Pages - Menu

Kamis, 26 Maret 2015

Teks Obrolan “Temu Kangen” di Ponpes Fadllul Wahid

Perpustakaan Pondok Pesantren Fadllul Wahid.
Pondok Pesantren Fadllul Wahid merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam di Pulau Jawa yang luar biasa dan penuh dengan berkah. Luar biasa karena meskipun sistem pembelajaran di pesantren ini masih memakai metode klasik dan konvensional, tetapi para santrinya mampu bersaing dengan pelajar-pelajar lain dari seluruh Indonesia.

Saya dapat menyimpulkan demikian karena, selama lima tahun kuliah di Yaman, saya memiliki banyak teman yang tersebar di seantero pelosok Nusantara. Mulai dari Aceh di ujung barat Indonesia, sampai Papua di kawasan timur Indonesia. Mereka datang dari lembaga pendidikan yang beragam dan, tentu saja, dengan kecakapan intelektual yang berbeda-beda pula.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Negara Yaman (1 Oktober 2009), rombongan mahasiswa Indonesia yang berangkat bersama saya berjumlah 138 orang. Dari jumlah itu, yang mampu menyelesaikan studinya dalam rentang waktu normal—maksudnya 5 tahun—hanya sekitar 70 orang. Selebihnya, yaitu separuh dari jumlah keseluruhan, bisa dibilang gagal. Atau dengan ungkapan berbeda, mereka kalah bersaing dengan yang lain. (baca: Fenomena Seleksi Alam di Universitas Al-Ahgaff)

Sementara itu, kami semua yang berasal dari pesantren ini—saya, Ahmad Wahid, Suryono, dan Ubaidillah—termasuk 70 orang yang lulus pada tahun ini. Artinya, kami mampu bersaing dengan mereka yang berasal dari pesantren-pesantren lain yang jauh lebih bergengsi seperti Lirboyo, Kediri, Jawa Timur; Al-Hikmah, Brebes, Jawa Tengah; Darul Habib, Sukabumi, Jawa Barat; Al-Kautsar Al-Akbar, Medan, Sumatera Utara; Darussalam, Martapura, Kalimantan Selatan; Madrasah Al-Khairat, Palu, Sulawesi Tengah; dan sebagainya.

* * *
Ada beberapa penyebab mengapa sebagian dari mereka tidak bisa menyelesaikan kuliahnya pada waktu yang telah ditentukan. Seperti (1) tidak betah, mengingat kondisi cuaca di Yaman yang sangat ekstrem dan tidak bersahabat; (2) sakit, yang mengharuskan si penderita dirawat di Indonesia; (3) faktor keluarga, misalnya diminta untuk segera menikah dan/atau menggantikan posisi orang tuanya yang meninggal dunia.

Selain tiga faktor itu, satu hal lagi yang paling banyak dialami oleh mereka adalah gagal dalam ujian akhir semester. Memang, tidak dalam semua mata pelajaran mereka gagal ujian. Tetapi hanya beberapa materi asasi saja—seperti fikih, usul fikih, dan ilmu nahu—yang membuat mereka mengulang lagi satu tahun, atau bahkan dikeluarkan dari kampus secara paksa. (baca: Standar Regulasi Akademik di Universitas Al-Ahgaff)

Beruntung bagi kami—dan mereka yang datang dari pesantren tradisional—karena materi-materi asasi tersebut boleh dibilang tidak terlalu sulit. Meskipun terkadang kami juga gagal saat ujian akhir semester dan harus menjalani ujian remedi (daur tsani). Tetapi tidak sampai gagal untuk kedua kalinya sehingga harus mengulang lagi satu tahun.

Jadi intinya, kalian semua sangat beruntung bisa belajar di sini. Oleh karena itu, syukurilah kesempatan yang kalian peroleh ini dengan belajar yang tekun dan rajin mengaji; jangan terlalu banyak tidur dan mengopi. Memangnya ada, ya? Sudah banyak minum kopi, banyak tidur pula ... he-he-he.

Salah satu komplek di Pondok Pesantren Fadllul Wahid.

Tadi saya katakan bahwa Ponpes Fadllul Wahid, meskipun belum punya catatan historis yang panjang, adalah pesantren yang penuh dengan berkah. Mungkin saat ini kalian belum bisa merasakan berkah itu dalam bentuk seperti apa. Kalian akan merasakan berkah dari Ngangkruk—tanah tempat berdirinya Ponpes Fadllul Wahid—ketika sudah lulus atau boyongan. Nah, saya termasuk orang yang sudah keluar dan sedikit merasakan sensasi berkah dari pondok yang dirintis oleh KH Abdul Wahid Zuhdi ini.

Dulu, sebelum saya berangkat ke Yaman, banyak sekali pihak-pihak yang sinis dan meragukan kemampuan saya. Mulai dari adik kelas, teman seangkatan, sampai kakak kelas dan bapak pengurus. Mereka tidak menyangka orang seperti saya akan melanjutkan sekolah sampai ke luar negeri. Berbagai komentar negatif pun berseliweran. Salah satunya yang masih saya ingat, “Mengapa jauh-jauh pergi ke Yaman kalau cuma mau pindah tempat tidur? Buang-buang biaya saja.” Meskipun begitu, saya sama sekali tidak merasa tersinggung.

Namun saya pantang menyerah. Berbekal tekad serta restu dari pengasuh pondok dan kedua orang tua, akhirnya saya berangkat ke Lasem, Rembang, untuk mengikuti tes seleksi beasiswa ke Universitas Al-Ahgaff.

