Pages - Menu

Selasa, 16 April 2013

Memindah Penyakit pada Hewan


Menanggapi pertanyaan dari seorang teman di Facebook pagi tadi, bagaimana hukumnya memindahkan penyakit pasien kepada hewan?
Dalam kajian ilmu fikih, ada sebuah adagium yang sangat populer yaitu, "dar' al-mafâsid muqaddam alâ jalb mashâlih" (menolak kerusakan harus lebih didahulukan dari pada mewujudkan kesejahteraan).
Dalam permasalahan ini, menyembuhkan penyakit adalah menciptakan kesejahteraan. Sementara memindahkan penyakit tersebut pada hewan (misalnya) tentu menimbulkan mafsadah baru. Namun jika ada dua mafsadah yang berlawanan, maka sebisa mungkin untuk menghindari yang lebih besar. Dalam kasus ini, nyawa manusia dianggap lebih berharga dari pada hewan.
Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj Ibnu Hajar menuturkan, jika ada seseorang menyambung tulangnya yang patah dengan barang najis, maka sholatnya sah dan dia tidak wajib melepas kembali apa yang telah dia sambung. Hal itu terpaksa ia lakukan karena keselamatan dirinya terancam dan tidak ada benda suci lain yang bisa menggantikannya.
Bahkan Imam Romli yang mengikuti pendatap Al-Ghazâli memperbolehkan merobek bagian tubuh hewan untuk sekadar mengetahui apakah hewan tersebut mempunya darah yang mengalir atau tidak. Sementara Imam Haramain yang diikuti oleh Ibnu Hajar tidak memperbolehkannya, karena itu merupakan bentuk penyiksaan. Kedua pendapat ini dapat dijumpai dalam kitab Hasyiyah al-Bâjûriy pada Bab Thaharah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jawabannya adalah boleh, apabila sudah sampai batas dlorurot atau hajat, demi keselamatan manusia muhtarom dengan beberapa catatan.
Pertama, hal tersebut menjadi alternatif yang terakhir. Artinya tidak ada pengobatan lain yang dapat menyembuhkan.
Kedua, Pasien tersebut termasuk muhtarom 'inda al-syar'i (orang yang dimuliakan dalam pandangan Islam)
Ketiga, Sakitnya sampai kondisi mubihut tayammum (diperkenankan untuk bertayammum).

Wallâhu a'lam

Minggu, 14 April 2013

Al Buthi Meninggal Dunia


Malam itu, Kamis 21 Maret 2013, saya dan teman-teman sedang bercengkerama di kamar ketika tiba-tiba seseorang masuk memberi kabar bahwa Syekh Al Buthi telah meninggal dunia.
Berita tersebut sangat mengejutkan, karena sebelumnya tidak ada kabar apakah Al Buthi sedang sakit atau dirawat di Rumah Sakit. Semua penghuni kamar sempat tidak percaya karena hal itu sangat mendadak. Mereka kemudian sibuk mencari informasi lain dari internet.
Saya sendiri membuka Ensiklopedia Online Wikipedia edisi Bahasa Arab. Di bagian atas halaman tersebut terdapat klausul yang berbunyi, "artikel ini mengenai biografi tokoh muslim yang baru saja meninggal, sangat mungkin terjadi perubahan isi mengenai peristiwa kematiannya seiring masuknya data baru". Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji'ûn.
Pagi harinya, ketika saya mengikuti ziarah di pemakaman umum Zanbal bersama para masyayikh dan haba'ib Tarim, Al-Habib Umar bin Hafidz dalam ceramahnya menceritakan: "Hari ini seluruh umat Islam di dunia sedang berduka karena kehilangan salah satu ulama' besar. Malam tadi, diantara Maghrib dan Isya', ketika Syekh Muhammad Sa'id Ramadlan Al-Buthi sedang mengajarkan tafsir Al-Qur'an di masjid Al-Iman Damaskus, seseorang tak dikenal masuk dengan membawa bom dan meledakkannya di hadapan para hadirin. Belasan orang meninggal di tempat seketika dan sebagian dilarikan di rumah sakit."
Beliau melanjutkan, "Imam Bukhari meriwayatkan, jika ada seorang muslim dengan sengaja membunuh kafir dzimmi maka dia tidak akan mencium bau surga. Lalu bagaimana jika yang dibunuh adalah orang Islam sekaligus ulama' yang menjadi panutan umat manusia?!". Penjelasan Habib Umar di atas adalah berita resmi tentang meninggalnya Syekh Buthi seperti yang dilansir dalam situs aljazeera.net.
Pemerintah Syria menuding, aksi itu dilakakukan oleh sekelompok pemberontak. Sementara kaum oposisi menampik tudingan tersebut. Dari sejak perjuangan melawan Al Assad digelorakan, Front Pembebasan Suriah sudah bersepakat tidak menyerang ulama, masjid, dan tempat ibadat. Bahkan para pejuang memiliki etika untuk tidak melakukan serangan kecuali setelah pukul 10.00 malam.
Sementara itu, Dewan Komando Revolusi di Damaskus pada tanggal 9 April 2013 menyiarkan video di Youtube yang menayangkan saat terjadinya ledakan. Dalam video itu terlihat Syekh Buthi memperbaiki sorban di kepalanya sesaat setelah bom meledak di dekat mimbar yang ia tempati. Lalu seseorang datang menghampiri dan menghalangi kamera. Ketika orang itu berpaling, dari kepala Syekh Buthi mengalir darah. Karena dasar inilah para aktifis berkesimpulan bahwa Syekh Buthi dibunuh dengan tembakan bukan ledakan bom.
Video berdurasi kurang dari satu menit itu masih menyisakan beberapa kejanggalan; Pertama, kualitas gambar yang buruk menunjukkan video itu rekaman dari layar / televisi. Kedua, pada saat bom meledak, terlihat sosok orang yang sedang merekam layar tersebut. Ketiga, suara Syekh Buthi dan suara bom terdengar sangat jelas. Namun kenapa setelah bom meledak tidak ada suara sama sekali? Mana suara orang-orang yang ada di sana?
Keesokan harinya ketika saya sedang minum teh di warung depan, saya melihat siaran televisi yang menayangkan Dr. Taufîq Ramadlan putra dari Syekh Buthi membantah adanya penembakan di masjid. Ia menyatakan bahwa ayahnya meninggal sebab bom bunuh diri. Hal itu berdasarkan pengakuan para korban yang selamat.
Pertanyaannya, mengapa Syekh Buthi dibunuh? Menarik kiranya untuk menyimak analisa Samir Husain, seorang pemerhati pergerakan Islam yang mengemukakan alasan-alasan dibunuhnya:
1.     Al Buthi adalah khâtimus sirri (penutup rahasia), pemegang kartu truf rezim Al Assad. Karena Al Buthi lama menjadi penasihat Hafizh Al Assad. Ketika Al Buthi membelot, maka Al Assad khawatir segala aib dirinya terbongkar. Termasuk membongkar pelbagai kebijakan Al Assad yang berdamai dengan Israel, suap, korupsi, dan pembantaian.
2.     Al Buthi paham betul tokoh-tokoh yang berbaju ulama, tapi memiliki rencana busuk untuk menghancurkan kaum Sunni di Syam.
3.     Al Buthi dijadikan alat oleh Al Assad untuk meraih simpati dari kalangan Sunni, untuk digunakan sebagai propaganda memecah belah kesatuan Front Pembebasan Suriah yang semakin hari semakin banyak menuai sukses.
4.     Al Buthi dijadikan “maf’ûl bih” dan “maf’ûl li ajlih” maksudnya: sinyal bahwa siapapun yang melawan Al Assad akan dibantai, termasuk orang terdekat sekalipun.
5.     Al Assad melempar 2 burung dengan 1 batu. Maksudnya, mengorbankan Al Buthi agar rakyat Suriah -terutama Sunni- antipati terhadap para pejuang Front Pembebasan Suriah.

