Pages - Menu

Kamis, 24 Desember 2015

Ironi Gadis (Pengungsi) Suriah

Foto wanita Suriah. Ada yang berani bilang enggak cantik?
Saat berkunjung ke Kota Mukalla (Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman) empat tahun lalu, saya sempat melihat gadis-gadis pengungsi Suriah berjajar di trotoar dan lorong-lorong pasar. Sebagaimana wanita Arab pada umumnya, mereka mengenakan telekung warna hitam. Akan tetapi, wajahnya dibiarkan terbuka tanpa cadar. Ironisnya, karena tidak adanya keluarga atau orang yang memberi nafkah, mereka terpaksa meminta-minta di tempat keramaian tersebut.

Setelah sekian lama tidak bertemu (kayak LDR saja, ya?), saya membaca berita bahwa saat ini para pengungsi Suriah sudah ada yang sampai ke Wilayah Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia. Rata-rata para wanitanya, selain anak-anak, adalah gadis yatim piatu, janda-janda muda anak satu, atau janda yang tidak punya anak karena suami-suami mereka meninggal di medan perang.

Selain mencari suaka, tentu saja, mereka juga mendambakan saya, eh, orang yang dapat melindungi sekaligus memberikan nafkah, baik lahir maupun batin. Dan, kabar baiknya, konon mereka mau menerima pinangan pria mana pun asalkan seiman dan menyediakan tempat tinggal. Bahkan mungkin mereka juga mau dimadu atau dijadikan istri kedua....

Untuk urusan kecantikan, wanita Suriah tidak bisa dipandang sebelah mata; kulitnya yang putih bersih alami, matanya yang biru kecokelatan, postur tubuhnya yang ... ah, sudahlah. Intinya, bahkan tanpa mekap di wajah sekalipun, wanita Suriah sudah pantas diajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Memang, cantik itu relatif. Tapi setidaknya ada kriteria dan standardisasi yang disepakati bersama oleh kaum lelaki, bukan?

Nah, melihat keadaan mereka yang sangat memprihatinkan, adakah di antara kita yang mau berbagi kebahagiaan dengan mereka?

Kamis, 03 Desember 2015

Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah, Berbedakah?



Sampul buku Akidah-Akhlak dan Alquran-Hadits
terbitan Erlangga. (Foto: Dok. Pribadi)
Memang agak riskan mempelajari ilmu-ilmu keagamaan jika tidak dari sumber yang terpercaya, yaitu kitab-kitab ulama salaf yang sudah diakui akan kualitas ilmunya. Mungkin karena alasan efektivitas dan efisiensi waktu, orang zaman sekarang cenderung menempuh jalan pintas dalam mencari ilmu dengan memanfaatkan berbagai macam media. Seperti mencari bahan bacaan di internet, buku-buku terjemahan; menyimak siaran radio, sampai ceramah-ceramah islami di televisi atau kanal Youtube.

Saya tidak mengatakan belajar melalui media-media tersebut salah. Tetapi paling tidak, ada 2 hal—dari 6 perkara penentu keberhasilan mencari ilmu—yang terabaikan. Pertama, guru yang mumpuni serta memiliki sanad sampai kepada Rasulullah dan,  kedua, waktu yang amat panjang.

Ketidakjelasan guru dapat dilihat pada program tayangan televisi di pagi hari. Hanya dengan bekal hafal(an) beberapa butir hadis atau ayat Alquran, mereka yang sudah telanjur terkenal—karena sebelumnya menjadi artis, misalnya—bisa disebut ustaz atau kiai yang popularitasnya mengalahkan para santri yang bertahun-tahun menimba ilmu di pesantren.

Contoh yang masih hangat dalam ingatan kita adalah dua artis senior yang belum lama ini menjadi bahan ejekan obrolan di media sosial lantaran pernyataan kontroversialnya mengenai doa. Menurutnya, pahala membaca surah Al-Fatihah tidak bisa sangkil kepada orang yang dituju. Fenomena inilah yang disebut dengan “kiai produk media” seperti yang sering disampaikan oleh KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam ceramah-ceramahnya.

Di internet malah lebih memprihatinkan lagi. Karena siapa pun orangnya, yang memiliki akses langsung ke dunia maya, bisa dengan leluasa menerbitkan artikel bertopik keagamaan yang referensinya diambil dari situs lain, bahkan sering kali disalin-tempelkan begitu saja tanpa disebutkan sumber rujukan dengan jelas.

Selanjutnya, ketika pengguna internet melakukan penelusuran di mesin pencari Google dan mendapati artikel-artikel tersebut berada di urutan 10 teratas, ia—terutama yang kurang paham dengan permainan SEO (Search Engine Optimization)—akan terkecoh dan memercayai bahwa semua informasi di hadapannya adalah benar adanya. Nah, jika informasi (baca: ilmu) yang dibaca itu tidak valid, berapa juta orang yang akan salah paham?

Sabtu, 08 Agustus 2015

Dua Ragam Jalan Menuju Tuhan

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini.
Pertama, melalui kenikmatan duniawi. Seperti ekonomi mapan, karier cemerlang, istri cantik, anak-anak yang berprestasi, dan lain sebagainya. Sebagian orang yang mendapatkannya sadar bahwa semua itu adalah pemberian dari Allah. Maka, oleh sebab itu, ia kemudian bersyukur dengan semakin meningkatkan kualitas amal ibadahnya. Tapi belum tentu, seandainya orang tersebut diuji dengan kehidupan yang serbasulit, ia akan senantiasa mengingat-Nya.

