Pages - Menu

Rabu, 19 November 2014

Bahasa Surga

Gambar kaligrafi Arab dipinjam dari Wikipedia.
Awal November lalu, seorang ustaz yang sudah cukup ternama menulis status di Twitter yang berisi ajakan dan motivasi untuk mempelajari bahasa Arab. Beliau menyatakan bahwa bahasa apa pun di dunia ini kelak akan musnah seiring dengan matinya si penutur bahasa tersebut—kecuali bahasa Arab karena ia merupakan bahasa resmi para penghuni surga. “Siapa tau dengan belajar bahasa Alquran, yaitu bahasa Arab, bisa membawamu ke surga,” tulisnya lagi.

Seorang pengguna Twitter dan Google Plus memberi respons serius. Sang ustaz dinilai tidak paham ilmu mantik dan asal berkata saja tanpa dilandasi dalil pendukung.

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu tertarik mendalami permasalahan seperti ini. Karena bagaimanapun, situasi di alam nirwana sana—dalam hal ini bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi—adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan akal manusia. Saya lebih tertarik, misalnya, mencari jalan pintas menuju ke sana tanpa harus melalui proses pengadilan di hari kiamat nanti. Anda juga berminat, bukan?

Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun belajar di pesantren, saya meyakini bahwa orang yang mengerti bahasa Arab—dengan segala cabang dan kompleksitas di dalamnya—akan mempunyai pemahaman yang (lebih) baik pula tentang Islam. Hal itu dikarenakan dua sumber rujukan utama dalam Islam (Alquran dan hadis) menggunakan bahasa Arab. Begitu pula, literatur-literatur klasik yang membahas hukum-hukum keagamaan juga ditulis dengan bahasa Arab. Sehingga mereka yang belajar agama melalui buku-buku terjemahan saja, boleh dikatakan, pemahamannya tentang universalitas Islam masih kurang sempurna.

Akan tetapi, jika bahasa Arab dijadikan sebagai “tiket” untuk bisa masuk surga, dalam artian orang-orang yang tidak bisa berbahasa Arab tidak berhak memasukinya, tentu saja merupakan kesimpulan yang keliru. Rasulullah sendiri pernah bersabda bahwa orang yang mengucapkan kalimatusyahadat dijamin masuk surga; tak ada persyaratan lebih lanjut apakah orang tersebut bisa berbahasa Arab atau tidak.

Mungkin pernyataan ustaz di atas berangkat dari sebuah hadis yang artinya, “Cintailah bahasa Arab karena tiga hal: (1) karena saya orang Arab, (2) karena Alquran berbahasa Arab, dan (3) karena bahasa surga adalah bahasa Arab.” Sayangnya, hadis dari Ibnu Abbas ini dinilai sangat lemah dan bahkan ada yang mengatakan palsu.

Meskipun demikian, semampang kandungan hadis tersebut dibenarkan, maka kemampuan berbahasa Arab para penghuni surga tidak diperoleh dari hasil kursus sewaktu masih di dunia, melainkan semacam “bonus” langsung dari Tuhan. Seperti seorang tunawicara atau anak kecil yang meninggal dan tiba-tiba di surga bisa fasih berbicara dengan sendirinya. Padahal sewaktu masih hidup tidak pernah bicara sama sekali.

Jika benar orang-orang di surga berbicara dalam bahasa Arab, lantas bahasa apa yang dipakai para penghuni neraka, ya?

26 komentar:

  1. kesejukan dan kenyamanan tentu di dapatkanjika kita mendengarkan bahsa surga, apalagi dariseorang atasan....kenyataannya...hadeuh, sungguh mengecewakan hati...itulah namanya ge' bahasa surga

    BalasHapus
  2. Subhanallah kalau bicara surga langsung adem mas,,,sepertinya kalau di neraka mereka cuma berteriak teriak kesakitan mas,,,

    BalasHapus
  3. Saya jadi penasaran dengan pertanyaan terakhir... Jangan-jangan sewaktu di dunia saya kerap menggunakan. Setuju sekali dengan pernyataan bahwa tak hanya orang yang berbahasa Arab saja yang akan menjadi penghuni surga kelak namun juga kalangan 'ajam yang dirahmati Allah dengan taqwa. Namun memang bahasa Arab adalah bahasa kebutuhan bagi seorang Muslim. Semoga saya masih diberikan kesempatan untuk mempelajarinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga keinginan sampean belajar bahasa Arab bisa tercapai.

