Pages - Menu

Selasa, 29 Juli 2014

Lebaran tanpa Penganan



Sumber gambar dari sini.

Tahun ini, untuk kelima kalinya, saya dan teman-teman satu angkatan berlebaran di Yaman, negara miskin di Semenanjung Arabia yang menjadi destinasi utama para pelajar dari Indonesia. Kesan yang kami rasakan tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya: sepi. Meskipun begitu, kami tetap merasa bahagia, setidaknya di hari kemenangan ini kami masih diberi nikmat oleh Tuhan berupa kesehatan jasmani yang patut disyukuri.

Senin (28/7) kemarin, sekitar pukul enam lebih seperempat, saya bersama teman-teman berangkat menuju masjid Shidiq untuk melakukan salat Id. Masjid yang kami tuju tersebut tak terlampau jauh, hanya berjarak sekitar 400 meter dari asrama kampus. Sepanjang perjalanan, kami lebih banyak terdiam sambil memperhatikan lingkungan sekitar.

Di tengah perjalanan pagi itu, kami melihat pemandangan yang agak janggal: segerombolan pemuda Yaman sedang asyik duduk-duduk di sempadan jalan yang kami lewati. Mereka semua mengenakan pakaian keseharian yang digunakan untuk bermain dan sama sekali tidak tampak seperti sedang menunggu salat Id. Teman di samping saya yang baru kali ini berlebaran di sini berkata, “Apa mereka itu enggak tahu kalau sekarang ini hari Lebaran, ya?”

Sesampainya di masjid, saya langsung mencari tempat yang dekat dengan kipas angin. Cuaca pagi itu memang sangat gerah. Maklum, Yaman masih dilanda musim panas. Suhu udara pagi itu saja, seperti yang ditunjukkan angka pada termometer masjid, sudah mencapai 32 derajat celcius.

Meskipun demikian, orang-orang sangat antusias mendatangi masjid dengan pakaian yang serbabaru. Tradisi berpakaian baru ternyata tidak hanya di Indonesia saja, di sini pun demikian. Bedanya, yang membuat kepala saya geleng-geleng, mereka memakai baju dan sarung lengkap dengan atribut toko/pabrik yang masih menempel. “Sebagai cara memperlihatkan nikmat Allah,” kata mereka.

Yang membedakan lagi, salat Id di sini hanya dihadiri oleh kaum adam. Tidak ada satu pun perempuan yang datang ke masjid—kecuali nenek-nenek pengemis bertelekung hitam yang duduk di depan pintu. Saya tidak tahu, apakah para perempuan Yaman salat Id sendiri di rumahnya atau ada masjid khusus untuk mereka. Yang jelas, selama lima tahun di Yaman saya belum pernah melihat kaum hawa berbondong-bondong menuju masjid.

Sabtu, 26 Juli 2014

Masjid Bahrun Nur



Masjid Bahrun Nur di Hadhramaut, Republik Yaman.

Letaknya di distrik Fuwwah, sekitar 10 kilometer ke arah barat daya dari Mukalla, ibu kota Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman. Atau secara geografis berada di koordinat 14° 29’ lintang utara dan 49° 02’ bujur timur.

Masjid Bahrun Nur, yang selesai dibangun pada tanggal 1 Rajab 1412 Hijriah, merupakan tempat favorit untuk berbuka bagi mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Ahgaff. Di samping lokasinya yang sangat dekat (dari asrama hanya berjarak kurang lebih 25 meter), masjid ini selalu menyediakan takjil gratis bagi siapa saja yang mau datang. Menu yang disajikan pun beraneka ragam. Mulai dari kurma, kue, kudapan, hingga makanan gorengan khas negara Yaman.

* * *
Foto ini diikutsertakan dalam “Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”.


Rabu, 23 Juli 2014

The Liebster Award: Ajang Silaturahmi Sesama Blogger



Logo The Liebster Award diambil dari sini.

Semula saya enggan membuat postingan semacam ini, karena di samping belum tahu tata caranya, “estafet” The Liebster Award ini saya kira hanya ditujukan kepada blogger muda dan pemula, meski sebenarnya saya masih tergolong pemuda pemula jika dibandingkan dengan para blogger senior. Namun, karena makin banyaknya permintaan dari teman-teman dan saya melihat ada juga blogger kondang yang mau meluangkan waktunya untuk berbagi melalui award ini, akhirnya saya bersedia.

Apa saja yang harus dilakukan?

Seperti yang sudah diketahui, yang harus saya lakukan adalah, pertama, memublikasikan The Liebster Award ini di blog. Kedua, mengucapkan terima kasih kepada blogger yang telah memberikan award ini—dalam hal ini saya berterima kasih kepada Adi Pradana, Sofia Zhanzabila, Aas Nuraisiyah, dan Puti Ayu Amatullah. Ketiga, menceritakan 11 hal tentang diri sendiri. Keempat, menjawab 11 perrtanyaan yang diberikan. Kelima, memilih 11 blogger lain dan memberikan mereka 11 pertanyaan tentang apa pun yang ingin diketahui dari mereka.

