Pages - Menu

Kamis, 28 Mei 2015

B



Sumber gambar: Logopedia

Terinspirasi dari artikel Putu Setia di situs Tempo bulan lalu, saya memberi judul tulisan ini dengan satu huruf saja: “B”. Memang, huruf “B” tidak memiliki arti apa-apa kecuali sebuah simbol, bahkan ia tidak bisa mengeluarkan bunyi tanpa dirangkai dengan huruf vokal. Tapi bukan berarti tidak ada yang menarik dari huruf yang dalam alfabet Arab sama persis dengan ba ini, baik dalam cara pelafalan maupun urutannya.

Misalnya dalam tulisan Putu Setia itu. Ia menyebutkan sejumlah pejabat negara yang namanya sering menghiasi pemberitaan media karena beberapa hal. Sebut saja Badrodin Haiti, Budi Gunawan, Budi Waseso, (Novel) Baswedan, dan Bambang Widjojanto. Selain tokoh-tokoh penegak hukum tadi, ternyata ada juga beberapa kasus yang diawali dengan huruf “B”. Seperti bola, kisruh antara PSSI dan Kemenpora; bir, tentang lokalisasi penjualan minuman keras; dan bikini, yakni rencana pesta berbusana minim yang akan diadakan anak-anak SMA. Tentu saja, di luar sana masih banyak “B” yang belum disebutkan—dan tulisan ini tidak bermaksud melengkapi daftar nama/kasus tersebut.

Tetapi lebih menarik dari itu, percayakah Anda, bahwa “B” adalah huruf yang pertama kali diucapkan semua manusia? Dan “B” adalah huruf yang paling mudah untuk dilafalkan?!

* * *
Ketika ruh ditiupkan ke dalam tubuh manusia, atau tepatnya saat janin dalam kandungan berusia 4 bulan, Allah menanyai mereka satu per satu, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Lalu mereka menjawab: “Balâ.” (QS. Al-A’râf: 172)

Dalam kamus bahasa Arab, balâ adalah kata yang digunakan hanya untuk menjawab pertanyaan berbentuk pengingkaran yang sekaligus menidakkan apa yang diingkarkan itu. Dengan demikian, balâ dalam ayat tersebut berarti “betul, Engkau adalah Tuhanku.” (Al-Mu’jâm al-Wasîth, hlm. 70)

Berbeda dengan kata naam—sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan arti ‘ya’ atau ‘begitulah’—yang digunakan untuk menyatakan setuju atau pembenaran atas apa yang ditanyakan, baik itu berbentuk pengingkaran atau bukan. Oleh sebab itu, sampai saat ini saya belum menemukan padanan yang pas untuk balâ dalam kosakata bahasa Indonesia.

Masih berkaitan dengan huruf “B”, ayat pertama dalam urutan kitab suci Alquran juga diawali dengan huruh ba, dan bukan alif: Bismillahir rahmânir rahîm. Dan oleh Rasulullah, ayat paling awal ini dianjurkan untuk selalu dibaca saat kita hendak beraktivitas. Mungkin salah satu hikmah di balik itu adalah, agar Allah senantiasa menjadikan segala urasan kita serbamudah, semudah kita mengucapkan huruf ba pada bismillah.

Sabtu, 16 Mei 2015

Isra Mikraj dengan Jiwa dan Raga, Ini Logikanya

Ilustrasi gambar diambil dari sini.
Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad pada malam hari dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Baitul Muqaddas, Palestina, dengan kendaraan burak. Sedangkan mikraj adalah perjalanan Rasulullah naik langsung ke sidratul muntaha pada malam hari untuk menerima perintah salat lima waktu. Kedua peristiwa penting dalam sejarah Islam ini terjadi hanya dalam tempo semalam—sebuah keistimewaan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya. Perjalanan pada malam 27 Rajab sebelum hijrah ini juga menembus batas-batas ruang dan waktu.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa isra mikraj terjadi dalam keadaan Rasulullah terjaga. Maksudnya dengan ruh dan jasadnya sekaligus, dan tidak dalam keadaan mimpi. Tentu saja, mereka yang imannya masih labil, atau nonmuslim, akan dengan mudah meragukan kebenaran hal tersebut: bagaimana mungkin perjalanan sejauh itu ditempuh hanya dalam waktu semalam kalau bukan mimpi?

