![]() |
Sumber gambar: Ganool.com |
Sekalipun sudah berpuluh-puluh
kali menonton film, sekali pun saya belum pernah membuat resensi. Oleh
karenanya, perkenankan saya kali ini untuk (latihan) menulis ringkasan tentang film
yang belum lama ini saya tonton: Gengsi Dong.
Mungkin sebagian besar
dari Anda sudah pernah menontonnya, bahkan berkali-kali, karena film ini memang
sering diputar ulang, terutama saat hari Lebaran. Ya, Gengsi Dong adalah
film drama komedi tahun 80-an yang dibintangi oleh tiga pelawak legendaris—Dono,
Kasino, dan Indro—serta penyanyi dangdut kawakan, Camelia Malik.
Film ini mengisahkan
tiga orang mahasiswa yang sedang kuliah di ibu kota Jakarta. Mereka adalah
Slamet (Dono), anak juragan tembakau paling kaya dari Solo, Jawa Tengah;
Sanwani (Kasino), orang Betawi asli anak pengusaha bengkel mobil; dan Paijo (Indro),
anak pengusaha minyak yang kaya raya. Dari latar belakang yang beragam itulah,
mereka berteman dan bertemu dengan Rita (Camelia Malik), gadis paling cantik
sekaligus putri seorang dosen yang mengajar di kampus tempat mereka kuliah.
Ketiganya selalu
menjaga gengsi dan berlomba-lomba untuk menarik perhatian Rita.
Sanwani, misalnya, selalu
mengibul bahwa dirinya tinggal di perumahan elite di daerah Menteng. Ia juga
sering pergi ke kampus membawa mobil dari bengkel yang belum selesai didempul. Sementara
Slamet, setelah dikompori teman-temannya karena tak punya mobil, akhirnya
meminta kiriman uang dari kampung untuk membeli mobil. Berbekal uang Rp2 juta kiriman
dari ayahnya, ia hanya mampu membeli mobil reyot—sebenarnya lebih tepat disebut
opelet—yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak norak.
Hari-hari kuliah
mereka jalani dengan ceria dan penuh tawa. Sesekali mereka mencuri kesempatan
untuk kencan berdua dengan Rita dan merumrumnya melalui alunan lagu dangdut. Dan
meski Rita tampak sangat akrab dengan ketiganya, sebenarnya tidak ada satu pun
dari mereka yang ia taksir. Sebaliknya, masing-masing dari mereka bertiga justru
merasa dirinyalah yang paling pantas dan berhak untuk menjadi kekasih Rita.
Puncaknya saat
mereka diundang dalam acara ulang tahun Rita yang ke-20. Pada akhir acara,
bapak Rita naik ke pentas dan menunjuk pria lain untuk menjadi calon suami bagi
anaknya. Tentu saja, mereka bertiga kecewa berat. Bahkan Slamet yang sebelumnya
tampil sangat percara diri sampai pingsan melihat kenyataan pahit itu.
Selain menghibur
penonton melalui dialog dan adegan-adegan lucu, konon Gengsi Dong—dan
film-film Warkop DKI yang lain—juga sarat muatan sindiran terhadap penguasa.
Misalnya perkataan Sanwani saat memperkenalkan Paijo sebagai anak pengusaha
minyak yang “hartanya banyak disimpan di luar negeri” atau pembelaannya kepada
Slamet saat diejek Paijo “orang kaya kelakuannya memang begitu, kayak uang
bapaknya halal saja.” Dan masih banyak lagi....
Meski Gengsi
Dong merupakan film zaman baheula, setidaknya saya cukup terhibur dan
menikmatinya—seperti sedang bernostalgia.
Pernahkah Anda
menonton film ini? Bagaimana kesannya? Menarikkah?