Pages - Menu

Selasa, 16 Desember 2014

Gadis Malaysia di Pesawat Yemenia


Gambar pesawat Yemenia dari wikimedia.

Angin dingin Kota Sana’a mengelus kulit lembut saya. Jarum jam menunjukkan pukul 18.45 KSA ketika rombongan kami satu per satu keluar dari ruang tunggu menuju bus yang sudah disiapkan. Di lapangan landas pacu, seekor “burung besi” telah menanti dengan suara mesinnya yang merderu-deru.

Hari itu (Sabtu, 6 Desember 2014), saya dan 24 mahasiswa Universitas Al-Ahgaff akan melakukan perjalanan panjang menuju Tanah Air tercinta. Setelah 5 tahun lamanya belajar di Negara Yaman, kini tibalah waktunya untuk pulang ke kampung halaman.

Wajah mereka tampak semringah. Entah apa yang ada di pikiran mereka waktu itu. Yang jelas, mereka sangat gembira. Bahkan saking gembiranya, ada yang bergurau dengan berkata, “Coba cubit lengan saya! Jangan-jangan ini hanya mimpi.” Ha-ha-ha, saya tertawa dalam hati.

Tak sampai 10 menit bus yang mengantarkan kami tiba di sisi pesawat Yemenia. Kami bergegas naik ke kabin dengan menenteng barang bawaan masing-masing. Seorang pramugari menyambut di pintu masuk dengan senyuman manis yang mengembang di wajahnya. Beberapa di antaranya tampak sibuk melayani penumpang yang kebingungan mencari tempat duduk. Saya mendapat kursi dengan nomor 17K yang berada di samping jendela, tempat favorit bagi semua orang karena bisa melihat pemandangan di luar.

Setelah meletakkan tas ransel di tempat yang disediakan, saya pun langsung duduk merebahkan badan dan memandangi seisi ruangan. Di lorong sebelah, seorang teman tampak sedang berbicara dengan salah satu pramugari asal Indonesia. Entah apa yang ia bicarakan. Mungkin ia ingin mengikuti jejak Narji—pelawak bermuka pas-pasan itu—yang sukses menggaet pramugari cantik sebagai istri setelah sebelumnya berkenalan di dalam pesawat.

Hizam! Hizam!” Suara pramugari mengejutkan saya. Rupanya ia sedang mengingatkan para penumpang untuk mengenakan sabuk pengaman, pertanda pesawat akan segera lepas landas.

Usai saya memakai sabuk pengaman, ternyata pesawat tidak langsung terbang. Saya mulai dihinggapi rasa bosan dan tidak nyaman, apalagi kursi yang saya duduki tidak ergonomis. Dan untuk menghilangkan rasa jenuh itu, saya mengambil ponsel dan perangkat dengar (headset) di saku lalu menyalakan pemutar musik.

Beberapa hari sebelumnya saya sengaja menyalin fail-fail MP3 ke dalam ponsel untuk menemani perjalanan saya. Dan di antara lagu-lagu itu, yang paling saya sukai dan selalu saya putar ulang adalah “Gadis Malaysia” yang dinyanyikan oleh Yus Yunus, penyanyi dangdut legendaris dari Madura. Dulu, sebelum mengenal dunia internet, saya sering kirim SMS ke penyiar radio untuk request lagu tersebut. Berikut ini lirik lengkapnya.

Kamis, 04 Desember 2014

Walimah Safar

Suasana saat acara. Foto: Rizki Ardiansyah (Wahyu).
Setelah menunggu selama dua bulan lebih dan nyaris frustrasi, akhirnya teman-teman Angkatan 15 Universitas Al-Ahgaff yang lulus tahun ini bisa pulang dengan lega setelah tiket yang ditunggu-tunggu selama ini keluar juga. Dan sebagai ungkapan rasa syukur, mereka menggelar acara walimah safar pada hari Rabu (3/12) selepas salat Isya di sutuh sakan dakhili (atap asrama).

Acara perpisahan yang diisi dengan pembacaan maulid dan selawat nabi itu berlangsung meriah. Sekitar 150 mahasiswa dari berbagai tingkatan diundang dalam acara tersebut. Meski cuaca malam itu sangat dingin dan angin berembus cukup kencang, mereka tampak antusias menghadirinya.

