Pages - Menu

Sabtu, 18 Mei 2013

Khataman Minhaj



Pertengahan bulan Mei seperti ini di negara-negara Arab, tak terkecuali Yaman, sedang mendekati puncak musim panas. Udara terik di siang hari membuat siapa saja enggan untuk keluar dari asrama, walaupun hanya sekadar membeli minuman di warung depan yang hanya berjarak 50 meter. Suara angin yang berhembus dari celah-celah tebing seolah merayu kami untuk kembali ke kamar dan leyeh-leyeh saja.
Dalam keadaan yang tidak nyaman seperti itu, saya dan teman-teman kelas 4 Syu'bah Ba' harus bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke luar kota untuk menyelesaikan kajian kitab Minhajut Thalibin yang sudah berlangsung selama empat tahun. Jika tidak karena pentingnya arti rihlah kali ini, saya pasti lebih memilih untuk tidur dari pada menyiksa diri seperti ini.
Kamis, 16 Mei 2012 kemarin, setelah selesai makan siang, saya bersama sekitar 30 teman yang lain berkerumun di depan gerbang asrama menunggu kedatangan bus yang akan mengangkut kami. Jarum jam menunjukkan pukul 13.40 ketika bus yang kami nanti-nanti memasuki halaman kampus. Saya langsung masuk dan mengambil tempat duduk di samping pintu. Teman-teman yang lain juga bergegas masuk. Awalnya saya heran, kenapa busnya tidak kunjung jalan? padahal kursi penumpang sudah terisi penuh. Rasa heran saya berubah menjadi kaget ketika beberapa orang datang dan langsung naik mencari tempat duduk. "Maklumlah, namanya juga gratisan" seru salah seorang teman dari belakang.
Akhirnya bus yang kami tumpangi berangkat pukul 13.55 dan sampai di Ribath Hauthah sepuluh menit sebelum adzan Ashar berkumandang. Dengan demikian perjalanan sejauh 60 kilometer itu ditempuh selama kurang lebih 45 menit.
Rasa letih sedikit berkurang saat kami masuk. Kami ditempatkan di lantai tiga yang baru saja selesai dibangun. Di sebagian tempat, aroma cat masih terasa menusuk hidung. Saya langsung mencari tempat yang nyaman untuk tidur. Dan sepertinya baru setengah jam kami tidur sudah harus bangun lagi untuk shalat Ashar dan memulai pangajian kitab Minhajut Thalibin.
Dalam silabus kurikulum Al-Ahgaff, kitab Minhajut Thalibin dikaji selama tujuh semester. Dari semester dua hingga semester delapan. Sistem pembelajarannya sama seperti di pondok-pondok pesantren. Yaitu teks-teks ibaroh difahami setiap kalimatnya. Dan alhamdulillah sekarang tinggal beberapa bab saja sudah khatam. Kali ini yang mengajar adalah Ustadz Abdurrahman bin Thaha Al-Habsyi dari Hauthah. Bagi teman-teman kelas 4 beliau sudah tidak asing lagi. Sebab, dulu beliau pernah mengajar kitab yang sama pada bab zakat dan bab nikah. Seminggu yang lalu, di ruang kuliah, beliau mengatakan bahwa dalam waktu dekat ini akan bepergian cukup lama, dan baru akan kembali menjelang ujian akhir semester, maka dari itu kami diundang ke kampung halamannya untuk mengkaji kitab tersebut secara maraton dan menyelesaikannya secepat mungkin. Pengajian kali ini mungkin akan menyisakan kenangan tersendiri bagi teman-teman. Karena tempat dan suasananya sangat berbeda dengan sebelumnya.
Pada pertemuan pertama, beliau memberi sambutan hangat kepada kami. "Baru kali ini saya mengadakan pengajian di tempat (atap) ini. Saya harap kalian bisa menikmatinya. Bahkan mungkin tempat seperti ini jauh lebih efektif karena disamping bisa menghilangkan rasa kantuk, udara panas dari angin yang berhembus bisa membuka pori-pori kulit. Dengan demikian, apa yang saya sampaikan bisa masuk tidak hanya melalui telinga saja, tapi juga melalui pori-pori yang terbuka tadi. Tidak hanya itu, setiap jalsah kalian akan saya suguhi minuman segar untuk menambah semangat" katanya memulai pembicaraan.
Hari pertama pengajian berlangsung selama tiga kali. Yaitu setelah Ashar, setelah Maghrib dan setelah Isya'. Sementara di hari kedua, sesi pengajian berlangsung selama enam kali.
Keesokan harinya kami harus bangun pagi-pagi untuk memulai pengajian lagi. Kali ini, ustadz Abdurrahman memberi kelonggaran dengan hanya memberikan satu kali pertemuan saja. Dan untuk pengajian selanjutnya dilaksanakan setelah shalat Jum'at. Pukul 6 lebih sedikit pengajian Jum'at pagi selesai.
Interval waktu yang cukup panjang tidak disia-siakan oleh teman-teman. Mereka yang sudah membawa celana dari Tarim berencana mengajak santri Ribath untuk bermain sepak bola. Dalam pertandingan di lapangan yang sangat luas itu teman-teman Ahgaff menang dengan skor 0-3. Masing-masing gol dicetak oleh Muhammad Ahmad Sahal, Saiful Arif dan Suryono. Pukul 07.45 kami semua kembali ke Ribath untuk sarapan.
Setelah selesai makan pagi, kami bercengkerama sambil minum halib di samping lapangan tenis meja. Sebagian yang lain langsung ke atas untuk tidur. Setelah selesai minum halib, saya langsung mandi dan sebelum berangkat ke masjid saya sempat main pingpong selama tiga set berturut-turut.
Selesai shalat Jum'at, teman-teman kembali ke kamar sambil menunggu makan siang untuk kemudian melanjutkan pengajian sesi ke-5 yang dimulai pukul setengah dua dan selesai setelah terdengar suara adzan Ashar. Seusai shalat Ashar, pengajian dilanjutkan pukul 16.30 dan selesai saat matahari terbenam.
Sebenarnya kitab yang dikaji masih menyisakan beberapa lembar dan sepertinya tidak cukup untuk diselesaikan dalam satu jalsah (sesi). Rencana awalnya kami akan kembali ke Tarim setelah Maghrib atau jika belum selesai maka setelah Isya'. Namun karena beberapa pertimbangan, akhirnya teman-teman sepakat untuk pulang besok pagi dan mentargetkan khatam malam itu juga.
Akhirnya pada pukul 23.05 setelah melewati tiga sesi yang panjang dan melelahkan, pengajian kitab Minhajut Thalibin benar-benar rampung. Ustadz Abdurrahman mengakhiri pembicaraan dengan memberikan ijazah semua kitab-kitab yang telah dibacakan oleh beliau dan mempersilahkan para teman-teman Ahgaff yang ingin mengikuti dauroh di Ribath Hauthah bulan puasa nanti.
Setelah itu saya langsung tidur dan paginya setelah shalat Shubuh dan membaca wirid kami bergegas naik bus yang sudah disiapkan untuk kembali ke Tarim.


Sumber Foto :  Ala'uddin Najih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!