Pages - Menu

Minggu, 09 November 2014

Haul Imam Muhajir

Lokasi Haul Imam Muhajir di Husaisah, Hadhramaut.
Foto: Yuslan.
Senyampang masih di Hadhramaut, saya akan berusaha mengikuti setiap tradisi dan aktivitas keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Salah satu tradisi yang sudah berlangsung secara turun-temurun adalah peringatan wafatnya Imam Muhajir yang diselenggarakan setiap tanggal 15 Muharam di distrik Husaisah, sebuah daerah tak berpenghuni berjarak sekitar 20 kilometer dari Tarim ke arah timur. Tahun ini, Haul Imam Muhajir bertepatan pada hari Jumat, 7 November 2014.

Jumat sore (7/11) sesudah salat Asar, saya berangkat ke Husaisah bersama rombongan bus Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) di Universitas Al-Ahgaff. Ada 5 bus yang disediakan oleh panitia; satu berukuran besar dan selebihnya berukuran sedang. Selain rombongan itu, banyak juga yang berboncengan mengendarai sepeda motor. Saya dan seorang kawan rencananya pengin ikut konvoi bersama mereka, namun karena motornya sedang mogok, terpaksa saya ikut serta dalam rombongan bus itu.

Rombongan saya sampai di Husaisah sekitar pukul 17.30 KSA. Suasana sudah sangat ramai ketika saya tiba di sana. Bahkan bus yang saya tumpangi tidak bisa mendekat dan harus parkir agak jauh dari lokasi acara.

Begitu memasuki pintu gerbang, kami langsung disambut dengan tarian tradisional khas Yaman. Berbeda dengan budaya tari di Indonesia yang identik dengan perempuan cantik, di sini semua personelnya laki-laki yang sudah berumur. Penampilan mereka juga sangat kasual dan unik: mengenakan sarung, berserban merah, dan membawa tongkat melengkung sambil meneriakkan yel-yel yang saya sendiri tidak tahu apa artinya. Saudara kembar saya, Lutfi Ahsanuddin, menolak ketika saya ajak menyaksikan pertunjukan tersebut lebih dekat. “Kita ziarah dulu ke makam,” katanya.

Saya pun langsung menuju ke makam Imam Muhajir yang sudah penuh sesak oleh para peziarah. Untuk bisa masuk ke dalam, mau tidak mau saya harus mengantre sampai mereka keluar. Meski demikian, saya cukup beruntung karena di waktu yang bersamaan Habib Umar bin Hafidz juga berziarah. Jadi, saya “hanya” mengamini saja doa-doa yang beliau bacakan.

Acara berziarah selesai sesaat sebelum matahari terbenam.

Selepas salat Magrib, acara dilanjutkan dengan pembacan selawat dan puji-pujian kepada Rasulullah. Lalu dilanjutkan dengan ceramah-ceramah yang kemudian ditutup dengan akad nikah, doa, dan salat Isya berjemaah.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Gengsi Dong


Sumber gambar: Ganool.com

Sekalipun sudah berpuluh-puluh kali menonton film, sekali pun saya belum pernah membuat resensi. Oleh karenanya, perkenankan saya kali ini untuk (latihan) menulis ringkasan tentang film yang belum lama ini saya tonton: Gengsi Dong.

Mungkin sebagian besar dari Anda sudah pernah menontonnya, bahkan berkali-kali, karena film ini memang sering diputar ulang, terutama saat hari Lebaran. Ya, Gengsi Dong adalah film drama komedi tahun 80-an yang dibintangi oleh tiga pelawak legendaris—Dono, Kasino, dan Indro—serta penyanyi dangdut kawakan, Camelia Malik.

Film ini mengisahkan tiga orang mahasiswa yang sedang kuliah di ibu kota Jakarta. Mereka adalah Slamet (Dono), anak juragan tembakau paling kaya dari Solo, Jawa Tengah; Sanwani (Kasino), orang Betawi asli anak pengusaha bengkel mobil; dan Paijo (Indro), anak pengusaha minyak yang kaya raya. Dari latar belakang yang beragam itulah, mereka berteman dan bertemu dengan Rita (Camelia Malik), gadis paling cantik sekaligus putri seorang dosen yang mengajar di kampus tempat mereka kuliah.