Dalam sambutannya sebagai wakil panitia, Syaiful Arif meminta maaf—dengan bahasa Arab—kepada seluruh hadirin karena telah merampas waktu belajar dan ibadahnya. “Sengaja saya menyampaikan dalam bahasa Arab karena yang hadir di sini dari berbagai negara, seperti Arab, Afrika, dan Pakistan,” kata pria yang akrab disapa ‘Paul’ itu.

“Tapi saya tidak akan lama-lama; sebentar lagi Ustaz Hamzah Iklil akan memberi sambutan dalam bahasa Indonesia. Karena bagaimanapun, kita yang akan berdakwah di tanah air harus membiasakan diri berbahasa Indonesia,” lanjutnya sedikit berkelakar.

Usai Syaiful Arif memberi sambutan, Hamzah pun tampil. Ia menyatakan perasaan yang dialami kawan-kawannya saat ini. “Kami gembira karena sebentar lagi ketemu dengan orang-orang tercinta. Tapi di saat yang bersamaan kami juga sedih karena harus pergi meninggalkan Tarim yang penuh dengan orang-orang saleh,” ujar pria berkacamata yang murah senyum ini.

“Saya berharap, setelah sampai Indonesia nanti masih ada tawashul (kontak) di antara kita. Karena bagaimanapun, kita ini masih satu almamater,” tuturnya.

Jika tidak ada halangan, musafirin itu akan meninggalkan Tarim menuju Seiyun pada Kamis siang. Dari Bandara Seiyun, mereka langsung bertolak menuju Sana’a (ibu kota Yaman) dan transit di sana selama dua hari. Penerbangan berikutnya terjadwal hari Sabtu, 6 Desember 2014 pukul 19.20 KSA dan, jika sesuai jadwal, mereka akan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada hari Minggu, 7 Desember 2014 pukul 13.00 WIB.

Senin, 01 Desember 2014

Semua Akan (P)indah pada Waktunya

Antrean mahasiswa Al-Ahgaff di depan pintu gerbang
seusai salat Jumat. Foto: Adnan Widodo.
Meski sudah pernah saya jelaskan panjang lebar, masih saja ada yang bertanya kapan saya pulang ke Indonesia. Barangkali mereka belum membaca penjelasan ini dengan saksama. Mungkin juga mereka masa bodoh dan tak mau tahu tentang hal itu. Hmm ... ya, sudahlah.

“Ahli Tarim masih menginginkan kau tinggal di sini,” kata Muhammad Subli, teman sekamar saya dari Sulawesi, menghibur.

Boleh jadi omongan anak Bugis itu ada benarnya juga; saya masih harus menetap dulu di Tarim untuk beberapa hari ke depan. Banyak hal yang belum saya peroleh dari Bumi Para Wali yang penuh berkah ini—dan, bukan tidak mungkin, suatu hari nanti setelah sampai di Indonesia saya akan menyesal karenanya.

Tarim, seperti sudah diketahui banyak orang, adalah gudangnya ilmu sekaligus tempat bersemayam para ulama dan aulia. Lokasinya di Lembah Hadhramaut yang sunyi dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan membuat siapa pun yang menempatinya merasakan ketenangan yang tiada tara. Tak heran, karena suasananya yang kondusif itulah, Tarim menjadi destinasi favorit bagi para penuntut ilmu dari pelbagai negara.

Banyak orang memercayai bahwa mereka yang bisa berziarah ke Hadhramaut—khususnya Tarim—telah mendapat semacam panggilan mistis dari Tuhan. Di lain pihak, ada juga yang agak pesimis mengatakan, “Orang yang banyak dosa tidak berhak menginjakkan kakinya di bumi Tarim.” Untuk yang terakhir ini saya pribadi kurang setuju. Buktinya saya sendiri bisa datang ke tempat ini dan, barangkali, keterlambatan saya pulang ke Tanah Air akibat banyaknya dosa yang telah saya lakukan.

Selasa, 25 November 2014

Antara Mata dan Koklea

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini.
Sewaktu masih kecil, saya dan teman-teman sebaya pernah diberi cangkriman oleh Kang Qomar, salah seorang abdi dalem di pondok pesantren tempat saya belajar dulu. “Menurut kalian, lebih baik mana antara indra penglihatan dan indra pendengaran?”

