Pages - Menu

Minggu, 27 April 2014

Kisah Lelaki Pengemban Amanat



Ilustrasi gambar oleh Remy Fernando.

Cerita di bawah ini pertama kali saya dengar dari KH Rohani—pemimpin Pondok Pesantren PELITA, Purwodadi, Jawa Tengah—saat menyampaikan ceramah dalam acara halalbihalal Keluarga Besar Mbah Rono Dipuro Sajam di Desa Pulokulon, Kabupaten Grobogan, kira-kira sewindu yang lalu.

Dan saya baru tahu, ternyata cerita yang disampaikan dai lulusan Yaman itu ada di bab akhir kitab Is'âdur Rafîq karya Syekh Muhammad bin Sâlim bin Sa'îd Babashail, seorang ulama besar asal Hadhramaut, Yaman. Kitab fikih-tasawuf ini tergolong langka dan jarang dimiliki oleh teman-teman mahasiswa Al-Ahgaff, karena di samping tidak masuk dalam silabus universitas, kandungan isinya juga terkesan "angker".

Saya sekadar ingin mengisahkannya kembali di blog ini agar dapat dibaca oleh siapa saja. Barangkali, ada di antara para pembaca yang dapat mengambil hikmah dari cerita berikut.

Senin, 21 April 2014

Karut-marut



Sumber gambar: high-schools

Sudah semestinya kita sebagai pemakai bahasa Indonesia dituntut untuk menerapkan kaidah kebahasaan dengan cermat. Namun, dalam praktik sehari-hari, tidak jarang dijumpai penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar kita terhadap kaidah yang seharusnya ditaati. Salah satunya adalah ketidakcermatan dalam penggunaan diksi.

Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja saya membaca status seorang teman di beranda Facebook yang berisi tautan berita: Muhammadiyah dan NU Ingin PKB Pimpin Koalisi Partai Islam. Terlepas dari apa pun isinya, sebenarnya saya tidak terlalu menyukai berita politik—yang penuh dengan intrik—dan oleh karena itu saya tidak ikut berkomentar di sana. Akan tetapi, dari sekian banyak komentar yang muncul, ada satu yang membuat saya sedikit mengernyitkan dahi dan ingin menanggapinya di sini—tentunya bukan dari kacamata politik, melainkan dari aspek bahasa. Komentar itu berbunyi, "Gimana Partai Islam mau koalisi, PPP lagi carut-marut lho…"

Rabu, 16 April 2014

Perang Melawan Kepinding



Gambar kartun karya Aldriana A. Amir.

Hidup satu atap dengan ratusan orang dari berbagai suku, bangsa, dan negara, tentu menyimpan kisah dan pengalaman yang mengesankan, baik itu suka maupun duka. Kisah sukanya, antara lain, kita bisa mengetahui keunikan ragam bahasa, tradisi, dan adat istiadat masing-masing yang patut kita hargai. Selain itu, kita juga bisa bersenda gurau untuk sekadar mengurangi rasa tenat setelah seharian penuh menjalani aktifitas kuliah yang superpadat.


Akan tetapi, hidup bersama "mereka" juga bisa bikin frustrasi.

Kali ini saya ingin bercerita tentang sekelompok penghuni asrama yang ulahnya selalu bikin frustrasi itu. Mereka semuanya berkulit hitam, bau, dan sangat egois: mementingkan kelompoknya sendiri tanpa memedulikan hak asasi orang lain. Postur tubuh mereka sangat kecil dan karena itulah keberadaannya sulit diendus. Kehadirannya di asrama sebenarnya tidak diinginkan oleh siapa pun. Tetapi sayangnya, kamisemua mahasiswa Universitas Al-Ahgaff, Yamantidak sanggup untuk menolak, apalagi mengusirnya ke luar asrama.

