Pages - Menu

Senin, 01 September 2014

Fenomena Seleksi Alam di Universitas Al-Ahgaff (Angkatan 15 sebagai Contoh)



Fenomena Seleksi Alam di kampus Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff Tarim Hadhramaut Yaman
Gedung Fakultas Syariat dan Hukum Universitas Al-Ahgaff
di Kota Tarim, Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman.
Dalam kajian Ilmu Pengetahuan Alam tentang biologi, ada sebuah teori yang dikenal dengan sebutan natural selections (seleksi alam). Teori ini merupakan bagian dari teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Robert Darwin, seorang ahli biologi kelahiran Inggris yang hidup di awal abad 19 Masehi. Meskipun pada akhirnya, teori ini terbukti gagal secara ilmiah dan telah resmi dihapus dari kurikulum pendidikan nasional.

Konsep dari teori ini adalah, bahwa setiap makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan, yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya lama kelamaan akan binasa dan mengalami kepunahan. Yang tersisa hanyalah mereka yang mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Dan sesama makhluk hidup akan saling bersaing untuk mempertahankan hidupnya: yang kuat akan tetap bertahan, sedangkan yang lemah akan tersingkirkan.

Uraian di atas memberikan gambaran bahwa alam seolah-olah melakukan seleksi terhadap makhluk hidup yang ada di dalamnya. Sebagai contoh, seekor ikan betina mampu memproduksi butiran telur hingga mencapai jumlah ratusan bahkan ribuan. Adalah fakta bahwa jumlah sebanyak itu, secara alamiah tidak akan pernah menetas semua. Seandainya itu benar-benar terjadi, maka air laut yang begitu luas akan penuh sesak dijejali oleh ikan-ikan.

Untuk menanggulangi overpopulasi seperti itu, alam, melalui kekuatannya yang tak terduga, menyeleksi ikan mana saja yang harus dimusnahkan dan ikan mana yang berhak untuk terus hidup. Dimulai ketika masih dalam wujud telur atau embrio. Butiran-butiran telur itu akan mengalami benturan antara satu dengan yang lainnya, sehingga yang lemah akan pecah dan yang kuat akan tetap utuh. Boleh jadi, sebagaian telur itu musnah karena dimakan oleh induknya sendiri.

Tidak berhenti sampai di situ. Setelah telur-telur itu menetas, ancaman datang dari predator lain. Anak ikan yang tidak mewaspadai bahaya di sekitarnya juga terancam dimangsa ikan yang lebih besar. Begitu juga, ketidakmampuannya membaca gejala perubahan alam di sekitarnya, seperti pasang surut air laut, akan membuat nyawanya terancam.

Jika diperhatikan dengan saksama, ada kemiripan antara hikayat ikan (fenomena alam) di atas dan realitas kehidupan yang terjadi di kampus Fakultas Syariat dan Hukum Universitas Al-Ahgaff, Hadhramaut, Republik Yaman. Walaupun sudah ada penyaringan ekstra ketat ketika masih di Indonesia, kenyataannya para mahasiswa yang tidak mampu beradaptasi dengan keadaan lingkungan (dalam arti kata yang seluas-luasnya) di Hadhramaut dan kalah dalam kompetisi belajar, dengan sendirinya akan tersisihkan. Masih untung jika hanya mengulang satu-dua tahun. Banyak juga dari mereka yang, karena pelbagai macam alasan, secara otomatis langsung tersingkir dari lingkungan kampus.

Berdasarkan grafik dalam stambuk milik Asosiasi Mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Ahgaff, selama kurun waktu lima tahun, mahasiswa Angkatan 15 yang kini duduk di mustawa (tingkat) lima tercatat menempati posisi tertinggi dengan jumlah terbanyak, yaitu 136 orang. Jauh di atas dua periode sebelum dan sesudahnya: Angkatan 13 (66 orang), Angkatan 14 (95 orang), Angkatan 16 (84 orang), dan Angkatan 17 (119 orang).


Jumlah sebanyak itu terhitung sejak kedatangan mereka di Yaman (Oktober 2009) atau ketika petugas dari FORMIL (sekarang AMI Al-Ahgaff) melakukan sensus kependudukan untuk mendata semua pelajar dari Indonesia. Kini, setelah empat tahun berlalu, tentunya sudah banyak tragedi fenomena alam yang menyebabkan terjadinya penyusutan, baik di Angkatan 15 sendiri maupun angkatan yang lain.