Semua sepakat menjawab, “Mata!”

“Salah,” kata Kang Qomar, “pendengaran jauh lebih utama ketimbang penglihatan.”

“Alasannya, Kang?” tanya kami penasaran.

“Sederhana saja. Seumpama ada orang buta ingin menyeberang jalan, maka orang-orang di sekitarnya yang punya belas kasihan akan dengan senang hati menolongnya. Tapi sebaliknya, orang tuli yang sedang menyeberang bisa dimarahi semua pengguna jalan hanya karena ia tidak mendengar bunyi klakson.”

Kalau dipikir-pikir, benar juga, ya?

Bertahun-tahun setelah obrolan itu berlalu, saya masih sangat ingat dan makin penasaran dengan alasan-alasan lain yang lebih logis dan ilmiah.

* * *
Dalam kompilasi fatwa-fatwanya yang berjudul Al-Fatawa al-Haditsiyah, Ibnu Hajar al-Haitami disebutkan pernah ditanya tentang hal ini; kemudian beliau menjawab, “Jumhur fukaha berpendapat bahwa indra pendengaran lebih unggul daripada indra penglihatan. Karena, dalam Alquran surah Yunus ayat 42, Allah mengaitkan hilangnya akal dengan hilangnya pendengaran, dan tidak demikian halnya dengan indra penglihatan.”

Dalam banyak ayat Alquran, lanjut Ibnu Hajar, kata As-Sami’ (Maha Mendengar) didahulukan dari kata Al-Bashir (Maha Melihat). Pendahuluan suatu perkara, seperti dijelaskan banyak ulama, menunjukkan keutamaan perkara tersebut—kecuali ada dalil khusus yang memberi petunjuk sebaliknya.

Hal senada juga disampaikan Nasiruddin Al-Baidhawi dalam tafsirnya, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil. Menurutnya, ilmu (pengetahuan) yang diserap melalui indra pendengaran jauh lebih banyak daripada yang ditangkap oleh indra penglihatan. Pendengaran merupakan indra pertama manusia yang berfungsi dan, menurut banyak kisah, yang terakhir berfungsi sebelum tubuh kita mati.

Sampai di sini, mari kita renungkan sejenak ... benarkah apa yang kita ketahui selama ini lebih banyak berasal dari indra pendengaran? Atau, dengan ungkapan berbeda, informasi dari kokleakah yang lebih melekat dalam ingatan kita?

Rabu, 19 November 2014

Bahasa Surga

Gambar kaligrafi Arab dipinjam dari Wikipedia.
Awal November lalu, seorang ustaz yang sudah cukup ternama menulis status di Twitter yang berisi ajakan dan motivasi untuk mempelajari bahasa Arab. Beliau menyatakan bahwa bahasa apa pun di dunia ini kelak akan musnah seiring dengan matinya si penutur bahasa tersebut—kecuali bahasa Arab karena ia merupakan bahasa resmi para penghuni surga. “Siapa tau dengan belajar bahasa Alquran, yaitu bahasa Arab, bisa membawamu ke surga,” tulisnya lagi.

Seorang pengguna Twitter dan Google Plus memberi respons serius. Sang ustaz dinilai tidak paham ilmu mantik dan asal berkata saja tanpa dilandasi dalil pendukung.

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu tertarik mendalami permasalahan seperti ini. Karena bagaimanapun, situasi di alam nirwana sana—dalam hal ini bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi—adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan akal manusia. Saya lebih tertarik, misalnya, mencari jalan pintas menuju ke sana tanpa harus melalui proses pengadilan di hari kiamat nanti. Anda juga berminat, bukan?

Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun belajar di pesantren, saya meyakini bahwa orang yang mengerti bahasa Arab—dengan segala cabang dan kompleksitas di dalamnya—akan mempunyai pemahaman yang (lebih) baik pula tentang Islam. Hal itu dikarenakan dua sumber rujukan utama dalam Islam (Alquran dan hadis) menggunakan bahasa Arab. Begitu pula, literatur-literatur klasik yang membahas hukum-hukum keagamaan juga ditulis dengan bahasa Arab. Sehingga mereka yang belajar agama melalui buku-buku terjemahan saja, boleh dikatakan, pemahamannya tentang universalitas Islam masih kurang sempurna.

