Pages - Menu

Kamis, 19 Maret 2015

Nyaris Pingsan di Alun-Alun Tulungagung

Taman alun-alun Tulungagung, Jawa Timur. Foto dari sini.
Minggu pagi (15 Mar) lalu, saya berencana cuci mata menyegarkan pikiran dengan jalan-jalan ke alun-alun Tulungagung, Jawa Timur, yang berfungsi sekaligus sebagai taman kota. Udara pagi itu masih sejuk ketika saya tiba di lokasi. Meskipun begitu, suasananya sudah sangat ramai. Banyak muda mudi bercelana pendek melakukan joging bersama keluarga atau teman-temannya. Para pedagang kaki lima juga sudah hadir dan membuka lapaknya dengan tertib.

Di salah satu sudut alun-alun, terdapat sebuah jongko yang menjajakan aneka menu sarapan dan minuman hangat. Saya pun tertarik dan langsung masuk untuk memesan secangkir kopi. Sambil memandangi orang-orang bertubuh seksi yang sedang lari pagi, saya menyeruput kopi dan menyantap beberapa kudapan yang tersaji di atas meja.

Sekitar dua puluh menit kemudian, saya merasa sudah cukup. Lalu saya mengulurkan selembar uang kepada pemilik warung. Tapi entah mengapa, ketika hendak berdiri, tiba-tiba perut saya terasa mual dan ingin muntah. Tubuh saya pun lemas dan pandangan mata menjadi agak buram. Bahkan uang kembalian dari pemilik warung tidak terlihat dengan jelas dan saya terima begitu saja tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Pikiran saya waktu itu hanya satu: keluar dari warung secepat mungkin. Saya tidak mau jika membuat pengunjung warung kesal karena saya—meski tanpa sengaja—melakukan hal yang tidak senonoh di hadapan mereka. Kalaupun harus muntah, biarlah di luar saja. Sekalipun di luar juga banyak orang.

Namun, baru beberapa langkah meninggalkan tempat duduk, mendadak tenaga saya menurun drastis. Saya berjalan terhuyung-huyung di atas trotoar dan nyaris roboh. Sementara tangan saya masih menggenggam lembaran uang Rp95 ribu. Untunglah tidak sampai jatuh pingsan. Dan payahnya lagi, saya sama sekali tidak bisa melihat sekitar karena semuanya mendadak hitam seperti jelaga. Seorang ibu yang duduk di depan warung tampak heran melihat keadaan saya. “Kenapa, Mas? Pusing? Ini saya punya balsam...” suaranya putus ditelan kegelapan.

Secara refleks, saya duduk mencangkung di pinggir jalan. Seperti orang frustrasi yang sedang patah hati karena baru saja diputus pacar. Sementara sayup-sayup suara manusia yang lalu-lalang seolah mengejek kesendirian saya.

Setelah beberapa menit bertahan dengan keadaan seperti itu, perlahan tenaga saya mulai pulih. Saya pun berusaha bangkit. Dengan sisa tenaga yang menempel di badan, saya berjalan menuju Masjid Agung Al-Munawwar. Di serambi masjid itu, saya langsung merebahkan badan, memejamkan mata, serta memasukkan kedua tangan ke saku celana agar uang dan ponsel saya tetap aman. Saya pun tertidur pulas.


Masjid Agung Al-Munawwar Tulungagung. Foto dipinjam dari sini.

Sejak usia mumayiz sampai Minggu pagi itu, sekali pun saya tidak pernah mengalami gejala-gejala akan pingsan, apalagi benar-benar pingsan. Biasanya orang pingsan sebab tidak tahan dengan terik sinar matahari atau karena terpukul. Tapi sungguh ironis, saya hampir pingsan justru ketika asyik duduk minum kopi di pagi hari sambil melihat pemandangan taman yang indah.

Selama itu pula—alhamdulillah—saya juga tidak pernah mengalami gangguan kesehatan yang serius hingga tak sadarkan diri. Meskipun pola makan-tidur saya sering kali tidak teratur. Saya kerap bergadang di depan layar komputer/televisi dan baru sarapan ketika hari sudah siang.