Golongan orang dengan jenis pertama ini jumlahnya relatif sedikit. Dan karena itulah, tulisan ini tidak akan mengulasnya panjang lebar. Sebaliknya, yang paling banyak terjadi adalah model yang kedua berikut.

Yaitu orang yang “digiring” menuju Tuhan melalui jalan kesengsaraan, kemelaratan, kecemasan, ketakutan, dan hal-hal tidak mengenakkan lainnya.

Sebagai perumpamaan untuk memperjelas, anggap saja begini: Allah memiliki seekor anjing. Melalui anjing ini, Ia kemudian menggiring dan menakut-nakuti manusia sehingga membuat mereka lari terbirit-birit. Manusia itu terus berlari karena rasa takut akan gigitan anjing; sebagian ada yang jatuh terperosok ke dalam jurang, sebagian yang lain bisa selamat dan sampai ke tempat yang aman, yaitu di sisi Sang Pemilik Anjing.

Alangkah beruntungnya mereka yang bisa sampai kepada Sang Pemilik Anjing. Karena Dialah tempat kembali yang sesungguhnya. Innâ lillâh wa innâ ilahi râji’ûn (sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya pula kita akan kembali). Meskipun, tentu saja, dalam masa pelarian itu ia akan mengalami hal-hal yang menyakitkan seperti kaki terluka akibat tersandung batu atau tertusuk duri.

Adapun contoh di dunia nyata adalah orang-orang yang dalam hidupnya punya, misalnya, rasa takut yang berlebihan terhadap makhluk halus atau tempat-tempat gelap dan sepi. Karena diliputi rasa takut terus-menerus, mereka lalu mencari kedamaian dengan memperbanyak amalan ibadah, salat, dan zikir. Setelah menjalaninya beberapa waktu secara rutin, mereka merasa jiwanya menjadi semakin tenteram.

Orang seperti ini biasanya punya semangat beribadah yang luar biasa. Dan, pada fase tertentu, mungkin ia akan menyimpulkan bahwa amalan-amalan itulah yang membuat keadaan psikologisnya kian membaik. Lebih lanjut lagi, ia akan meyakini bahwa hanya dengan amalan-amalan itulah dirinya bisa dekat dengan Allah. Padahal, disadari atau tidak, yang menjadikan tenteram-tidaknya jiwa manusia hanyalah Allah, dan bukan yang lain; yang menyebabkan manusia masuk surga bukanlah amal ibadahnya, melainkan semata-mata karena rahmat-Nya.

Terkait hal ini, Rasulullah pernah bersabda, “Amal ibadah kalian tidak akan menyebabkan kalian masuk surga.” Ketika para sahabat bertanya apakah Rasulullah juga begitu, beliau pun menjawab, “Begitu pula aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya.” [HR. Bukhari]

Dengan demikian, amal ibadah manusia kelompok kedua ini—dan kelompok pertama juga—sesungguhnya belum bisa dikatakan benar-benar ikhlas (lillahi ta’ala). Semua masih karena “perkara dunia”. Tapi masih ada baiknya. Ia bisa masuk ke jalur yang benar.

Nah, jika sudah benar-benar masuk, biasanya semangatnya bukan main. Katanya, “Ibadah kok cuma segitu, masih kurang banyak.” Saya pernah mengalaminya sendiri saat pertama kali mendapat ijazah wirid dari guru mursyid. Waktu itu, karena bukan termasuk orang yang taat beribadah, saya sempat berkata dalam hati, “Ternyata wiridannya cuma sedikit.”

Selasa, 14 Juli 2015

1 Syawal 1436 H, Kapankah?

Sumber gambar: juozgandoz.com
Ada kemungkinan Lebaran tahun ini akan berbeda. Baik antara Pemerintah/Muhammadiyah dan NU, maupun antara Pemerintah/NU dan Muhammadiyah. Keadaannya sama persis seperti saat-saat menjelang Lebaran 2 tahun lalu. Waktu itu Muhammadiyah telah memutuskan 1 Syawal jatuh pada hari Kamis, 8 Agustus 2013 berdasarkan hisab, sedangkan NU masih menunggu laporan tim rukyat sore harinya, begitu juga Kementerian Agama dengan keputusan sidang isbatnya. Meski demikian, pada akhirnya Lebaran tahun itu seragam karena ada laporan hilal terlihat di Sulawesi yang diterima oleh Kemenag.

Bedanya, tahun ini kita belum tahu pasti apakah pada Kamis petang nanti ada yang berhasil melihat hilal sehingga kita bisa berlebaran di hari yang sama. Sementara hasil hisab menunjukkan bahwa posisi hilal sudah 2 derajat di atas ufuk—standar minimum batas visibilitas hilal versi pemerintah.

