Pages - Menu

Minggu, 03 Agustus 2014

Hakikat Berlebaran


Gambar ketupat diambil dari Wikipedia.

Yang akan saya sampaikan ini sebenarnya pernah dibahas oleh guru saya, KH Abdul Wahid Zuhdi, pada sebuah acara halalbihalal di Desa Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, bertahun-tahun silam. Saya sekadar ingin mengutarakan kembali apa yang sudah saya peroleh dari pandangan beliau tersebut.

Hari Lebaran merupakan momen istimewa bagi seluruh umat muslim. Karena pada hari itu, kita semua diharuskan untuk bergembira dan bersuka cita. Ya, Lebaran adalah waktunya bersenang-senang... sudah semestinya kita juga ikut senang menyambut kedatangannya. Tidak tepat rasanya jika pada hari kemenangan itu kita malah bersedih atau memperlihatkan muka murung (apa pun permasalahan yang sedang merundung).

Atau dengan ungkapan lain: Lebaran adalah waktunya kita santai, bergurau, dan menampilkan muka semringah, bukan waktunya untuk serius. Ibarat pegawai negeri, Lebaran adalah liburan, bukan hari dinas yang penuh dengan beban.

Akan tetapi, segirang apa pun kita menyambut Lebaran, bukan berarti kita bebas melakukan apa saja sekalipun itu dilarang oleh agama. Inilah yang sering disalahpahami oleh sebagian orang. Jangan sampai saking semangatnya, kita merayakan Lebaran dengan cara yang melanggar syariat, misalnya mabuk-mabukan di pinggir jalan atau berkhalwat dengan perempuan yang bukan mahram. Intinya, waktunya bergurau kita harus bergurau; waktunya serius kita juga harus serius—bisa menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya.

Saya berkata demikian supaya orang itu bersikap fleksibel, tidak kaku, dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Para sahabat nabi dulu juga demikian. Ketika mereka bertemu antara satu dan yang lain, mereka kadang juga berkelakar, misalnya dengan cara saling lempar kulit semangka dan sebagainya. Tapi ketika situasi menuntut untuk serius, seperti saat dalam peperangan, mereka akan serius.

Begitu juga ketika kita bertemu dengan kawan atau kerabat, sebisa mungkin kita pasang muka semringah. Bukan berarti kalau sudah menjadi orang besar—pejababat atau kiai, misalnya—seseorang harus selalu bersikap serius agar tampak berwibawa. Kadang-kadang tata cara berakhlak yang baik itu justru dengan meninggalkan akhlak itu sendiri.

Ambil contoh dua orang sahabat yang sudah berteman sejak kecil lalu mereka berpisah dalam waktu yang lama. Kebetulan yang satu menjadi ustaz kesohor dan yang lain berprofesi sebagai tukang becak. Apabila pada suatu ketika mereka bertemu, maka sang ustaz—yang dalam banyak waktunya dituntut bersikap formal—tidak usah berlagak angkuh dan jaga jarak. Sebaliknya, yang penarik becak juga tidak perlu merasa sungkan. Untuk sesaat, lupakanlah predikat “ustaz” dan “tukang becak” dan bertegursapalah seperti sedia kala, seperti sebelum mereka menjadi ustaz dan tukang becak. Inilah yang dimaksud dengan adagium dalam bahasa Arab minal adab tarkul adab (termasuk dari etiket adalah meninggalkan etiket itu sendiri).


* * *
Sebelum berangkat ke Yaman lima tahun lalu, saya pernah beberapa kali mengikuti acara halalbihalal Keluarga Besar Mbah Rono Dipuro Sajam, kakek buyut saya dari jalur bapak. Beliau ini mempunyai 9 anak (laki-laki dan perempuan) yang, uniknya, semuanya diberi nama dengan awalan dar-. Nenek saya (ibu dari bapak), misalnya, bernama Darmi sebelum akhirnya diubah menjadi Siti Khodijah.

Acara yang digelar setiap tanggal 4 Syawal itu bertujuan untuk mempererat jalinan silaturahmi antarkeluarga keturunan Mbah Sajam. Meskipun sudah diadakan berkali-kali, saya merasa belum merasakan esensi silaturahmi yang sesungguhnya. Tidak ada interaksi antarindividu sehingga saya tidak begitu akrab dengan mereka, malah ada yang tidak saya kenal sama sekali.

Mungkin hal itu disebabkan isi acaranya yang monoton dan itu-itu saja: ziarah ke makam, khataman Alquran, mendengarkan ceramah, berjabat tangan, lalu makan bersama. Semuanya terkesan formal dan suasananya tak jauh berbeda dengan pengajian di majelis taklim pada hari-hari biasa.

Inilah yang menurut Kiai Wahid kurang tepat. Seyogianya acara kumpul keluarga seperti itu diisi dengan semacam permainan atau perlombaan kecil-kecilan yang bisa menertawakan dan membuat hati senang. Tempatnya pun tidak harus di dalam ruangan, bisa di pelataran rumah atau taman yang luas.

Kegiatan seperti itu, kata Kiai Wahid, akan jauh lebih bermakna dan lebih memberi kesan daripada hanya duduk-duduk sambil khusyuk menyimak ceramah. Anak-anak kecil menjadi riang dan lebih akrab dengan sepupu atau saudaranya yang lebih jauh.