Sebelas hal tentang saya: (1) lahir pada hari Selasa, 27 Desember 1988 di daerah Pulokulon; (2) anak pertama dari tiga bersaudara; (3) berkulit cokelat; (4) bisa berteman dengan siapa saja; (5) tidak suka berbohong dan dibohongi; (6) pencinta bahasa Indonesia; (7) suka makan kepala ikan; (8) tidak lulus SD tapi—berkat pertolongan dari Allah—bisa kuliah di negara orang; (9) memunyai banyak julukan; (10) enggak suka makanan yang asin; (11) suka menyendiri sambil minum teh/kopi ketika sedang frustrasi.

Selanjutnya, yang keempat, menjawab 11 pertanyaan dari sahabat narablog. Karena ada 4 blogger yang memberikan award ini, maka dengan demikian saya harus menjawab 44 pertanyaan sekaligus!

Senin, 21 Juli 2014

Safari Ramadan ke Mukalla

Kota Mukalla di malam hari. Foto: Wikipedia.org

Setelah sempat ditunda berkali-kali karena kondisi asrama yang belum memadai, akhirnya rencana teman-teman mahasiswa Al-Ahgaff angkatan 15 bepergian ke Mukalla terlaksana juga. Selasa (8/7) dua pekan lalu, sekitar pukul 20.30 KSA,tiga bus berukuran sedang yang sudah menunggu selama setengah jam di lapangan kampus bertolak menuju ibu kota Provinsi Hadhramaut itu.

Perjalanan kali ini bukan sekadar rekreasi atau sebaagai ganti rihlah keliling Yaman yang gagal, tetapi merupakan kegiatan wajib nonkurikuler bagi mahasiswa tingkat akhir sebelum mereka pulang ke negaranya masing-masing. Ada sekitar 120 mahasiswa dalam rombongan itu yang berasal dari lima negara berbeda: Indonesia, Yaman, Somalia, Tanzania, dan Burkina Faso.

Kegiatan yang dimaksud adalah pengajian kilat selama dua minggu yang dibimbing langsung oleh Habib Abdullah Muhammad Baharun, Rektor Universitas Al-Ahgaff, Yaman. Adapun materi yang akan dikaji beraneka ragam, mulai dari sekte-sekte dalam Islam beserta arus pemikirannya, metode dakwah, aturan berfatwa, dunia politik, liberalisme, pluralisme, dan isu-isu keagamaan lainnya.

Selain mengikuti kegiatan ilmiah tersebut, kami juga bernostalgia dengan keindahan kota pelabuhan di Semenanjung Arabia itu. Meski bukan termasuk kota metropolitan, Mukalla memiliki pemandangan lanskap yang memesona, terutama saat malam hari.Udaranya memang panas dan lengas, tetapi angin sepoi-sepoi yang berembus dari arah laut sangat sejuk dan menyegarkan.

Di kota ini pula, tepatnya di distrik Fuwwah, Kantor Pusat Universitas Al-Ahgaff dan seluruh fakultasnya—kecuali Fakultas Syariat dan Hukum—berada. Para mahasiswa yang baru datang dari Indonesia (semester pertama), juga ditempatkan di sini selama setahun sebelum akhirnya dipindah ke Tarim. Empat tahun yang lalu kami juga tinggal di sini selama setahun. Inilah yang saya maksud dengan kata bernostalgia tadi.

Perjalanan dari Tarim ke Mukalla yang “hanya” berjarak 174 kilometer semestinya bisa ditempuh selama lima jam saja. Tetapi karena banyaknya ruas jalan yang rusak, laju kendaraan menjadi terhambat. Teman-teman juga banyak yang kecapaian dan sepakat untuk berlama-lama istirahat di persinggahan. Akhirnya, perjalanan malam itu memakan waktu hampir 9 jam! Kami baru sangkil ke Kota Fuwwah pada pukul 5 pagi.

Di asrama penampungan, saya merasa beruntung karena sekamar dengan mahasiswa mustawa awal (tingkat satu) yang sangat ramah dan asyik diajak bicara, tidak ada satu pun teman dari Tarim yang menyertai saya di kamar itu. Saya mendapat teman baru sekaligus suasana baru. Mereka itu di antaranya: Al-Junaid Muhammad Idris, orang Papua asal Manado; Muhammad Syafiq Afif, anak Surabaya lulusan Pondok Pesantren Sirajul Mukhlasin, Magelang; Muhammad Wildan Firdaus, dari Purwakarta, Jawa Barat; Yayat Dimyati, alumni PP Langitan asal Kuningan, Jawa Barat; dan Cendra Mokodompit, orang asli Manado, Sulawesi Utara.