Yang dikhawatirkan, semampang tidak ada yang lapor melihat hilal, dan pemerintah memutuskan 1 Syawal 1436 H jatuh pada hari Jumat berdasarkan hisab, maka bisa jadi NU akan tampil beda dengan mulai berlebaran pada hari Sabtu. Hal ini mengacu pada kesimpulan Munas Alim Ulama NU di Situbondo pada tanggal 21 Oktober 1983 lalu: “Penetapan pemerintah tentang awal Ramadhan dan awal Syawal dengan menggunakan dasar hisab, tidak wajib diikuti. Sebab, menurut jumhur salaf, bahwa terbit awal Ramadhan dan awal Syawal itu hanya bi al-ru'yah au itmâmi al-adadi tsalâtsîna yauman (melihat hilal atau penggenapan bilangan 30 hari).” Dasar pengambilan keputusan ini bisa Anda lihat di kitab kompilasi fatwa-fatwa ulama Hadhramaut (Yaman) Bughyah al-Mustarsyidîn, dan Al-Durr al-Mantsûr fî Itsbât al-Syuhûr.

Keputusan Munas tersebut tampaknya hanya mengacu pada literatur fikih Mazhab Syafii. Memang, dalam Mazhab Syafii, penentuan awal bulan Hijriah hanya melalui (1) istikmal 30 hari bulan sebelumnya dan (2) rukyat atau melihat hilal. Sementara hisab hanya dipakai untuk menunjang aktivitas rukyat di lapangan, dan bukan sebagai penetapan awal bulan.

Dalam hal ini, masih menurut Mazhab Syafii, pemerintah tidak boleh menentukan awal bulan berdasarkan hisab, namun pemerintah berhak menolak laporan rukyat yang bertentangan dengan hasil hisab. (baca: Testimoni Palsu Para Perukyat)

Selasa, 07 Juli 2015

Cangkriman Faraid

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini.
Sebagaimana judul tulisan ini di atas, kali ini saya akan membuat tebak-tebakan kepada para pembaca tentang ilmu pembagian harta warisan dalam Islam. Tidak hanya itu, saya juga akan memberikan pulsa Telkomsel sebesar Rp25.000,00 (dua puluh lima ribu rupiah) bagi siapa pun yang berhasil menjawab dengan benar.

Nah, sebelum saya mengajukan pertanyaannya, baca dan pahamilah narasi pendek berikut dengan saksama!

* * *
Segerombolan orang hendak membagi-bagikan harta warisan di antara mereka. Tapi sebelum mereka melakukannya, tiba-tiba datang seorang perempuan yang tengah mengandung tua.

“Setop! Jangan buru-buru kalian bagi harta itu karena aku sedang hamil,” kata perempuan itu. “Jika bayi dalam kandunganku ini nanti terlahir perempuan, maka ia juga berhak mendapat bagian. Namun jika ternyata laki-laki, maka ia tidak dapat bagian sama sekali.”

* * *
Pertanyaannya sekarang adalah, siapa saja segerombolan orang dan perempuan itu?

Jawaban bisa ditulis menggunakan salah satu dari 3 akun media sosial: Google Plus, Twitter, dan Facebook. Untuk Google Plus, silakan tulis pada kotak komentar di bawah; untuk Twitter, silakan kicaukan jawabannya dengan menyebut @luuthfie dan tanda pagar #CahPulokulon; dan untuk Facebook, sila berikan komentar pada salah satu kiriman di Halaman Facebook blog ini.

Seumpama jawaban Anda keliru, Anda masih boleh berkomentar lagi berkali-kali dengan jawaban yang berbeda. Dan jika ada dua jawaban yang benar, maka yang paling dululah yang saya menangkan.

Perlu diketahui bahwa ini adalah tebak-tebakan ilmiah. Jadi jawabannya hanya ada satu, eksak, dan logis. Tidak seperti tebak-tebakan nonilmiah pada umumnya yang jawabannya terasa ambigu dan dipaksakan.

Selain memberikan jawaban, Anda juga boleh bertanya apa pun yang berkaitan dengan ilmu faraid seperti bagian masing-masing ahli waris, perkara yang menghalangi seseorang mendapatkan warisan, dan lain-lain. Insya Allah saya—atau pembaca lainnya—akan menjawabnya. Siapa tahu, pertanyaan Anda bisa memberi semacam petunjuk untuk menjawab teka-teki di atas.

Kuis ini dimulai saat tulisan ini dipublikasikan sampai waktu yang tidak ditentukan—atau ada yang berhasil menjawab dengan benar. Selamat mencoba!

Minggu, 05 Juli 2015

Perihal Interpretasi Sajak

Bagian pertama Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushairi.
Gambar dipinjam dari sini.
Selain (1) penggunaan kata-kata arkais dan sejumlah metafora, problem yang sering dihadapi ketika membaca sajak-sajak Arab adalah (2) penggunaan suatu kata yang mengacu pada tokoh, tempat, atau peristiwa tertentu. Sering kita dihadapkan pada tokoh-tokoh sejarah atau fiksi yang tidak, atau belum, kita kenali sehingga kita menghadapi masalah dalam menafsirkan makna sebuah syair. Lebih lanjut, (3) andaikata  tokoh, tempat, dan peristiwa tersebut sudah diketahui, pembaca belum tentu tahu korelasinya dengan perasaan atau ide yang ingin disampaikan penyair lewat syairnya.

