan dengan penghapusan Allah atas dosa-dosa para jemaah haji.

Terlepas dari semua keutamaan itu, jika ditinjau dari sudut pandang ilmu falak, keputusan Arab Saudi tersebut sangat aneh dan mencurigakan. Menurut data yang dirilis Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa hari lalu, pada saat matahari terbenam di Arab Saudi (Rabu, 24 September 2014), posisi hilal baru 0,9 derajat di atas ufuk, yakni masih jauh di bawah batas minimal imkanur rukyah.
 
Data hisab awal bulan Zulhijah 1435 untuk Arab Saudi.
Sumber: Badan Hisab Rukyat Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jika benar demikian, maka seolah-olah Arab Saudi telah merekayasa keputusannya dengan mengepaskan hari Arafah jatuh pada hari Jumat. Dan ini bukan pertama kalinya negeri kaya minyak itu melakukannya. Pada musim haji tahun 1988, misalnya, Arab Saudi juga berencana menjatuhkan hari Arafah pada hari Jumat sehingga menjadikannya momentum haji akbar. Bahkan secara resmi PBNU—yang waktu itu dipimpin oleh KH Abdurrahman Wahid—sampai mengutus seorang maestro falak dari Jepara, KH Nur Ahmad, untuk meluruskan kesalahan tersebut dan, alhamdulillah, akhirnya pemerintah Arab Saudi bersedia mengubah pendiriannya dan jadilah wukuf waktu itu jatuh pada hari Sabtu.

Lalu, bagaimana dengan musim haji tahun ini?

14 komentar:

  1. sudah berkali kali dijelaskan tentang hilal sama suami enggak mudeng juga. :D

    BalasHapus
  2. Subhannallah saya sampe merinding gan liat gambar orang yang sedang menjalani wikuf dan semoga para jamaah yang menjalani wukuf diberi kesehatan oleh allah swt :) aminnn .. salam kenal yah kang dari Cinta Teknologi ^_^

    BalasHapus
  3. musim haji tahun ini nggak jadi trending topic...
    kalah sama hestek buat ngebully pak presiden
    :)

    BalasHapus
  4. Jadi nambah wawasan nih kang, tapi aku gak ngerti ttg perhiyungan kayak gtu, pokmen ngikutin pihak yg berwenang dan tau (pemerintah+kyai) hehee...

    BalasHapus
  5. semalam, jumat malam sabtu yang berarti tanggal 3 Oktober, mendekati pukul dua belas malam di tempat saya sudah ada yang takbiran. terdengar dari arah masjid kaum MD. maklum di lingkunganku juga ada dari golongan mereka. it's oke. seperti dijelaskan postingan di atas, penetapan hari-hari raya selalu terjadi beda pendapat. kalau bahasa pesantrennya kita terima saja itu sebagai ikhtilaful 'ulama rahmat ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya tidak semua orang bisa menerima perbedaan pendapat sebagai rahmat. Selamat hari raya Iduladha.

      Hapus
  6. keren juga ya gusdur, berani untuk meluruskan penetapan hari raya idul adha di arab saudy sana, sipp mas :)

    BalasHapus
  7. Subhanallah,,liliput manusia seperti itu ya,,,seperti semut,,,,

    BalasHapus
  8. kemarin di indonesia masih ada perbedaan pelaksanaan idul adha,
    imbas dari perhitungan waktu di arab sepertinya :D

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!