Akan tetapi, jika bahasa Arab dijadikan sebagai “tiket” untuk bisa masuk surga, dalam artian orang-orang yang tidak bisa berbahasa Arab tidak berhak memasukinya, tentu saja merupakan kesimpulan yang keliru. Rasulullah sendiri pernah bersabda bahwa orang yang mengucapkan kalimatusyahadat dijamin masuk surga; tak ada persyaratan lebih lanjut apakah orang tersebut bisa berbahasa Arab atau tidak.

Mungkin pernyataan ustaz di atas berangkat dari sebuah hadis yang artinya, “Cintailah bahasa Arab karena tiga hal: (1) karena saya orang Arab, (2) karena Alquran berbahasa Arab, dan (3) karena bahasa surga adalah bahasa Arab.” Sayangnya, hadis dari Ibnu Abbas ini dinilai sangat lemah dan bahkan ada yang mengatakan palsu.

Meskipun demikian, semampang kandungan hadis tersebut dibenarkan, maka kemampuan berbahasa Arab para penghuni surga tidak diperoleh dari hasil kursus sewaktu masih di dunia, melainkan semacam “bonus” langsung dari Tuhan. Seperti seorang tunawicara atau anak kecil yang meninggal dan tiba-tiba di surga bisa fasih berbicara dengan sendirinya. Padahal sewaktu masih hidup tidak pernah bicara sama sekali.

Jika benar orang-orang di surga berbicara dalam bahasa Arab, lantas bahasa apa yang dipakai para penghuni neraka, ya?

Minggu, 09 November 2014

Haul Imam Muhajir

Lokasi Haul Imam Muhajir di Husaisah, Hadhramaut.
Foto: Yuslan.
Senyampang masih di Hadhramaut, saya akan berusaha mengikuti setiap tradisi dan aktivitas keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Salah satu tradisi yang sudah berlangsung secara turun-temurun adalah peringatan wafatnya Imam Muhajir yang diselenggarakan setiap tanggal 15 Muharam di distrik Husaisah, sebuah daerah tak berpenghuni berjarak sekitar 20 kilometer dari Tarim ke arah timur. Tahun ini, Haul Imam Muhajir bertepatan pada hari Jumat, 7 November 2014.

Jumat sore (7/11) sesudah salat Asar, saya berangkat ke Husaisah bersama rombongan bus Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) di Universitas Al-Ahgaff. Ada 5 bus yang disediakan oleh panitia; satu berukuran besar dan selebihnya berukuran sedang. Selain rombongan itu, banyak juga yang berboncengan mengendarai sepeda motor. Saya dan seorang kawan rencananya pengin ikut konvoi bersama mereka, namun karena motornya sedang mogok, terpaksa saya ikut serta dalam rombongan bus itu.

Rombongan saya sampai di Husaisah sekitar pukul 17.30 KSA. Suasana sudah sangat ramai ketika saya tiba di sana. Bahkan bus yang saya tumpangi tidak bisa mendekat dan harus parkir agak jauh dari lokasi acara.

Begitu memasuki pintu gerbang, kami langsung disambut dengan tarian tradisional khas Yaman. Berbeda dengan budaya tari di Indonesia yang identik dengan perempuan cantik, di sini semua personelnya laki-laki yang sudah berumur. Penampilan mereka juga sangat kasual dan unik: mengenakan sarung, berserban merah, dan membawa tongkat melengkung sambil meneriakkan yel-yel yang saya sendiri tidak tahu apa artinya. Saudara kembar saya, Lutfi Ahsanuddin, menolak ketika saya ajak menyaksikan pertunjukan tersebut lebih dekat. “Kita ziarah dulu ke makam,” katanya.

Saya pun langsung menuju ke makam Imam Muhajir yang sudah penuh sesak oleh para peziarah. Untuk bisa masuk ke dalam, mau tidak mau saya harus mengantre sampai mereka keluar. Meski demikian, saya cukup beruntung karena di waktu yang bersamaan Habib Umar bin Hafidz juga berziarah. Jadi, saya “hanya” mengamini saja doa-doa yang beliau bacakan.