Mungkin ini semacam peringatan bagi saya untuk selalu menjaga kesehatan dan meperhatikannya terus-menerus, supaya kejadian seperti di atas tidak terulang kembali suatu saat nanti.

Atau jangan-jangan ... apakah ini teguran dari Tuhan agar saya tidak mencuci mata dengan melihat hal-hal yang dilarang agama? Astaghfirullâh.

31 komentar:

  1. semoga walaupun jalan2 tetep niatnya ibadah ya mas..silaturahmi dan mencari ilmu...

    BalasHapus
  2. ahh jadi kangen tulunggung nih. heemm,,

    salam kenal..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, jalan-jalan lagi ke Taman Kota Tulungagung!

      Hapus
  3. Masjidnya indah banget. Atau jangan-jangan jajanannya yang mengandung sesuatu gak Mas Lutfi. Jadinya bikin pusing dan mual.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya enggak deh, soalnya yang lain juga enggak apa-apa.

      Hapus
  4. waaaaaa mas persis yang saya alami mas abis minum kopi kita langsung teler mas.. kalo kata pak tabib saya hipotensi mas persis pagi" juga kejadiannya tapi kalo saya waktu itu pas lagi naik motor ehh terus menepi dah... keinget dosa mas pas waktu gelap gtu hadeehhh emng kita disuruh inget allah ams tobat teruss.... maksiat juga tetep jalan hadeehh manusia"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mas, dalam situasi apa pun seyogianya kita selalu ingat pada Allah.

      Hapus
  5. tulungagung, deket sama malang y? Kalau menurut saya sebaiknya jangan terlalu sering begadang, tidur tepat waktu, juga banyak minum air putih atau jus, kalau saya suka jus alpukat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan dekat, mungkin sekitar dua jam. Terima kasih atas saran-sarannya.

      Hapus
  6. Mayoritas alunpalun di Indonesia berdekatan dengan masjid agung yang tersohor di daerah tersebut. Ya, sambil menyelam minum air. Ketika lelah beraktivas di alun-alun bisa beristirahat dan beribadah di masjidnya.

    BalasHapus
  7. Hahaha... itu pasti gara2 ngeliat orang2 bertubuh seksi. Hapalannya langsung hilang semua, alias pingsan. Minum kopi sebelum sarapan memang bisa meningkatkan asam lambung. Mending minum susu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi pagi itu sebelum berangkat saya sudah sarapan, Mak.

      Hapus
  8. Pake kacamata item aja biar ga terlihat secara langsung mas wkwk

    BalasHapus
  9. kombinasi dari kondisi badan yang lagi kurang fit, perut belum ada isinya, dan kopi memang kadang nggak karuan begitu.
    tetep jaga kesehatan mas.
    biar tetep bisa jalan-jalan, makan-makan. pokoke mak nyus. #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo. kapan-kapan kita ngopi bareng di alun-alun Purwodadi. Bagaimana?

      Hapus
    2. (((kapan-kapan))) ya...
      tp gak mesti ngopi to? ngeteh saja yang lebih bersahabat dengan lambungku :)

      Hapus
  10. ujian mas. kembali ke negeri sendiri, diujilah 'ilmu' panjenengan. terima kasih sudah mengingatkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Semoga kita bisa saling mengingatkan, ya.

      Hapus
  11. paragrap penutupnya menarik sekali dan di luar dugaan, pas buat bahan renungan kita semua...

    BalasHapus
  12. jadi peringatan biar lebih jaga kesehatan lagii yah mas :))

    BalasHapus
  13. udahh 10 tahun gak ke taman tulung agung udha banyak perbedaanya kayaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang sudah ada tamannya, lengkap dengan air mancur, sangkar-sangkar burung dan kolam ikan.

      Hapus
  14. mungkin karena minum kopi di area situ mas. coba kalo ngopi di Waris (WKW) atau di Makten. mungkin gak sampai pingsan mas

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!