Hari-hari di Mukalla kami jalani dengan senang hati, meski terkadang listrik mati dan air di kamar mandi sering habis. Pagi sampai siang kami istirahat berjemaah alias tidur. Lalu seusai salat Zuhur kami berangkat ke kediaman Habib Baharun untuk mengaji. Kemudian malam harinya, selepas salat Tarawih, sebagian pergi ke pasar dan sebagian yang lain makan angin ke laut.

Hingga tanpa terasa kami sudah setengah bulan di Mukalla danpengajian dengan Habib Baharun pun telah usai. Kini tiba saatnya kembali ke Tarim untuk menyelesaikan urusan yang tersisa sebelum pulang ke tanah air. Saya sendiri masih pengin menikmati suasana Mukalla dan menetap di sini untuk sementara waktu.

* * *
Ketika saya memublikasikan tulisan ini, teman-teman tengah dalam perjalanan menuju Tarim. Saya hanya bisa mendoakan, semoga mereka selamat sampai tujuan dan kegiatan safari Ramadan ini bermanfaat untuk semuanya.

Selasa, 08 Juli 2014

Media: Framing, Priming

Gambar kartun media sosial ini diambil dari sini.
Tak dapat dimungkiri, kehadiran media massa di era globalisasi ini tentu sangat membantu siapa pun dalam memperoleh informasi yang cepat, akurat, dan aktual. Tanpa media, kita—terutama yang berada di luar negeri—tidak akan tahu kemeriahan Piala Dunia 2014 di Brasil dan hiruk-pikuk kampanye serta sepak terjang para calon presiden di Tanah Air. Akan tetapi, di lain sisi, media massa juga bisa membuat kebingungan manakala seseorang tidak bisa mengontrol semua informasi yang berseliweran di sekitarnya.

Beberapa hari yang lalu, menjelang buka bersama di masjid Jamalul Lail, saya tanpa sengaja berada di antara dua teman yang sedang “bertengkar” memperdebatkan pilihan calon presiden masing-masing. “Kamu jangan ikut-ikutan kampanye hitam di Facebook,” kata teman yang satu, “kalau enggak paham soal politik, lebih baik diam saja.”

“Politik enggak perlu dipelajari [cukup membaca berita/artikel di media sudah bisa memahami politik],” jawab teman yang lain sekadarnya.

Saya yang hanya menyimak dan diam saja dibuat bingung: mana yang benar di antara keduanya? Sayangnya percakapan mereka hanya berlangsung singkat, karena tidak lama setelah itu azan Magrib sudah berkumandang.

Terus terang saya tidak tahu-menahu soal politik, apalagi tertarik dan ikut-ikutan membicarakannya. Tetapi percakapan kedua teman di atas membuat saya bertanya dalam hati: mungkinkah mereka telah dipengaruhi oleh media?

Tiba-tiba saya teringat pemaparan Bapak Teguh Santosa, Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Online, dalam acara Simposium Nasional Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman tahun lalu. Dalam presentasinya yang berjudul Media: Framing and Priming itu, beliau menejelaskan banyak hal yang berkaitan dengan dunia jurnalistik, terutama tentang bagaimana sebuah media bisa memengaruhi atau mengubah pola pikir seseorang. 

Framing, kata Pak Teguh, adalah frame (bingkai). Sedangkan priming adalah menempatkan sesuatu menjadi prime (utama). Kalau anda melakukan framing, bisa saja secara bersamaan anda sedang melokalisasi apa yang menurut anda penting untuk diketahui orang lain. Pekerjaan utama media adalah melakukan framing (membingkai), dan di saat yang bersamaan, mempresentasikan sesuatu yang menurut mereka penting untuk anda ketahui.

Selanjutnya, lulusan Universitas Padjadjaran itu mengutip perkataan Malcolm X, “Kalau anda tidak berhati-hati ketika berinteraksi dengan media, maka anda bisa jadi membenci orang yang ditindas. Dan sebaliknya, anda bisa mencintai orang yang menindas.” Karena, lanjut Pak Teguh, apa yang anda percaya akan sesuatu itu adalah yang di-frame (dibingkai) dan yang di-prime (dijadikan topik utama) oleh media.

Saya rasa kalimat Malcolm X itu masih relevan sampai sekarang, karena sebagian besar dari kita tidak pernah tahu dengan realita. Misalnya, anda punya opini negatif/positif tentang seorang tokoh tanpa anda pernah bertemu langsung dengannya, tidak pernah berinteraksi, juga tidak pernah tahu jalan pikirannya. Tiba-tiba anda jadi sangat membencinya atau sangat mencintainya hanya karena anda membaca media. Begitu juga dengan kedua pasangan capres yang, saya yakin, sebagian besar dari kita belum pernah bertemu langsung dan hanya mengenalnya melalui media.