![]() |
Foto bersama seusai acara. |
Himpunan Mahasiswa Universitas Al-Ahgaff (HIMMAH) Yaman kembali
mengadakan pertemuan pada Ahad, 12 April 2014 di Pesantren Progresif Bumi
Shalawat, Sidoarjo, Jawa Timur. Acara yang digelar beberapa bulan sekali ini
dihadiri lebih dari 50 alumni dari berbagai angkatan.
Saya berangkat bersama rombongan dari Tulungagung sekitar
pukul 08.00 WIB dan tiba di lokasi saat zuhur. Karena masih menunggu mereka
yang datang dari jauh, acara diundur sampai 2 jam dan baru dimulai pada pukul
15.00 WIB.
Pertemuan kali ini membahas, antara lain, kondisi terkini
di Negara Yaman; dampak konflik terhadap proses belajar-mengajar di kampus; serta
nasib teman-teman mahasiswa, baik yang masih bertahan di sana maupun yang ikut
evakuasi.
Sebagai sesepuh yang banyak pengalaman tentang
seluk-beluk politik di Yaman, Ustaz Faiz—yang baru pulang ke Indonesia bulan
lalu—didaulat untuk menjelaskan keadaan sesungguhnya negara tersebut. Ia kemudian
menceritakan kondisi keamanan di sana semenjak Presiden Yaman mengungsi dan
mengundurkan diri, tepatnya pada bulan Oktober 2014 lalu. (baca: Kondisi di Yaman dan Pemberitaan Pers)
Sejak saat itu, kata beliau, kendali pemerintahan
dipegang oleh Syiah Houti yang sebelumnya menjadi oposisi. Di saat yang
bersamaan, Universitas Al-Iman ditutup karena menjadi tempat persenjataan kelompok
Suni (Wahabi). Universitas
tersebut berada di Kota Sana’a, wilayah Yaman bagian utara yang menjadi medan
pertempuran antara Suni dan Syiah sebagaimana sering diberitakan media.
Sementara di Yaman bagian selatan seperti Hadhramaut—di
mana Universitas Al-Ahgaff berada—kondisinya relatif aman. Bahkan sangat aman;
tidak ada penjagaan ketat dari tentara dan listrik pun tidak pernah padam.
Memang, sempat terjadi insiden pengeboman dan baku tembak di wilayah Hadhramaut,
tetapi semua itu tidak begitu berpengaruh terhadap kegiatan belajar di
lingkungan kampus.
Sayangnya, media
telah dikuasai oleh sekelompok orang yang menginginkan kita (Ahlusunah wal
Jamaah) tidak bisa bergerak leluasa. Ada semacam konspirasi dari media untuk
membuat Hadhramaut seolah-olah tidak aman sehingga mengancam keberadaan warga
negara Indonesia di sana. Hal ini masih ditambah dengan kedatangan utusan dari
Kementerian Luar Negeri yang “menakut-nakuti” pelajar di Hadhramaut dan
mengimbau mereka agar ikut evakuasi—tanpa memberi jaminan (biaya) kembali lagi
ke Yaman.
Menanggapi situasi seperti ini, Rektor Universitas
Al-Ahgaff Habib Abdullah Baharun memberi kebebasan kepada seluruh mahasiswanya.
“Man shaddaqa kalami sayantadhir wa man yakhaf falyadzhab,” katanya.
Maksudnya, bagi siapa yang percaya dengan perkataan beliau (bahwa keadaan
sebenarnya aman-aman saja), maka akan memilih untuk tetap bertahan. Sementara
yang merasa khawatir—karena desakan dari keluarga, misalnya—dipersilakan untuk
pergi meninggalkan Yaman dan pihak kampus akan memberi dispensasi.
Di akhir acara, sebagai bentuk solidaritas antara sesama civitas akademika, para alumni
bersepakat membuat petisi berisi (1)
jaminan keamanan selama proses evakuasi dari Yaman ke Tanah Air dan (2) permintaan agar
mereka yang dievakuasi mendapat jaminan kembali belajar ke Yaman setelah kondisinya dinilai aman. Mengingat Universitas Al-Ahgaff
merupakan salah satu perguruan tinggi di Yaman yang berpaham moderat, toleran,
dan antikekerasan—sesuai dengan kebudayaan orang Timur seperti Indonesia.
Dan
mereka yang dievakuasi, dengan demikian, adalah aset intelektual negara sekaligus
penerus generasi masa depan bangsa yang eksistensinya mesti dipertahankan.