Persoalan pertama bisa diatasi dengan membuka kamus induk ekabahasa. Seperti Tâj al-Arûs karya Murtadlâ al-Zabîdî, Lisân al-Arâb karya Ibnu Manzhûr, Al-Qâmûs al-Muhîth karya Majduddîn al-Fairûz Abâdî, Mukhtâr al-Shihâh karya Zainuddîn al-Râzî, dan—ini yang sering saya pakai—Al-Mu’jam al-Wasîth, hasil kolaborasi para pakar bahasa Arab bersama pemerintah Negara Mesir. Makin sering seseorang membuka kamus jenis ini, maka perbendaharaan kata, frasa, juga nuansa maknanya kian melimpah.

Saya tidak menyarankan Anda membuka kamus-kamus bilingual (Arab-Indonesia) yang sering dipakai pelajar pada umumnya. Karena kamus jenis ini, selain kurang akomodatif, sebenarnya diperuntukkan bagi mereka yang masih pemula.

Untuk masalah kedua, cara mengatasinya adalah dengan melacak atau mempelajari sumber-sumber yang memuat informasi tentang nama, tokoh, tempat, atau peristiwa yang dipinjam sang penyair. Bisa dari buku-buku sejarah atau ensiklopedi geografi, atau dari kitab-kitab syarah yang mengulas sajak-sajak Arab tersebut.

Jumat, 26 Juni 2015

Sepenggal Kisah di Pesantren Ash-Shufi

Guru-guru di MTs Terpadu Ash-Shufi.
Puasa tahun ini terasa amat berbeda. Jika 5 tahun terakhir saya menjalani puasa di negara orang dengan cuaca yang panas dan ekstrem, kali ini tidak demikian. Puasa tahun ini saya berada di Jawa Timur bagian selatan yang dikenal dengan suhunya yang dingin: Blitar.

Di Kota Koi inilah saya ditugaskan saat ini. Tepatnya di Pesantren Ash-Shufi yang diasuh oleh KH Imam Asy’ari. Adapun kegiatan belajar di pesantren ini selama bulan Ramadan adalah matrikulasi atau pembekalan siswa baru MTs Terpadu Ash-Shufi dengan materi utama Bahasa Inggris, Matematika, Biologi, dan pendidikan keagamaan. Bersama Mas Irvan dan Mas Zaka, saya diminta mengisi bagian keagamaan.

Pesantren Ash-Shufi beralamat di Jl. Trisula, Dusun Gogourung, Desa Dawuhan, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Jaraknya dari Kota Blitar lumayan jauh, sekitar 10 kilometer ke arah selatan. Dengan ketinggian tempat di atas 260 meter (dpl) dan perbukitan hijau di sampingnya, Pesantren Ash-Shufi memiliki kelembapan udara yang tinggi dan berhawa sejuk. Bahkan badan saya sempat menggigil kedinginan selama dua hari saat pertama kali tiba di sini. Mungkin karena saya belum terbiasa dengan udara dingin. Atau kemungkinan besar karena saya belum punya kekasih, sehingga kesulitan menemukan tempat bersandar yang berfungsi sekaligus sebagai penghangat badan.

Akan tetapi, sesungguhnya, bukan soal cuaca yang membuat puasa kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, melainkan soal lingkungan dan partner baru. Yang saya maksud partner baru di sini adalah wanita-wanita cantik yang juga direkrut sebagai tenaga pengajar di MTs Ash-Shufi.

Mereka rata-rata menempuh pendidikan formal di kampus atau perguruan tinggi, dan bukan santriwati tulen yang bertahun-tahun bermukim di pesantren. Meski begitu, tingkah laku mereka sangat islami. Hal itu terlihat dari, misalnya, gaya mereka mengenakan busana dan profesionalismenya saat berkomunikasi dengan lawan jenis.

Saya sangat sering berpapasan dengan mereka; saat menyiapkan menu buka puasa, makan di dapur, piket di kantor, sampai di beranda musala sebelum/sesudah salat berjemaah. Bahkan pernah suatu ketika ada yang mengetuk pintu kamar saya saat waktu azan telah tiba, sementara saya masih tertidur karena kecapaian.

Tentu saja, bagi mereka itu hal yang biasa, sehingga mereka bisa menjalaninya dengan enjoy. Tapi bagi saya, yang belasan tahun tidak pernah berinteraksi langsung dengan kaum hawa, semua itu pada awalnya terasa canggung dan kurang nyaman.

Jumat, 12 Juni 2015

Kafe Halte Tulungagung

Interior Kafe Halte. Foto: Facebook/Mahmud Janu
Mungkin karena terlalu  lama tidak memiliki pacar, saya mulai pandai menghibur diri sendiri. Ya, menghibur diri merupakan keahlian saya saat ini. Ada banyak hal yang bisa saya lakukan untuk menikmati kesendirian saya itu. Salah satu di antaranya adalah duduk santai di dalam kafe sambil berselancar di dunia maya.

Nah, omong-omong soal kedai kopi, jika kebetulan Anda sedang melintas di Kota Tulungagung, Jawa Timur, jangan lupa mampir di tempat nongkrong yang sangat asyik, Kafe Halte namanya. Kafe ini beralamat di Jl. Wahid Hasyim No.07, tepatnya di belakang masjid “alun-alun” Al-Munawwar. Lokasinya yang strategis membuatnya mudah dijangkau dari arah mana pun.

