![]() |
Perpustakaan Pondok Pesantren Fadllul Wahid. |
Pondok Pesantren Fadllul Wahid merupakan
salah satu lembaga pendidikan Islam di Pulau Jawa yang luar biasa dan penuh
dengan berkah. Luar biasa karena meskipun sistem pembelajaran di pesantren ini
masih memakai metode klasik dan konvensional, tetapi para santrinya mampu
bersaing dengan pelajar-pelajar lain dari seluruh Indonesia.
Saya dapat
menyimpulkan demikian karena, selama lima tahun kuliah di Yaman, saya memiliki
banyak teman yang tersebar di seantero pelosok Nusantara. Mulai dari Aceh di
ujung barat Indonesia, sampai Papua di kawasan timur Indonesia. Mereka datang
dari lembaga pendidikan yang beragam dan, tentu saja, dengan kecakapan
intelektual yang berbeda-beda pula.
Saat pertama kali menginjakkan
kaki di Negara Yaman (1 Oktober 2009), rombongan mahasiswa Indonesia yang berangkat
bersama saya berjumlah 138 orang. Dari jumlah itu, yang mampu menyelesaikan
studinya dalam rentang waktu normal—maksudnya 5 tahun—hanya sekitar 70 orang.
Selebihnya, yaitu separuh dari jumlah keseluruhan, bisa dibilang gagal. Atau dengan
ungkapan berbeda, mereka kalah bersaing dengan yang lain. (baca: Fenomena Seleksi Alam di Universitas Al-Ahgaff)
Sementara itu, kami
semua yang berasal dari pesantren ini—saya, Ahmad Wahid, Suryono, dan
Ubaidillah—termasuk 70 orang yang lulus pada tahun ini. Artinya, kami mampu
bersaing dengan mereka yang berasal dari pesantren-pesantren lain yang jauh lebih
bergengsi seperti Lirboyo, Kediri, Jawa Timur; Al-Hikmah, Brebes, Jawa Tengah; Darul
Habib, Sukabumi, Jawa Barat; Al-Kautsar Al-Akbar, Medan, Sumatera Utara; Darussalam,
Martapura, Kalimantan Selatan; Madrasah Al-Khairat, Palu, Sulawesi Tengah; dan
sebagainya.