Dua tahun yang lalu Syekh Buthi sempat berkunjung ke Universitas Al-Ahgaff Tarim didampingi oleh Prof. Abdullah bin Muhammad Baharun selaku Rektor Universitas. Saya beruntung bisa menghadiri acara itu dan meyakini akan ketulusan, keikhlasan dan muru'ah yang dimiliki oleh beliau. Dan saya meyakini, apa yang beliau lakukan dengan mendukung rezim penguasa adalah bagian dari ijtihad. Jika salah mendapatkan 1 pahala, dan jika benar mendapatkan dua pahala. Saya yakin beliau adalah sosok terbaik. Bila ada kekurangan, saya meyakini kekurangan atau khilaf adalah hal yang lumrah dari manusia. Namun kekurangan yang sedikit, tidak boleh membuat kita mencaci maki. Terlebih yang mencaci maki hanyalah seorang bau kencur yang tak memiliki karya, amal shalih, hingga pengalaman hidup setinggi beliau.

Sabtu, 13 April 2013

Mengenang KH Abdul Wahid Zuhdi di Kota Seribu Wali


Tarim – (12/04) Untuk kesekian kalinya, teman-teman dari PP Fadllul Wahid Ngangkruk Bandungsari Ngaringan Grobogan menyelenggarakan acara baca Yasin dan Tahlil dalam rangka memperingati haul KH Abdul Wahid Zuhdi yang ke-5.
Karena jadwal belajar di Al-Ahgaff yang sangat padat, acara ini dimajukan satu hari dari jadwal semestinya yaitu hari Minggu pertama di bulan Jumadil Akhir. Sekitar 50 mahasiswa yang belajar di Universitas Al-Ahgaff Tarim Hadlramaut Yaman turut berpartisipasi dalam acara ini.
Tidak seperti biasanya, kali ini kegiatan tahunan tersebut diselenggarakan di Halaman Masjid Sahl karena jumlah tamu undangan yang cukup banyak.
Acara dimulai pukul 20.30 waktu setempat. Diawali dengan pembukaan yang dibawakan oleh Ahmad Muthohar sebagai MC. Selanjutnya, Ahmad Wahid selaku Ketua Panitia memberikan sambutan dan membacakanan biografi singkat tentang beliau sejak dari kecil hingga wafat yang ditulis oleh Muhammad Lutfi Hakim.
Pembacaan Surat Yasin dipimpin oleh Abdul Qohar (Suryono). Sementara untuk bacaan tahlil dan do'a, mengharapkan tuah dari dua keturunan Rasulullah s.a.w. yaitu Habib Abdullah Reza Al-Jufri dari Palu Sulawesi Tengah dan Habib Abdur Rahman Fahd Umar Al-Musawa dari Solo Jawa Tengah.
Meskipun tidak ditunjang dengan anggaran yang melimpah, acara berlangsung meriah dan para hadirin merasa sangat terkesan. Karena setelah selesai acara, mereka disuguhi makanan dan minuman khas Indonesia yaitu nasi pecel dan es teh. Hal itu tidak terlepas dari peran dari para juru masak profesional seperti Ubaidillah, Abdul Rahim, Ali Imron dan Nur Fuad.
Semoga do'a-do'a yang dipanjatkan malam itu juga diamini oleh para wali dan apa yang telah dilaksanakan santri-santri Bandungsari ini mendapat balasan dari Allah s.w.t. serta menjadi penyebab kelancaran mereka dalam menuntut ilmu di Tarim, kota indah yang penuh dengan keberkahan.


Sumber foto :  Ahmad Arif Salman