Pages - Menu

Selasa, 07 Juli 2015

Cangkriman Faraid

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini.
Sebagaimana judul tulisan ini di atas, kali ini saya akan membuat tebak-tebakan kepada para pembaca tentang ilmu pembagian harta warisan dalam Islam. Tidak hanya itu, saya juga akan memberikan pulsa Telkomsel sebesar Rp25.000,00 (dua puluh lima ribu rupiah) bagi siapa pun yang berhasil menjawab dengan benar.

Nah, sebelum saya mengajukan pertanyaannya, baca dan pahamilah narasi pendek berikut dengan saksama!

* * *
Segerombolan orang hendak membagi-bagikan harta warisan di antara mereka. Tapi sebelum mereka melakukannya, tiba-tiba datang seorang perempuan yang tengah mengandung tua.

“Setop! Jangan buru-buru kalian bagi harta itu karena aku sedang hamil,” kata perempuan itu. “Jika bayi dalam kandunganku ini nanti terlahir perempuan, maka ia juga berhak mendapat bagian. Namun jika ternyata laki-laki, maka ia tidak dapat bagian sama sekali.”

* * *
Pertanyaannya sekarang adalah, siapa saja segerombolan orang dan perempuan itu?

Jawaban bisa ditulis menggunakan salah satu dari 3 akun media sosial: Google Plus, Twitter, dan Facebook. Untuk Google Plus, silakan tulis pada kotak komentar di bawah; untuk Twitter, silakan kicaukan jawabannya dengan menyebut @luuthfie dan tanda pagar #CahPulokulon; dan untuk Facebook, sila berikan komentar pada salah satu kiriman di Halaman Facebook blog ini.

Seumpama jawaban Anda keliru, Anda masih boleh berkomentar lagi berkali-kali dengan jawaban yang berbeda. Dan jika ada dua jawaban yang benar, maka yang paling dululah yang saya menangkan.

Perlu diketahui bahwa ini adalah tebak-tebakan ilmiah. Jadi jawabannya hanya ada satu, eksak, dan logis. Tidak seperti tebak-tebakan nonilmiah pada umumnya yang jawabannya terasa ambigu dan dipaksakan.

Selain memberikan jawaban, Anda juga boleh bertanya apa pun yang berkaitan dengan ilmu faraid seperti bagian masing-masing ahli waris, perkara yang menghalangi seseorang mendapatkan warisan, dan lain-lain. Insya Allah saya—atau pembaca lainnya—akan menjawabnya. Siapa tahu, pertanyaan Anda bisa memberi semacam petunjuk untuk menjawab teka-teki di atas.

Kuis ini dimulai saat tulisan ini dipublikasikan sampai waktu yang tidak ditentukan—atau ada yang berhasil menjawab dengan benar. Selamat mencoba!

Jumat, 26 Juni 2015

Sepenggal Kisah di Pesantren Ash-Shufi

Guru-guru di MTs Terpadu Ash-Shufi.
Puasa tahun ini terasa amat berbeda. Jika 5 tahun terakhir saya menjalani puasa di negara orang dengan cuaca yang panas dan ekstrem, kali ini tidak demikian. Puasa tahun ini saya berada di Jawa Timur bagian selatan yang dikenal dengan suhunya yang dingin: Blitar.

Di Kota Koi inilah saya ditugaskan saat ini. Tepatnya di Pesantren Ash-Shufi yang diasuh oleh KH Imam Asy’ari. Adapun kegiatan belajar di pesantren ini selama bulan Ramadan adalah matrikulasi atau pembekalan siswa baru MTs Terpadu Ash-Shufi dengan materi utama Bahasa Inggris, Matematika, Biologi, dan pendidikan keagamaan. Bersama Mas Irvan dan Mas Zaka, saya diminta mengisi bagian keagamaan.