Tidak! Saya tidak akan membicarakan orang-orang Afrika yang terkadang menjengkelkan itu, melainkan para imigran asing yang jumlahnya tak terhingga. Kami menyebut mereka dengan nama yang sangat anggun: kepinding. Meskipun sebenarnya masih ada pilihan nama lain yang lebih familier di telinga kita, yaitu kutu busuk. Atau yang biasa digunakan untuk memaki dan mengumpat: bangsat.

Mari saya ajak berkenalan lebih dekat. Kepinding adalah kutu pengisap darah yang sangat ganas. Ia biasa hidup dan bersembunyi di tempat-tempat strategis, seperti di sela-sela kardus, di balik kasur, hingga lipatan kertas. Kadang-kadang kepinding juga terlihat di baju dan sarung walaupun tengah dipakai salat oleh pemiliknya.

Makhluk berkaki enam ini memburu darah selama 24 jam nonstop. Melebihi jam kerja saudaranya, nyamuk, yang "hanya" sekitar empat belas jam—antara pukul 5 sore sampai pukul 7 pagi. Untungnya di sini hampir tidak ada nyamuk, karena setahun hujan turun cuma tiga-empat kali saja. Jadi tidak banyak genangan air untuk tempat bertelur dan berkembang biak.

Untuk urusan darah, kepinding seolah-olah tak kenal bosan. Entah sudah berapa galon darah yang telah mereka teguk. Bahkan saking ganasnya, mereka bisa minum darah hingga melebihi berat badannya sendiri. Setahu saya, di dunia ini hanya kepinding dan nyamuk yang memiliki keistimewaan seperti itu. Bayangkan, porsi makan mereka melebihi berat badannya sendiri. Sangat rakus sekali, bukan? Seperti koruptor yang tak pernah kenyang memakan uang rakyat. Bagaimana kalau para koruptor itu kita namai kepinding saja? Toh keduanya sama-sama busuk. Jadinya nanti KPK adalah singkatan dari Komisi Pemberantasan Kepinding. Percayalah, KPK dengan nama baru ini masih terkesan gagah meskipun ada sebagian pihak yang menjulukinya cecak. [baca: Majalah Detik edisi 37]

Selasa, 08 April 2014

Gravatar


Globally Recognized Avatar
Logo Gravatar diambil dari sini.
Belum lama ini saya mendaftarkan alamat surel saya ke Globally Recognized Avatar (disingkat menjadi Gravatar), sebuah situs yang menyediakan layanan avatar atau ikon yang dikaitkan dengan alamat surel tertentu. Layanan ini gratis dan dipersembahkan oleh Automattic, perusahaan di balik Wordpress, yang mengakuisisi Gravatar sejak Oktober 2007.

Berawal dari keinginan saya untuk menampilkan foto profil saat berkomentar di blog ber-platform Wordpress, lalu—seperti biasa—saya coba-coba membuka situs ini untuk kemudian mendaftar. Sebelumnya, saya pernah membaca artikel Mbak Indri Lidiawati tentang cara menampilkan gambar profil di komentar Wordpress.

Tidak terlalu sulit untuk mendaftar di situs Gravatar. Juga tidak harus punya akun Wordpress terlebih dahulu. Cukup dengan mengisi formulir yang disediakan, melakukan verifikasi akun, dan mengunggah foto yang diinginkan, kita sudah bisa menampilkan foto kita setiap kali berkomentar di blog Wordpress dan blog-blog lain yang mendukung layanan ini. Dalam formulir itu, yang harus diisi adalah nama (depan dan belakang), nama pengguna, alamat email, dan kata sandi. Khusus untuk yang terakhir, saya sedikit kesulitan karena Gravatar mengharuskan kombinasi kata sandi yang terdiri dari aksara, nomor, dan simbol.

