Pages - Menu

Minggu, 30 Maret 2014

Ujian Bulanan Ditunda



Suasana menjelang ujian di kampus Fakultas Syariah dan
Hukum Universitas Al-Ahgaff. (Foto: Adnan Widodo)

Kabar mengejutkan datang dari kampus Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff siang tadi. Secarik kertas tertempel di samping pintu masuk bertuliskan: "Diumumkan kepada segenap mahasiswa bahwasannya ujian syahriah diundur sampai pemberitahuan lebih lanjut." Baru kali ini, selama empat tahun saya kuliah, jadwal ujian yang tinggal beberapa jam lagi tiba-tiba diundur hingga waktu yang belum ditentukan.


Berbagai spekulasi pun muncul menanggapi pengumuman itu. Biasalah, anak Indonesia terkenal paling pandai untuk urusan membuat gosip sekaligus menyebarluaskannya. Ada yang mengatakan pihak kampus sedang tidak punya dana untuk menyelenggarakan ujian kali ini, baik untuk memfotokopi lembar ujian maupun memberi upah para pengawas. Sebagian yang lain berpendapat para dosen sedang mogok tidak membuat soal ujian karena belum digaji selama beberapa bulan.

Entah dari mana mereka dapat informasi tersebut. Yang jelas, saya tidak begitu saja percaya (baca: tak mau ikut campur) dengan itu semua. Apalagi beberapa waktu yang lalu pihak kampus telah memanggil sekitar 20 mahasiswa yang divonis drop out. Kedua puluh mahasiswa itu rencananya akan segera dipulangkan ke negaranya dalam waktu dekat ini dan itu artinya pihak kampus lagi punya banyak duit. Di samping itu, para dosen di sini terkenal akan ketulusannya dalam mengajar. Bahkan saking ikhlasnya, konon ada yang tidak mau digaji. Baru setelah dibujuk langsung oleh rektor universitas, akhirnya ia bersedia, itu pun hanya separuh saja dari jatah gajinya. Toh jika para dosen itu mau, bisa saja mereka mogok mengajar daripada (hanya) mogok bikin soal.

Sementara itu, para mahasiswa yang beberapa hari terakhir sudah berkhalwat dan sibuk dengan buku diktatnya masing-masing, kini tampak sedikit lega. Entah lega karena mereka belum siap untuk menghadapi ujian atau apalah alasannya. Namun setidaknya, mereka dapat melewati malam-malamnya dengan lebih rileks tanpa harus bergadang di masjid seperti marbut yang tak punya tempat tinggal. Saya sendiri tadi malam baru bisa tidur sekitar pukul dua dini hari setelah sebelumnya belajar sambil berjuang menahan kantuk.

Moga-moga krisis keuangan—jika memang benar adanya—yang sedang menimpa Universitas Al-Ahgaff segera terselesaikan dan semua aktifitas kuliah bisa berjalan lancar seperti sedia kala. Malam ini, saya ingin tidur lebih awal dari malam sebelumnya. Dan tentunya, lebih nyenyak.

Selasa, 25 Maret 2014

Frustrasi karena Internet


Sumber gambar: teknoup.com
Ketika ada orang Arab yang bilang bahwa perimbangan antara Yaman dan Arab Saudi (dalam segi kemajuan teknologi) itu sama dengan Indonesia dan Singapura, teman saya yang dari Indonesia tak terima. "Jika perbandingan Singapura-Indonesia ibarat langit dan bumi, maka Arab Saudi-Yaman bagaikan langit dan sumur!" katanya menggerutu.
Saya sendiri belum pernah ke Singapura dan Arab Saudi, jadi kurang tahu persis bagaimana kemajuan teknologi yang dicapai kedua negara tersebut. Meskipun begitu— melalu berbagai pemberitaan di media massa, misalnya—saya yakin kedua negara itu jauh lebih maju ketimbang Yaman dan Indonesia: dua negara yang (pernah) saya tempati cukup lama. Lalu antara Indonesia dan Yaman, mana yang lebih maju?

Siapa pun yang sudah pernah ke Yaman, pasti akan dengan mudah menyimpulkan bahwa negara ini jauh tertinggal dari Indonesia dalam segala bidang, kecuali dalam urusan ilmu keagamaan (Islam). Saya pun berpendapat demikian. Salah satu contoh yang paling mudah untuk menilai itu adalah kekuatan jaringan internet.

Entah sudah berapa kali saya mengumpat dalam hati karena kesal atas layanan internet di sini, baik dari segi tarif yang amat mahal, maupun kecepatan akses data yang superlambat. Berulang kali pula saya membaca status Facebook teman-teman yang berisi tentang keluhan terkait lambatnya jaringan internet di Yaman.

Bahkan ada kawan saya yang sampai membuat status Facebook begini, "Dari jumlah 200 negara di seluruh dunia, mungkin Yaman menempati urutan ke seribu dalam hal kecepatan akses internet." Saya ngakak begitu membaca tulisan itu. Dan meskipun terkesan lebay, saya setuju karena kenyataannya memang seperti itu.

