Pages - Menu

Selasa, 25 November 2014

Antara Mata dan Koklea

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini.
Sewaktu masih kecil, saya dan teman-teman sebaya pernah diberi cangkriman oleh Kang Qomar, salah seorang abdi dalem di pondok pesantren tempat saya belajar dulu. “Menurut kalian, lebih baik mana antara indra penglihatan dan indra pendengaran?”

Semua sepakat menjawab, “Mata!”

“Salah,” kata Kang Qomar, “pendengaran jauh lebih utama ketimbang penglihatan.”

“Alasannya, Kang?” tanya kami penasaran.

“Sederhana saja. Seumpama ada orang buta ingin menyeberang jalan, maka orang-orang di sekitarnya yang punya belas kasihan akan dengan senang hati menolongnya. Tapi sebaliknya, orang tuli yang sedang menyeberang bisa dimarahi semua pengguna jalan hanya karena ia tidak mendengar bunyi klakson.”

Kalau dipikir-pikir, benar juga, ya?

Bertahun-tahun setelah obrolan itu berlalu, saya masih sangat ingat dan makin penasaran dengan alasan-alasan lain yang lebih logis dan ilmiah.

* * *
Dalam kompilasi fatwa-fatwanya yang berjudul Al-Fatawa al-Haditsiyah, Ibnu Hajar al-Haitami disebutkan pernah ditanya tentang hal ini; kemudian beliau menjawab, “Jumhur fukaha berpendapat bahwa indra pendengaran lebih unggul daripada indra penglihatan. Karena, dalam Alquran surah Yunus ayat 42, Allah mengaitkan hilangnya akal dengan hilangnya pendengaran, dan tidak demikian halnya dengan indra penglihatan.”

Dalam banyak ayat Alquran, lanjut Ibnu Hajar, kata As-Sami’ (Maha Mendengar) didahulukan dari kata Al-Bashir (Maha Melihat). Pendahuluan suatu perkara, seperti dijelaskan banyak ulama, menunjukkan keutamaan perkara tersebut—kecuali ada dalil khusus yang memberi petunjuk sebaliknya.

Hal senada juga disampaikan Nasiruddin Al-Baidhawi dalam tafsirnya, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil. Menurutnya, ilmu (pengetahuan) yang diserap melalui indra pendengaran jauh lebih banyak daripada yang ditangkap oleh indra penglihatan. Pendengaran merupakan indra pertama manusia yang berfungsi dan, menurut banyak kisah, yang terakhir berfungsi sebelum tubuh kita mati.

Sampai di sini, mari kita renungkan sejenak ... benarkah apa yang kita ketahui selama ini lebih banyak berasal dari indra pendengaran? Atau, dengan ungkapan berbeda, informasi dari kokleakah yang lebih melekat dalam ingatan kita?

Rabu, 19 November 2014

Bahasa Surga

Gambar kaligrafi Arab dipinjam dari Wikipedia.
Awal November lalu, seorang ustaz yang sudah cukup ternama menulis status di Twitter yang berisi ajakan dan motivasi untuk mempelajari bahasa Arab. Beliau menyatakan bahwa bahasa apa pun di dunia ini kelak akan musnah seiring dengan matinya si penutur bahasa tersebut—kecuali bahasa Arab karena ia merupakan bahasa resmi para penghuni surga. “Siapa tau dengan belajar bahasa Alquran, yaitu bahasa Arab, bisa membawamu ke surga,” tulisnya lagi.

Seorang pengguna Twitter dan Google Plus memberi respons serius. Sang ustaz dinilai tidak paham ilmu mantik dan asal berkata saja tanpa dilandasi dalil pendukung.

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu tertarik mendalami permasalahan seperti ini. Karena bagaimanapun, situasi di alam nirwana sana—dalam hal ini bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi—adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan akal manusia. Saya lebih tertarik, misalnya, mencari jalan pintas menuju ke sana tanpa harus melalui proses pengadilan di hari kiamat nanti. Anda juga berminat, bukan?

Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun belajar di pesantren, saya meyakini bahwa orang yang mengerti bahasa Arab—dengan segala cabang dan kompleksitas di dalamnya—akan mempunyai pemahaman yang (lebih) baik pula tentang Islam. Hal itu dikarenakan dua sumber rujukan utama dalam Islam (Alquran dan hadis) menggunakan bahasa Arab. Begitu pula, literatur-literatur klasik yang membahas hukum-hukum keagamaan juga ditulis dengan bahasa Arab. Sehingga mereka yang belajar agama melalui buku-buku terjemahan saja, boleh dikatakan, pemahamannya tentang universalitas Islam masih kurang sempurna.

Akan tetapi, jika bahasa Arab dijadikan sebagai “tiket” untuk bisa masuk surga, dalam artian orang-orang yang tidak bisa berbahasa Arab tidak berhak memasukinya, tentu saja merupakan kesimpulan yang keliru. Rasulullah sendiri pernah bersabda bahwa orang yang mengucapkan kalimatusyahadat dijamin masuk surga; tak ada persyaratan lebih lanjut apakah orang tersebut bisa berbahasa Arab atau tidak.

Mungkin pernyataan ustaz di atas berangkat dari sebuah hadis yang artinya, “Cintailah bahasa Arab karena tiga hal: (1) karena saya orang Arab, (2) karena Alquran berbahasa Arab, dan (3) karena bahasa surga adalah bahasa Arab.” Sayangnya, hadis dari Ibnu Abbas ini dinilai sangat lemah dan bahkan ada yang mengatakan palsu.

Meskipun demikian, semampang kandungan hadis tersebut dibenarkan, maka kemampuan berbahasa Arab para penghuni surga tidak diperoleh dari hasil kursus sewaktu masih di dunia, melainkan semacam “bonus” langsung dari Tuhan. Seperti seorang tunawicara atau anak kecil yang meninggal dan tiba-tiba di surga bisa fasih berbicara dengan sendirinya. Padahal sewaktu masih hidup tidak pernah bicara sama sekali.

Jika benar orang-orang di surga berbicara dalam bahasa Arab, lantas bahasa apa yang dipakai para penghuni neraka, ya?

Minggu, 09 November 2014

Haul Imam Muhajir

Lokasi Haul Imam Muhajir di Husaisah, Hadhramaut.
Foto: Yuslan.
Senyampang masih di Hadhramaut, saya akan berusaha mengikuti setiap tradisi dan aktivitas keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Salah satu tradisi yang sudah berlangsung secara turun-temurun adalah peringatan wafatnya Imam Muhajir yang diselenggarakan setiap tanggal 15 Muharam di distrik Husaisah, sebuah daerah tak berpenghuni berjarak sekitar 20 kilometer dari Tarim ke arah timur. Tahun ini, Haul Imam Muhajir bertepatan pada hari Jumat, 7 November 2014.

Jumat sore (7/11) sesudah salat Asar, saya berangkat ke Husaisah bersama rombongan bus Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) di Universitas Al-Ahgaff. Ada 5 bus yang disediakan oleh panitia; satu berukuran besar dan selebihnya berukuran sedang. Selain rombongan itu, banyak juga yang berboncengan mengendarai sepeda motor. Saya dan seorang kawan rencananya pengin ikut konvoi bersama mereka, namun karena motornya sedang mogok, terpaksa saya ikut serta dalam rombongan bus itu.

Rombongan saya sampai di Husaisah sekitar pukul 17.30 KSA. Suasana sudah sangat ramai ketika saya tiba di sana. Bahkan bus yang saya tumpangi tidak bisa mendekat dan harus parkir agak jauh dari lokasi acara.