Fenomena-fenomena itu antara lain, pertama, kegagalan seseorang dalam ikhtibar fashl (ujian akhir semester) dan ikhtibar takmili (ujian remedi) sebagaimana ketentuan yang telah diatur dalam Standar Regulasi Akademik di Universitas Al-Ahgaff. Fenomena inilah yang paling banyak memakan korban jika dibandingkan dengan faktor-faktor lainnya.

Kedua, tidak kerasan. Memang, dimaui atau tidak, hidup di negara orang itu tidak nyaman. Apalagi di Yaman yang secara geografis dikenal sangat panas, kering, berdebu, dan tidak mempunyai curah hujan yang memadai. Faktor kedua ini biasanya menimpa mahasiswa yang taraf ekonominya menengah ke atas dan sudah terbiasa dengan gaya hidup flamboyan. Sementara mereka yang tingkat ekonominya pas-pasan dan mempunyai tekad yang kuat untuk terus belajar cenderung lebih tabah dalam menghadapi kondisi cuaca Yaman yang tidak bersahabat.

Ketiga, sakit. Faktor ini juga jarang terjadi. Karena sebelum berangkat ke Yaman, para calon mahasiswa sudah diperiksa kesehatannya melalui tes darah untuk mengetahui apakah ia terbebas dari virus HIV atau Hepatitis B. Meskipun demikian, ada juga jenis penyakit yang tidak terdeteksi dan biasanya yang bersangkutan sudah pernah terserang penyakit itu dan ketika sampai di Yaman kambuh lagi. Untuk masalah ini, sebaiknya mengikuti anjuran dari dokter dan melakukan pemeriksaan secara berskala.

Keempat, melanggar peraturan. Banyak sekali peraturan dan tata tertib yang diterapkan di lingkungan kampus dan asrama. Mulai dari yang ringan-ringan seperti tidak mematikan lampu, kipas angin dan pendingin ruangan hingga kasus-kasus besar seperti bertengkar, merokok, dan mengunyah daun qat. Hanya pelanggaran berat yang bisa membuat pelakunya dipulangkan secara paksa ke negara asalnya.

Hatta, dari angka 136 itu, berapa jumlah mahasiswa Indonesia Angkatan 15 yang tersisa hingga saat ini dan sekarang duduk di semester sembilan/mustawa akhir?

Rabu siang kemarin, 11 September 2013, petugas dari Departemen Tata Usaha mengeluarkan pengumuman hasil ujian remedi sekaligus penentuan siapa saja yang berhak melanjutkan ke mustawa lima. Dari 42 nama yang terdaftar sebagai peserta ujian takmili (termasuk mereka yang gagal dalam ujian resitasi Alquran), setidaknya ada 7 (tujuh) orang yang gagal dan harus mengulang lagi selama setahun. Dan saat ini yang saya saksikan, hanya tinggal 73 (tujuh puluh tiga) orang yang beruntung bisa lolos dari seleksi alam tersebut.

Dengan demikian, jika dikalkulasi ulang mulai dari semester pertama, rasio korban keseluruhan adalah 46.32% dengan perincian 22.79% drop out dan 23.53% mengulang satu tahun. Atau jika dibuat rata-rata, maka setiap semester sekurang-kurangnya ada enam sampai tujuh orang yang menjadi korban seleksi alam, baik drop out atau i'adah (mengulang).

Akan tetapi, kegagalan dalam formalitas akademik seperti itu bukan berarti gagal dalam aspek intelektual. Dalam mengevaluasi (baca: menyeleksi) para mahasiswanya, Universitas Al-Ahgaff memakai metode ujian akhir semester yang standar kelulusannya adalah separuh dari jumlah nilai keseluruhan tiap mata pelajaran.

Dan sejauh ini, ujian semester di Universitas Al-Ahgaff telah menjadi momok yang menakutkan bagi seluruh mahasiswa, khususnya bagi merekatermasuk sayayang merasa kurang mampu dan mempunyai daya ingatan yang rendah. Walaupun begitu, sebenarnya nilai ujian tidak bisa sepenuhnya menjadi tolok ukur kualitas dan kuantitas keilmuan seseorang. Namun sayangnya, tidak, atau katakanlah belum, ada cara lain yang lebih efektif untuk mengetahui seorang mahasiswa layak atau tidak untuk dinaikkan ke jenjang berikutnya selain dengan cara ujian.