Seperti orang kafir Quraisy di masa lampau yang dikompori oleh Abu Jahal. Ketika Rasulullah mengabarkan peristiwa yang dialaminya, mereka malah mungkir dan memberi tepuk tangan ejekan. Tidak hanya itu, untuk memastikan kebenaran cerita nirnalar tersebut, mereka kemudian menguji Rasulullah dengan berbagai pertanyaan yang sama sekali di luar dugaan, seperti tentang jumlah dan ciri-ciri pintu Baitul Muqaddas (kebetulan di antara mereka ada yang pernah ke sana), juga soal rombongan kafilah yang baru tiba dari Syam.

Syahdan, atas pertolongan dari Allah Yang Mahakuasa, Rasulullah dengan mudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan membuat mereka makin tercengang. Kendati demikian, mereka tetap berkepala batu dan bersikap angkuh seraya mengatakan, “Jelas sekali. Ini adalah sihir!”

Mungkin kita masih bisa memaklumi reaksi orang-orang Quraisy itu karena mereka memang tidak ditakdirkan beriman, yang dengan demikian memercayai apa saja yang disampaikan Rasulullah sebagai kebenaran, sekalipun itu sulit dijngkau akal. Perlu saya jelaskan di sini bahwa kalimat “sulit dijangkau akal” bukan berarti tidak mungkin terjadi. Berbeda dengan “tidak masuk akal” yang berarti mustahil terjadi, seperti melakukan perjalanan ke arah timur dan barat pada waktu yang bersamaan.

Akan tetapi, jika seorang muslim yang hidup di negara yang mayoritas penduduknya Islam meragukan mukjizat nabinya sendiri, ini yang memprihatinkan dan terdengar aneh tapi nyata. Ironisnya lagi, mereka malah mempropagandakan kesalahpahamannya itu melalui media massa—sebuah alat yang sangat ampuh untuk mengelabui masyarakat awam.

Minggu, 03 Mei 2015

Isu: Fakta dan Fiksi

Novel Baswedan. Sumber foto: Harian Aceh
Di dunia intelijen yang penuh rahasia, ada sebuah lelucon seperti berikut. Seorang intel bisa saja mengarang isu lalu melemparkannya ke media massa—seperti televisi, koran, radio, dan situs berita daring. Setelah isu itu dimuat menjadi berita, orang-orang biasanya akan ramai membahasnya dan cenderung menambahi-nambahi. Jika sudah menjadi topik hangat di tengah masyarakat, akhirnya isu yang sengaja dibuat tadi akan kembali dalam bentuk laporan. Nah, lucunya di sini, dari laporan yang kembali itu mereka percaya bahwa itu beneran, bahkan mereka ketakutan sendiri dan berpikir, “Jangan-jangan semua isu itu memang benar....”

Anekdot di atas, terlepas apakah itu rekaan belaka atau memang demikian, memberi simpulan bahwa isu (baca: kebohongan) yang dibicarakan terus-menerus, suatu saat nanti akan diyakini sebagai suatu kebenaran. Kisah di atas juga menunjukkan bahwa yang penting dari sebuah isu, lebih-lebih soal politik, bukan apakah isu itu melaporkan sesuatu yang faktual atau sekadar fiktif. Benar atau tidak benar tidak menjadi penting.

Yang penting dari sebuah isu adalah (1) apakah isu itu sangkil bin efektif atau tidak, (2) apakah isu itu ada dampaknya atau tidak, dan (3) apa persisnya dampak itu. Apakah masyarakat menjadi gempar dan resah? Ataukah masyarakat diam dan tak ambil peduli? Atau malahan meresponsnya serius sehingga melengkapi kompleksitas isu yang dilemparkan si pengarang?

Bila berhasil membuat dampak yang nyata, sebuah isu tak bisa dianggap enteng. Ia menjadi serius, nyata, dan benar. Maka, berbaurlah apa yang selama ini dianggap bertentangan: fakta dan fiksi. Kontradiksi antara keduanya menjadi tidak relevan, bahkan boleh dibilang lenyap.