Saat pertama kali memasukinya, saya sama sekali tidak merasa canggung. Meski kafe identik dengan tempat berkumpulnya masyarakat urban yang glamor dan elite, tetapi Kafe Halte memberi suasana yang berbeda. Dengan interior dinding berpetak merah-putih dan kisi-kisi bambu di bagian tengahnya, Kafe Halte mampu menarik para pengunjung dengan latar belakang yang beragam. Hal itu dapat dilihat dari, misalnya, jenis busana yang mereka kenakan. Ada yang tampak religius dengan baju koko, sarung, dan kopiah. Ada yang tampil elegan dengan kaus dan celana jin. Ada pula pengunjung wanita yang tampak seksi dengan pakaiannya yang serbaminim....

Seperti biasa, suatu hari saya datang sendirian ke tempat ini sambil menenteng komputer jinjing. Saya biasanya hanya memesan secangkir kopi hitam (Rp3 ribu) lalu memilih tempat duduk lesehan. Dengan memanfaatkan fasilitas free hotspot dan secangkir kopi di samping, saya bisa menghabiskan waktu 2 hingga 3 jam—durasi yang hampir sama bagi sepasang kekasih yang sedang berkencan di kafe.

Selain aneka minuman hangat dan dingin, Kafe Halte juga menyediakan nasi dengan bermacam varian menu yang, sudah pasti, semuanya dijamin kehalalannya. Nama Halte sendiri merupakan akronim dari “halal tenan” yang secara harfiah berarti ‘benar-benar halal’.

Selasa, 02 Juni 2015

Andai Bisa Terbang Gratis, Saya Akan Menemuinya

Abdullah Reza Aljufri (kanan). Foto: Facebook
Semasa kuliah di Negara Yaman, saya mempunyai teman dari Palu, Sulawesi Tengah. Namanya Abdullah Reza Hasan Aljufri. Ia lebih akrab disapa Habib Reza/Jufri atau Habib saja, karena ia memang masih keturunan Arab yang notabene golongan sayid. Selain sekamar, ia juga teman satu angkatan dari Indonesia yang lulus pada tahun 2014 lalu. Karena dua faktor itulah, saya dan dia tampak akrab, bahkan sangat akrab.

Kami sering menjalani aktivitas kampus dan kegiatan-kegiatan di asrama secara bersama. Seperti salat berjemaah, belajar, diskusi, sampai makan dan cuci baju. Sering juga kami duduk-duduk di kamar sambil makan kacang dan minum teh seraya bersenda gurau—dan inilah momen yang paling berkesan sampai sekarang.

Ada banyak hal yang kami bicarakan saat bersantai di kamar. Salah satunya adalah rencana berkunjung ke rumah masing-masing untuk mempererat tali silaturahmi. Memang sangat sulit untuk merealisasikannya, sebab jarak antara Jawa dan Sulawesi lumayan jauh. Tapi sebenarnya, bagi saya, jarak tidak begitu bermasalah, yang jadi masalah utama adalah ongkos, dan itu tidak sedikit.

Harapan bisa berkunjung ke Palu untuk bernostalgia dengannya terpaksa saya pendam dulu dalam hati. Hingga beberapa hari yang lalu, ketika saya membaca sebuah status di media sosial berisi Kontes Menulis Berhadiah Tiket Citilink dari Traveloka, harapan itu muncul kembali. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang dan, oleh karena itu, artikel ini saya tulis.

Itinerary perjalanan
Jika ingin berkunjung ke Palu, saya disarankan untuk datang beberapa hari setelah Lebaran, tepatnya pada tanggal 10 Syawal. “Pada hari itu, di sana akan ada hajatan besar. Yaitu peringatan haul kakek saya, Sayyid Idrus Salim AlJufri,” kata Habib Reza suatu hari.

Sayyid Idrus Salim (SIS) Aljufri adalah seorang ulama besar dari Hadhramaut (Yaman) yang datang ke Nusantara pada 1922 untuk hijrah dan berdakwah. Sebagai medium dalam berdakwah, beliau mendirikan Madrasah Al-Khairat, sebuah lembaga pendidikan Islam paling berpengaruh di Palu yang memiliki cabang—jumlahnya mencapai ribuan—yang tersebar di seantero Pulau Sulawesi. Oleh mantan Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri, nama beliau kemudian diabadikan sebagai nama bandar udara di Palu: Mutiara SIS Al-Jufrie.

Kembali ke soal itinerary perjalanan. Seperti kata teman saya tadi, dan setelah saya mengecek di kalender, maka penerbangan “imajiner” yang saya jadwalkan dari Jawa ke Sulawesi adalah tanggal 24 Juli 2015. Adapun kepulangannya adalah tanggal 29 Juli 2015.

Untuk urusan pesawat, saya memercayakan sepenuhnya pada maskapai Citilink. Mengapa harus Citilink? Karena maskapai milik pemerintah ini dikenal dengan reputasinya yang baik dan pelayanannya yang memuaskan. Di samping itu, Citilink merupakan maskapai bertarif murah yang memiliki kredibilitas tinggi ihwal ketepatan waktu. Sebelumnya, terhitung sudah 4 kali saya naik kapal terbang kelas ekonomi milik maskapai asing yang pelayanannya biasa-biasa saja, bahkan sering kali delay. Harapan saya, mengudara bersama Citilink akan memberi kepuasan dan pengalaman baru yang mengesankan.