Acara berziarah selesai sesaat sebelum matahari terbenam.

Selepas salat Magrib, acara dilanjutkan dengan pembacan selawat dan puji-pujian kepada Rasulullah. Lalu dilanjutkan dengan ceramah-ceramah yang kemudian ditutup dengan akad nikah, doa, dan salat Isya berjemaah.

Sabtu, 01 November 2014

Saat Matahari di Atas Antipode Kakbah

Titik antipode Kakbah (peniti kuning) di tengah-tengah
Samudra Pasifik. Citra diambil dari Google Earth.
Antipode adalah suatu tempat di belahan bumi yang letaknya berlawanan dengan tempat kita. Sedangkan Kakbah, seperti Anda ketahui, merupakan bangunan suci berbentuk kubus di dalam Masjidilharam sebagai kiblat salat umat Islam. Dengan demikian, frasa antipode Kakbah mengandung arti ‘suatu tempat yang letaknya berlawanan 180 derajat dengan Kakbah’. Jika posisi Kakbah berada di koordinat 21° 25’ lintang utara dan 39° 50’ bujur timur, maka antipode Kakbah terletak di titik 21° 25’ lintang selatan dan 140° 10’ bujur barat.

Dari amatan sekilas melalui aplikasi Google Earth, antipode Kakbah berada di tengah-tengah Samudra Pasifik. Tidak begitu jelas apakah di sana terdapat sebuah daratan atau gugusan pulau-pulau kecil—dan “kebetulan” tulisan ini tidak bermaksud membicarakan keberadaan lingkungan di sana, tetapi lebih khusus akan membahas saat matahari melintasi wilayah itu.

Selain mengitari Bumi dari arah timur ke barat yang menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam, matahari juga bergeser ke arah utara–selatan yang dalam ilmu pengetahuan alam disebut gerak semu matahari atau gerak tahunan. Pergeseran matahari inilah yang menyebabkan terjadinya siklus musim di muka bumi.

Pada tanggal 21 Maret, matahari melintas tepat di atas garis khatulistiwa dan, pada hari-hari berikutnya, ia terus bergeser ke arah utara selama tiga bulan sampai pada garis balik bumi bagian utara. Di peta dunia, garis balik ini ditandai dengan garis titik-titik yang diberi nama Tropic of Cancer.

Setelah mencapai titik balik utara, matahari kembali bergeser ke arah selatan dengan kecepatan yang sama dan sampai ke garis khatulistiwa pada tanggal 23 September. Sesampainya di khatulistiwa, ia terus berayun ke arah selatan selama tiga bulan hingga titik balik selatan (Tropic of Capricorn) pada tanggal 22 Desember dan kemudian kembali lagi ke utara sampai khatulistiwa pada tanggal 21 Maret. Saat matahari berada di titik balik selatan atau utara—dalam term ilmu falak disebut deklinasi terjauh/mail a’dham—ia berjarak 23,5 derajat dari ekuator.

Jadi, selama setahun, matahari akan melintas dua kali tepat di atas Kakbah: (1) saat bergeser ke utara dari khatulistiwa dan (2) saat kembali dari titik balik utara. Peristiwa serupa juga berlaku untuk antipode Kakbah di belahan bumi bagian selatan.

Rabu, 29 Oktober 2014

Birokrasi Yaman yang Membuat Frustrasi


Kantor Kementerian Pendidikan Nasional Yaman.
Foto diambil dari sini.
Cerita mengenai buruknya sistem birokrasi di Negara Yaman mungkin tidak akan ada habisnya. Yang paling baru, dan mungkin yang paling heboh, ketika beberapa waktu lalu seratus lebih calon jemaah haji dari Universitas Al-Ahgaff gagal berangkat ke Tanah Suci karena alasan klasik: visa tidak keluar.

Hal serupa juga terjadi tahun lalu. Bedanya, dulu yang tidak jadi berangkat “hanya” 50-an orang, tetapi tahun ini meningkat dua kali lipat seiring dengan bertambahnya jumlah pendaftar. Dan meski tidak ikut mendaftar, saya turut prihatin dengan keadaan itu.

