Pages - Menu

Jumat, 26 Juni 2015

Sepenggal Kisah di Pesantren Ash-Shufi

Guru-guru di MTs Terpadu Ash-Shufi.
Puasa tahun ini terasa amat berbeda. Jika 5 tahun terakhir saya menjalani puasa di negara orang dengan cuaca yang panas dan ekstrem, kali ini tidak demikian. Puasa tahun ini saya berada di Jawa Timur bagian selatan yang dikenal dengan suhunya yang dingin: Blitar.

Di Kota Koi inilah saya ditugaskan saat ini. Tepatnya di Pesantren Ash-Shufi yang diasuh oleh KH Imam Asy’ari. Adapun kegiatan belajar di pesantren ini selama bulan Ramadan adalah matrikulasi atau pembekalan siswa baru MTs Terpadu Ash-Shufi dengan materi utama Bahasa Inggris, Matematika, Biologi, dan pendidikan keagamaan. Bersama Mas Irvan dan Mas Zaka, saya diminta mengisi bagian keagamaan.

Pesantren Ash-Shufi beralamat di Jl. Trisula, Dusun Gogourung, Desa Dawuhan, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Jaraknya dari Kota Blitar lumayan jauh, sekitar 10 kilometer ke arah selatan. Dengan ketinggian tempat di atas 260 meter (dpl) dan perbukitan hijau di sampingnya, Pesantren Ash-Shufi memiliki kelembapan udara yang tinggi dan berhawa sejuk. Bahkan badan saya sempat menggigil kedinginan selama dua hari saat pertama kali tiba di sini. Mungkin karena saya belum terbiasa dengan udara dingin. Atau kemungkinan besar karena saya belum punya kekasih, sehingga kesulitan menemukan tempat bersandar yang berfungsi sekaligus sebagai penghangat badan.

Akan tetapi, sesungguhnya, bukan soal cuaca yang membuat puasa kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, melainkan soal lingkungan dan partner baru. Yang saya maksud partner baru di sini adalah wanita-wanita cantik yang juga direkrut sebagai tenaga pengajar di MTs Ash-Shufi.

Mereka rata-rata menempuh pendidikan formal di kampus atau perguruan tinggi, dan bukan santriwati tulen yang bertahun-tahun bermukim di pesantren. Meski begitu, tingkah laku mereka sangat islami. Hal itu terlihat dari, misalnya, gaya mereka mengenakan busana dan profesionalismenya saat berkomunikasi dengan lawan jenis.

Saya sangat sering berpapasan dengan mereka; saat menyiapkan menu buka puasa, makan di dapur, piket di kantor, sampai di beranda musala sebelum/sesudah salat berjemaah. Bahkan pernah suatu ketika ada yang mengetuk pintu kamar saya saat waktu azan telah tiba, sementara saya masih tertidur karena kecapaian.

Tentu saja, bagi mereka itu hal yang biasa, sehingga mereka bisa menjalaninya dengan enjoy. Tapi bagi saya, yang belasan tahun tidak pernah berinteraksi langsung dengan kaum hawa, semua itu pada awalnya terasa canggung dan kurang nyaman.

Jumat, 12 Juni 2015

Kafe Halte Tulungagung

Interior Kafe Halte. Foto: Facebook/Mahmud Janu
Mungkin karena terlalu  lama tidak memiliki pacar, saya mulai pandai menghibur diri sendiri. Ya, menghibur diri merupakan keahlian saya saat ini. Ada banyak hal yang bisa saya lakukan untuk menikmati kesendirian saya itu. Salah satu di antaranya adalah duduk santai di dalam kafe sambil berselancar di dunia maya.

Nah, omong-omong soal kedai kopi, jika kebetulan Anda sedang melintas di Kota Tulungagung, Jawa Timur, jangan lupa mampir di tempat nongkrong yang sangat asyik, Kafe Halte namanya. Kafe ini beralamat di Jl. Wahid Hasyim No.07, tepatnya di belakang masjid “alun-alun” Al-Munawwar. Lokasinya yang strategis membuatnya mudah dijangkau dari arah mana pun.

Saat pertama kali memasukinya, saya sama sekali tidak merasa canggung. Meski kafe identik dengan tempat berkumpulnya masyarakat urban yang glamor dan elite, tetapi Kafe Halte memberi suasana yang berbeda. Dengan interior dinding berpetak merah-putih dan kisi-kisi bambu di bagian tengahnya, Kafe Halte mampu menarik para pengunjung dengan latar belakang yang beragam. Hal itu dapat dilihat dari, misalnya, jenis busana yang mereka kenakan. Ada yang tampak religius dengan baju koko, sarung, dan kopiah. Ada yang tampil elegan dengan kaus dan celana jin. Ada pula pengunjung wanita yang tampak seksi dengan pakaiannya yang serbaminim....