Sayangnya, Citilink belum melayani rute langsung ke Lembah Palu. Sehingga, mau tidak mau saya harus singgah dulu di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Berikut adalah tangkapan skrin (screenshot) pemesanan tiket rute Surabaya–Makassar dari situs Traveloka:

Kamis, 28 Mei 2015

B



Sumber gambar: Logopedia

Terinspirasi dari artikel Putu Setia di situs Tempo bulan lalu, saya memberi judul tulisan ini dengan satu huruf saja: “B”. Memang, huruf “B” tidak memiliki arti apa-apa kecuali sebuah simbol, bahkan ia tidak bisa mengeluarkan bunyi tanpa dirangkai dengan huruf vokal. Tapi bukan berarti tidak ada yang menarik dari huruf yang dalam alfabet Arab sama persis dengan ba ini, baik dalam cara pelafalan maupun urutannya.

Misalnya dalam tulisan Putu Setia itu. Ia menyebutkan sejumlah pejabat negara yang namanya sering menghiasi pemberitaan media karena beberapa hal. Sebut saja Badrodin Haiti, Budi Gunawan, Budi Waseso, (Novel) Baswedan, dan Bambang Widjojanto. Selain tokoh-tokoh penegak hukum tadi, ternyata ada juga beberapa kasus yang diawali dengan huruf “B”. Seperti bola, kisruh antara PSSI dan Kemenpora; bir, tentang lokalisasi penjualan minuman keras; dan bikini, yakni rencana pesta berbusana minim yang akan diadakan anak-anak SMA. Tentu saja, di luar sana masih banyak “B” yang belum disebutkan—dan tulisan ini tidak bermaksud melengkapi daftar nama/kasus tersebut.

Tetapi lebih menarik dari itu, percayakah Anda, bahwa “B” adalah huruf yang pertama kali diucapkan semua manusia? Dan “B” adalah huruf yang paling mudah untuk dilafalkan?!

* * *
Ketika ruh ditiupkan ke dalam tubuh manusia, atau tepatnya saat janin dalam kandungan berusia 4 bulan, Allah menanyai mereka satu per satu, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Lalu mereka menjawab: “Balâ.” (QS. Al-A’râf: 172)

Dalam kamus bahasa Arab, balâ adalah kata yang digunakan hanya untuk menjawab pertanyaan berbentuk pengingkaran yang sekaligus menidakkan apa yang diingkarkan itu. Dengan demikian, balâ dalam ayat tersebut berarti “betul, Engkau adalah Tuhanku.” (Al-Mu’jâm al-Wasîth, hlm. 70)

Berbeda dengan kata naam—sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan arti ‘ya’ atau ‘begitulah’—yang digunakan untuk menyatakan setuju atau pembenaran atas apa yang ditanyakan, baik itu berbentuk pengingkaran atau bukan. Oleh sebab itu, sampai saat ini saya belum menemukan padanan yang pas untuk balâ dalam kosakata bahasa Indonesia.

Masih berkaitan dengan huruf “B”, ayat pertama dalam urutan kitab suci Alquran juga diawali dengan huruh ba, dan bukan alif: Bismillahir rahmânir rahîm. Dan oleh Rasulullah, ayat paling awal ini dianjurkan untuk selalu dibaca saat kita hendak beraktivitas. Mungkin salah satu hikmah di balik itu adalah, agar Allah senantiasa menjadikan segala urasan kita serbamudah, semudah kita mengucapkan huruf ba pada bismillah.

Sabtu, 16 Mei 2015

Isra Mikraj dengan Jiwa dan Raga, Ini Logikanya

Ilustrasi gambar diambil dari sini.
Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad pada malam hari dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Baitul Muqaddas, Palestina, dengan kendaraan burak. Sedangkan mikraj adalah perjalanan Rasulullah naik langsung ke sidratul muntaha pada malam hari untuk menerima perintah salat lima waktu. Kedua peristiwa penting dalam sejarah Islam ini terjadi hanya dalam tempo semalam—sebuah keistimewaan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya. Perjalanan pada malam 27 Rajab sebelum hijrah ini juga menembus batas-batas ruang dan waktu.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa isra mikraj terjadi dalam keadaan Rasulullah terjaga. Maksudnya dengan ruh dan jasadnya sekaligus, dan tidak dalam keadaan mimpi. Tentu saja, mereka yang imannya masih labil, atau nonmuslim, akan dengan mudah meragukan kebenaran hal tersebut: bagaimana mungkin perjalanan sejauh itu ditempuh hanya dalam waktu semalam kalau bukan mimpi?

Seperti orang kafir Quraisy di masa lampau yang dikompori oleh Abu Jahal. Ketika Rasulullah mengabarkan peristiwa yang dialaminya, mereka malah mungkir dan memberi tepuk tangan ejekan. Tidak hanya itu, untuk memastikan kebenaran cerita nirnalar tersebut, mereka kemudian menguji Rasulullah dengan berbagai pertanyaan yang sama sekali di luar dugaan, seperti tentang jumlah dan ciri-ciri pintu Baitul Muqaddas (kebetulan di antara mereka ada yang pernah ke sana), juga soal rombongan kafilah yang baru tiba dari Syam.

