Pages - Menu

Senin, 01 Desember 2014

Semua Akan (P)indah pada Waktunya

Antrean mahasiswa Al-Ahgaff di depan pintu gerbang
seusai salat Jumat. Foto: Adnan Widodo.
Meski sudah pernah saya jelaskan panjang lebar, masih saja ada yang bertanya kapan saya pulang ke Indonesia. Barangkali mereka belum membaca penjelasan ini dengan saksama. Mungkin juga mereka masa bodoh dan tak mau tahu tentang hal itu. Hmm ... ya, sudahlah.

“Ahli Tarim masih menginginkan kau tinggal di sini,” kata Muhammad Subli, teman sekamar saya dari Sulawesi, menghibur.

Boleh jadi omongan anak Bugis itu ada benarnya juga; saya masih harus menetap dulu di Tarim untuk beberapa hari ke depan. Banyak hal yang belum saya peroleh dari Bumi Para Wali yang penuh berkah ini—dan, bukan tidak mungkin, suatu hari nanti setelah sampai di Indonesia saya akan menyesal karenanya.

Tarim, seperti sudah diketahui banyak orang, adalah gudangnya ilmu sekaligus tempat bersemayam para ulama dan aulia. Lokasinya di Lembah Hadhramaut yang sunyi dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan membuat siapa pun yang menempatinya merasakan ketenangan yang tiada tara. Tak heran, karena suasananya yang kondusif itulah, Tarim menjadi destinasi favorit bagi para penuntut ilmu dari pelbagai negara.

Banyak orang memercayai bahwa mereka yang bisa berziarah ke Hadhramaut—khususnya Tarim—telah mendapat semacam panggilan mistis dari Tuhan. Di lain pihak, ada juga yang agak pesimis mengatakan, “Orang yang banyak dosa tidak berhak menginjakkan kakinya di bumi Tarim.” Untuk yang terakhir ini saya pribadi kurang setuju. Buktinya saya sendiri bisa datang ke tempat ini dan, barangkali, keterlambatan saya pulang ke Tanah Air akibat banyaknya dosa yang telah saya lakukan.


Suatu pagi yang dingin di depan kampus Universitas Al-Ahgaff, Yaman.
Fotografer: Muhammad Asep Zakariya.

Lima tahun—waktu normal yang ditempuh pelajar Indonesia di Universitas Al-Ahgaff—rasanya masih terbilang singkat untuk mengais ilmu di Kota Tarim. Bahkan, bagi saya, seumur hidup pun masih belum cukup untuk menguras seluruh permata ilmu yang tersimpan di negeri asal usul Wali Songo ini.

Lima tahun kuliah di Yaman merupakan momen paling mengesankan dalam hidup saya. Saya bisa bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang hebat dari berbagai etnik, suku, bangsa, dan negara tanpa memperbedakan status sosial dan latar belakang masing-masing. Dari mereka pula, saya belajar banyak hal tentang bagaimana menyikapi perbedaan.

Waktu pun terus berlalu.... Sudah barang tentu, saat-saat paling berat adalah ketika saya harus pulang meninggalkan kampus tercinta dan teman-teman yang saya banggakan. Meski pada dasarnya, kepulangan hanyalah perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Akan tetapi, kita tahu, perpindahan merupakan keniscayaan yang mutlak. Perpisahan dan perpindahan mesti terjadi pada waktunya nanti karena, kata Raditya Dika, hidup adalah semua tentang “perpindahan”. Kata perpindahan sengaja saya beri tanda kutip karena ia bisa ditafsirkan bermacam-macam, termasuk di antaranya perpindahan dari alam dunia menuju keabadian—surga.

Dan, saya yakin, selalu ada keindahan dalam setiap perpindahan.

22 komentar:

  1. Judulnya unik, ada kata "indah" dalam setiap perpindahan. Klop banget dengan isi ceritanya. Oiya, sepertinya kata "asal usul" perlu dikasih tanda penghubung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asal usul adalah frasa, bukan bentuk pengulangan salin suara seperti sayur-mayur atau karut-marut. Jadi, penulisan yang benar menurut Pedoman Umum EYD adalah asal usul (tanpa tanda hubung).

      Hapus
  2. Sukses ya mas . Sudah berhasil menyelesaikan studinya, segeralah kembali ke tanah Air untuk mendarma baktikan ilmu nya untuk bangsa dan Negara Indonesia tercinta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Semoga saya bisa bertemu dengan sampean di Indonesia nanti.

      Hapus
    2. Tentu. Oleh oleh Songkok dan Kopiahnya ditunggu

      Hapus
  3. hidup saya juga sering berpindah-pindah mas, mulai sejak lulus sd hingga sekarang masih saja saya suka pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, begitulah kehidupan, Mbak. Penuh dengan perpindahan.

      Hapus
  4. Hijrah ada sesuatu yang lebih baik... semoga Hijrahnya abadi mas manfaat buat tempat baru nanti dan Indonesia tentunya... saya kagum sama mas Lutfi yg dianugerah sampai hadraMaut kerenn mas... sy lagi bayangin bisa muncak di tebing" tinggi itu ams ...pasti seru liat sunrise atau sunset...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, kapan-kapan main ke sini. Jangan lupa bawa tripod dan kameranya.

      Hapus
  5. ayo kembali ke indonesia mas lutfi...indonesia udah kangen pada dirimu...dan selamat ya akhirnya udah selesai studinya :)

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah studinya sudah selesai, jangan terlalu lama di Tarimnya, Mas Lutfi.

    BalasHapus
  7. Semoga cepet pulang dan sebarkan kembali ilmu yang di dapat,.

    BalasHapus
  8. Wah, banyak nih yang menunggu Lutfi pulang, ke Indonesia. Pasti banyak bawa oleh-oleh ilmu, ya. Amin...

    BalasHapus
  9. Semua akan pindah pada waktunya. Mari kita berpindah menuju yang lebih indah. Begitu ya, Mas Lutfi. Dan, betapa indah beribadah sekaligus menuntut ilmu di Tarim :)

    BalasHapus
  10. Terima kasih semuanya—Mbak-Mbak di atas dan Pak Muhaimin. Hari ini insya Allah saya pulang ke Indonesia.

    BalasHapus
  11. semua akan pindah pada waktunya, sangat menarik sekali, memang saat paling berat adalah meninggalkan sesuatu yang kita sukai :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mas. Selalu ada kesedihan di balik perpindahan.

      Hapus
  12. lhoh, merujuk ke Raditya Dika :)
    semoga ilmu yang didapat selama 5 tahun bermanfaat nantinya dan penuh keberkahan..

    BalasHapus
  13. Pindah ~ Hijrah, setiap perpindahan ada nafas untuk doa-doa agar menjadi lebih baik lagi

    BalasHapus
  14. Masya Allah tabarokALLAH ... awsome bro ... wish u all the best

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!