Seperti biasa, suatu hari saya datang sendirian ke tempat ini sambil menenteng komputer jinjing. Saya biasanya hanya memesan secangkir kopi hitam (Rp3 ribu) lalu memilih tempat duduk lesehan. Dengan memanfaatkan fasilitas free hotspot dan secangkir kopi di samping, saya bisa menghabiskan waktu 2 hingga 3 jam—durasi yang hampir sama bagi sepasang kekasih yang sedang berkencan di kafe.

Selain aneka minuman hangat dan dingin, Kafe Halte juga menyediakan nasi dengan bermacam varian menu yang, sudah pasti, semuanya dijamin kehalalannya. Nama Halte sendiri merupakan akronim dari “halal tenan” yang secara harfiah berarti ‘benar-benar halal’.

Rabu, 15 April 2015

Alumni Al-Ahgaff Bikin Petisi di Acara Reuni

Foto bersama seusai acara.
Himpunan Mahasiswa Universitas Al-Ahgaff (HIMMAH) Yaman kembali mengadakan pertemuan pada Ahad, 12 April 2014 di Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, Jawa Timur. Acara yang digelar beberapa bulan sekali ini dihadiri lebih dari 50 alumni dari berbagai angkatan.

Saya berangkat bersama rombongan dari Tulungagung sekitar pukul 08.00 WIB dan tiba di lokasi saat zuhur. Karena masih menunggu mereka yang datang dari jauh, acara diundur sampai 2 jam dan baru dimulai pada pukul 15.00 WIB.

Pertemuan kali ini membahas, antara lain, kondisi terkini di Negara Yaman; dampak konflik terhadap proses belajar-mengajar di kampus; serta nasib teman-teman mahasiswa, baik yang masih bertahan di sana maupun yang ikut evakuasi.

Sebagai sesepuh yang banyak pengalaman tentang seluk-beluk politik di Yaman, Ustaz Faiz—yang baru pulang ke Indonesia bulan lalu—didaulat untuk menjelaskan keadaan sesungguhnya negara tersebut. Ia kemudian menceritakan kondisi keamanan di sana semenjak Presiden Yaman mengungsi dan mengundurkan diri, tepatnya pada bulan Oktober 2014 lalu. (baca: Kondisi di Yaman dan Pemberitaan Pers)

Sejak saat itu, kata beliau, kendali pemerintahan dipegang oleh Syiah Houti yang sebelumnya menjadi oposisi. Di saat yang bersamaan, Universitas Al-Iman ditutup karena menjadi tempat persenjataan kelompok Suni (Wahabi). Universitas tersebut berada di Kota Sana’a, wilayah Yaman bagian utara yang menjadi medan pertempuran antara Suni dan Syiah sebagaimana sering diberitakan media.

Sementara di Yaman bagian selatan seperti Hadhramaut—di mana Universitas Al-Ahgaff berada—kondisinya relatif aman. Bahkan sangat aman; tidak ada penjagaan ketat dari tentara dan listrik pun tidak pernah padam. Memang, sempat terjadi insiden pengeboman dan baku tembak di wilayah Hadhramaut, tetapi semua itu tidak begitu berpengaruh terhadap kegiatan belajar di lingkungan kampus.

Sayangnya, media telah dikuasai oleh sekelompok orang yang menginginkan kita (Ahlusunah wal Jamaah) tidak bisa bergerak leluasa. Ada semacam konspirasi dari media untuk membuat Hadhramaut seolah-olah tidak aman sehingga mengancam keberadaan warga negara Indonesia di sana. Hal ini masih ditambah dengan kedatangan utusan dari Kementerian Luar Negeri yang “menakut-nakuti” pelajar di Hadhramaut dan mengimbau mereka agar ikut evakuasi—tanpa memberi jaminan (biaya) kembali lagi ke Yaman.

Menanggapi situasi seperti ini, Rektor Universitas Al-Ahgaff Habib Abdullah Baharun memberi kebebasan kepada seluruh mahasiswanya. “Man shaddaqa kalami sayantadhir wa man yakhaf falyadzhab,” katanya. Maksudnya, bagi siapa yang percaya dengan perkataan beliau (bahwa keadaan sebenarnya aman-aman saja), maka akan memilih untuk tetap bertahan. Sementara yang merasa khawatir—karena desakan dari keluarga, misalnya—dipersilakan untuk pergi meninggalkan Yaman dan pihak kampus akan memberi dispensasi.


Di akhir acara, sebagai bentuk solidaritas antara sesama civitas akademika, para alumni bersepakat membuat petisi berisi (1) jaminan keamanan selama proses evakuasi dari Yaman ke Tanah Air dan (2) permintaan agar mereka yang dievakuasi mendapat jaminan kembali belajar ke Yaman setelah kondisinya dinilai aman. Mengingat Universitas Al-Ahgaff merupakan salah satu perguruan tinggi di Yaman yang berpaham moderat, toleran, dan antikekerasan—sesuai dengan kebudayaan orang Timur seperti Indonesia.

Dan mereka yang dievakuasi, dengan demikian, adalah aset intelektual negara sekaligus penerus generasi masa depan bangsa yang eksistensinya mesti dipertahankan.