Syahdan, atas pertolongan dari Allah Yang Mahakuasa, Rasulullah dengan mudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan membuat mereka makin tercengang. Kendati demikian, mereka tetap berkepala batu dan bersikap angkuh seraya mengatakan, “Jelas sekali. Ini adalah sihir!”

Mungkin kita masih bisa memaklumi reaksi orang-orang Quraisy itu karena mereka memang tidak ditakdirkan beriman, yang dengan demikian memercayai apa saja yang disampaikan Rasulullah sebagai kebenaran, sekalipun itu sulit dijngkau akal. Perlu saya jelaskan di sini bahwa kalimat “sulit dijangkau akal” bukan berarti tidak mungkin terjadi. Berbeda dengan “tidak masuk akal” yang berarti mustahil terjadi, seperti melakukan perjalanan ke arah timur dan barat pada waktu yang bersamaan.

Akan tetapi, jika seorang muslim yang hidup di negara yang mayoritas penduduknya Islam meragukan mukjizat nabinya sendiri, ini yang memprihatinkan dan terdengar aneh tapi nyata. Ironisnya lagi, mereka malah mempropagandakan kesalahpahamannya itu melalui media massa—sebuah alat yang sangat ampuh untuk mengelabui masyarakat awam.

Minggu, 03 Mei 2015

Isu: Fakta dan Fiksi

Novel Baswedan. Sumber foto: Harian Aceh
Di dunia intelijen yang penuh rahasia, ada sebuah lelucon seperti berikut. Seorang intel bisa saja mengarang isu lalu melemparkannya ke media massa—seperti televisi, koran, radio, dan situs berita daring. Setelah isu itu dimuat menjadi berita, orang-orang biasanya akan ramai membahasnya dan cenderung menambahi-nambahi. Jika sudah menjadi topik hangat di tengah masyarakat, akhirnya isu yang sengaja dibuat tadi akan kembali dalam bentuk laporan. Nah, lucunya di sini, dari laporan yang kembali itu mereka percaya bahwa itu beneran, bahkan mereka ketakutan sendiri dan berpikir, “Jangan-jangan semua isu itu memang benar....”

Anekdot di atas, terlepas apakah itu rekaan belaka atau memang demikian, memberi simpulan bahwa isu (baca: kebohongan) yang dibicarakan terus-menerus, suatu saat nanti akan diyakini sebagai suatu kebenaran. Kisah di atas juga menunjukkan bahwa yang penting dari sebuah isu, lebih-lebih soal politik, bukan apakah isu itu melaporkan sesuatu yang faktual atau sekadar fiktif. Benar atau tidak benar tidak menjadi penting.

Yang penting dari sebuah isu adalah (1) apakah isu itu sangkil bin efektif atau tidak, (2) apakah isu itu ada dampaknya atau tidak, dan (3) apa persisnya dampak itu. Apakah masyarakat menjadi gempar dan resah? Ataukah masyarakat diam dan tak ambil peduli? Atau malahan meresponsnya serius sehingga melengkapi kompleksitas isu yang dilemparkan si pengarang?

Bila berhasil membuat dampak yang nyata, sebuah isu tak bisa dianggap enteng. Ia menjadi serius, nyata, dan benar. Maka, berbaurlah apa yang selama ini dianggap bertentangan: fakta dan fiksi. Kontradiksi antara keduanya menjadi tidak relevan, bahkan boleh dibilang lenyap.

Minggu, 26 April 2015

Mengapa Harus Diubah?

Saipul Jamil di Dangdut Academy 2. Sumber foto dari sini.
Saat mengomentari salah satu peserta Dangdut Academy 2 beberapa waktu lalu, Saipul Jamil mengoreksi kesalahan lirik yang didengarnya dari sang kontestan. “Yang benar adalah merubah, bukan mengubah,” katanya.

Saipul Jamil—yang sangat sensitif terhadap kesalahan lirik—sangat teguh pada pendiriannya bahwa lirik asli dalam sebuah lagu, bagaimapun cara pengucapannya, tidak boleh diubah-ubah semau hati. Bahkan beberapa malam kemudian, kepada kontestan yang sama, ia mengatakan, “Yang benar adalah oh, bukan ho.” Meski yang terakhir ini tidak disepakati oleh dewan juri yang lain dan terkesan mengada-ada. Karena perubahan dari oh menjadi ho hanya soal artikulasi yang sama sekali tidak mengubah makna. Berbeda dengan mengubah dan merubah yang artinya sangat jauh berbeda.

Bahasa Indonesia termasuk salah satu jenis bahasa aglutinatif, yaitu bahasa yang mengandalkan afiks atau imbuhan (awalan, akhiran, sisipan, konfiks) untuk membentuk kata turunan. Kata mengubah, misalnya, merupakan bentuk turunan dari kata dasar ubah yang artinya ‘mengganti’ atau ‘menukar’. Sedangkan merubah adalah kata yang mengalami proses afiksasi dari kata dasar rubah (binatang sejenis anjing, bermoncong panjang, dan makanannya adalah daging, ikan, dan sebagainya). Dengan demikian, merubah bisa diartikan ‘mewujud’ atau ‘bertingkah laku seperti rubah’.