Saya lebih suka jika ada yang dengan senang hati berkomentar di blog ini menggunakan akun Blogger atau Google Plus—yang bisa menampilkan foto profil—daripada (hanya) nama dan URL, apalagi komentar awanama. Rasa-rasanya, komentar yang dihiasi dengan foto cantik di sampingnya itu terkesan lebih komunikatif dan "manusiawi" ketimbang gambar kartun atau siluet kelabu. Meskipun begitu, saya tetap menghargai semuanya. Komentar dengan nama dan URL tetap saya kunjungi; komentar anonim tidak akan saya hapus selama isinya pantas untuk dibaca oleh khalayak.

Berbeda dengan Mbak Nunu El-Fasa yang lebih suka dikomentari (dan berkomentar) cukup menggunakan nama dan URL saja. Tentu ia memiliki alasan sendiri: agar lebih mudah melakukan silaturahmi online atau blog walking. Menurutnya, komentar dengan akun Google Plus menyulitkan untuk melakukan kunjungan balik, karena kita akan diarahkan ke halaman profil Google Plus terlebih dahulu baru kemudian alamat blog yang bersangkutan. Itu pun kadang masih terkecoh jika, misalnya, si komentator membagikan blog orang lain di halaman profilnya.

Memang, selera orang itu berbeda-beda. Saya tidak bisa memaksakan kehendak saya kepada orang lain begitu juga sebaliknya. Dan, pertanyaan dari saya, apakah Anda tertarik mendaftar ke Gravatar?

Kamis, 03 April 2014

Di Balik Kata "Dibalik"



Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan (KBBI Daring)
Gambar tangkapan skrin KBBI Daring.
Kurang lebih dua bulan yang lalu, majalah dinding Aqwam Media edisi Februari kembali terbit. Topik utama yang diangkat kala itu adalah Gebyar Peringatan Ulang Tahun Asosiasi Mahasiswa Indonesia Al-Ahgaff yang ke-14 yang ditandai dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang dalam berbagai kompetisi yang dihelat saat liburan lalu. Dilihat dari segi tata letak dan latar belakang, tampilan majalah terbitan Departemen Seni dan Budaya ini cukup atraktif. Berbagai gambar yang dipadu dengan kombinasi warna-warni indah di sekujur halaman membuat siapa pun tertarik untuk mendekat dan membacanya. Akan tetapi, bukan itu yang membuat saya merasa "tertarik" untuk menuliskan ini.

Saya tergelitik sewaktu pertama kali membaca salah satu judul artikel majalah itu yang berbunyi: "Pahlawan Dibalik Layar". Jika kalimat itu dilafalkan, memang tak ada masalah. Tetapi sebenarnya ada yang keliru dalam penulisan judul tersebut. Mestinya, kata "Dibalik" ditulis secara terpisah (dengan spasi), bukan dirangkai seperti itu. Karena "di" di situ bukan sebagai awalan (prefiks), tetapi kata depan (preposisi).

Kata depan atau preposisi adalah kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat dan biasanya diikuti oleh nomina atau pronomina. Preposisi bisa berbentuk kata, misalnya di dan untuk, atau gabungan kata, misalnya bersama atau sampai dengan. Sementara prefiks adalah imbuhan yang ditambahkan pada bagian awal sebuah kata dasar atau bentuk dasar. Misalnya: dimakan (bentuk pasif dari memakan), dari kata dasar "makan".

Menurut Pedoman Umum EYD, "Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada."

Kesalahan yang paling umum adalah penulisan seperti "disini", "dimana", dan "diantara"—sekadar menyebut beberapa—yang seharusnya ditulis "di sini", "di mana" dan "di antara". Kesalahan sejenis sering saya jumpai pada, misalnya, status Facebook dan linimasa Twitter. Biarpun begitu, saya tidak akan menyoal tulisan-tulisan di sana, karena di samping tidak ada aturan yang mengikat, kebanyakan tulisan di media sosial hanya sebagai luapan perasaan si pemilik akun yang ditulis secara spontan dan tanpa melewati proses penyuntingan.