Selain itu, evaluasi pendidikan melalui ujian semester tidak bisa dilakukan secara komprehensif. Seseorang tidak bisa dikatakan cerdas jika hanya memiliki kecerdasan intelektual. Kecerdasan spiritual dan emosionalnya juga penting untuk dinilai. Dalam konteks ini, evaluasi pendidikan harus menyentuh aspek kognitif dan afektif secara bersamaan. Melalui ujian semester, hal itu tidak mungkin dilakukan.

Wawas Diri
Sebagai kaum akademisi, kita tentunya lebih menyukai bukti daripada spekulasi. Ya, bukti yang menyatakan bahwa tidak semua individu yang lemah akan musnah atau gagal dalam mengarungi bahtera kehidupan. Sungguh naif jika kita meyakini bahwa mereka yang gagal dalam ujian dan tidak bisa naik ke jenjang berikutnya dianggap kurang rajin, kurang mampu, kurang cerdas, kurang laik, dan sebagainya. Belum tentu yang berada di mustawa lima, misalnya, secara intelektual lebih unggul daripada mereka yang berada di mustawa empat dan seterusnya.

Pada alinea pengantar sudah saya katakan, seleksi alam adalah teori yang gagal. Artinya, tidak benar jika dikatakan bahwa individu yang lemah akan kalah dalam menjalani kompetisi kehidupan. Terbukti dari berbagai bencana alam yang terjadi selama ini, korban-korban yang berjatuhan tidak melulu mereka yang secara fisik dianggap lemah. Bahkan banyak juga para manula (manusia lanjut usia) yang masih bisa bertahan hidup hingga puluhan tahun lamanya. Di lain pihak, ada seorang pemuda yang dalam keadaan sehat walafiat tiba-tiba meninggal dunia tanpa ada penyebab yang jelas. Fakta itu cukup untuk membuktikan bahwa teori seleksi alam adalah sebuah kebohongan besar.

Begitu juga dengan kondisi di kampus Universitas Al-Ahgaff. Belum tentu mereka yang gagal dalam ujian semester adalah orang-orang lemah yang mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang terbatas. Setiap orang pasti mempunyai ketertarikan pada salah satu cabang keilmuan tertentu, sementara di Ahgaff hampir semua bidang keilmuan (agama Islam) diajarkan dan diujikan.

Bagi mereka yang gagal dalam ujian, juga tidak bijak kiranya jika berupaya untuk mencari kesalahan orang lain. Apalagi mempunyai asumsi bahwa ada dosen-dosen yang sengaja ingin menggagalkan dirinya. Cobalah mengintrospeksi diri sendiri. Setiap dosen tentu mengharapkan yang terbaik bagi mahasiswanya. Dan meluluskan seseorang yang gagal dalam ujiankarena memang kurang mamputentu bukan jalan terbaik.

Yang terpenting adalah, bagaimana kita semua masih mempunyai niat dan semangat untuk terus belajar dalam keadaan apa pun, termasuk ketika gagal dalam ujian dan tidak bisa naik kelas. Bagi yang lulus, saya ucapkan selamat dan jangan terlalu bangga dengan perolehan yang kalian dapat. Dan bagi yang tidak lulus, sabar, jalani dengan ikhlas, tetap semangat, jangan sampai tertinggal dan kalah dengan yang lain.


* * *

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Sekolah Impian yang diselenggarakan oleh Uni Murtiyarini.

52 komentar:

  1. Di sana, mematikan lampu dan kipas angin termasuk pelanggaran, ya, Mas? Daun Qat itu sejenis kinang, tembakau, atau malah mendekati ganja, Mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, ada kata yang kurang. Maksudnya tidak mematikan lampu dan kipas angin pada jam tertentu. Terima kasih atas koreksinya, Pak. Daun Qat lebih mendekati ganja karena bisa menenangkan pikiran sekaligus memberi rasa ketagihan, tapi tumbuhan itu di sini legal :)

      Hapus
    2. Oh, saya malah tidak tahu kalau ada kata yang hilang dalam kalimat itu. Saya kira karena faktor cuaca atau faktor lain, lampu dan kipas angin harus tetap menyala sehingga tidak boleh dimatikan. Hehehe...

