Pages - Menu

Selasa, 14 Juli 2015

1 Syawal 1436 H, Kapankah?

Sumber gambar: juozgandoz.com
Ada kemungkinan Lebaran tahun ini akan berbeda. Baik antara Pemerintah/Muhammadiyah dan NU, maupun antara Pemerintah/NU dan Muhammadiyah. Keadaannya sama persis seperti saat-saat menjelang Lebaran 2 tahun lalu. Waktu itu Muhammadiyah telah memutuskan 1 Syawal jatuh pada hari Kamis, 8 Agustus 2013 berdasarkan hisab, sedangkan NU masih menunggu laporan tim rukyat sore harinya, begitu juga Kementerian Agama dengan keputusan sidang isbatnya. Meski demikian, pada akhirnya Lebaran tahun itu seragam karena ada laporan hilal terlihat di Sulawesi yang diterima oleh Kemenag.

Bedanya, tahun ini kita belum tahu pasti apakah pada Kamis petang nanti ada yang berhasil melihat hilal sehingga kita bisa berlebaran di hari yang sama. Sementara hasil hisab menunjukkan bahwa posisi hilal sudah 2 derajat di atas ufuk—standar minimum batas visibilitas hilal versi pemerintah.

Yang dikhawatirkan, semampang tidak ada yang lapor melihat hilal, dan pemerintah memutuskan 1 Syawal 1436 H jatuh pada hari Jumat berdasarkan hisab, maka bisa jadi NU akan tampil beda dengan mulai berlebaran pada hari Sabtu. Hal ini mengacu pada kesimpulan Munas Alim Ulama NU di Situbondo pada tanggal 21 Oktober 1983 lalu: “Penetapan pemerintah tentang awal Ramadhan dan awal Syawal dengan menggunakan dasar hisab, tidak wajib diikuti. Sebab, menurut jumhur salaf, bahwa terbit awal Ramadhan dan awal Syawal itu hanya bi al-ru'yah au itmâmi al-adadi tsalâtsîna yauman (melihat hilal atau penggenapan bilangan 30 hari).” Dasar pengambilan keputusan ini bisa Anda lihat di kitab kompilasi fatwa-fatwa ulama Hadhramaut (Yaman) Bughyah al-Mustarsyidîn, dan Al-Durr al-Mantsûr fî Itsbât al-Syuhûr.

Keputusan Munas tersebut tampaknya hanya mengacu pada literatur fikih Mazhab Syafii. Memang, dalam Mazhab Syafii, penentuan awal bulan Hijriah hanya melalui (1) istikmal 30 hari bulan sebelumnya dan (2) rukyat atau melihat hilal. Sementara hisab hanya dipakai untuk menunjang aktivitas rukyat di lapangan, dan bukan sebagai penetapan awal bulan.

Dalam hal ini, masih menurut Mazhab Syafii, pemerintah tidak boleh menentukan awal bulan berdasarkan hisab, namun pemerintah berhak menolak laporan rukyat yang bertentangan dengan hasil hisab. (baca: Testimoni Palsu Para Perukyat)

Selasa, 07 Juli 2015

Cangkriman Faraid

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini.
Sebagaimana judul tulisan ini di atas, kali ini saya akan membuat tebak-tebakan kepada para pembaca tentang ilmu pembagian harta warisan dalam Islam. Tidak hanya itu, saya juga akan memberikan pulsa Telkomsel sebesar Rp25.000,00 (dua puluh lima ribu rupiah) bagi siapa pun yang berhasil menjawab dengan benar.

Nah, sebelum saya mengajukan pertanyaannya, baca dan pahamilah narasi pendek berikut dengan saksama!

* * *
Segerombolan orang hendak membagi-bagikan harta warisan di antara mereka. Tapi sebelum mereka melakukannya, tiba-tiba datang seorang perempuan yang tengah mengandung tua.

