Pages - Menu

Minggu, 27 April 2014

Kisah Lelaki Pengemban Amanat



Ilustrasi gambar oleh Remy Fernando.

Cerita di bawah ini pertama kali saya dengar dari KH Rohani—pemimpin Pondok Pesantren PELITA, Purwodadi, Jawa Tengah—saat menyampaikan ceramah dalam acara halalbihalal Keluarga Besar Mbah Rono Dipuro Sajam di Desa Pulokulon, Kabupaten Grobogan, kira-kira sewindu yang lalu.

Dan saya baru tahu, ternyata cerita yang disampaikan dai lulusan Yaman itu ada di bab akhir kitab Is'âdur Rafîq karya Syekh Muhammad bin Sâlim bin Sa'îd Babashail, seorang ulama besar asal Hadhramaut, Yaman. Kitab fikih-tasawuf ini tergolong langka dan jarang dimiliki oleh teman-teman mahasiswa Al-Ahgaff, karena di samping tidak masuk dalam silabus universitas, kandungan isinya juga terkesan "angker".

Saya sekadar ingin mengisahkannya kembali di blog ini agar dapat dibaca oleh siapa saja. Barangkali, ada di antara para pembaca yang dapat mengambil hikmah dari cerita berikut.

* * *
Alkisah, pada zaman dahulu, di Mekkah hidup seorang pemuda yang dikenal sangat jujur dan teguh dalam mengemban amanat. Bahkan kesohorannya tidak hanya di tempat tinggalnya saja, melainkan didengar hingga ke seluruh penjuru negara Arab.

Pada saat musim haji tiba, ia dititipi sejumlah uang oleh serombongan jemaah haji yang kebetulan melintas. Uang itu disimpannya dengan sangat rapi di rumahnya tanpa diketahui oleh siapa pun.

Ketika para jemaah haji itu selesai menunaikan kewajibannya dan hendak pulang, mereka mendapat kabar bahwa lelaki itu telah meninggal dunia. Sayangnya, lelaki itu belum sempat berwasiat dan memberi tahu di mana uang itu disimpan. Ahli warisnya pun tidak ada yang tahu-menahu perihal uang titipan itu.

Atas saran dari masyarakat sekitar, akhirnya mereka meminta fatwa kepada ulama-ulama setempat. Para ulama itu menjawab, "Saat tengah malam nanti, datanglah ke sumur zamzam dan panggil namanya. Jika lelaki itu termasuk orang baik, maka ia akan langsung menjawab pada panggilan pertama."

Mendengar saran yang demikian, jemaah haji itu langsung menuju sumur zamzam dan menunggu hingga tengah malam. Hatta, mereka memanggil nama pemuda itu sebagaimana yang disarankan oleh para ulama. Akan tetapi, jawaban yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang; tak ada suara sama sekali dari dasar sumur zamzam. Dengan sedikit putus asa, mereka kembali menemui para ulama dan menceritakan apa yang terjadi.

"Pergilah ke bumi Yaman (Hadhramaut)! Di sana ada sebuah sumur yang bernama burhut: tempat arwah para pelaku maksiat dan orang-orang kafir dikumpulkan. Panggil namanya dan jika dijawab, berarti ia termasuk orang-orang yang merugi," saran para pemuka agama itu.

Lalu mereka melaksanakan apa yang telah diperintahkan tersebut: melakukan perjalanan jauh ke arah selatan menuju negara Yaman. Konon, lokasi sumur burhut tidak jauh dari kampung pemakaman Nabi Hud—alaihissalam—di lembah Hadhramaut. Tempat tersebut sangat terisolasi dan termasuk daerah terlarang. Para pelajar dan peziarah tidak diizinkan mendatangi tempat itu, karena dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Syahdan, setelah rombongan itu tiba di bibir sumur burhut, mereka pun memanggil nama lelaki itu. Dan betapa kagetnya ketika mereka mendengar hatif yang menyahut dari dasar sumur yang memberi petunjuk tempat penyimpanan uang yang mereka titipkan. Karena masih diliputi rasa penasaran, rombongan itu bertanya, "Mengapa lelaki sebaik engkau bisa sampai tempat ini? Apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu?"

"Dulu semasa aku masih hidup, aku berselisih dengan saudara perempuanku. Ia sangat miskin dan karena itulah aku ennggan bertegur sapa dengannya. Aku belum sempat meminta maaf kepadanya hingga akhirnya ajal menjemputku. Dan sebagai hukumannya, Tuhan menempatkanku di sini," jawab hatif itu.