Akan tetapi, kita tahu, merubah dengan arti seperti itu—untuk tidak mengatakan tidak terpakai—malah terkesan mengada-ada. Meski kita sering mendengar dan melihat kata itu di mana-mana, tetapi tidak dengan arti demikian. Dan lirik yang “benar” menurut Saipul Jamil di atas adalah salah satunya. Kata benar sengaja saya beri tanda petik karena dalam konteks ini kebenaran itu relatif, dan, di sinilah letak permasalahannya: apa yang menjadi tolok ukur benar-tidaknya pelafalan kata dalam sebuah bahasa?

Jika pertanyaan itu disampaikan kepada seorang munsyi atau pakar linguistik, tentu saja jawabannya adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia; pelafalan yang benar adalah yang sesuai dengan yang tercantum dalam “kitab suci” itu, meskipun berbeda dengan cara pengucapan masyarakat Indonesia pada umumnya. Lantas, jika sebuah kata sudah (pernah) dibakukan dalam kamus, apakah berarti tidak bisa disunting dan direvisi lagi? Jawabannya adalah bisa.

Rabu, 15 April 2015

Alumni Al-Ahgaff Bikin Petisi di Acara Reuni

Foto bersama seusai acara.
Himpunan Mahasiswa Universitas Al-Ahgaff (HIMMAH) Yaman kembali mengadakan pertemuan pada Ahad, 12 April 2014 di Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, Jawa Timur. Acara yang digelar beberapa bulan sekali ini dihadiri lebih dari 50 alumni dari berbagai angkatan.

Saya berangkat bersama rombongan dari Tulungagung sekitar pukul 08.00 WIB dan tiba di lokasi saat zuhur. Karena masih menunggu mereka yang datang dari jauh, acara diundur sampai 2 jam dan baru dimulai pada pukul 15.00 WIB.

Pertemuan kali ini membahas, antara lain, kondisi terkini di Negara Yaman; dampak konflik terhadap proses belajar-mengajar di kampus; serta nasib teman-teman mahasiswa, baik yang masih bertahan di sana maupun yang ikut evakuasi.

Sebagai sesepuh yang banyak pengalaman tentang seluk-beluk politik di Yaman, Ustaz Faiz—yang baru pulang ke Indonesia bulan lalu—didaulat untuk menjelaskan keadaan sesungguhnya negara tersebut. Ia kemudian menceritakan kondisi keamanan di sana semenjak Presiden Yaman mengungsi dan mengundurkan diri, tepatnya pada bulan Oktober 2014 lalu. (baca: Kondisi di Yaman dan Pemberitaan Pers)

Sejak saat itu, kata beliau, kendali pemerintahan dipegang oleh Syiah Houti yang sebelumnya menjadi oposisi. Di saat yang bersamaan, Universitas Al-Iman ditutup karena menjadi tempat persenjataan kelompok Suni (Wahabi). Universitas tersebut berada di Kota Sana’a, wilayah Yaman bagian utara yang menjadi medan pertempuran antara Suni dan Syiah sebagaimana sering diberitakan media.

Sementara di Yaman bagian selatan seperti Hadhramaut—di mana Universitas Al-Ahgaff berada—kondisinya relatif aman. Bahkan sangat aman; tidak ada penjagaan ketat dari tentara dan listrik pun tidak pernah padam. Memang, sempat terjadi insiden pengeboman dan baku tembak di wilayah Hadhramaut, tetapi semua itu tidak begitu berpengaruh terhadap kegiatan belajar di lingkungan kampus.

Sayangnya, media telah dikuasai oleh sekelompok orang yang menginginkan kita (Ahlusunah wal Jamaah) tidak bisa bergerak leluasa. Ada semacam konspirasi dari media untuk membuat Hadhramaut seolah-olah tidak aman sehingga mengancam keberadaan warga negara Indonesia di sana. Hal ini masih ditambah dengan kedatangan utusan dari Kementerian Luar Negeri yang “menakut-nakuti” pelajar di Hadhramaut dan mengimbau mereka agar ikut evakuasi—tanpa memberi jaminan (biaya) kembali lagi ke Yaman.

Menanggapi situasi seperti ini, Rektor Universitas Al-Ahgaff Habib Abdullah Baharun memberi kebebasan kepada seluruh mahasiswanya. “Man shaddaqa kalami sayantadhir wa man yakhaf falyadzhab,” katanya. Maksudnya, bagi siapa yang percaya dengan perkataan beliau (bahwa keadaan sebenarnya aman-aman saja), maka akan memilih untuk tetap bertahan. Sementara yang merasa khawatir—karena desakan dari keluarga, misalnya—dipersilakan untuk pergi meninggalkan Yaman dan pihak kampus akan memberi dispensasi.


Di akhir acara, sebagai bentuk solidaritas antara sesama civitas akademika, para alumni bersepakat membuat petisi berisi (1) jaminan keamanan selama proses evakuasi dari Yaman ke Tanah Air dan (2) permintaan agar mereka yang dievakuasi mendapat jaminan kembali belajar ke Yaman setelah kondisinya dinilai aman. Mengingat Universitas Al-Ahgaff merupakan salah satu perguruan tinggi di Yaman yang berpaham moderat, toleran, dan antikekerasan—sesuai dengan kebudayaan orang Timur seperti Indonesia.

Dan mereka yang dievakuasi, dengan demikian, adalah aset intelektual negara sekaligus penerus generasi masa depan bangsa yang eksistensinya mesti dipertahankan.