Pages - Menu

Kamis, 03 Desember 2015

Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah, Berbedakah?



Sampul buku Akidah-Akhlak dan Alquran-Hadits
terbitan Erlangga. (Foto: Dok. Pribadi)
Memang agak riskan mempelajari ilmu-ilmu keagamaan jika tidak dari sumber yang terpercaya, yaitu kitab-kitab ulama salaf yang sudah diakui akan kualitas ilmunya. Mungkin karena alasan efektivitas dan efisiensi waktu, orang zaman sekarang cenderung menempuh jalan pintas dalam mencari ilmu dengan memanfaatkan berbagai macam media. Seperti mencari bahan bacaan di internet, buku-buku terjemahan; menyimak siaran radio, sampai ceramah-ceramah islami di televisi atau kanal Youtube.

Saya tidak mengatakan belajar melalui media-media tersebut salah. Tetapi paling tidak, ada 2 hal—dari 6 perkara penentu keberhasilan mencari ilmu—yang terabaikan. Pertama, guru yang mumpuni serta memiliki sanad sampai kepada Rasulullah dan,  kedua, waktu yang amat panjang.

Ketidakjelasan guru dapat dilihat pada program tayangan televisi di pagi hari. Hanya dengan bekal hafal(an) beberapa butir hadis atau ayat Alquran, mereka yang sudah telanjur terkenal—karena sebelumnya menjadi artis, misalnya—bisa disebut ustaz atau kiai yang popularitasnya mengalahkan para santri yang bertahun-tahun menimba ilmu di pesantren.

Contoh yang masih hangat dalam ingatan kita adalah dua artis senior yang belum lama ini menjadi bahan ejekan obrolan di media sosial lantaran pernyataan kontroversialnya mengenai doa. Menurutnya, pahala membaca surah Al-Fatihah tidak bisa sangkil kepada orang yang dituju. Fenomena inilah yang disebut dengan “kiai produk media” seperti yang sering disampaikan oleh KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam ceramah-ceramahnya.

Di internet malah lebih memprihatinkan lagi. Karena siapa pun orangnya, yang memiliki akses langsung ke dunia maya, bisa dengan leluasa menerbitkan artikel bertopik keagamaan yang referensinya diambil dari situs lain, bahkan sering kali disalin-tempelkan begitu saja tanpa disebutkan sumber rujukan dengan jelas.

Selanjutnya, ketika pengguna internet melakukan penelusuran di mesin pencari Google dan mendapati artikel-artikel tersebut berada di urutan 10 teratas, ia—terutama yang kurang paham dengan permainan SEO (Search Engine Optimization)—akan terkecoh dan memercayai bahwa semua informasi di hadapannya adalah benar adanya. Nah, jika informasi (baca: ilmu) yang dibaca itu tidak valid, berapa juta orang yang akan salah paham?

* * *
Beberapa hari yang lalu saya terkejut sewaktu membaca buku pelajaran Akidah dan Akhlak untuk MTs/SMP Islam kelas VII terbitan Erlangga. Di halaman 38 tertulis bahwa tauhid dibagi menjadi dua: Uluhiyah dan Rububiyah. Selain buku tersebut, ternyata Erlangga juga melakukan hal serupa pada buku pelajaran Alquran dan Hadits (hlm. 23–26).

Sebagaimana penjelasan kedua buku itu, tauhid rububiyah adalah mengimani bahwa Allah itu Maha Esa dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu dan tidak ada yang menyerupai-Nya serta Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Sedangkan tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah melalui ibadah yang sempurna, ketaatan yang mutlak, merendahkan diri, bertawakal, takut, dan berpengharapan kepada-Nya.

Masih menurut buku itu, antara tauhid uluhiyah dan rububiyah keduanya harus tertanam di hati setiap orang beriman. Tidak dikatakan beriman bila dalam hatinya hanya ada tauhid uluhiyah tanpa tauhid rububiyah, dan sebaliknya....