Mereka yang pernah tinggal di Negara Yaman, baik untuk tujuan belajar maupun sekadar pelesiran, pasti akan berurusan dengan seluk-beluk birokrasi. Begitu pula saya dan teman-teman satu angkatan yang sudah lima tahun ini tidak pulang, mau tidak mau harus tabah menghadapinya.

Sekitar awal September lalu masa berlaku iqamah (visa izin tinggal) kami sudah habis dan beberapa minggu sebelumnya sudah diperpanjang. Maksudnya kami telah membayar sejumlah uang (8.500 rial) untuk menambah masa aktif iqamah selama satu tahun. Memang, pembayaran iqamah harus dilakukan tepat waktu, karena apabila melewati tenggat, maka yang bersangkutan akan dikenai denda sebesar 300 rial per hari. Anggap saja 1 rial sama dengan Rp57, maka 300 rial kurang lebih Rp17 ribu.

Sampai di sini tidak ada masalah. Permasalahan baru muncul ketika sebagian dari kami ingin pulang dan mau mengurus surat khuruj niha’i (keluar dari negara).

Ternyata perpanjangan izin tinggal tersebut belum diproses oleh petugas imigrasi—atau apalah istilahnya saya kurang begitu paham—karena persediaan stiker habis. Stiker yang dimaksud merupakan bukti pembayaran iqamah yang (akan) dilekatkan di paspor masing-masing. Dan sampai saya menyelesaikan draf tulisan ini, belum ada kejelasan kapan stiker itu tersedia lagi.

Anehya, inilah yang membuat frustrasi, kami dianggap tidak/belum memperpanjang masa iqamah dan, oleh karena itu, jika nekat tetap ingin pulang maka sebagai konsekuensinya—di samping uang yang telah diserahkan untuk pembayaran iqamah hangus—harus membayar denda harian terhitung sejak dua bulan lalu. Ya, semuanya mungkin sekitar Rp1,5 juta. Alamak!

Bagi yang sabar menunggu sampai iqamah-nya beres, memang tidak terkena denda. Yang jadi masalah: siapa yang bisa sabar menunggu tanpa adanya kepastian?

Sabtu, 25 Oktober 2014

Gengsi Dong


Sumber gambar: Ganool.com

Sekalipun sudah berpuluh-puluh kali menonton film, sekali pun saya belum pernah membuat resensi. Oleh karenanya, perkenankan saya kali ini untuk (latihan) menulis ringkasan tentang film yang belum lama ini saya tonton: Gengsi Dong.

Mungkin sebagian besar dari Anda sudah pernah menontonnya, bahkan berkali-kali, karena film ini memang sering diputar ulang, terutama saat hari Lebaran. Ya, Gengsi Dong adalah film drama komedi tahun 80-an yang dibintangi oleh tiga pelawak legendaris—Dono, Kasino, dan Indro—serta penyanyi dangdut kawakan, Camelia Malik.

Film ini mengisahkan tiga orang mahasiswa yang sedang kuliah di ibu kota Jakarta. Mereka adalah Slamet (Dono), anak juragan tembakau paling kaya dari Solo, Jawa Tengah; Sanwani (Kasino), orang Betawi asli anak pengusaha bengkel mobil; dan Paijo (Indro), anak pengusaha minyak yang kaya raya. Dari latar belakang yang beragam itulah, mereka berteman dan bertemu dengan Rita (Camelia Malik), gadis paling cantik sekaligus putri seorang dosen yang mengajar di kampus tempat mereka kuliah.

Ketiganya selalu menjaga gengsi dan berlomba-lomba untuk menarik perhatian Rita.

Sanwani, misalnya, selalu mengibul bahwa dirinya tinggal di perumahan elite di daerah Menteng. Ia juga sering pergi ke kampus membawa mobil dari bengkel yang belum selesai didempul. Sementara Slamet, setelah dikompori teman-temannya karena tak punya mobil, akhirnya meminta kiriman uang dari kampung untuk membeli mobil. Berbekal uang Rp2 juta kiriman dari ayahnya, ia hanya mampu membeli mobil reyot—sebenarnya lebih tepat disebut opelet—yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak norak.