Menurut catatan Wikipedia, internet baru masuk ke Yaman pada tahun 1996, tujuh tahun setelah saya lahir, dengan Yemen Net sebagai provider utamanya. Pada pengujung tahun 2012, jumlah pengguna internet di Negeri Ratu Balqis ini tercatat mencapai 1.037.000 (satu juta tiga puluh tujuh ribu). Bandingkan dengan masuknya layanan internet di Indonesia yang delapan tahun lebih dahulu, tepatnya pada tanggal 24 Juni 1988. Sedangkan pengguna internet di Indonesia hingga tahun 2012 sudah menembus angka 63 juta! Terbesar ketiga setelah Cina dan Amerika Serikat.

Kamis, 20 Maret 2014

Informasi Beasiswa di Universitas Al-Ahgaff Yaman



Gedung kampus Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff Yaman
Gedung kampus Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff di kota Tarim,
Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman. (Foto: Faizin/Brebes)

Universitas Al-Ahgaff adalah perguruan tinggi swasta yang berpusat di Mukalla, ibu kota provinsi Hadhramaut, Republik Yaman. Hadhramaut sendiri merupakan salah satu provinsi yang kaya akan peradaban dan semarak dengan ilmu pengetahuan.
Kantor rektor dan semua fakultas universitas berada di kota yang berada di ujung semenanjung Arab ini. Hanya Fakultas Syariah saja yang berada di kota Tarim. Hal ini dilakukan guna terwujudnya pendidikan syariah yang tidak hanya diperoleh dari bangku kuliah saja, namun juga didapat melalui lingkungan yang religius dan bertuah.
Tarim—kota terbesar di Hadhramaut—sejak dahulu hingga sekarang dikenal sebagai kota ilmu dan ulama. Oleh karena itu, pada tahun 2010 lalu, kota tempat nenek moyang para wali songo ini dinobatkan sebagai Kota Budaya Islam oleh organisasi ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization).
Faktor sosial-budaya di kota Tarim sangat mendukung untuk dijadikan sebagai tempat mendalami ilmu agama. Apalagi hal tersebut didukung faktor sejarah yang mencatat bahwa dari sinilah Islam di beberapa belahan dunia (seperti Asia dan Afrika) disebarkan dan berkembang pesat tanpa kekerasan dan teror berkat kegigihan, keikhlasan, keilmuan dan budi pekerti mulia para tokohnya dalam berdakwah.
Universitas Al-Ahgaff berdiri sebagai langkah nyata dari gagasan para ulama terkemuka dan dipelopori oleh (almarhum) Habib Abdullah bin Mahfudz Al-Haddad (Mufti Hadhramaut kala itu), demi membangun sarana pendidikan yang bermutu bagi masyarakat muslim dunia dengan pola pendidikan yang mampu mencetak sarjana muslim yang prospektif dan mumpuni dalam segala aspek kehidupan berasaskan ruh islami berhaluan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah.
Universitas ini resmi didirikan pada tahun 1994 melalui SK Menteri Pendidikan No.5 tanggal 8 Februari 1994. Pada tahun 1995 Universitas Al-Ahgaff resmi menjadi anggota Persatuan Universitas Liga Arab dan menjadi anggota Asosiasi Universitas-Universitas Islam.
Tahun 2014 ini, Universitas Al-Ahgaff kembali memberikan beasiswa dan membuka pendaftaran untuk penerimaan mahasiswa baru dari berbagai negara, termasuk Indonesia—yang jumlahnya tidak dibatasi. Dan perlu diketahui, bahwa beasiswa ini murni dari universitas, bukan dari Pemerintah Yaman seperti anggapan sebagian orang.

Minggu, 16 Maret 2014

Rihlah Keliling Yaman dan Pulau Sokotra



Tempat Wisata di Yaman
Gedung-gedung bertingkat yang terbuat dari
tanah liat di kota Syibam. Foto: ar.wikipedia.org

Awal Februari lalu rencananya saya dan teman-teman mahasiswa Indonesia Angkatan 15 Universitas Al-Ahgaff akan berwisata mengelilingi Yaman. Berbagai persiapan untuk menyukseskan kegiatan itu telah dilakukan. Mulai dari membuat surat perizinan, surat undangan, jenis bus yang layak pakai, juru masak yang andal, perkiraan tarif, hingga spanduk dan lain sebagainya.


Seorang teman dengan sangat antusias berkata, "Lima tahun tinggal di Yaman, masak enggak sempat mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sini? Kapan lagi momentum seperti ini datang? Rugi dong kalau cuma mendekam di Hadhramaut?"

Persiapan di atas sebenarnya sudah dilakukan cukup lama, tepatnya lima bulan yang lalu saat acara kumpul bareng di kolam renang. Dan tampaknya, adagium "Manusia boleh berkehendak, tapi Tuhan-lah yang menentukan" belum terlintas di benak kami waktu itu.

Akhir tahun 2013 lalu—kalau tak salah ingat—terjadi insiden peledakan bom di kantor Kementrian Pertahanan Yaman di ibu kota Sana'a. Disusul kemudian "pembantaian massal" di sebuah rumah sakit yang dilakukan oleh sekelompok teroris yang diduga termasuk jaringan Al-Qaeda. Belasan orang tak berdosa tewas seketika.