Setelah saya baca lagi dengan saksama, ternyata sumber rujukan yang digunakan adalah internet alias Wikipedia, ensiklopedi “bebas” yang semua orang—bahkan pengguna anonim sekalipun—bisa menyumbang dan menyunting semua artikel yang ada di sana.

Sekadar informasi saja, salah satu kebijakan Wikipedia adalah bahwa semua artikel harus ditulis dari sebuah sudut pandang yang netral. Kebijakan ini, menurut pendiri Wikipedia Jimmy Wales, adalah “kewajiban dan tidak boleh diganggu gugat lagi”.

Lebih lanjut, kebijakan sudut pandang netral mengatakan bahwa artikel haruslah ditulis tanpa berat sebelah dan mewakili semua sudut pandang secara adil. Dengan demikian, para kontributor perlu mewakili secara adil semua pihak dalam sebuah pertentangan atau perbedaan pendapat, dan tidak membuat suatu artikel yang menyatakan bahwa salah satu pihak adalah benar. Dalam hal ini, kebenaran menjadi nisbi dan relatif, bukan sesuatu yang bersifat eksak.

Dari dua definisi tersebut sebenarnya tidak ada yang aneh. Justru yang mengherankan adalah pengelompokan tauhid dan istilah yang digunakan. Bukankah ilâh dan rabb (kata dasar dari uluhiyah dan rububiyah) dalam bahasa Arab memiliki arti yang sama? Ilâh adalah Tuhan (Allah); Tuhan adalah rabb. Tidak ada dikotomi antara keduanya. (Lihat kamus ekabahasa Al-Mu’jam Al-Wasîth, hlm. 25 dan 321)

Pembagian tauhid menjadi dua juga tidak dikenal oleh Alquran, hadis, para sahabat, tabiin, maupun ulama-ulama salaf setelahnya. Lantas, siapakah orang yang pertama kali membagi dan membeda-bedakannya?

* * *
Syekh Jamaluddin Yusuf al-Maliki (w. 1365 H) semasa hidupnya sering mendapat kiriman surat yang berisi pertanyaan ihwal tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, makna konotatif dari keduanya, serta dalil yang mendukung benar-tidaknya pembagian tersebut. Lalu beliau pun menjawab bahwa itu adalah pendapat Ibnu Taimiyah yang mengatakan, “Semua rasul tidak diutus kecuali untuk mengesakan Tuhan (tauhid uluhiyah).”

“Sedangkan tauhid rububiyah adalah meyakini bahwa Allah-lah yang mengatur alam semesta beserta isinya berdasarkan firman Allah dalam Alquran [Al-Ankabût: 61]. Dengan demikian, baik orang Islam maupun nonmuslim, keduanya sama-sama meyakininya,” kata Ibnu Taimiyah lagi.

Ibnu Taimiyah adalah ulama fenomenal yang sangat kontroversial; banyak ulama yang menaruh hormat dan menyanjung kedalaman ilmunya, tapi tak sedikit pula yang mencelanya. Pelbagai kritikan terhadap Ibnu Taimiyah bukan didasari atas rasa iri atau hasut, melainkan murni karena bukti kebenaran ilmiah—hal yang wajar dan galib dilakukan intelektual muslim dalam dunia akademik.

Dan, salah satu dari sekian pendapat Ibnu Taimiyah yang dianggap menyalahi konsensus adalah pembagian tauhid di atas yang berkesimpulan: muslim sejati meyakini adanya tauhid uluhiyah, sementara nonmuslim tidak; baik muslim maupun nonmuslim, keduanya meyakini adanya tauhid rububiyah. Orang Islam dan kafir sama-sama berkeyakinan bahwa Allah-lah yang mengatur segala apa yang ada di jagat raya ini (tauhid rububiyah), dan hanya muslim sejati yang mengesakan Allah melalui ibadah yang sempurna (tauhid uluhiyah). Sedangkan orang Islam yang tidak mengesakan Allah melalui ibadah (dicontohkan seperti orang yang bertawasul dan berziarah ke makam para wali) tidak ada bedanya dengan orang kafir.... Astaghfirullâh!