Sebulan berselang, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pengumuman hasil tes melalui pesan pendek menyatakan bahwa saya lulus dan diminta untuk segera melengkapi berkas-berkas yang diperlukan. Pemberitahuan ini tentu mengejutkan semua pihak mengingat saya hanya memiliki kemampuan yang pas-pasan dan sama sekali tidak diperhitungkan. Sementara dua senior saya, yang secara diam-diam juga ikut tes (tanpa minta restu ke pengasuh pondok), malah tidak lulus. Tentu saja, kedua orang tersebut sebenarnya jauh lebih mumpuni daripada saya serta mempunyai reputasi yang baik di lingkungan pesantren.

Sesampainya di Yaman, tantangan yang saya hadapi semakin berat. Di samping harus beradaptasi dengan lingkungan yang serbabaru, saya dituntut memahami—dan menghafal—seluruh silabus kampus. Saya juga harus berjuang keras mempertahankan hidup (dalam arti kata yang seluas-luasnya). Misalnya, untuk mendapatkan diktat yang harus difotokopi atau sekadar minum teh di kedai, saya terpaksa mencari pinjaman uang ke sana, ke sini, dan ke situ—salah satu keahlian saya sejak masih di pondok dulu sampai sekarang.

Namun demikian, alhamdulillah, masa-masa sulit itu telah saya lalui dengan lancar. Dan, saya merasa, apa yang saya capai saat ini tak lain dan tak bukan karena tuah dari Ngangkruk. Jika tidak, mungkin saya tidak akan pernah sampai ke Yaman dan menyelesaikan kuliah di sana sampai selesai.

* * *
Untuk itulah, bagi teman-teman yang merasa memiliki kemampuan yang pas-pasan seperti saya, tidak perlu putus asa dan berkecil hati. Dan bagi yang ingin melanjutkan studi di Timur Tengah, khususnya di Yaman, saya sangat mendukung sekali. Hal senada juga disampaikan pengasuh pondok kepada saya beberapa waktu yang lalu. “Dunia pendidikan Islam membutuhkan para santri yang memiliki inisial dal [maksudnya doktor] di depan nama mereka,” katanya. Karena hanya dengan gelar akademik seperti itu, kita bisa masuk ke perguruan tinggi di Indonesia yang, kalian tahu, menjadi lahan subur bagi sekte tertentu untuk menanamkan paham-paham mereka.

Memang benar, di mana pun kita belajar, hasilnya sama saja. Yang menentukan berhasil-tidaknya adalah keseriusan dan ketekunan seseorang itu sendiri. Tetapi ungkapan tersebut sering disalahpahami menjadi “belajarlah cukup di sini saja dan tidak usah ke mana-mana”. Padahal maksud sebenarnya bukan seperti itu. Karena bagaimanapun, lingkungan tempat seorang pelajar itu sangat berpengaruh terhadap karakter dan pola pikir yang bersangkutan.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya dengan tegas mengatakan, “Fî annar rihlah fi thalabil ulûm wa liqâ’il masyîkhah ziyâdatu fadhl fit ta’allum” (bahwa dalam proses belajar, melakukan bepergian untuk tujuan menuntut ilmu dan bertemu dengan ulama-ulama besar itu mempunyai keutamaan tersendiri).

Terakhir, saya berpesan kepada teman-teman untuk senantiasa menjaga etiket, menaati peraturan pondok, menghormati para guru, serta mendoakan masyayikh yang sudah berpulang ke rahmatullah. Jagalah nama baik pesantren yang luar biasa dan penuh berkah ini. Jangan sampai melakukan perbuatan yang merusak citra almamater yang telah mendidik kita selama ini. Dengan begitu, insya Allah kita akan mendapatkan limpahan berkahnya.


* Tulisan ini saya sampaikan saat memberi sambutan kepada teman-teman di PP Fadllul Wahid Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah.

15 komentar:

  1. Mas ,wah lama nda saya mampir ke sinil Mangap kalau nda nyambung sama artkel yang mas tulis YAMAN bergejolak tuh. wah ada cahos di YAMAN . Apa sebenarnya yang terjadi di sana mas?

    BalasHapus
  2. Kalo semua santri seperti panjenengan, kyknya lbh bnyak yg berhasil hehee... zaman skrg skrg sptnya santri/siswa/murid bnyak yg mulai kurang beretika kpd ustadznya/gurunya, jadi ya bisa dimaklumi kalo prestasinya jg berkurang... mgkin kurang berkah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya termasuk yang kurang berprestasi dan belum bisa membanggakan pondok ini.

      Hapus
  3. Allhamdulillah bisa membuktikan dan sukses mengejar impian belahar di Yaman ya. Duh anak-anak saya semoga bisa dapat beasiswa juga

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah ya,berarti gak sia-sia belajar di yaman :)

    BalasHapus
  5. Ah jadi nostalgia juga suka-duka mondok seperti itu. Alhamdulillah semua sudah dijalani dengan baik ya... Semoga ilmunya tambah berkah... Pengembaraan mecari ilmu adalah suatu hal yg selalu jadi keinginanku juga :)

    BalasHapus
  6. Saya tidak pernah mondok, tapi dulu berteman dengan anak-anak pondok. Bercanda dan berbagi ilmu adalah hal yang menyenangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak pondok memang punya gaya bercanda yang khas dan unik.

      Hapus
  7. bagus pondok pesantrennya, saya juga sama, jika kita diremehkan justru malah semakin termotivasi, keren pengalamannya, pasti banyak sekali mendapat ilmu baru selama lima tahun di Yaman, berbagai rintangan dan tantangan harus dihadapi, semoga menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat :)

    BalasHapus
  8. kenangan bgt ya mas selama mondok dipesantren itu kita bisa mengenal byk teman dri berbagai pelosok,belajar disiplin waktu juga krn smua fasilitas dipake rame2,heee... kt bpk sy stlh lu2s pesantren hrs te2p silaturahmi ke kyai ya mas biar ilmunya berkah :)

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!