Pages - Menu

Minggu, 19 Oktober 2014

Rumah Cuci


Ilustrasi gambar diambil dari sini.
“Tumben di sini? Kan biasanya dititipkan di rumah cuci?” tanya saya kepada seorang teman.

Ia tidak menjawab. Sambil tersenyum, ia malah balik bertanya dengan nada bergurau, “Enggak ada bahasa yang lebih keren?”

“Lo, bahasa Indonesia itu keren!”

Obrolan singkat di atas terjadi beberapa hari yang lalu saat saya dan seorang teman sedang asyik mencuci pakaian di wastafel. Tidak ada yang penting sebenarnya dari apa yang kami obrolkan waktu itu, tetapi saya tertarik dengan bahasa keren yang dipertanyakannya itu. Saya mafhum, ia sedang menyindir karena saya menggunakan diksi rumah cuci dan bukannya laundry seperti yang lazim dipakai kebanyakan orang.

Sebenarnya apa sih yang menjadi tolok ukur sebuah bahasa pantas disebut keren?

Saya berpendapat, bahasa yang keren adalah bahasa yang menunjukkan jati diri bangsa dan dilafalkan penuturnya sesuai dengan konteks dan kaidah kebahasaan yang berlaku. Dengan demikian, penyisipan istilah-istilah asing dalam ragam cakapan, yang sebenarnya ada padanannya dalam bahasa Indonesia, menunjukkan gejala tuna harga diri—salah satu dari enam sifat negatif bangsa Indonesia yang diuraikan oleh Koentjaraningrat, guru besar antropologi Indonesia—dan pudarnya kebanggaan berbahasa Indonesia.

Pada kasus percakapan di atas, penggunaan kata laundry—seperti yang diharapkan teman saya—adalah salah satu contohnya.

Selama ini kita sudah mengenal penatu, yang berarti ‘usaha atau orang yang bergerak di bidang pencucian (penyetrikaan) pakaian’, sebagai padanan kata laundry. Tetapi penatu tidak mengandung muatan makna tempat, sebagaimana salah satu makna yang diusung laundry, sehingga kekosongan semantik itu sesungguhnya bisa diisi oleh rumah cuci.

Memang, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2008) terbitan Pusat Bahasa tidak, atau katakanlah belum, mencantumkan rumah cuci sebagai sublema dari kata dasar rumah. Tetapi penutur jati bahasa Indonesia tentunya bisa mengira-ngira sendiri bahwa arti frasa tersebut kurang lebih ‘tempat usaha cuci-mencuci’.

Jadi intinya, melalui tulisan sederhana ini saya ingin mengatakan (lagi) bahwa bahasa Indonesia itu keren. Oleh karena itu, mari kita kurangi penggunaan istilah-istilah asing dalam berbahasa, sedikit demi sedikit.

25 komentar:

  1. tapi kalo tetikus sebagai padanan "mouse" kayaknya nggak keren deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha-ha-ha, malah terkesan jorok, ya? Padahal KBBI IV sudah memuat lema tetikus dengan arti ‘peranti periferal pada komputer yang menyerupai tikus, gunanya, antara lain, untuk memindahkan letak pandu di jendela tampilan’, tetapi belum berterima luas di kalangan penutur bahasa Indonesia.

      Hapus
  2. Wah Rumah Cuci? Boleh juga ntar diperkenlkan ke temen-temen. Tapi pasti diketawain, kesannya katrok yaa... hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, seru itu, Mbak. Pasti respons mereka bermacam-macam.

      Hapus
  3. Ini masukan yang bagus, Dan sekali lagi saya terus diingatkan. Insya Allah setiap kata atau kutipan bahasa Inggris yang saya gunakan dalam tulisan juga disertakan dalann Bahsaa Indonesianya

    BalasHapus
  4. wah harus mulai belajar banyak bahasa indonesia nih, baru tau istilah rumah cuci juga. terima kasih ilmunya

    BalasHapus
  5. iya ya,,kebanyakan dari kita emang kalo ngomong apa2 nya mesti pake istilah asing,,,alias bahasa compeny,,,eh,,,

    BalasHapus
  6. Keren ah rumah cuci.. lbh asik dari laundry..
    Mulai sekarang pake rumah cuci aja di kehidupan sehari hari.. ;)

    BalasHapus
  7. hehhe wah ampun haha nie lagi garap skripsi yah jng" mas lutfi hehe..keren" euy ilmunya mantap ams lutfi heheh

    BalasHapus
  8. wah boleh juga nih buat dirokemendasikan :D

    BalasHapus
  9. Lebih keren lagi kalau orang kampung bicaranya pakai lu gue, Mas. Ups! gak nyambung, yah. hihihi. Seperti ditulis di profil google+ sampean: suka bahasa Indonesia. Jadi, ngak heran, seperti tulisan kali ini dan juga yang sudah-sudah, suka mengupas bahasa Indonesia. Cara mengupasnya enak diikuti pula. Lanjuttt.. ^_^

    BalasHapus
  10. hehe aduh jadi gimana gitu yaa, saya suka nyisip-nyisipin bahasa asing di tulisan meski gak jarang ada yang salah tulis juga sih hehe

    yapi saya setuju bangeeet, bahasa Indonesia itu memang kereen.. Good (y)

    BalasHapus
  11. Perlu dibiasakan ya mas bilang rumah cuci daripada laundry
    Bahasa Indonesia emang keren

    BalasHapus
  12. kalau bilangnya rumah cuci keliatan kaya bahasa melayu mas, kalau saya sih biasanya kebanyakan pake bahasa melayu, soalnya saya orang melayu :D :D

    BalasHapus
  13. Setuju mas, kalau kita menyebutkan sesuatu itu, ya baiknya pake bahasa Indonesia saja, gak udah sok nginggris, tapi orang Indonesia ini kebanyakan kalo ngomong selalu diselipkan satu atau dua kata yang ada inggrisnya, biar dibilang keren kali ya, hihihi

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!