“Setop! Jangan buru-buru kalian bagi harta itu karena aku sedang hamil,” kata perempuan itu. “Jika bayi dalam kandunganku ini nanti terlahir perempuan, maka ia juga berhak mendapat bagian. Namun jika ternyata laki-laki, maka ia tidak dapat bagian sama sekali.”

* * *
Pertanyaannya sekarang adalah, siapa saja segerombolan orang dan perempuan itu?

Jawaban bisa ditulis menggunakan salah satu dari 3 akun media sosial: Google Plus, Twitter, dan Facebook. Untuk Google Plus, silakan tulis pada kotak komentar di bawah; untuk Twitter, silakan kicaukan jawabannya dengan menyebut @luuthfie dan tanda pagar #CahPulokulon; dan untuk Facebook, sila berikan komentar pada salah satu kiriman di Halaman Facebook blog ini.

Seumpama jawaban Anda keliru, Anda masih boleh berkomentar lagi berkali-kali dengan jawaban yang berbeda. Dan jika ada dua jawaban yang benar, maka yang paling dululah yang saya menangkan.

Perlu diketahui bahwa ini adalah tebak-tebakan ilmiah. Jadi jawabannya hanya ada satu, eksak, dan logis. Tidak seperti tebak-tebakan nonilmiah pada umumnya yang jawabannya terasa ambigu dan dipaksakan.

Selain memberikan jawaban, Anda juga boleh bertanya apa pun yang berkaitan dengan ilmu faraid seperti bagian masing-masing ahli waris, perkara yang menghalangi seseorang mendapatkan warisan, dan lain-lain. Insya Allah saya—atau pembaca lainnya—akan menjawabnya. Siapa tahu, pertanyaan Anda bisa memberi semacam petunjuk untuk menjawab teka-teki di atas.

Kuis ini dimulai saat tulisan ini dipublikasikan sampai waktu yang tidak ditentukan—atau ada yang berhasil menjawab dengan benar. Selamat mencoba!

Minggu, 05 Juli 2015

Perihal Interpretasi Sajak

Bagian pertama Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushairi.
Gambar dipinjam dari sini.
Selain (1) penggunaan kata-kata arkais dan sejumlah metafora, problem yang sering dihadapi ketika membaca sajak-sajak Arab adalah (2) penggunaan suatu kata yang mengacu pada tokoh, tempat, atau peristiwa tertentu. Sering kita dihadapkan pada tokoh-tokoh sejarah atau fiksi yang tidak, atau belum, kita kenali sehingga kita menghadapi masalah dalam menafsirkan makna sebuah syair. Lebih lanjut, (3) andaikata  tokoh, tempat, dan peristiwa tersebut sudah diketahui, pembaca belum tentu tahu korelasinya dengan perasaan atau ide yang ingin disampaikan penyair lewat syairnya.

Persoalan pertama bisa diatasi dengan membuka kamus induk ekabahasa. Seperti Tâj al-Arûs karya Murtadlâ al-Zabîdî, Lisân al-Arâb karya Ibnu Manzhûr, Al-Qâmûs al-Muhîth karya Majduddîn al-Fairûz Abâdî, Mukhtâr al-Shihâh karya Zainuddîn al-Râzî, dan—ini yang sering saya pakai—Al-Mu’jam al-Wasîth, hasil kolaborasi para pakar bahasa Arab bersama pemerintah Negara Mesir. Makin sering seseorang membuka kamus jenis ini, maka perbendaharaan kata, frasa, juga nuansa maknanya kian melimpah.

Saya tidak menyarankan Anda membuka kamus-kamus bilingual (Arab-Indonesia) yang sering dipakai pelajar pada umumnya. Karena kamus jenis ini, selain kurang akomodatif, sebenarnya diperuntukkan bagi mereka yang masih pemula.

Untuk masalah kedua, cara mengatasinya adalah dengan melacak atau mempelajari sumber-sumber yang memuat informasi tentang nama, tokoh, tempat, atau peristiwa yang dipinjam sang penyair. Bisa dari buku-buku sejarah atau ensiklopedi geografi, atau dari kitab-kitab syarah yang mengulas sajak-sajak Arab tersebut.