Dari hasil rekaman kamera pengintai (CCTV), cuplikan video dua insiden tersebut dengan cepat beredar luas di Youtube. Kami yang jauh derada di Yaman Selatan dengan mudah melihat itu melalui internet. Saya sangat sedih melihat korban berjatuhan akibat ketidakmanusiawian orang-orang yang tak bertanggung jawab. Di samping itu, saya juga sedih karena rencana wisata keliling Yaman yang sudah disusun matang berbulan-bulan terancam gagal.

Benar saja, hingga hari Senin terakhir bulan Maulid atau masa ujian semester  berakhir, izin yang ditunggu-tunggu tak kunjung diberikan oleh pihak kuliah. Itu artinya, dengan kata lain, kami dilarang melakukan perjalanan ke luar kota. Dan ini bukan kali pertama pihak kuliah melarang para mahasiswa berkeliling Yaman. Tahun lalu, kakak kelas kami (angkatan 14) juga bernasib sama. Alasannya tentu sangat jelas: demi keamanan.

Kini, kami hanya bisa memandangi foto-foto yang tercetak di lembar undangan yang dibagikan kepada teman-teman. Foto-foto itu menampilkan pemandangan tempat wisata yang rencananya akan kami kunjungi. Sebagian di antaranya sudah pernah saya kunjungi, seperti "kakbah" Raja Abrahah di kota Sanaa Lama, wadi Dau'an yang terkenal dengan madu alaminya, kota Syibam yang terkenal dengan gedung-gedung bertingkat yang terbuat dari tanah liat, dan sungai buatan di kota Mukalla (ibu kota Provinsi Hadhramaut).

Rabu, 12 Maret 2014

Pemenang Giveaway Blog Walking



Sumber gambar: cantikalayanti.blogspot.com
Sebulan telah berlalu sejak saya mengadakan giveaway di blog ini. Selama itu pula, tercatat sebanyak 67 (enam puluh tujuh) narablog dari berbagai daerah telah ikut bergabung—termasuk yang menulis data diri di kotak komentar Facebook. Berikut nama dan alamat mereka beserta link aktif yang menuju blog masing-masing:

Senin, 03 Maret 2014

Pulsa Hilang



Kartu As adalah salah satu produk dari Telkomsel
Logo Kartu As diambil dari sini.
Sabtu sore (1 Mar) menjelang magrib, saya kaget bukan kepalang. Penyebabnya bukan karena melihat daftar "korban" seleksi alam di Universitas Al-Ahgaff yang kebanyakan adalah teman dekat saya, tetapi lantaran sebuah teks balasan di layar ponsel yang berbunyi, "Sisa pulsa Anda Rp0. Penggunaan pulsa di periode ini Rp44.000. Aktif s.d. 10/03/2014." Malam hari sebelum pergantian bulan, teks tersebut masih begini, "Sisa pulsa Anda Rp43.000. Penggunaan pulsa di periode ini Rp1.000. Aktif s.d. 10/03/2014." Alhasil, dalam tempo kurang dari 24 jam, pulsa senilai Rp43.000 raib entah ke mana.

Mereka yang akrab dengan peranti elektronik hape, terutama pengguna produk Telkomsel, tentu tahu bahwa kutipan teks di atas adalah layanan balasan dari *888# untuk mengecek sisa pulsa kartu prabayar (simPATI/Kartu As). Selain layanan itu, Telkomsel juga menyediakan layanan untuk mengecek transaksi terakhir (telepon, sms, atau paket data) dengan cara mengakses *887# lalu tekan OK.

Saya termasuk tipe orang yang tak suka gonta-ganti pasangan, termasuk untuk urusan nomor telepon. Sudah hampir 6 tahun ini, ketika teman-teman sudah "berselingkuh" dengan operator lain, saya masih setia memakai kartu As—salah satu produk Telkomsel—meskipun banyak operator seluler lain yang menawarkan tarif promo yang lebih murah.

Empat tahun yang lalu, ketika saya hendak meninggalkan tanah air untuk waktu yang cukup lama, nomor saya pernah diminta oleh seseorang namun saya tolak. Bahkan seorang wanita pelayan (call center) di Gerai Halo Cabang Purwodadi yang menyarankan "Sebaiknya ganti nomor saja. Biaya internasional roaming itu mahal, apalagi Bapak akan tinggal di sana dalam jangka panjang." hanya saya jawab dengan senyuman manis, alih-alih mempertimbangkan masukannya tersebut.

Alasan saya cukup sederhana. Saya tidak mau repot menyalin semua kontak nomor di memori SIM dan menyebar pesan pendek (sms) "Ini nomorku yang baru. Tolong disimpan, ya!" setiap kali ganti nomor—sebagaimana yang dilakukan oleh salah seorang teman. Selain itu, saya tidak ingin mengecewakan teman-teman lama yang ingin berkomunikasi melalui telepon atau sms.