Di Wikipedia bahasa Indonesia, jika belum disunting, Anda akan melihat kesimpulan umum tentang tauhid rububiyah berikut:

“Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih meyakini bahwa selain Allah, ada yang mampu menolak mudarat dan mendatangkan manfaat, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang salih, kuburan para wali, atau tempat-tempat keramat. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah.”

* * *
Sampai di sini, kiranya pembaca sudah tahu apa yang hendak saya sampaikan lewat tulisan ini. Seandainya belum, saya kasih tahu: pembagian tauhid menjadi dua (uluhiyah dan rububiyah) merupakan agenda terselubung atau propaganda yang dilakukan kelompok radikal Wahabi untuk menyebarluaskan ajaran ekstrem mereka.

Begitulah ... ketika membaca buku pelajaran MTs dan melihat ada doktrin Wahabi yang diselipkan, di situ kadang saya merasa sedih.

9 komentar:

  1. wah berarti kalo ikut kajian di Yufid TV gak bisa ya mas?? hehe padahal waktu ngaji orang awam ini haduuhh kurang" dah...

    hehe soalnya saya kalo cari apa yg gak saya tahu lewat yufidu...

    mau tanya ustadz wah sdh gk ada lingkungan yg ngustadz ini hehe....
    plus malu lagi klo tanya ustadz hehe....dosanya segambrengg

    masih belajar nie mas... Sd muhammadiyah, smp sma negeri mentoring itu di sekolah",, nah skrng kbnykn baca" di internet yg di yufid.com bagus" menurut saya sih... sm video yg di youtube...klo ada waktu jg kadang sering nimbrung kajiannya Live yg yufidtv, bljar nahwu sorof, tazkiyatun nafs, bulugul maram,usul tsalasah... hahaha meski sy g nbsa ikutan trs bentrk waktu...

    saya pengennya netral deh biarin Allah bawa jalan lurusNya ini ke mana,...

    hehe cm bisa sholat tepat waktu mas dan ngajak orang sholat... pizzz....
    pdhal saya belajar buku sholat tuntunan sholat karya syeikh muh abdul wahhab itu mas... bagus,.bkin saya yg bodoh g tau arti arab bisa dikit" ngeh deh hehe....

    yah smga aja generasi selanjutnya g bodo" agama amat yax kayak saya ini....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya tidak apa-apa. Cuma masalahnya, jika hanya mengandalkan media untuk belajar agama, dikhawatirkan terjadi salah persepsi karena ketidakjelasan guru dan sumber rujukan--apalagi jika tidak disertai dengan analisis kritis dan tinjauan akademik yang memadai.

      Santai saja, Mas Angki. Asalkan masih mau terus belajar ... mudah-mudahan kita selalu berada di jalan yang benar.

      Hapus
  2. betul juga ya lutfi, bagaimanapun secanggih apapun tehnologi yang menunjang pembelajaran, seorang tetap sangat diperlukan

    BalasHapus
  3. sebelnya suka ada yang pede nyebarin ilmu tapi dia sendiri gak tau itu benar atau gak ya

    BalasHapus
  4. sepertinya buku2 pelajaran agama harus diseleksi oleh tim ahli yg ada di MUI juga ya mas...

    BalasHapus
  5. Ilmu kaya gini emang gak boleh maen-maen bisa salah kaprah nantinya

    BalasHapus
  6. Periksa konsep tauhidnya, dan periksa faktual perilakunya. Konon ISIS menjadikan Kitab Tauhid yang berpaham pemisahan tauhid uluhiyah dari tauhid rububiyah. Apakah perilaku yang sadis thd sesama muslim timbul akibat pemahaman akidahnya?

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!