![]() |
Turbah Zanbal di Tarim, Hadhramaut, Yaman. |
Zanbal adalah
nama sebuah pemakaman yang sangat tersohor di Kota Tarim, Provinsi
Hadhramaut, Republik Yaman. Kemasyhurannya tidak hanya diakui
oleh penduduk pribumi saja, tetapi
juga terdengar hingga ke mancanegara. Saban tahun, para peziarah dari luar
Yaman, tak terkecuali Indonesia, berduyun-duyun
mendatangi tempat ini untuk mencari berkah dan bertawasul memanjatkan doa.
Ada sekitar sepuluh ribu aulia yang dimakamkan di Zanbal. Mereka yang berhak disemayamkan di sini adalah orang-orang dengan kriteria: (1) para habib keturunan Rasulullah dari Bani Alawi, (2) pelajar asing yang meninggal di Tarim, dan (3) orang yang mati syahid. Sementara untuk syekh-syekh dan para pemuka agama yang lain, tempat pemakamkannya adalah Furait; sedangkan warga Tarim biasa dimakamkan di Akdar. Dua pemakaman terakhir lokasinya tak jauh dari Zanbal, hanya dipisah dengan jalan raya. Secara keseluruhan, ketiga areal pemakaman tersebut dinamakan Bisyar.
Ada sekitar sepuluh ribu aulia yang dimakamkan di Zanbal. Mereka yang berhak disemayamkan di sini adalah orang-orang dengan kriteria: (1) para habib keturunan Rasulullah dari Bani Alawi, (2) pelajar asing yang meninggal di Tarim, dan (3) orang yang mati syahid. Sementara untuk syekh-syekh dan para pemuka agama yang lain, tempat pemakamkannya adalah Furait; sedangkan warga Tarim biasa dimakamkan di Akdar. Dua pemakaman terakhir lokasinya tak jauh dari Zanbal, hanya dipisah dengan jalan raya. Secara keseluruhan, ketiga areal pemakaman tersebut dinamakan Bisyar.
Banyak orang meyakini tempat ini keramat dan bertuah. Konon, barang siapa yang bertawasul di Zanbal dengan sungguh-sungguh dan niat yang ikhlas, maka doanya akan terkabul. Para pelajar Indonesia banyak yang telah membuktikannya sendiri. Seperti cerita saya di bawah ini.
Dulu sebelum berangkat ke Yaman, saya mempunyai kontak dengan seorang mahasiswa Al-Ahgaff di Yahoo Messenger, Ustaz Ade Machnun Saputra namanya. Seusai menjalani ujian seleksi beasiswa di Lasem, Rembang, saya meminta kepadanya untuk didoakan supaya lulus dan diberi kelancaran. “Insya Allah. Nanti saya tawasulkan ke Zanbal,” ujarnya kala itu.
Saya yang sebenarnya tidak begitu yakin dengan hasil tes, akhirnya dinyatakan lulus dan beroleh beasiswa ke Yaman. Padahal, dua kakak kelas saya—yang tentunya jauh lebih mumpuni—juga mengikuti tes seleksi ke Yaman, tetapi mereka tidak lulus. Akhirnya saya percaya dengan anggapan bahwa hanya orang-orang yang memang sudah terpanggil saja yang bisa datang ke negeri asal usul Wali Songo ini. Dan, mungkin ini juga tak lepas dari doa teman saya di atas.
Bertawasul—memohon atau berdoa kepada Allah dengan perantaraan nama seseorang yang dianggap suci dan dekat kepada Tuhan (KBBI)—bukan berarti meminta doa kepada mayit, apalagi menyembah kuburan seperti purbasangka sebagian kelompok. Analoginya seperti ini: jika kita mengajukan permintaan kepada gubernur, misalnya, maka kemungkinan dikabulkannya sangat kecil. Berbeda jika kita kenal dekat dengan si ajudan gubernur tersebut dan “bertawasul” dengannya, maka besar kemungkinan permintaan kita akan dikabulkan, bahkan tanpa harus mengantre terlebih dahulu.