Pages - Menu

Jumat, 02 Januari 2015

Karena Blog Ini Mulai Dikenal



Sumber gambar: teknoup.com

Sebenarnya saya ingin memakai kata terkenal, sebagai pengganti kata dikenal, pada judul kalimat di atas. Tetapi karena yang pertama memberi kesan “tinggi” dan, sebagai orang Indonesia, saya dituntut untuk mewakili sikap rendah hati dalam berbahasa, maka niat itu saya urungkan. Jika tidak, mungkin Anda langsung mengecap saya “angkuh” hanya karena membaca judul tersebut. Betul, kan? Ayo, mengaku saja!

Beberapa orang di dunia nyata yang telah membaca tulisan-tulisan enggak penting di blog ini mulai memberikan respons. Komentar mereka tidak ditulis di kolom komentar sebagaimana yang lazim dilakukan para blogger, melainkan disampaikan langsung kepada saya. Tanggapan mereka pun beragam. Ada yang mendukung dan menganjurkan untuk terus menulis—apa pun topik bahasannya. Ada juga yang malah minta secara khusus dibuatkan semacam biografi, puisi, cerita terkait dirinya, dan lain sebagainya.

Selain itu, ada juga komentar yang agak serius (biasanya datang dari golongan santri/kaum intelektual). “Menulislah sesuatu yang lebih ilmiah supaya bisa dimanfaatkan banyak orang,” kata mereka menyarankan.

Sebagai narablog amatir, saya tidak pernah menyangka jika tulisan di blog ini akan mendapat reaksi dari pembaca seperti itu. Meskipun demikian, dalam hati kecil saya juga berharap apa yang saya publikasikan selama ini bisa memberi manfaat kepada para pembaca. Saya juga menyadari bahwa menulis hal-hal yang tidak penting akan membuang-buang banyak waktu. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah hanya tulisan berkategori ilmiah saja—khususnya tentang hukum agama—yang bisa memberi manfaat kepada orang lain?


* * *
Saya samar-samar masih ingat salah satu tayangan episode Kick Andy beberapa tahun silam. Waktu itu yang menjadi bintang tamu adalah seorang ibu dari Bekasi yang beberapa waktu sebelumnya mengirim surat kepada Andy Flores Noya, Pemimpin Redaksi Metro TV sekaligus pemandu acara tersebut.

Sang ibu menceritakan anaknya yang tidak bisa lepas dari ketergantungan obat-obatan terlarang. Ia sangat sedih lantaran anak sulungnya itu juga tidak mau melanjutkan kuliah dan menelantarkan skripsinya begitu saja. Praktis, selama setahun terakhir, si anak hanya bermalas-malasan di dalam kamar seperti tak memiliki gairah hidup.

Sang ibu merasa putus asa dan nyaris frustrasi.

Suatu hari, di tengah keputusasaannya itu, sang ibu mendapati anaknya sedang membaca buku sambil menangis tersedu-sedu di dalam kamar. Gaya hidup anaknya juga berubah total setelah membaca buku itu. Si anak yang sebelumnya kasar dan keras kepala sekarang menjadi lemah lembut dan periang. Bahkan, kini si anak dapat lepas dari kecanduan narkoba dan mau melanjutkan skripsinya hingga selesai.

Setelah diselidiki, ternyata buku yang dibaca itu adalah novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Rupanya si anak malu dengan Lintang—tokoh utama dalam novel itu—yang dengan segala keterbatasannya tetap punya spirit untuk terus belajar. Meskipun pada akhirnya, Lintang terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolah karena ayahnya hilang saat pergi melaut.

Saya terkesima mendengar penuturan ibu itu. Bagaimana mungkin sebuah novel bisa mengubah 180 derajat pola hidup seseorang? Sebegitu besarkah pengaruh novel terhadap perilaku manusia?


Aristoteles telah memberi jawaban atas pertanyaan saya tersebut. Filsuf Yunani pelopor ilmu mantik itu berpendapat bahwa seni—di mana salah satu jenisnya adalah karya sastra seperti novel—memiliki fungsi untuk membuat katarsis bagi masyarakat. Katarsis berarti pelepasan hal-hal yang negatif atau dalam bahasa religi berati pemurnian jiwa. Dengan demikian, seorang yang menikmati seni dapat termurnikan jiwanya sehingga tingkah lakunya menjadi baik.

Usai menyaksikan video Kick Andy itu, saya mulai penasaran dengan buku-buku sejenis novel dan berupaya meluangkan waktu untuk membacanya. Tidak hanya yang diangkat dari kisah nyata seperti Laskar Pelangi, novel fiksi milik Dan Brown—seperti The Da Vinci Code, Angel and Demon, Deception Point, Digital Forters, dan The Lost Symbol—juga sudah selesai saya baca. Dan meski buku-buku itu bukan termasuk karya ilmiah, saya merasa mendapat faedah dengan sekadar membaca serta menikmati alur ceritanya.