* * *
Pesan moral yang dapat diambil dari hikayat di atas: sebaik apa pun amal manusia di dunia, tidak ada gunanya jika ia memutus jalinan silaturahmi dengan saudaranya. Apakah Anda (masih) mempunyai kesalahan kepada orang lain? Segeralah meminta maaf sebelum semuanya terlambat.

26 komentar:

  1. Artikel yang menarik dan inspiratif mas, kesimpulannya jangan pernah memutuskan talisilaturhami ya mas karena banyak banget manfaat dari silaturahmi tersebut.

    BalasHapus
  2. Inspiratif ceritanya....jadi inget diri sendiri, seringkali aku mengabaikan sms teman2 lama, memilih tidak membalasnya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan enggak harus dibalas semua. Apalagi kalau kita lagi enggak ada pulsa :)

      Hapus
  3. kesimpulan yang saya dapat dari cerita ini: kita bisa ngobrol dengan orang yang sudah meninggal lewat sumur

    #abaikan
    #abaikansaja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha-ha-ha.... Saya tidak menyangka akan dapat tanggapan yang "luar biasa" seperti ini.

      Hapus
  4. Saya penasaran sama kitabnya... Konon kabar Hadramauth itu 'sumur'nya para Sufi ya sob? Kenapa bisa gitu ya? Posting tentang sejarahnya dooonnk ^^

    *pengunjungbanyakpermintaan :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setahu saya, di Surabaya sudah lama ada percetakan yang menerbitkan kitab itu. Ya, begitulah. Butuh waktu panjang dan banyak baca rujukan untuk menuliskan sejarahnya.

      Hapus
  5. menyambung tali silaturahmi dan meminta maaf itu penting banget ya :)

    BalasHapus
  6. berarti selagi masih hidup jangan lupa untuk berkomunikasi dan meminta maaf jika ada salah

    BalasHapus
  7. Warning buat diri sendiri nih. Thanks sudah share kisah dari kitab yang katanya angker itu :)

    BalasHapus
  8. Pelajaran berharga untuk selalu bersilaturahmi ya

    BalasHapus
  9. kalau kita yang di putus tali persaudaraannya giman? padahal kita sudah berusaha berbuat baik padanya.
    ini serius pulokulon grobogan?
    kita masih satu kabupaten dong. gak nyangka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita maafkan saja mereka dan doakan yang baik-baik.
      Iya, benar. Grobogan Bersemi. Sampean dari mana?

      Hapus
  10. jadi tertegun membacanya... memang bener yah, Mas, pesantren gudangnya cerita2 hikmah macem begini... cerita di atas kan sama saudara perempuannya yang masih keluarga. kalau sama temen karena sering "ditukari" lalu pilih mendiamkannya, itu bagaimana yah, Mas...?? ^__^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini yang sering terjadi antarteman sepantaran. Mungkin sebaiknya ngomong saja terus terang sebelum mendiamkannya.

      Hapus
  11. Trims sdh diingatkan melalui kisah ini.. :)

    BalasHapus
  12. ini termasuk cerita hikayat ya? saya kira cerita nyata jadi pengen baca lebih lanjut..

    salam dari karanganyar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukannya hikayat dan cerita itu bersinonim, ya? Memang, ada nuansa makna untuk entri "hikayat" antara kamus (KBBI) edisi terbaru dengan sebelumnya. Berikut kutipannya:

      KBBI edisi III
      hikayat n karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yg berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta.

      KBBI edisi IV
      hikayat n (1) cerita kuno (roman klasik) yg berisi hal-hal yg bersifat khayal, sering dihiasi dng peperangan yg hebat, dahsyat, serta kesaktian pelakunya, dsb; (2) riwayat; sejarah; kisah.

      Hapus
  13. subhanallah, ternyata emang penting banget yah menjaga silaturahmi itu :)
    terimakasih ya sudah mengingatkan..

    BalasHapus
  14. luar biasa ya kisah lelaki tersebut, bisa dijadikan pelajaran berharga untuk kita semua ya mas ;)

    BalasHapus
  15. yups benar...memutus silaturahmi sesama saudara adalah perbuatan yg dilarang oleh agama.....terimakasih sudah berbagi kisah yg mengingatkan diri ini....keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
  16. harus dicontoh nih lelaki tersebut ;)

    BalasHapus
  17. Ya Allah, ngeri bacanya... :(
    mari agendakan silarturahmi :)

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!