![]() |
| Sumber gambar: high-schools |
Sudah semestinya kita sebagai pemakai bahasa Indonesia dituntut untuk menerapkan kaidah kebahasaan dengan cermat. Namun, dalam praktik sehari-hari, tidak jarang dijumpai penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar kita terhadap kaidah yang seharusnya ditaati. Salah satunya adalah ketidakcermatan dalam penggunaan diksi.
Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja saya membaca status seorang teman di beranda Facebook yang berisi tautan berita: Muhammadiyah dan NU Ingin PKB Pimpin Koalisi Partai Islam. Terlepas dari apa pun isinya, sebenarnya saya tidak terlalu menyukai berita politik—yang penuh dengan intrik—dan oleh karena itu saya tidak ikut berkomentar di sana. Akan tetapi, dari sekian banyak komentar yang muncul, ada satu yang membuat saya sedikit mengernyitkan dahi dan ingin menanggapinya di sini—tentunya bukan dari kacamata politik, melainkan dari aspek bahasa. Komentar itu berbunyi, "Gimana Partai Islam mau koalisi, PPP lagi carut-marut lho…"