Melalui blog sederhana ini, saya tidak bermaksud mengisnpirasi banyak orang seperti kisah superhero dalam novel Laskar Pelangi. Tetapi paling tidak, menurut saya, karya-karya nonilmiah seperti itu (kadang) juga berguna bagi para pembaca. Karena bagaimanapun, pembaca—dengan latar belakang yang bermacam-macam—tentu mempunyai selera baca yang berbeda antara satu dan yang lain.

* * *
Penting untuk diingat bahwa kita harus bersiap-sedia membagi pikiran demi terciptanya pertukaran empati. Dan, yang lebih penting lagi, tidak meremehkan pengetahuan orang lain mengenai sesuatu hanya karena kita punya gelar akademik dan karier yang lebih baik. Bukankah kita sering melakukannya?

Semoga di tahun 2015 ini, dan tahun-tahun yang akan datang, saya bisa membuat tulisan yang lebih “ilmiah” dan berguna bagi semua pembaca—apa pun latar belakang mereka.

25 komentar:

  1. Sama nih. Dari blog, banyak tanggapan positif bahkan banyak yang nawarin kerjaan untuk menulis di website, juga banyak yang minta dibuatkan prosa dan syair untuk lirik lagu. Testimoni saya pun dimuat di majalah. Menurut saya yang ga penting bisa jadi penting bagi beberapa orang tertentu, tentunya ditulis dengan format anti alay meski tema-nya bukan ilmiah. Sampah pun kalo diolah jadi sesuatu yang bernilai, bukan? Jadi walau ga ilmiah, orang yang berpikiran positif pasti bakal nemu celah positif juga di tiap tulisan. Oh iya, buku-buku yang antum baca, juga saya baca semua. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak, atas komentarnya yang memotivasi.

      Hapus
  2. iya mas pastinya lama2 semua pada tahu dan membaca semua pengalaman mas di tanah arab sana, krena dari cerita2 itu kita penasaran dan selalu mencarinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak. Semoga tulisan-tulisan "enggak penting" di blog ini bermanfaat.

      Hapus
  3. Alhamdulillah, semoga bisa terus berkarya dan terus menulis Mas Lutfi :)

    BalasHapus
  4. menulislah karena memang ingin menulis, bukan karena hal lain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke, sip! Barangkali kaus-kaus sampean mau dipromosikan di sini? :)

      Hapus
    2. kaos itu proyek iseng-iseng berhadiah. Belum ada dana buat pasang iklan dimana-mana. :|

      tp klo mau direview gratisan, monggo mawon. :)

      Hapus
    3. Bagaimana bisa me-review kalau saya belum pernah melihat barangnya langsung? Berarti kapan-kapan saya mesti mampir ke rumah sampean :)

      Hapus
  5. di tunggu cerita-ceritanya ya. ilmu baru buat saya

    BalasHapus
  6. Menulis di blog itu soal hati tidak bisa dipaksakan harus selalu menulis sesuatu yg ilmiah ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mas. Segala sesuatu yang dipaksakan pasti datangnya tidak dari hati.

      Hapus
  7. Setidaknya dg menulis blog jejak kita ttp ada di dunia mski kita telah k3mbali ke sana. Apalagi jejak itu adalah k

    BalasHapus
  8. wah mantap mas lanjtkan saya pembaca... Iqro mas kunci dari umatnya Nabi... Iqro maka akan tahu apa yang tidak diketahui hehe amazing...

    BalasHapus
  9. setuju juga mas,tak hanya tulisan ilmiah yang bermanfaat tapi tulisan non ilmiah juga banyak manfaatnya.toh buktinya bnayak juga yang terinspirasi dari novel misalnya.

    BalasHapus
  10. Yuhuuu..tulisan, tayangn TV, dan obrolan di radio, memang bsia mempengaruhi pikiran dan sikap orang memang, karena aku pernah mengalaminya, hihihi.
    Btw...Lutfi nulis artikel sdh di kampung halaman ya,. tambah semangat berbagi ya, ....

    BalasHapus
  11. Betul, mas. tulisan dan apalagi buku, bisa berpengaruh pada pembacanya. semangat berbagi, mas. tak mesti berupa karya ilmiah. karena seperti yang mas perkirakan, terkadang cerita pribadi pun bisa menginspirasi seseorang.

    BalasHapus
  12. Aamiin. .. smoga cita2nya terlaksana. Lebih banyak menulis untuk kebaikan :-)

    BalasHapus
  13. Aku juga dulu maunya sih nulis-nulis yang ilmiah, meski di blog. Eh, lama-lama malah lebih senang nulis cerita & gaya personal aja. Beberapa orang memang nggak tahu (atau gak mau tahu) asyiknya & manfaatnya membaca novel. Aku sih termasuk yang berpendapat bahwa tulisan sederhana sekalipun bisa berpotensi bermanfaat & menginspirasi. Bisa jadi itu tentang hal2 kecil. Dan ya, setiap orang punya seleranya sendiri. Sebagian org suka terinspirasi dari tulisan2 motivasi ala how to, sebagian lebih terinspirasi jika penyampaiannya lewat cerita, dll... :)

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!