Pages - Menu

Minggu, 03 Mei 2015

Isu: Fakta dan Fiksi

Novel Baswedan. Sumber foto: Harian Aceh
Di dunia intelijen yang penuh rahasia, ada sebuah lelucon seperti berikut. Seorang intel bisa saja mengarang isu lalu melemparkannya ke media massa—seperti televisi, koran, radio, dan situs berita daring. Setelah isu itu dimuat menjadi berita, orang-orang biasanya akan ramai membahasnya dan cenderung menambahi-nambahi. Jika sudah menjadi topik hangat di tengah masyarakat, akhirnya isu yang sengaja dibuat tadi akan kembali dalam bentuk laporan. Nah, lucunya di sini, dari laporan yang kembali itu mereka percaya bahwa itu beneran, bahkan mereka ketakutan sendiri dan berpikir, “Jangan-jangan semua isu itu memang benar....”

Anekdot di atas, terlepas apakah itu rekaan belaka atau memang demikian, memberi simpulan bahwa isu (baca: kebohongan) yang dibicarakan terus-menerus, suatu saat nanti akan diyakini sebagai suatu kebenaran. Kisah di atas juga menunjukkan bahwa yang penting dari sebuah isu, lebih-lebih soal politik, bukan apakah isu itu melaporkan sesuatu yang faktual atau sekadar fiktif. Benar atau tidak benar tidak menjadi penting.

Yang penting dari sebuah isu adalah (1) apakah isu itu sangkil bin efektif atau tidak, (2) apakah isu itu ada dampaknya atau tidak, dan (3) apa persisnya dampak itu. Apakah masyarakat menjadi gempar dan resah? Ataukah masyarakat diam dan tak ambil peduli? Atau malahan meresponsnya serius sehingga melengkapi kompleksitas isu yang dilemparkan si pengarang?

Bila berhasil membuat dampak yang nyata, sebuah isu tak bisa dianggap enteng. Ia menjadi serius, nyata, dan benar. Maka, berbaurlah apa yang selama ini dianggap bertentangan: fakta dan fiksi. Kontradiksi antara keduanya menjadi tidak relevan, bahkan boleh dibilang lenyap.


* * *
Beberapa hari yang lalu berbagai media menyuguhkan berita politik yang cukup menghebohkan: Novel Baswedan ditangkap Bareskrim Polri. Ia, yang saat ini menjabat sebagai penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), diduga telah melakukan penembakan terhadap para pencuri sarang burung walet. Penganiayaan yang didakwakan kepadanya itu terjadi di Bengkulu pada tahun 2004 silam.

Mengenai kelanjutan kasus ini, saya sendiri tidak begitu tahu karena kurang mengikuti perkembangan seterusnya. Informasi terakhir yang saya terima, Novel dilepaskan dengan kelima Pemimpin KPK sebagai jaminan. Ia juga masih bertugas di komisi antirasuah tersebut meski sekarang berstatus tersangka.

Apa yang dituduhkan kepada Novel itu menurut saya masih sebatas isu yang, menurut kamus, berati ‘kabar angin yang tidak terjamin kebenarannya’. Maksudnya, tuduhan itu masih belum terbukti benar-tidaknya karena proses hukum masih berlangsung; bisa benar, bisa juga tidak. Dan, sebuah isu biasanya tidak muncul begitu saja, tetapi ada faktor-faktor yang melatarbelakangi kemunculannya. Seperti balas dendam, kriminalisasi, konspirasi, pencitraan ... ah, sudahlah.

Penangkapan dan penetapan tersangka terhadap penggawa KPK bukanlah hal yang baru. Seperti kebetulan yang disengaja, hal itu terjadi ketika KPK tengah menangani kasus besar yang melibatkan pejabat tinggi negara, seperti perwira polisi atau seorang menteri. Masih segar dalam ingatan kita saat KPK menetapkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka pemilik rekening tambun. Anehnya, hanya beberapa hari setelah penetapan itu, tiba-tiba polisi mencokok Bambang Widjojanto terkait kasus kesaksian palsu dalam sidang sengketa pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, pada tahun 2012 lalu. Tidak hanya Bambang, Abraham Samad juga didakwa melakukan tindakan yang melanggar hukum, yakni pemalsuan dokumen kependudukan di Kartu Keluarga-nya. Karena “dosa besar” yang mereka lakukan itu, keduanya kemudian dinonaktifkan dari kepengurusan KPK.

Katakanlah sederet kasus yang menimpa pegawai KPK itu adalah isu, maka, jika isu itu sering diberitakan media, bisa saja masyarakat akan yakin bahwa kasus itu benar-benar nyata. Kalaupun bukan isu, toh mereka juga manusia biasa, bukan malaikat yang tidak mungkin melakukan kesalahan. “Tapi saya tidak seburuk yang mereka sangkakan,” tutur Abraham Samad membela.

Dengan munculnya isu-isu di atas, yang barangkali luput dari perhatian kita adalah kemungkinan adanya oknum-oknum yang secara sistematis berupaya melemahkan KPK dan membiarkan koruptor di negeri ini terus merajalela.

12 komentar:

  1. Hmm.... Novel Baswedan lagi tenar ya, belum ngikutin ini berita sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenarnya sudah lama, sekarang (lebih) ditenarkan lagi :)

      Hapus
  2. ternyata isu yang dilakukan secara terus-menerus, bisa menjadi opini publik yang tidak baik

    BalasHapus
  3. Maksih artikelnya gan sangat bermanfaat dan berguna bagi saya..

    Salam Kenal dan salam blogwalking

    BalasHapus
  4. sebenarnya banyak yang sudah kelihatan ya mas. ibaratnya kita ini sedang mengamati anak kita yang main curang-curangan, bales-balesan. segaya-gayanya anak kecil ya tetap aja kelihatan.

    BalasHapus
  5. cicak versus buaya akan terus berlanjut entah sampai brp episode,udh kaya sinetron aja ^_^

    BalasHapus
  6. Dulu yang yang terkenal Novel Kho Ping Hoo, sekarang Novel baswedan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah enggak kenal itu Novel Kho Ping Hoo.

      Hapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!