Hari-hari kuliah mereka jalani dengan ceria dan penuh tawa. Sesekali mereka mencuri kesempatan untuk kencan berdua dengan Rita dan merumrumnya melalui alunan lagu dangdut. Dan meski Rita tampak sangat akrab dengan ketiganya, sebenarnya tidak ada satu pun dari mereka yang ia taksir. Sebaliknya, masing-masing dari mereka bertiga justru merasa dirinyalah yang paling pantas dan berhak untuk menjadi kekasih Rita.

Puncaknya saat mereka diundang dalam acara ulang tahun Rita yang ke-20. Pada akhir acara, bapak Rita naik ke pentas dan menunjuk pria lain untuk menjadi calon suami bagi anaknya. Tentu saja, mereka bertiga kecewa berat. Bahkan Slamet yang sebelumnya tampil sangat percara diri sampai pingsan melihat kenyataan pahit itu.

Selain menghibur penonton melalui dialog dan adegan-adegan lucu, konon Gengsi Dong—dan film-film Warkop DKI yang lain—juga sarat muatan sindiran terhadap penguasa. Misalnya perkataan Sanwani saat memperkenalkan Paijo sebagai anak pengusaha minyak yang “hartanya banyak disimpan di luar negeri” atau pembelaannya kepada Slamet saat diejek Paijo “orang kaya kelakuannya memang begitu, kayak uang bapaknya halal saja.” Dan masih banyak lagi....

Meski Gengsi Dong merupakan film zaman baheula, setidaknya saya cukup terhibur dan menikmatinya—seperti sedang bernostalgia.

Pernahkah Anda menonton film ini? Bagaimana kesannya? Menarikkah?

Minggu, 19 Oktober 2014

Rumah Cuci


Ilustrasi gambar diambil dari sini.
“Tumben di sini? Kan biasanya dititipkan di rumah cuci?” tanya saya kepada seorang teman.

Ia tidak menjawab. Sambil tersenyum, ia malah balik bertanya dengan nada bergurau, “Enggak ada bahasa yang lebih keren?”

“Lo, bahasa Indonesia itu keren!”

Obrolan singkat di atas terjadi beberapa hari yang lalu saat saya dan seorang teman sedang asyik mencuci pakaian di wastafel. Tidak ada yang penting sebenarnya dari apa yang kami obrolkan waktu itu, tetapi saya tertarik dengan bahasa keren yang dipertanyakannya itu. Saya mafhum, ia sedang menyindir karena saya menggunakan diksi rumah cuci dan bukannya laundry seperti yang lazim dipakai kebanyakan orang.

Sebenarnya apa sih yang menjadi tolok ukur sebuah bahasa pantas disebut keren?

Saya berpendapat, bahasa yang keren adalah bahasa yang menunjukkan jati diri bangsa dan dilafalkan penuturnya sesuai dengan konteks dan kaidah kebahasaan yang berlaku. Dengan demikian, penyisipan istilah-istilah asing dalam ragam cakapan, yang sebenarnya ada padanannya dalam bahasa Indonesia, menunjukkan gejala tuna harga diri—salah satu dari enam sifat negatif bangsa Indonesia yang diuraikan oleh Koentjaraningrat, guru besar antropologi Indonesia—dan pudarnya kebanggaan berbahasa Indonesia.

Pada kasus percakapan di atas, penggunaan kata laundry—seperti yang diharapkan teman saya—adalah salah satu contohnya.

Selama ini kita sudah mengenal penatu, yang berarti ‘usaha atau orang yang bergerak di bidang pencucian (penyetrikaan) pakaian’, sebagai padanan kata laundry. Tetapi penatu tidak mengandung muatan makna tempat, sebagaimana salah satu makna yang diusung laundry, sehingga kekosongan semantik itu sesungguhnya bisa diisi oleh rumah cuci.

Memang, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2008) terbitan Pusat Bahasa tidak, atau katakanlah belum, mencantumkan rumah cuci sebagai sublema dari kata dasar rumah. Tetapi penutur jati bahasa Indonesia tentunya bisa mengira-ngira sendiri bahwa arti frasa tersebut kurang lebih ‘tempat usaha cuci-mencuci’.

Jadi intinya, melalui tulisan sederhana ini saya ingin mengatakan (lagi) bahwa bahasa Indonesia itu keren. Oleh karena itu, mari kita kurangi penggunaan istilah-istilah asing dalam berbahasa, sedikit demi sedikit.