Pages - Menu

Kamis, 03 April 2014

Di Balik Kata "Dibalik"



Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan (KBBI Daring)
Gambar tangkapan skrin KBBI Daring.
Kurang lebih dua bulan yang lalu, majalah dinding Aqwam Media edisi Februari kembali terbit. Topik utama yang diangkat kala itu adalah Gebyar Peringatan Ulang Tahun Asosiasi Mahasiswa Indonesia Al-Ahgaff yang ke-14 yang ditandai dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang dalam berbagai kompetisi yang dihelat saat liburan lalu. Dilihat dari segi tata letak dan latar belakang, tampilan majalah terbitan Departemen Seni dan Budaya ini cukup atraktif. Berbagai gambar yang dipadu dengan kombinasi warna-warni indah di sekujur halaman membuat siapa pun tertarik untuk mendekat dan membacanya. Akan tetapi, bukan itu yang membuat saya merasa "tertarik" untuk menuliskan ini.

Saya tergelitik sewaktu pertama kali membaca salah satu judul artikel majalah itu yang berbunyi: "Pahlawan Dibalik Layar". Jika kalimat itu dilafalkan, memang tak ada masalah. Tetapi sebenarnya ada yang keliru dalam penulisan judul tersebut. Mestinya, kata "Dibalik" ditulis secara terpisah (dengan spasi), bukan dirangkai seperti itu. Karena "di" di situ bukan sebagai awalan (prefiks), tetapi kata depan (preposisi).

Kata depan atau preposisi adalah kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat dan biasanya diikuti oleh nomina atau pronomina. Preposisi bisa berbentuk kata, misalnya di dan untuk, atau gabungan kata, misalnya bersama atau sampai dengan. Sementara prefiks adalah imbuhan yang ditambahkan pada bagian awal sebuah kata dasar atau bentuk dasar. Misalnya: dimakan (bentuk pasif dari memakan), dari kata dasar "makan".

Menurut Pedoman Umum EYD, "Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada."

Kesalahan yang paling umum adalah penulisan seperti "disini", "dimana", dan "diantara"—sekadar menyebut beberapa—yang seharusnya ditulis "di sini", "di mana" dan "di antara". Kesalahan sejenis sering saya jumpai pada, misalnya, status Facebook dan linimasa Twitter. Biarpun begitu, saya tidak akan menyoal tulisan-tulisan di sana, karena di samping tidak ada aturan yang mengikat, kebanyakan tulisan di media sosial hanya sebagai luapan perasaan si pemilik akun yang ditulis secara spontan dan tanpa melewati proses penyuntingan.

Terus terang saya tidak menguasai aturan-aturan yang berlaku dalam dunia kepenulisan seperti: Pedoman Umum EYD, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, peluluhan fonem, afiksasi, dan sebagainya. Namun demikian, bukan berarti hal-hal seperti itu tidak saya perhatikan sama sekali. Meski belum bisa mempraktikkan semuanya, setidaknya, saya bisa mengurangi kesalahan-kesalahan yang galib terjadi dalam sebuah karya tulis, sedikit demi sedikit.

Selama ini—karena tidak pernah tamat SD—saya belajar bahasa Indonesia secara autodidak melalui buku elektronik (ebook), Wikipedia, surat kabar, jurnal, hingga majalah dinding seperti Aqwam Media. Selain menyerap informasi yang ada di media-media tersebut, saya juga memelototi foto artis hal-hal lain yang menurut saya menarik seperti peletakan tanda baca, penggunaan diksi yang tepat, cara pengutipan yang benar, dan lain-lain.

Sebagai karya jurnalistik yang menempati ruang publik, Aqwam Media mestinya bisa menjadi contoh yang baik sekaligus "guru" bagi orang-orang seperti saya. Kesalahan ejaan dalam penulisan judul, entah diketahui atau tidak, mestinya bisa dihindari. Apalagi majalah ini sudah terbit cukup lama (sudah ada jauh sebelum munculnya Ahgaff Pos dan Majalah Progresif) dan mempunyai reputasi yang baik di kalangan mahasiswa Indonesia.