Begitu memasuki pintu gerbang, kami langsung disambut dengan tarian tradisional khas Yaman. Berbeda dengan budaya tari di Indonesia yang identik dengan perempuan cantik, di sini semua personelnya laki-laki yang sudah berumur. Penampilan mereka juga sangat kasual dan unik: mengenakan sarung, berserban merah, dan membawa tongkat melengkung sambil meneriakkan yel-yel yang saya sendiri tidak tahu apa artinya. Saudara kembar saya, Lutfi Ahsanuddin, menolak ketika saya ajak menyaksikan pertunjukan tersebut lebih dekat. “Kita ziarah dulu ke makam,” katanya.

Saya pun langsung menuju ke makam Imam Muhajir yang sudah penuh sesak oleh para peziarah. Untuk bisa masuk ke dalam, mau tidak mau saya harus mengantre sampai mereka keluar. Meski demikian, saya cukup beruntung karena di waktu yang bersamaan Habib Umar bin Hafidz juga berziarah. Jadi, saya “hanya” mengamini saja doa-doa yang beliau bacakan.

Acara berziarah selesai sesaat sebelum matahari terbenam.

Selepas salat Magrib, acara dilanjutkan dengan pembacan selawat dan puji-pujian kepada Rasulullah. Lalu dilanjutkan dengan ceramah-ceramah yang kemudian ditutup dengan akad nikah, doa, dan salat Isya berjemaah.

Sabtu, 01 November 2014

Saat Matahari di Atas Antipode Kakbah

Titik antipode Kakbah (peniti kuning) di tengah-tengah
Samudra Pasifik. Citra diambil dari Google Earth.
Antipode adalah suatu tempat di belahan bumi yang letaknya berlawanan dengan tempat kita. Sedangkan Kakbah, seperti Anda ketahui, merupakan bangunan suci berbentuk kubus di dalam Masjidilharam sebagai kiblat salat umat Islam. Dengan demikian, frasa antipode Kakbah mengandung arti ‘suatu tempat yang letaknya berlawanan 180 derajat dengan Kakbah’. Jika posisi Kakbah berada di koordinat 21° 25’ lintang utara dan 39° 50’ bujur timur, maka antipode Kakbah terletak di titik 21° 25’ lintang selatan dan 140° 10’ bujur barat.

Dari amatan sekilas melalui aplikasi Google Earth, antipode Kakbah berada di tengah-tengah Samudra Pasifik. Tidak begitu jelas apakah di sana terdapat sebuah daratan atau gugusan pulau-pulau kecil—dan “kebetulan” tulisan ini tidak bermaksud membicarakan keberadaan lingkungan di sana, tetapi lebih khusus akan membahas saat matahari melintasi wilayah itu.

Selain mengitari Bumi dari arah timur ke barat yang menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam, matahari juga bergeser ke arah utara–selatan yang dalam ilmu pengetahuan alam disebut gerak semu matahari atau gerak tahunan. Pergeseran matahari inilah yang menyebabkan terjadinya siklus musim di muka bumi.

Pada tanggal 21 Maret, matahari melintas tepat di atas garis khatulistiwa dan, pada hari-hari berikutnya, ia terus bergeser ke arah utara selama tiga bulan sampai pada garis balik bumi bagian utara. Di peta dunia, garis balik ini ditandai dengan garis titik-titik yang diberi nama Tropic of Cancer.

Setelah mencapai titik balik utara, matahari kembali bergeser ke arah selatan dengan kecepatan yang sama dan sampai ke garis khatulistiwa pada tanggal 23 September. Sesampainya di khatulistiwa, ia terus berayun ke arah selatan selama tiga bulan hingga titik balik selatan (Tropic of Capricorn) pada tanggal 22 Desember dan kemudian kembali lagi ke utara sampai khatulistiwa pada tanggal 21 Maret. Saat matahari berada di titik balik selatan atau utara—dalam term ilmu falak disebut deklinasi terjauh/mail a’dham—ia berjarak 23,5 derajat dari ekuator.

Jadi, selama setahun, matahari akan melintas dua kali tepat di atas Kakbah: (1) saat bergeser ke utara dari khatulistiwa dan (2) saat kembali dari titik balik utara. Peristiwa serupa juga berlaku untuk antipode Kakbah di belahan bumi bagian selatan.