      Apa pertimbangan pemerintah melegalkan daun tersebut, ya, Mas? Bukankah di sana justru spirit keislaman dalam pemerintahannya lebih kuat daripada di Indonesia?

      Hapus
    3. Mungkin karena zat adiktifnya sangat rendah sehingga tidak terlalu berbahaya, sama seperti rokok. Tapi ulama-ulama di Hadhramaut (Yaman bagian selatan) mengharamkan keduanya.

      Hapus
    4. saya menyimak obrolan diatas...sangat menarik seleksi alamnya ya

      Hapus
    5. Semoga sukses kuliah disana dan lolos dr seleksi alam.

      Hapus
  2. suatu kebahagian yang luar biasa sekali bisa menimba ilmu disana, jadi harus betul betul belajar dengan tegad yang kuat

    BalasHapus
  3. Betapa disiplinnya ya aturan yg mesti dipatuhi mahasisws di sana...

    BalasHapus
  4. wah Subhanllah saya mengikuti alurnya ams...lengkap dan keren sekali datanya... ini mantep sekali mas risetnya sampe ada presentasenya juga...saya nyerah daahh kalo logika ampuun hehehe mantep mas hehe smga menang ya mas aamiin

    BalasHapus
  5. saya baru gabung bikin blog nih blogwalking yuk

    BalasHapus
  6. sepertinya ketat banget ya, kuliah disini?

    BalasHapus
  7. kayaknya susah juga ya kuliah di Yaman -.-" kayaknya saya mundur deh :p
    di sana pakai bahasa yaman atau arab? kalau saya faktor bahasa bikin KO juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaman kan termasuk bagian dari Negara Arab! Di sini ada juga mahasiswi asal Indonesia.

      Hapus
  8. Harus penuh dengan semangat ya Lutfi untuk bisa menyelesaikan kuliah, apalgi di luar negeri yang berbeda sosio budayanya

    BalasHapus
  9. Abahku asalnya Hadhramaut, tapi aku malah belum pernah ke sana. Makasih share-nya, nambah wawasan. Btw, angka tidak perlu ditulis lagi jadi huruf, kecuali kalau kita sedang bertransaksi atau menulis untuk kuitansi. Good luck. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya malah baru tahu kalau Mak Haya masih keturunan Arab. Semoga bisa berkunjung ke sini dan terima kasih atas koreksinya.

      Hapus
  10. kayaknya kalau aku ikut ngampus disana bakal kalah juga dengan seleksi alam T,T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum tentu, Mas Iwan. Sampean kan orang sakti, he-he.

      Hapus
  11. Peraturan dan tantangan buat kuliah di sana ternyata sangat berat (untuk ukuran saya). Meskipun gak berasal dari keluarga berada, dan pernah masuk Pesantren dengan segala aturannya, tapi kalau seperti dijabarkan di atas tantangannya, saya kayaknya gak sanggup juga :( apalagi cuacanya panas, bisa emosian terus. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk ukuran orang Indonesia memang cukup berat. Tapi saya yakin, kalau Mbak Sofia mau ke sini pasti kuat dan bisa melewatinya.

      Hapus
  12. tumben tulisannya panjang kali ini. lihat terakhirnya ternyata ikut GA. tulisannya kali ini melengkapi kepingan tulisannya terdahulu tentang Universitas sampean, Mas. gambaranku makin mendapat bentuknya yang jelas tentang keadaan dan sistem pendidikan di sana. #rupanya angkatan 15 saya klik telusuri ada sampean juga Mas. berarti lolos "seleksi alam" juga yah... moga menang GA-nya, yah. aminn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas Suraji. Karena permintaan dari penyelenggaranya memang begitu (1000-1500 kata). Terima kasih atas doanya.

      Hapus
  13. Pada masanya Teori darwin ini sangat digandrungi.

    BalasHapus
  14. beda alam beda juga prilaku ya sob, wah daun qat, andai disini udah jadi apa itu daun yah sob :)
    sementara alam berputar, semoga sukses selalu yah sama cita2 nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beberapa waktu lalu ada selebritas Tanah Air yang tertangkap basah mengonsumsi narkoba. Dan setelah diselidiki ternyata obat tersebut ada kandungan daun qatnya. Terima kasih atas doanya.

      Hapus
  15. seleksi alam dan kemampuan beradaptasi, berkaitan pula dengan bekal alami yg telah dipaketkan pada setiap makhluk hidup utk fight dan survive.

