Pages - Menu

Sabtu, 08 Agustus 2015

Dua Ragam Jalan Menuju Tuhan

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini.
Pertama, melalui kenikmatan duniawi. Seperti ekonomi mapan, karier cemerlang, istri cantik, anak-anak yang berprestasi, dan lain sebagainya. Sebagian orang yang mendapatkannya sadar bahwa semua itu adalah pemberian dari Allah. Maka, oleh sebab itu, ia kemudian bersyukur dengan semakin meningkatkan kualitas amal ibadahnya. Tapi belum tentu, seandainya orang tersebut diuji dengan kehidupan yang serbasulit, ia akan senantiasa mengingat-Nya.

Golongan orang dengan jenis pertama ini jumlahnya relatif sedikit. Dan karena itulah, tulisan ini tidak akan mengulasnya panjang lebar. Sebaliknya, yang paling banyak terjadi adalah model yang kedua berikut.

Yaitu orang yang “digiring” menuju Tuhan melalui jalan kesengsaraan, kemelaratan, kecemasan, ketakutan, dan hal-hal tidak mengenakkan lainnya.

Sebagai perumpamaan untuk memperjelas, anggap saja begini: Allah memiliki seekor anjing. Melalui anjing ini, Ia kemudian menggiring dan menakut-nakuti manusia sehingga membuat mereka lari terbirit-birit. Manusia itu terus berlari karena rasa takut akan gigitan anjing; sebagian ada yang jatuh terperosok ke dalam jurang, sebagian yang lain bisa selamat dan sampai ke tempat yang aman, yaitu di sisi Sang Pemilik Anjing.

Alangkah beruntungnya mereka yang bisa sampai kepada Sang Pemilik Anjing. Karena Dialah tempat kembali yang sesungguhnya. Innâ lillâh wa innâ ilahi râji’ûn (sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya pula kita akan kembali). Meskipun, tentu saja, dalam masa pelarian itu ia akan mengalami hal-hal yang menyakitkan seperti kaki terluka akibat tersandung batu atau tertusuk duri.

Adapun contoh di dunia nyata adalah orang-orang yang dalam hidupnya punya, misalnya, rasa takut yang berlebihan terhadap makhluk halus atau tempat-tempat gelap dan sepi. Karena diliputi rasa takut terus-menerus, mereka lalu mencari kedamaian dengan memperbanyak amalan ibadah, salat, dan zikir. Setelah menjalaninya beberapa waktu secara rutin, mereka merasa jiwanya menjadi semakin tenteram.

Orang seperti ini biasanya punya semangat beribadah yang luar biasa. Dan, pada fase tertentu, mungkin ia akan menyimpulkan bahwa amalan-amalan itulah yang membuat keadaan psikologisnya kian membaik. Lebih lanjut lagi, ia akan meyakini bahwa hanya dengan amalan-amalan itulah dirinya bisa dekat dengan Allah. Padahal, disadari atau tidak, yang menjadikan tenteram-tidaknya jiwa manusia hanyalah Allah, dan bukan yang lain; yang menyebabkan manusia masuk surga bukanlah amal ibadahnya, melainkan semata-mata karena rahmat-Nya.

Terkait hal ini, Rasulullah pernah bersabda, “Amal ibadah kalian tidak akan menyebabkan kalian masuk surga.” Ketika para sahabat bertanya apakah Rasulullah juga begitu, beliau pun menjawab, “Begitu pula aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya.” [HR. Bukhari]

Dengan demikian, amal ibadah manusia kelompok kedua ini—dan kelompok pertama juga—sesungguhnya belum bisa dikatakan benar-benar ikhlas (lillahi ta’ala). Semua masih karena “perkara dunia”. Tapi masih ada baiknya. Ia bisa masuk ke jalur yang benar.

Nah, jika sudah benar-benar masuk, biasanya semangatnya bukan main. Katanya, “Ibadah kok cuma segitu, masih kurang banyak.” Saya pernah mengalaminya sendiri saat pertama kali mendapat ijazah wirid dari guru mursyid. Waktu itu, karena bukan termasuk orang yang taat beribadah, saya sempat berkata dalam hati, “Ternyata wiridannya cuma sedikit.”