Ketiganya selalu menjaga gengsi dan berlomba-lomba untuk menarik perhatian Rita.

Sanwani, misalnya, selalu mengibul bahwa dirinya tinggal di perumahan elite di daerah Menteng. Ia juga sering pergi ke kampus membawa mobil dari bengkel yang belum selesai didempul. Sementara Slamet, setelah dikompori teman-temannya karena tak punya mobil, akhirnya meminta kiriman uang dari kampung untuk membeli mobil. Berbekal uang Rp2 juta kiriman dari ayahnya, ia hanya mampu membeli mobil reyot—sebenarnya lebih tepat disebut opelet—yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak norak.

Hari-hari kuliah mereka jalani dengan ceria dan penuh tawa. Sesekali mereka mencuri kesempatan untuk kencan berdua dengan Rita dan merumrumnya melalui alunan lagu dangdut. Dan meski Rita tampak sangat akrab dengan ketiganya, sebenarnya tidak ada satu pun dari mereka yang ia taksir. Sebaliknya, masing-masing dari mereka bertiga justru merasa dirinyalah yang paling pantas dan berhak untuk menjadi kekasih Rita.

Puncaknya saat mereka diundang dalam acara ulang tahun Rita yang ke-20. Pada akhir acara, bapak Rita naik ke pentas dan menunjuk pria lain untuk menjadi calon suami bagi anaknya. Tentu saja, mereka bertiga kecewa berat. Bahkan Slamet yang sebelumnya tampil sangat percara diri sampai pingsan melihat kenyataan pahit itu.

Selain menghibur penonton melalui dialog dan adegan-adegan lucu, konon Gengsi Dong—dan film-film Warkop DKI yang lain—juga sarat muatan sindiran terhadap penguasa. Misalnya perkataan Sanwani saat memperkenalkan Paijo sebagai anak pengusaha minyak yang “hartanya banyak disimpan di luar negeri” atau pembelaannya kepada Slamet saat diejek Paijo “orang kaya kelakuannya memang begitu, kayak uang bapaknya halal saja.” Dan masih banyak lagi....

Meski Gengsi Dong merupakan film zaman baheula, setidaknya saya cukup terhibur dan menikmatinya—seperti sedang bernostalgia.

Pernahkah Anda menonton film ini? Bagaimana kesannya? Menarikkah?

Selasa, 07 Oktober 2014

Iktirad

Gambar kartun di atas diambil dari sini.
Hari Jumat lalu saya membagikan sebuah tautan di salah satu grup Facebook yang saya ikuti. Tautan tersebut berisi kritik atas keputusan pemerintah Arab Saudi yang menetapkan awal bulan Zulhijah 1435 jatuh pada hari Kamis (25 September) berdasarkan penyaksian sejumlah saksi yang mengaku melihat hilal. Alasan saya simpel: sehari sebelumnya (Rabu, 24 September) setelah matahari terbenam, posisi hilal di Mekah masih sangat rendah sehingga sangat sulit untuk dilihat, sekalipun menggunakan alat bantu optik.

Beragam komentar pun bermunculan. Banyak yang mendukung dan tertarik. Tak sedikit yang hanya menyimak diam saja. Ada pula yang terlihat “kaget” dan memberi respons tidak setuju.

Terus terang saya senang sekali jika ada yang mengkritik atau mengoreksi tulisan-tulisan di blog ini, baik dari segi isi, tata bahasa, maupun ejaan kalimatnya. Dengan catatan, tentu saja, kritik tersebut disampaikan dengan bahasa yang jelas, tidak berbelit-belit, dan disertai dalil ilmiah (jika diperlukan) sebagai pendukung gagasannya. Bukan asal bicara serampangan yang terkesan memaksakan pemahamannya sendiri dan membuat orang lain kesulitan menanggapinya.

Salah seorang penghuni grup Facebook itu—yang belakangan saya ketahui sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Al-Ahgaff—berkomentar begini, “Yang menulis di blog sangat tidak beretika, sangat tidak tahu ilmu falak. Hari Jumat ini memang Arafah.”