Pages - Menu

Selasa, 24 September 2013

Belajar Menulis



Sumber gambar: Muhammad Iqbhal.
Ibarat sedang berkunjung ke stadion Old Trafford di kota Manchester, Inggris, untuk bertemu dengan para pemain idola, tiba-tiba ada seseorang datang dan bertanya kepada saya, "Bagaimana kiat-kiat bermain sepak bola?" Sementara di sekeliling saya berdiri nama-nama beken seperti Robin van Persie, Wayne Rooney, Paul Schooles, Rio Ferdinand, dan lain-lain.

Seperti itulah gambaran perasaan saya ketika seseorang tak dikenal mengirimkan pesan melalui Facebook dan meminta sedikit pengarahan tentang penulisan sebuah jurnal. Ia berkata begitu karena sebelumnya telah membaca tulisan dalam blog ini dan berkesimpulan bahwa saya mempunyai teknik dan teori khusus untuk dapat menuliskannya. Jujur saya katakan, permintaan itu kurang tepat jika ditujukan kepada saya. Mengapa? Karena saya bukan seorang penulis profesional dan tidak punya keahlian menulis sama sekali.

Sementara itu, teman-teman saya di Universitas Al-Ahgaff adalah para penulis andal. Hal itu dapat dilihat, misalnya, ketika diadakan perlombaan menulis, baik tingkat nasional atau internasional, banyak dari mereka yang berhasil menyabet gelar juara. Bahkan ada sebuah komunitas khusus yang berorientasi penuh pada dunia jurnalistik dan estetika tulis-menulis. Meskipun demikian, saya kurang tertarik masuk ke dalamnya karena saya punya komitmen dan alasan tersendiri untuk tidak berorganisasi. Jadi, aneh saja rasanya ketika ada yang meminta pengarahan menulis, sementara di sekitar saya banyak sekali orang yang lebih mampu dan mumpuni.

Sebagaimana yang tertulis dalam laman profil, saya hanya mengenyam pendidikan formal hingga kelas 3 SD. Setelah itu, pindah ke pesantren tradisional yang di dalamnya sama sekali tidak ada pelajaran umum, apalagi pembinaan untuk menulis. Sekalipun begitu, saya merasa beruntung bisa menimba ilmu di sana karena banyak pengalaman yang saya dapatkan, yang semuanya itu mungkin tidak akan saya peroleh jika hanya duduk di bangku sekolahan.

Selang beberapa hari setelah orang itu mengirim pesan, akhirnya saya balas juga. Meskipun jawaban saya mungkin kurang memuaskan. Dan dalam menjawab pertanyaannya itu, saya menggunakan bahasa perumpamaan supaya mudah dipahami.

Bagi pemula, menulis bisa diibaratkan seperti mengendarai sepeda. Bagaimana cara mengendarai sepeda? Jawabannya tentu kita harus mencobanya secara langsung. Kebanyakan teori dan pengarahan dari orang lain tanpa mempraktikkannya, justru tidak akan membuahkan hasil. Awalnya pasti akan terjatuh dan terasa sulit. Namun lama kelamaan, setelah dicoba berkali-kali pasti bisa jalan, walaupun hanya beberapa meter saja dan setelah itu jatuh lagi. Percobaan berikutnya pasti akan lebih baik dan lebih baik lagi hingga akhirnya menjadi bisa. Setelah benar-benar bisa, secara alamiah ia akan mempunyai keterampilan dan berani melakukan inovasi/atraksi baru seperti memegang setang dengan satu tangan, hingga tanpa memegang setang sama sekali.

Begitu juga bagi yang baru belajar menulis. Terlalu banyak teori (tanpa pernah mencoba) malah akan menghambat produktifitas dan kreatifitas kita. Sebagai langkah awal, bisa dengan menceritakan hal-hal kecil seperti apa yang baru saja kita lakukan dan yang terjadi di sekitar kita. Awalnya mungkin hanya beberapa kata, lalu menjadi beberapa kalimat yang berbaris-baris. Setelah berbaris-baris jadilah satu paragraf. Hingga akhirnya sampai satu halaman.

Menurut penulis yang sudah "jadi", aktivitas menulis juga tidak ada hubungannya dengan bakat. Kesimpulan itu disampaikan setelah dia mengalami sendiri. Mula-mula, dia merasa sulit sekali menulis. Beberapa kali mencoba menulis selalu tidak lancar. Bahkan, sering pula macet dan gagal total. Beruntunglah, pengalaman pahit itu tidak membuatnya putus asa. Ia terus belajar dan mencoba-coba lagi. Makin lama makin lancar. Sekarang, ia sudah menjadi penulis hebat. Ratusan artikelnya dimuat di berbagai koran terkenal dan puluhan bukunya laris di pasaran. Berkat seringnya menulis, dia menjadi terkenal.

Menulis memang gampang-gampang susah. Gampang kalau sudah sering melakukannya dan susah kalau belum terbiasa. Sebab, menulis termasuk jenis keterampilan. Sebagai keterampilan, sama seperti keterampilan yang lain, untuk mendapatkannya harus melalui belajar dan berlatih. Anda harus membiasakan diri. Itulah kuncinya. 

Ketika pertama kali saya membuat blog ini pada pertengahan tahun 2009, muncul suatu kebingungan mengenai isi yang akan dimuat di dalamnya. Untuk mengisi kekosongan itu, saya masukkan cerita mengenai sejarah pondok pesantren Bandungsari yang saya ambil dari arsip komputer pondok. Setelah itu, saya tidak tahu lagi tulisan apa yang akan dipublikasikan. Bahkan karena tidak adanya 'sumber daya manusia' tersebut, blog ini sempat vakum selama lebih dari tiga tahun lamanya. 

Hingga sampai pada bulan April 2013 lalu, saat teman-teman satu pondok dari PP. Fadllul Wahid ingin mengadakan acara Haul KH Abdul Wahid Zuhdi yang ke-5, muncul sebuah ide untuk membacakan biografi yai Wahid secara singkat agar lebih dikenal oleh semua tamu undangan. Kebetulan saya yang ditugasi untuk mencari informasi dan menuliskannya.

Awalnya saya pesimis dapat melakukannya. Namun, dengan kemauan yang kuat, hanya berbekal rekaman penuturan dari ibu Hj. Khodijah, catatan dalam Buku Fikih Kemasyarakatan dan cerita turun-temurun dari para santri senior, akhirnya biografi singkat beliau dapat tertulis dalam dua halaman penuh.

Syahdan, timbul keinginan untuk "mereinkarnasi" blog yang telah mati bertahun-tahun ini dengan cara memposting tulisan (biografi) tersebut. Setelah itu, setiap kali saya mendapat pertanyaan dari seorang teman, jawabannya saya dokumentasikan di sini (terlepas dari layak atau tidak untuk dibaca). Mulai dari permasalahan komputer (seperti Memindah Garis Pemisah Footnote), permasalah fikih (seperti Salat Jumat di Hari Raya), hingga persoalan atau isu-isu seputar dunia Hisab Falak (seperti Yaumu Rashdil Qiblat, Testimoni Palsu Para Perukyat, Hipotesis Bulan Purnama untuk Menentukan Awal Bulan, dan lain-lain). Hingga sekarang, terhitung sudah ada 60 entri yang telah dimuat dalam blog ini.

Jika saya (dianggap) sudah bisa karena telah menuliskan semua itu, tentu Anda yang lebih berpendidikan mampu melakukannya dengan lebih baik. Pertanyaannya sekarang adalah, sudahkah Anda mencoba untuk menulis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar dan tunggu kunjungan balik dari saya. Tabik!