Pesantren Ash-Shufi beralamat di Jl. Trisula, Dusun Gogourung, Desa Dawuhan, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Jaraknya dari Kota Blitar lumayan jauh, sekitar 10 kilometer ke arah selatan. Dengan ketinggian tempat di atas 260 meter (dpl) dan perbukitan hijau di sampingnya, Pesantren Ash-Shufi memiliki kelembapan udara yang tinggi dan berhawa sejuk. Bahkan badan saya sempat menggigil kedinginan selama dua hari saat pertama kali tiba di sini. Mungkin karena saya belum terbiasa dengan udara dingin. Atau kemungkinan besar karena saya belum punya kekasih, sehingga kesulitan menemukan tempat bersandar yang berfungsi sekaligus sebagai penghangat badan.

Akan tetapi, sesungguhnya, bukan soal cuaca yang membuat puasa kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, melainkan soal lingkungan dan partner baru. Yang saya maksud partner baru di sini adalah wanita-wanita cantik yang juga direkrut sebagai tenaga pengajar di MTs Ash-Shufi.

Mereka rata-rata menempuh pendidikan formal di kampus atau perguruan tinggi, dan bukan santriwati tulen yang bertahun-tahun bermukim di pesantren. Meski begitu, tingkah laku mereka sangat islami. Hal itu terlihat dari, misalnya, gaya mereka mengenakan busana dan profesionalismenya saat berkomunikasi dengan lawan jenis.

Saya sangat sering berpapasan dengan mereka; saat menyiapkan menu buka puasa, makan di dapur, piket di kantor, sampai di beranda musala sebelum/sesudah salat berjemaah. Bahkan pernah suatu ketika ada yang mengetuk pintu kamar saya saat waktu azan telah tiba, sementara saya masih tertidur karena kecapaian.

Tentu saja, bagi mereka itu hal yang biasa, sehingga mereka bisa menjalaninya dengan enjoy. Tapi bagi saya, yang belasan tahun tidak pernah berinteraksi langsung dengan kaum hawa, semua itu pada awalnya terasa canggung dan kurang nyaman.

Jumat, 12 Juni 2015

Kafe Halte Tulungagung

Interior Kafe Halte. Foto: Facebook/Mahmud Janu
Mungkin karena terlalu  lama tidak memiliki pacar, saya mulai pandai menghibur diri sendiri. Ya, menghibur diri merupakan keahlian saya saat ini. Ada banyak hal yang bisa saya lakukan untuk menikmati kesendirian saya itu. Salah satu di antaranya adalah duduk santai di dalam kafe sambil berselancar di dunia maya.

Nah, omong-omong soal kedai kopi, jika kebetulan Anda sedang melintas di Kota Tulungagung, Jawa Timur, jangan lupa mampir di tempat nongkrong yang sangat asyik, Kafe Halte namanya. Kafe ini beralamat di Jl. Wahid Hasyim No.07, tepatnya di belakang masjid “alun-alun” Al-Munawwar. Lokasinya yang strategis membuatnya mudah dijangkau dari arah mana pun.

Saat pertama kali memasukinya, saya sama sekali tidak merasa canggung. Meski kafe identik dengan tempat berkumpulnya masyarakat urban yang glamor dan elite, tetapi Kafe Halte memberi suasana yang berbeda. Dengan interior dinding berpetak merah-putih dan kisi-kisi bambu di bagian tengahnya, Kafe Halte mampu menarik para pengunjung dengan latar belakang yang beragam. Hal itu dapat dilihat dari, misalnya, jenis busana yang mereka kenakan. Ada yang tampak religius dengan baju koko, sarung, dan kopiah. Ada yang tampil elegan dengan kaus dan celana jin. Ada pula pengunjung wanita yang tampak seksi dengan pakaiannya yang serbaminim....

Seperti biasa, suatu hari saya datang sendirian ke tempat ini sambil menenteng komputer jinjing. Saya biasanya hanya memesan secangkir kopi hitam (Rp3 ribu) lalu memilih tempat duduk lesehan. Dengan memanfaatkan fasilitas free hotspot dan secangkir kopi di samping, saya bisa menghabiskan waktu 2 hingga 3 jam—durasi yang hampir sama bagi sepasang kekasih yang sedang berkencan di kafe.

Selain aneka minuman hangat dan dingin, Kafe Halte juga menyediakan nasi dengan bermacam varian menu yang, sudah pasti, semuanya dijamin kehalalannya. Nama Halte sendiri merupakan akronim dari “halal tenan” yang secara harfiah berarti ‘benar-benar halal’.