![]() |
Suatu sore di lembah Hadhramaut, Yaman. Foto: Abdullah Reza Aljufri. |
Entah sudah berapa
kali pertanyaan itu mampir di telinga saya. Baik dari kawan lama, kerabat, anak
tetangga, maupun teman-teman “Santri Garuda” di Universitas Al-Afgaff, Hadhramaut, Yaman. Pertanyaan basa-basi
semacam itu, yang sering saya dengar setahun terakhir ini, belakangan membuat
saya kurang nyaman dan nyaris frustrasi karena mengarah ke pertanyaan lain.
Yang lain sudah
pada pulang, kenapa kamu belum?
Beberapa teman satu
angkatan memang sudah pulang ke Tanah Air, malahan di antara mereka—seperti Faqih Ahmad dan Saifullah Sya’ir—sudah
asyik berlebaran
di rumah bersama keluarga. Ada juga yang sedang dalam proses kepulangan; ada
juga yang belum bisa memastikan waktu mudik secara tepat.
Saya pikir siapa
pun pengin cepat-cepat pulang ke Indonesia, terutama mereka yang sudah
bertahun-tahun tinggal di Yaman. Apalagi jika melihat kondisi politik dalam
negeri saat ini yang masih belum stabil; berbagai aksi unjuk rasa dan serangan
kelompok separatis, misalnya, masih berlangsung di beberapa tempat. Bahkan
kawan saya yang pulang belum lama ini terpaksa singgah berhari-hari di ibu kota Sana’a karena jalan menuju bandara ditutup
oleh para demonstran.
Ada beberapa alasan
mengapa kami masih tetap di sini, setidaknya untuk beberapa minggu ke depan. Sebagian
besar karena ingin menunaikan ibadah haji terlebih dahulu, mumpung masih di Negara
Yaman—mengingat sulitnya berangkat haji dari Indonesia yang harus menunggu selama
7 sampai 10 tahun. Di samping itu, sebagian yang lain juga masih menjalani
ujian remedi (daur tsani) serta belum menuntaskan hafalan Alquran 10 juz sebagai syarat pengambilan ijazah.
Selain tiga faktor tersebut,
faktor ekonomi—seperti yang dipermasalahkan pasangan yang ingin segera
menikah—juga menjadi kendala utama. Sekadar informasi, semua mahasiswa
Al-Ahgaff asal Indonesia mempunyai simpanan uang sebesar $500 yang dititipkan
kepada pihak kuliah untuk dibelikan tiket pesawat. Sayangnya, dana tersebut belum
bisa cair dalam waktu dekat ini dan, kabarnya, baru bisa diambil setelah liburan
Iduladha nanti. Walhasil, mereka yang nekat pulang lebih awal terpaksa harus membeli
tiket dengan uangnya sendiri. Tentu saja tidak semua mahasiswa punya duit
sebanyak itu.
Sampai tulisan ini
diterbitkan, saya sendiri belum bisa memastikan waktu kepulangan secara tepat.
Bukan karena saya betah tinggal lama-lama di sini, tetapi karena pelbagai alasan
yang telah saya sebutkan itu.