      Hapus
  4. Waduhhh bahasa apa yah?? neraka dag dig dug.. trkdang diri ini tak pantes mas d Surganya Allah tapi juga tak kuasa di nerakanya Allah apa iya mau di remuk redamin itu kekal..hadeeehh kepansan dikit aja udah hitam... takut saya mas kadang mikirin neraka T.T smmga kita semua yg menuju pada Allah dan harap ridho Allah ini dikumpulkan dalm sebaik" tempat bahasa dan ksmptan...aamiin,... saya lagi belajar bahasa arab juga ni mas..pertma kalinya haha pusing banget tapi senneg saya jadi bisa kenal Islam lbeih baik...bljar ilmu Nahwu nie ams mantap euy

    BalasHapus
  5. Waktu Tsanawiyah nilai bahasa Arab saya jelek :( Ingin sekali beruntung jadi penghuni surga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga masih dalam tahap belajar :) Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, ya, Mbak.

      Hapus
  6. Semoga kita termasuk penghuni sorga... Amin.

    BalasHapus
  7. Aku baca beritanya, katanya ustadz tsb sampai dibully. Mungkin maksud ustadz tsb, kalo menguasai bahasa Arab, relatif lebih mudah memahami maksud dan kandungan Al Qurán. Jika sudah paham trus diamalkan, tentu jalan ke surga terbuka lebar. Itu pemahamanku yg awam mas...hahaa. Maklum gak pernah nyantri di pesantren...salam dari Bandung yg lg dingin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kasihan sekali kalau sampai di-bully. Padahal maksudnya baik dan belum tentu pemahamannya seperti yang mereka—pengguna Twitter dan Google Plus yang mem-bully—sangkakan.

      Hapus
  8. andai saja kutipan hadist di atas benar maka celakalah saya karena saya tidak bisa berbahasa arab :3 harus kembali belajar ini mah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seandainya hadis itu sahih, bahwa para penghuni surga berbicara dalam bahasa Arab, bukan berarti mereka yang tidak mampu berbahasa Arab tidak berhak masuk surga.

      Hapus
  9. wah sya nggak bisa bahasa arab nih, jadi pengen belajar deh bahasa arab, biar pinter ngaji :)

    BalasHapus
  10. Kalau menurut aku sih gak ada yang perlu diperdebatkan dari penyataan ustad tersebut :)
    Setujuuu banget sama komentarnya kang Anton diatas, kita mah positif thinking ajalah yah..

    Kalo sampai di bully itu sih masalah beda pemahaman aja ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mbak. Tidak seharusnya mereka mem-bully seperti itu hanya karena beda pemahaman saja.

      Hapus
  11. ternyata penghuni surga mempunyai bahasa tersendiri ya mas, saya bisa nya cuma bahasa indonesia mas :)

    BalasHapus
  12. mudah-mduahan kita semua bisa masuk syurga, biar dapat bonus lsg bisa bhs Arab, lancar, tanpa kursus, hehehe.... Amin...Trsu, bahs penghuni neraka..?Ah, sudahlah gak usah dipikirin mas, kan kita gak kepengen kesana, hihiihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Iya, yang tidak kita inginkan, tidak perlu kita pikirkan, he-he.

      Hapus
  13. wah, baru kali ini saya mendengar kalau bahasa Arab adalah bahasa surga...tapi menarik juga untuk tau perdebatan ini..dan yang penting selalu berusaha menjadi hamba-Nya yang baik, semoga itu bisa menjadi tiketku ke surga kelak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Apa pun bahasanya, semoga kita bisa menjadi hamba-Nya yang berhak masuk surga.

      Hapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!