Entri ini merupakan serial tanya-jawab atas
pertanyaan dari beberapa teman mengenai apa saja. Perbedaan dengan tulisan di
label Tanggapan yang lainnya, jawaban di sini saya tulis lebih singkat tanpa
ulasan panjang lebar. Dan untuk membedakan antara pertanyaan dan jawaban,
tulisan yang bergaya miring adalah pertanyaan, dan yang tegak adalah
jawabannya. Selamat menyimak!
***
Tahun lalu, Pemerintah
menolak pesaksian seorang perukyat di Cakung, Jakarta Timur. Alasannya, ketika
dimintai keterangan tidak sesuai dengan pendapat mayoritas ahli Hisab. Padahal
orang itu sudah disumpah dan secara hukum fikih mestinya diterima. Tanggapan
kamu?
Saya
sepenuhnya mendukung keputusan pemerintah itu. Secara intelektual, saya senang
sekali. Secara spiritual, saya kagum. Tetapi secara politis, saya sangat
terganggu. Ketika negara-negara lain mengkritik kebijakan Pemerintah Indonesia
yang menetapkan standar imkanur rukyat hanya sebesar 2 derajat yang dinilai
terlalu rendah, ada saja rakyatnya yang mengaku melihat hilal saat posisinya baru
1.3 derajat. Di lain pihak, ada kecurigaan di balik pesaksian tersebut. Karena jika
pesaksian orang itu diterima, otomatis akan menguntungkan ormas yang ia ikuti,
karena sesuai dengan metode hisab dan kalender yang telah mereka edarkan.
Bukankah dalam kitab fikih dijelaskan bahwa salah satu syarat dari saksi harus
terbebas dari tuduhan (baca: adamut tuhmah) semacam itu?!
***
Semenjak kapan bangsa
Arab mengenal tanda baca (harakat) dan titik pada aksara mereka? Dan siapa
perintis pertamanya?
Pada
awal mulanya, tulisan Arab memang tidak mempunya tanda titik dan harakat. Sampai
pada masa Abul Aswad Ad-Du'aliy (69 H), seorang tabi'in dari kalangan bani
Kinanah yang mempunyai nama lengkap, Zhalim bin Umar bin Zhalim al-Bashriy menyampaikan
keluhannya kepada sayyidina Ali karramallâhu wajhah atas kesalahan orang-orang
Arab dalam berbicara. Kesalahan tersebut ditinjau dari segi i'rab atau harakat,
mereka tidak bisa membedakan mana fa'il (pelaku) yang mestinya dibaca
rafa' dan mana maf'ul (objek) yang harus dibaca nashab. Atas instruksi
dari Sayyidina Ali, ia membuat pedoman bacaan sebagai solusi untuk memecahkan
masalah ini. Untuk mebedakan antara harakat satu dan yang lainnya, Abul Aswad
memberi tanda titik di atas huruf untuk menunjukkan harakat fathah, titik di tengah
untuk tanda dlammah dan titik di bawah untuk tanda kasrah.
Keadaan
ini berlangsung hingga masa Al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafiy (95 H) ketika muncul
permasalahan baru. Jika persoalan sebelumnya terkait dengan tanda baca, kali
ini menyangkut huruf-huruf yang mempunyai kemiripan bentuk, seperti ba' dan
ta', jim dan ha' dan sebagainya. Lalu Al-Hajjaj memerintahkan Nashr bin Ashim al-Laitsiy
(90 H) untuk memecahkan permasalahan ini. Nashr bin Ashim yang terinspirasi
dari gurunya, Abul Aswad Ad-Du'aliy, melakukan hal yang sama yaitu memberi (menambah)
tanda titik untuk membedakan huruf-huruf yang serupa tadi. Dengan demikian,
orang Arab sudah mengenal harakat sejak masa Abul Aswad ad-Du'aliy dan tanda titik-titik
pada abad pertama Hijriyah.
***
Waktu kuliah pelajaran
Fikih Muqaran kemarin, ketika sampai bab perbedaan matlak, Doktor Izzuddîn
As-Sûdâniy menjelaskan bahwa Matahari dan Bulan itu seolah-olah
berkejar-kejaran dalam peredarannya selama sehari semalam. Maksudnya bagaimana?
Bukankah Bumi mengelilingi Matahari dan Bulan mengelilingi Bumi?!
Sebelum
memahami pergerakan benda-benda langit, harus diketahui terlebih dahulu dari
sudut mana kita memandang. Dalam pelajaran IPA di kelas 3 SD, telah dijelaskan
bahwa bumi berputar mengelilingi matahari selama setahun. Sementara bulan
mengitari bumi selama sebulan sekali. Di samping itu, bumi juga berputar pada
porosnya (rotasi) yang mengakibatkan terjadinya siang dan malam. Jika dilihat
dari sudut pandang pengamat di bumi, maka seolah-olah keduanya (matahari dan
bulan) berputar mengelilingi bumi. Para ahli ilmu Hisab mengibaratkan
pergerakan dua benda langit tersebut dengan kedua jarum jam. Jarum pendek
adalah bulan dan jarum panjang adalah matahari. Jika kita perhatikan secara
saksama, kedua jarum tersebut seolah saling mengejar. Dan pada saat tertentu,
posisi keduanya akan lurus sejajar, seperti pada pukul 12.00, 13.05, 14.11, dan
seterusnya. Dalam dunia astronomi, keadaan sejajar matahari-bulan disebut
dengan peristiwa konjungsi atau ijtima'. Satu bulan astronomis (Syahr
falakiy) adalah interval antara satu konjungsi dengan konjungsi berikutnya.
Sedangkan bulan menurut syarak (Syahr syar'iy) ditandai dengan munculnya hilal
di ufuk barat sesaat setelah matahari terbenam. Hipotesis yang berkembang
adalah bulan terbit dari arah barat. Sebenarnya, baik matahari maupun bulan,
sama-sama terbit dari arah timur dan terbenam di arah barat. Namun saat
memasuki awal bulan baru, bulan "terlambat terbenam" dari matahari
hingga ia disangka terbit dari barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!