Pages - Menu

Rabu, 15 April 2015

Alumni Al-Ahgaff Bikin Petisi di Acara Reuni

Foto bersama seusai acara.
Himpunan Mahasiswa Universitas Al-Ahgaff (HIMMAH) Yaman kembali mengadakan pertemuan pada Ahad, 12 April 2014 di Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, Jawa Timur. Acara yang digelar beberapa bulan sekali ini dihadiri lebih dari 50 alumni dari berbagai angkatan.

Saya berangkat bersama rombongan dari Tulungagung sekitar pukul 08.00 WIB dan tiba di lokasi saat zuhur. Karena masih menunggu mereka yang datang dari jauh, acara diundur sampai 2 jam dan baru dimulai pada pukul 15.00 WIB.

Pertemuan kali ini membahas, antara lain, kondisi terkini di Negara Yaman; dampak konflik terhadap proses belajar-mengajar di kampus; serta nasib teman-teman mahasiswa, baik yang masih bertahan di sana maupun yang ikut evakuasi.

Sebagai sesepuh yang banyak pengalaman tentang seluk-beluk politik di Yaman, Ustaz Faiz—yang baru pulang ke Indonesia bulan lalu—didaulat untuk menjelaskan keadaan sesungguhnya negara tersebut. Ia kemudian menceritakan kondisi keamanan di sana semenjak Presiden Yaman mengungsi dan mengundurkan diri, tepatnya pada bulan Oktober 2014 lalu. (baca: Kondisi di Yaman dan Pemberitaan Pers)

Sejak saat itu, kata beliau, kendali pemerintahan dipegang oleh Syiah Houti yang sebelumnya menjadi oposisi. Di saat yang bersamaan, Universitas Al-Iman ditutup karena menjadi tempat persenjataan kelompok Suni (Wahabi). Universitas tersebut berada di Kota Sana’a, wilayah Yaman bagian utara yang menjadi medan pertempuran antara Suni dan Syiah sebagaimana sering diberitakan media.

Sementara di Yaman bagian selatan seperti Hadhramaut—di mana Universitas Al-Ahgaff berada—kondisinya relatif aman. Bahkan sangat aman; tidak ada penjagaan ketat dari tentara dan listrik pun tidak pernah padam. Memang, sempat terjadi insiden pengeboman dan baku tembak di wilayah Hadhramaut, tetapi semua itu tidak begitu berpengaruh terhadap kegiatan belajar di lingkungan kampus.

Sayangnya, media telah dikuasai oleh sekelompok orang yang menginginkan kita (Ahlusunah wal Jamaah) tidak bisa bergerak leluasa. Ada semacam konspirasi dari media untuk membuat Hadhramaut seolah-olah tidak aman sehingga mengancam keberadaan warga negara Indonesia di sana. Hal ini masih ditambah dengan kedatangan utusan dari Kementerian Luar Negeri yang “menakut-nakuti” pelajar di Hadhramaut dan mengimbau mereka agar ikut evakuasi—tanpa memberi jaminan (biaya) kembali lagi ke Yaman.

Menanggapi situasi seperti ini, Rektor Universitas Al-Ahgaff Habib Abdullah Baharun memberi kebebasan kepada seluruh mahasiswanya. “Man shaddaqa kalami sayantadhir wa man yakhaf falyadzhab,” katanya. Maksudnya, bagi siapa yang percaya dengan perkataan beliau (bahwa keadaan sebenarnya aman-aman saja), maka akan memilih untuk tetap bertahan. Sementara yang merasa khawatir—karena desakan dari keluarga, misalnya—dipersilakan untuk pergi meninggalkan Yaman dan pihak kampus akan memberi dispensasi.


Di akhir acara, sebagai bentuk solidaritas antara sesama civitas akademika, para alumni bersepakat membuat petisi berisi (1) jaminan keamanan selama proses evakuasi dari Yaman ke Tanah Air dan (2) permintaan agar mereka yang dievakuasi mendapat jaminan kembali belajar ke Yaman setelah kondisinya dinilai aman. Mengingat Universitas Al-Ahgaff merupakan salah satu perguruan tinggi di Yaman yang berpaham moderat, toleran, dan antikekerasan—sesuai dengan kebudayaan orang Timur seperti Indonesia.

Dan mereka yang dievakuasi, dengan demikian, adalah aset intelektual negara sekaligus penerus generasi masa depan bangsa yang eksistensinya mesti dipertahankan.

14 komentar:

  1. Pastinya menyeramkan sekali terjadi pertempuran antara sunni dan syi'ah, memang kedua kelompok tersebut menurut saya tidak baik. Apalagi syi'ah, pada waktu itu saya membaca sebuah cerita, katanya syi'ah ini pura-pura mendukung Ali, padahal kelompok ini sama sekali tidak mendukung, bahkan jika keluarga Ali diperangi pun mereka tidak membelanya, kelompok munafik menurut saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya malah belum pernah mendengar/membaca cerita itu.

      Hapus
  2. tidak bisa membayangkan bagaimana mereka merasa ketakutan ketika terjebak dalam peperangan, semoga warga Indonesia yang kini masih dalam proses pemulangan ke Indonesia semuanya bisa terevakuasi, dan konflik di Yaman segera berakhir

    BalasHapus
  3. oo begitu to mas kejadiannya... wah mas lutfi sungguh beruntung dah bisa sampe yaman... negeri para ulama... kapan saya bisa liat negeri itu yah mantap ams lutfi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan kalau mau pelesiran ke Yaman. Tentu saja setelah konflik di sana reda.

      Hapus
  4. Ngeri liat berita di TV, mahasiswa indonesia pada dipulangkan ke Indonesia

    BalasHapus
  5. Belum dievakuasi semua ya, kak? Semoga segera aman ya, jadi bisa kembali menjalani studi buat yang belum selesai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagian memang tidak mau pulang, pilih bertahan di sana.

      Hapus
  6. Saya membayangkan, betapa hangatnya acara kumpul reuni kalian di tengah Yaman yang tengah bergejolak.. semoga petisinya lancar ya, Lutfi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hangat sekali, Mbak; tua-muda berkumpul dalam satu ruangan. Terima kasih doanya.

      Hapus
  7. senangnya bisa kumpul di tengah situasi yang sedang memanas.
    keep kompak yaaa ^^

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!