Pages - Menu

Minggu, 16 Maret 2014

Rihlah Keliling Yaman dan Pulau Sokotra



Tempat Wisata di Yaman
Gedung-gedung bertingkat yang terbuat dari
tanah liat di kota Syibam. Foto: ar.wikipedia.org

Awal Februari lalu rencananya saya dan teman-teman mahasiswa Indonesia Angkatan 15 Universitas Al-Ahgaff akan berwisata mengelilingi Yaman. Berbagai persiapan untuk menyukseskan kegiatan itu telah dilakukan. Mulai dari membuat surat perizinan, surat undangan, jenis bus yang layak pakai, juru masak yang andal, perkiraan tarif, hingga spanduk dan lain sebagainya.


Seorang teman dengan sangat antusias berkata, "Lima tahun tinggal di Yaman, masak enggak sempat mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sini? Kapan lagi momentum seperti ini datang? Rugi dong kalau cuma mendekam di Hadhramaut?"

Persiapan di atas sebenarnya sudah dilakukan cukup lama, tepatnya lima bulan yang lalu saat acara kumpul bareng di kolam renang. Dan tampaknya, adagium "Manusia boleh berkehendak, tapi Tuhan-lah yang menentukan" belum terlintas di benak kami waktu itu.

Akhir tahun 2013 lalu—kalau tak salah ingat—terjadi insiden peledakan bom di kantor Kementrian Pertahanan Yaman di ibu kota Sana'a. Disusul kemudian "pembantaian massal" di sebuah rumah sakit yang dilakukan oleh sekelompok teroris yang diduga termasuk jaringan Al-Qaeda. Belasan orang tak berdosa tewas seketika.

Dari hasil rekaman kamera pengintai (CCTV), cuplikan video dua insiden tersebut dengan cepat beredar luas di Youtube. Kami yang jauh derada di Yaman Selatan dengan mudah melihat itu melalui internet. Saya sangat sedih melihat korban berjatuhan akibat ketidakmanusiawian orang-orang yang tak bertanggung jawab. Di samping itu, saya juga sedih karena rencana wisata keliling Yaman yang sudah disusun matang berbulan-bulan terancam gagal.

Benar saja, hingga hari Senin terakhir bulan Maulid atau masa ujian semester  berakhir, izin yang ditunggu-tunggu tak kunjung diberikan oleh pihak kuliah. Itu artinya, dengan kata lain, kami dilarang melakukan perjalanan ke luar kota. Dan ini bukan kali pertama pihak kuliah melarang para mahasiswa berkeliling Yaman. Tahun lalu, kakak kelas kami (angkatan 14) juga bernasib sama. Alasannya tentu sangat jelas: demi keamanan.

Kini, kami hanya bisa memandangi foto-foto yang tercetak di lembar undangan yang dibagikan kepada teman-teman. Foto-foto itu menampilkan pemandangan tempat wisata yang rencananya akan kami kunjungi. Sebagian di antaranya sudah pernah saya kunjungi, seperti "kakbah" Raja Abrahah di kota Sanaa Lama, wadi Dau'an yang terkenal dengan madu alaminya, kota Syibam yang terkenal dengan gedung-gedung bertingkat yang terbuat dari tanah liat, dan sungai buatan di kota Mukalla (ibu kota Provinsi Hadhramaut).

Rabu, 12 Maret 2014

Pemenang Giveaway Blog Walking



Sumber gambar: cantikalayanti.blogspot.com
Sebulan telah berlalu sejak saya mengadakan giveaway di blog ini. Selama itu pula, tercatat sebanyak 67 (enam puluh tujuh) narablog dari berbagai daerah telah ikut bergabung—termasuk yang menulis data diri di kotak komentar Facebook. Berikut nama dan alamat mereka beserta link aktif yang menuju blog masing-masing:

Senin, 03 Maret 2014

Pulsa Hilang



Kartu As adalah salah satu produk dari Telkomsel
Logo Kartu As diambil dari sini.
Sabtu sore (1 Mar) menjelang magrib, saya kaget bukan kepalang. Penyebabnya bukan karena melihat daftar "korban" seleksi alam di Universitas Al-Ahgaff yang kebanyakan adalah teman dekat saya, tetapi lantaran sebuah teks balasan di layar ponsel yang berbunyi, "Sisa pulsa Anda Rp0. Penggunaan pulsa di periode ini Rp44.000. Aktif s.d. 10/03/2014." Malam hari sebelum pergantian bulan, teks tersebut masih begini, "Sisa pulsa Anda Rp43.000. Penggunaan pulsa di periode ini Rp1.000. Aktif s.d. 10/03/2014." Alhasil, dalam tempo kurang dari 24 jam, pulsa senilai Rp43.000 raib entah ke mana.

Mereka yang akrab dengan peranti elektronik hape, terutama pengguna produk Telkomsel, tentu tahu bahwa kutipan teks di atas adalah layanan balasan dari *888# untuk mengecek sisa pulsa kartu prabayar (simPATI/Kartu As). Selain layanan itu, Telkomsel juga menyediakan layanan untuk mengecek transaksi terakhir (telepon, sms, atau paket data) dengan cara mengakses *887# lalu tekan OK.

Saya termasuk tipe orang yang tak suka gonta-ganti pasangan, termasuk untuk urusan nomor telepon. Sudah hampir 6 tahun ini, ketika teman-teman sudah "berselingkuh" dengan operator lain, saya masih setia memakai kartu As—salah satu produk Telkomsel—meskipun banyak operator seluler lain yang menawarkan tarif promo yang lebih murah.

Empat tahun yang lalu, ketika saya hendak meninggalkan tanah air untuk waktu yang cukup lama, nomor saya pernah diminta oleh seseorang namun saya tolak. Bahkan seorang wanita pelayan (call center) di Gerai Halo Cabang Purwodadi yang menyarankan "Sebaiknya ganti nomor saja. Biaya internasional roaming itu mahal, apalagi Bapak akan tinggal di sana dalam jangka panjang." hanya saya jawab dengan senyuman manis, alih-alih mempertimbangkan masukannya tersebut.

Alasan saya cukup sederhana. Saya tidak mau repot menyalin semua kontak nomor di memori SIM dan menyebar pesan pendek (sms) "Ini nomorku yang baru. Tolong disimpan, ya!" setiap kali ganti nomor—sebagaimana yang dilakukan oleh salah seorang teman. Selain itu, saya tidak ingin mengecewakan teman-teman lama yang ingin berkomunikasi melalui telepon atau sms.