    Sukses ya GAnya.

    BalasHapus
  16. wah peraturan disana ternyata lebih ketat ya mas :)

    BalasHapus
  17. Sekolah diluar negeri kudu punya tekad lebih. Jauh, berat diongkos pula.

    BalasHapus
  18. melanggar peraturan dan tidak kerasa, sebenarnya bukan hanya terjadi di Yaman..di Indonesia pun juga terjadi...menyebabkan banyak mahasiswa yang gagal dalam perkuliahan.......,
    keep happy blogging always...salam dari makassar :-)

    BalasHapus
  19. Duowo banget mas tulisane
    . Moga2 menang GA,nya

    BalasHapus
  20. Mwahhaha mas nya kuliah di sana kah? Faktor kedua bukan permasalahan ekonomi yang jadi fokus, si mahasiswa nggak betah tapi gaya hidupnya. Untung uda dikoreksi karena gaya hidup flamboyan nya. Banyak teman-teman di sini yang strata ekonominya di atas tetapi memiliki semangat dan daya juang yang hebat. Bahkan strata yang dibawah terkadang kelewat pasrah dan tak ada daya juang. Okeh, semangat, mas!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu saja. Tiap orang—terlepas dari latar belakang ekonominya—pasti mempunyai semangat dan daya juang yang berbeda-beda. Terima kasih, Mbak Puti.

      Hapus
  21. waaah peraturannya ketat banget yah.. lulusannya nanti pasti punya disiplin yang tinggi :)
    baca komen diatas, mas nya juga lolos selekse alam yah, semoga terus lolos sampai masa kuliahnya tuntas yah ma:))
    semangaaaaaatt ^^

    BalasHapus
  22. saya mau mengoreksi kata "wawas diri", yang benar mungkin "mawas diri" ya kak ?
    gudlak utk GA nya.\memang butuh seleksi ya mau masuk sekolah / perguruan tinggi favorit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Ina yang selalu mengoreksi tulisan saya. Tapi yang dibakukan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah wawas diri, bukan mawas diri. Coba lihat ini!

      Hapus
  23. Iyaa mas, terkadang anak2 yg terbiasa dari kecil hidup pas2an malah pny mentalitas yg lebih baik dibanding anak2 dg ekonomi mapan. Mereka pantang menyerah dan cenderung memiliki tekad yg kuat. Dan sependapat, menurutku gagal di akademik juga bukan berarti akan gagal di kehidupan...udah bnyak contohnya hehee. Smoga sampean sukses kuliahnya, juga GA-nya..Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Anton ini mungkin salah satu contohnya, ya? He-he-he.

      Hapus
  24. Setiap manusia itu punya kelebihan dan ketertarikan di bidang yang berbeda-beda. Ada yang jago di pejaran matematika, tapi kurang dipelajaran yang mengandalkan nalar. Juga banyak orang yang nilai2nya cukup bagus diatas kertas, tapi jika tampil didepan umum, mati kutu alias gelagapan. Pun, sebaliknya. Jadi, kalau disamaratakan hasil nilai ujian jelek, berarti siswa tersebut bodoh, bearti kita tidak melihat sisi lain dari seseorang. Karena bisa saja, siswa/mahasiswa yg nilainya jelak tadi, punya kelebihan dalam hal bermusik, jago menggambar, menulis, atau pintar berorasi.. Tp, sistem pendidikan dimana-mana, menilai seseorang itu pintar atau tidak, hanya berdasarkan bidang akademik semata. Padahal, pintar itu banyak sekali divinisinya. Sayangnya juga “seleksi alam” yang hanya mengandalkan nilai akademik semata, yang mengakibatkan siswa/mahasiswanya tertendang dari sekolah/ kampusnya, masih menjamur dan menjadi momok bagi banyak pelajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat! Terima kasih, Mbak Eka, atas tanggapannya yang panjang-lebar.

      Hapus
  25. sepakat deh dengan kalimatnya mbak Eka Fikriyah.....saya sangat menyayangkan bila ada orang yang menganggap kepandaian seseorang itu hanya dinilai dari kemampuan akademisnya saja, padahal setiap orang mempunyai passion, kemampuan dan style masing-masing dalam menonjolkan dirinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mbak Sri. Setiap orang mempunyai passion dan kemampuan yang beragam.

      Hapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!