Kembali lagi ke judul artikel dalam majalah Aqwam Media di atas. Selain salah dalam segi penulisan, makna "Pahlawan Dibalik Layar" menjadi tidak logis: "dibalik" adalah bentuk pasif dari "membalik". Saya khawatir, para pembaca salah mengartikannya menjadi "Pahlawan Dibalik [oleh] Layar" alih-alih "Pahlawan [yang berada] Dibalik Layar", sebuah metafora yang menggambarkan peran seorang pahlawan yang tak terlihat karena tertutup oleh layar/media. Tentu makna terakhirlah yang ingin disampaikan oleh si penulis.

Ketaksaan makna seperti itu terjadi akibat adanya kata dasar yang kadang-kadang dapat berfungsi sebagai verba dan nomina—dalam hal ini kata "balik". KBBI Daring memberi definisi begini untuk lema itu: (1) n sisi yang sebelah belakang dari yang kita lihat: bersembunyi di -- pintu; (2) v kembali; pulang: kapan ia -- ke Surabaya?. Yang pertama adalah kata benda (penunjuk tempat) yang bisa diberi preposisi, dan yang kedua adalah kata kerja yang (hanya) bisa diberi prefiks.

Beberapa kata yang bernasib sama dengan kata balik jika ditulis terpisah/tersambung adalah: dikarantina = bentuk pasif dari mengarantina, di karantina = di (tempat) karantina; dibui = bentuk pasif dari membui, di bui = di (dalam) bui/penjara; dikali = bentuk pasif dari mengalikan, di kali = di (dalam) kali/sungai; disalib = bentuk pasif dari menyalib, di salib = di (atas) salib, dan sebagainya

Amsal lain, kata "langgar" juga bisa kita susun menjadi kalimat cangkriman yang berbunyi: salat itu boleh di langgar, tapi tidak boleh dilanggar. Kalau ada orang yang mengatakan itu, suruh dia menulisnya. Dengan menuliskannya, kita baru tahu apa maksud dilanggar dan di langgar.

Spasi memang sekadar ruang kosong pada tulisan. Namun, seperti kata Bahasawan Ivan Lanin, ruang kosong ini kerap sangat berperan dalam meningkatkan keterbacaan suatu tulisan.

33 komentar:

  1. Diucapkan gak kentara yah, mas. tapi kalau tertulis akan bermakna lain. di- sebagai imbuhan disambung, dan di- sebagai keterangan tempat, ditulis terpisah. postingan ini mengingatkan diri saya juga, dan jadi semakin berhati-hati untuk menghindari kesalahan dalam penulisan. makasih, mas :)

    BalasHapus
  2. memang masih banyak sekali yang tidak bisa membedakan penggunakan di sebagai prefiks dan sebagai kata depan

    BalasHapus
  3. di Indonesia saat ini lagi marak-maraknya kata "kepo" mas.... artinya selalu ingin tahu
    ternyata 'kepo' ini kalau disalurkan untuk hal-hal yang positif bisa banyak ya manfaatnya

    BalasHapus
  4. WEB itu sering aku gunakan waktu pascal TK mencari kata-kata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hebat sekali, Mak. Baru kelas TK sudah diajari kata-kata dari kamus.

      Hapus
  5. Saya paling pusing kalo sudah nulis dengan berbagai aturan, pengennyan nulis ngalir aja, mau salah apa gak, terserah yg baca.........hahaaa.....,

    mungkin hal ini karena kurangnya pemahaman dari kita tentang pentingnya berbahasa Indonesia yang baik. kita belajar grammar mendalam tentang B. Inggris, namun tidak pada bahasa Indonesia. Jujur deh, coba tanya anak-anak SD-SMU yang mengerti tentang aturan sesungguhnya dalam Bahasa Indonesia. yang bener-bener paham jika seeorang mengambil jurusan khusus bahasa saja. *penilaian saya sich*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam bahasa percakapan informal, baik lisan maupun tulisan, memang kita tidak selalu harus taat asas menggunakan bahasa Indonesia sesuai pedoman yang berlaku. Tetapi, lain halnya kalau kita menggunakan bahasa Indonesia dalam tulisan "serius" (seperti majalah di atas). Saya selalu berusaha, dan masih harus terus membiasakan diri, untuk menulis (hanya) dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), sebagai bentuk kecintaan saya pada bahasa Indonesia.