Saya tandaskan lagi, Lebaran adalah waktunya kita bersilaturahmi dengan perasaan gembira dan suasana yang santai, bukan waktunya untuk mendengarkan petuah tentang pentingnya menyambung silaturahmi dan ancaman bagi yang memutusnya.

27 komentar:

  1. Lebaran adalah makan opor, yeyyy makan opor... Polos amat saya -__- sama dapet THR Yeeyyyy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  2. bnyak pelanggaran syaiat saat silaturahmi lebaran, kadang dibuat reunian hura-hura sampe lupa jam sholat

    BalasHapus
  3. Ya itulah Lebaran... momen ketika THR ditunggu2 hehehe

    Komentar juga ya ke: http://j-samudra.blogspot.com/2014/07/jurnal-papandayan.html

    BalasHapus
  4. Lebaran..tentunnya baju baru. hahaha
    bagi keluarga dg banyak saudara, reuni pada lebaran adalah acara paling ampuh untuk saling mengenali saudara.
    Setuju banget klo acaranya sambil rihlah yang menyenangkan, namun tak melanggar dari esensi makna lebaran. Pernah mondok di langitan to?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak pernah, Mbak. Saya mondok di Purwodadi, Jawa Tengah, dan kiai saya itu masih keluarga dengan Pondok Langitan.

      Hapus
  5. selamat lebaran, mohon maaf lahir batin....

    BalasHapus
  6. Lebaran tidk terlepas dari prilaku intropeksi diri dan bersyukur ya Kang, karena dengan itulah kita selalu akan ingat akan nikmat yang telah diberkan Alloh SWT kepada kita dalam keadaan apapun. Terimakasih sharingnya kang.

    Salam

    BalasHapus
  7. Baru tahu ada istilah adagium, mas :). Hem, ya, setuju sama pesan Kiai Wahid, mas. Bisa lebih bermakna kalau acaranya seperti yang disampaikan beliau ;)
    Di tempat sampean belajar, lebaran kupat, serame di tempat saya gag ya :p?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya kosakata adagium, ya? Selama ini sepertinya kita memang lebih akrab dengan pepatah atau peribahasa.

      Lebaran di sini jauh berbeda dengan di Tanah Air. Enggak ada ketupat; enggak ada acara berkunjung ke tetangga. Tapi di sini ada uwad atau semacam gelar griya (open house) seperti yang di Indonesia.

      Hapus
  8. mengucapkan selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir batin

    BalasHapus
  9. Balasan
    1. Saya berlebaran di sini, Mbak Ocha. Sama-sama. minal aidin wal faizin

      Hapus
  10. Sama seperti keluarga saya juga mas. Di Bekasi, setelah ayah anda wafat, semua keluarga yang masih merupaan satu garis keturunan diundang untuk mulai saling bersilaturahmi. Saling mengena satu sama lainnya. Alhamduillah tradisi kumpul antar keluarga besar lengkap dengan sanak saudara masih berlangsung sampai sekarang. Keluarga, anak anak mereka dan cucu cucunya pada ngumpul, bersilatrurahmi. Apalagi saat idul Fitri kemarin, wah ramai sekali kayak Pasar Induk. Tumplek semua Hihiehiheiheiheiheiee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, pasti ramai sekali, ya, Kang Asep. Bahkan sampai seperti pasar induk, he-he.

      Hapus
  11. Minal Aidin Walfaidin Mohon Maaf Lahir Batin

    BalasHapus
  12. datang berkunjung kemari sambil mengucapkan minal aidin walfaidin mohon maaf lahir batin, jangan lupa kunbalnya ^_^

    BalasHapus
  13. berkunjung kemari sambil menyimak, Minal aidin walfaidin ya mohon maaf lahir batin, ditunggu kunbalnya

    BalasHapus
  14. Lebaran adalah momen penting bagi saya. dikarenakan bisa kumpul kumpul keluarga besar, bersilaturahmi dengan tetangga dan masyarakat setempat. Yang jauh pada merapat mendekat dan yang dekat pun semakin rekat erat, saling maaf memaafkan satu sama lain.

    Minal Adzin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mas Andriyatna. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

      Hapus
  15. wah saya jadi belajar banyak mas...suka sama istilah 2 sahabat yg jarang ketemu terus ketemu...bakal saya praktekan ilmu itu ^-^ mksh bnyk mas lutfi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas. Saya sekadar menyampaikan kembali pandangan kiai saya tersebut.

      Hapus
  16. selamat lebaran dan mohon maaf lahir batin
    (walaupun ngucapinnya telat gapapa kan hehe)
    bgmana suasana lebarannya kemarin kak?

    yang kumpul saat silaturahmi dari keluarga besar mbah sajam banyak sekali ya kak?
    kadang kita emang nggak akrab dgn keluarga yang garisnya udah jauhhh banget .

    BalasHapus
  17. mohon maaf lahir dan batin :)

    saya lebaran di jalan (mudik) -,-

    BalasHapus
  18. mohon maaf lahir dan bati.. lebaran memang suatu momen yang indah setelah kita berperang menahan hawa napsu kembali kepada peribadi masing masing setelah lebaran apakahh mempunyai keperibadian baru untuk lebih baik atau masih sama seperti dulu

    BalasHapus
  19. meskipun terlambat, saya tetap ingi mengucapkan met lebaran & mohon maaf lahir batin ya mas . mohn bisa dimaafkan kalau saya punya salah ;)

    BalasHapus

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!