      Hapus
  6. wahh tulisan yang mencerahkan, Mas Bad. aku juga masih sering menemukan, misal, kata di sini ditulis nyambung jadi disini. enak nih penulisan pengalamannya... tapi bener nih pengakuannya yang ngak tamat SD?? kok, ya bisa sekolah sampe Yaman, ya? ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan enggak ada persyaratan harus tamat SD untuk bisa sekolah ke sini :D

      Hapus
    2. ohhh, gitu to... berarti aku yang cuma tamatan SMP pun bisa kuliah di sana dong, Mas... *ngarep* hehehe

      Hapus
  7. Memang banyak cara penulisan yg tak tepat sesuai EYD spt ini. Bahkan di skripsi/laporan praktikum saat kuliah dulu umumnya perihal spasi atau tanpa spasi masih banyak yg keliru. Contohnya "kedalam" harusnya "ke dalam". Klo twitter sih susah mau sesuai EYD, spacenya terbatas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya saja kicauan Twitter, jadi enggak harus beraturan :)

      Oh, ya, hampir lupa, saya juga banyak belajar bahasa Indonesia dari tulisan-tulisan sampean, Mbak Eusry.

      Hapus
  8. Duh, udah lama gak belajar bahasa terutama liat kamus KBBI
    Makanya nyadar sendiri dengan tulisan yang gak sesuai EYD :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan di blog kan enggak harus sesuai EYD, Mbak Rizka :)

      Hapus
  9. Aku paham EYD baru setahun lalu, tuntutan kuliah. Kalau masa pesantren dulu, ada pelajaran B. Indo, tetep gak mau merhatiiin. Emang seharusnya dipisah, kalau digabung artinya jadi beda, kayak layarnya yang membalikkan tuh pahlawan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah sedang belajar bahasa Indonesia dan EYD, tapi bukan karena tuntutan kuliah :)

      Hapus
  10. Hi,
    Mau CD Original One Direction? Atau pulsa cuma-cuma? Yuk ikuti giveaway perdana saya di http://gebrokenruit.blogspot.com/2014/04/giveaway-take-me-home.html
    Ajak teman-temanmu sebanyaknya dan menangkan hadiahnya! Jangan sampai kelewatan ya.... #GATakeMeHome

    BalasHapus
  11. saya sendiri juga terkadang masih bingung gimana cara menggunakan kata2 yang tepat untuk EYD ini.. hehe butuh banyak kosakata dalam kamus ya biar bisa latihan :)

    BalasHapus
  12. padahal hal kyk gini terlihat sepele ya mas. tapi klo dibaca maknanya udah beda.. mksi ilmu EYD nya harus diperbaiki nih tatanankosakatanya

    BalasHapus
  13. Jeli banget mas... Kalau di pikir memang iya dibalik merupalan kata kerja tetapi konteks di atas memang merupakan tempat

    BalasHapus
  14. Wah jdi malu ni ,tp gpp wong belajar juga.

    BalasHapus
  15. oh gitu toh artinya, nice share deh gan :D

    BalasHapus
  16. bahasa indonesia memang sangat menarik untuk dipelajari, banyak berbagai istilah yang membutuhkan penafsiran yang mendalam. Apalagi sekarang ini indonesia gemar sekali menyerap berbagai bahasa asing. Coba saja perhatikan para pakar saat diwawancarai di TV atau artikel yang ditulis oleh pakar di koran nasional, pasti pakai bahasa aneh-aneh intelek :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mbak Eka. Sebagai orang Indonesia, kita harus bangga menggunakan bahasa sendiri. Tidak asal membeo orang asing (meminjam istilah Pak Salomo Simanungkalit).

      Hapus
  17. nah yang seperti ini nih kak yang terlihat sepele tapi sebenarnya penting..

    BalasHapus
  18. artikel yang bagus. terkadang orang juga masih ada yang salah dalam menggunakan bahasa indonesia terimakasih untuk postingannya

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!